
"Fir, nanti di bis elo duduk sama gue ya," ajak Sinta ketika pagi itu mereka berkumpul di lapangan sekolah. Di atas podium kepala sekolah sedang memberikan sepata dua patah kata sambutan.
"Yaa.. nanti gue duduk sama siapa dong?" tanya Santi kecewa. Biasanya dia memang selalu duduk bersama.
"San, nanti kamu duduk sama aku saja," usul Alif, salah satu murid yang terkenal kutu buku di angkatan mereka.
"Ogah!" tolak Santi segera. Alif tak banyak kata. Dengan langkah gontai ia meninggalkan Santi.
"San, kok kamu gitu sih sama Alif. Dia kan bermaksud baik," tegur Safira seraya memandang kasihan pada Alif yang meninggalkan mereka denga kepala tertunduk.
"Kalau aku nggak bisa duduk dengan kalian, aku maunya duduk sama kak Ilyas," ucap Santi malu-malu.
"Kak Ilyas? Memangnya dicampur antara kelas 11 dan 12?" tanya Safira terkejut. Sinta dan Santi mengangguk bersamaan.
"Kok gitu? Nggak enak dong jadinya. Kita nggak bebas bercanda," protes Safira.
"Justru tujuannya adalah supaya tidak terjadi gap antara senior dan junior, Fir. Jadi semua angkatan bisa akrab," jelas Sinta.
"Yang dipisah hanya kelas 10 karena mereka pergi fieldtripnya berbeda. Mereka didampingi guru-guru."
"Kita juga didampingi guru kan?" tanya Safira cemas. "Aku khawatir nanti terjadi hal yang tidak-tidak."
"Maksud kamu?" tanya Santi bingung.
"Ah, nggak apa-apa. Aku hanya khawatir berlebihan sepertinya."
"Kita tetap didampingi oleh para guru tapi nggak sebanyak anak kelas 10. Lagipula fieldtrip ini lebih mirip KKN nya anak kuliahan. Bukan sekedar kemping biasa." jelas Sinta. Kebetulan Sinta adalah salah satu pengurus OSIS. Jadi dia tahu banyak mengenai acara ini.
"Tenang Fir, nggak bakal ada yang berani gangguin kamu. Kak Troy pasti bakal jagain kamu."
"Ih siapa juga yang minta dijagain? Walaupun aku cewek, bukan berarti aku lemah dan nggak bisa apa-apa." balas Safira.
"Iya, iya.. aku tau kok kalau kamu kuat tapi boleh dong kalau aku jagain kamu," bisik Troy yang tiba-tiba berdiri sangat dekat di belakang Safira. Tentu saja kehadirannya membuat Safira terjengit kaget.
"Eh... kak Troy.." Safira langsung bersembunyi di belakang Santi.
"Nanti di bis kamu duduk di sebelahku ya. Kasihan kalau Sinta dan Santi duduknya terpisah."
"Memangnya kita satu bis kak? Kak Troy bukannya di bis 2?" tanya Safira bingung.
"Kamu lupa siapa aku?" tanya Troy sambil memamerkan senyum yang mampu membuat cewek-cewek histeris.
"Maaf kak, aku nggak biasa duduk bersebelahan dengan cowok." tolak Safira halus.
"Kak Troy nanti duduk sama aku aja," Tiba-tiba Zara bergelayut manja di lengan Troy. Safira menarik nafas lega melihat kehadiran Zara. Walaupun anak itu sering membullynya, tapi kali ini kehadirannya bagaikan malaikat penyelamat.
"Iya, kak Troy nanti duduk sebelahan sama Zara saja. Kalau nggak salah di juga di bis 2. Maaf kak, aku permisi mau ambil tas. Itu teman-teman sudah mulai masuk bis."
"Tapi Fir...." Troy tak bisa menyelesaikan ucapannya karena Safira sudah berlari meninggalkannya.
__ADS_1
"Zar, apa-apaan sih?" sentak Troy kesal sambil melepaskan tangan Zara yang masih memeluk lengannya.
"Kak Troy kok jadi galak sih sama Zara?" tanya Zara dengan mata berkaca-kaca. Biasanya kalau dia sudah begini Troy akan membujuknya. Tapi kali ini cara itu tak berhasil. Troy malah meninggalkannya untuk mengejar Safira. "Dasar cewek sok alim! Palsu Lo!"
"Zar, elo kenapa sih?" tanya Duta yang sedari tadi memperhatikan. "Sudah, lupain aja si Troy. Dia lagi naksir tuh cewek."
"Maksud kak Duta? Tapi gue dan dia kan..."
"Sadar dong Zar, Troy itu nggak pernah bilang kalau dia cinta sama elo kan? Dia juga nggak pernah bilang mau jadi pacar lo."
"Tapi selama ini kak Troy baik sama gue. Dia juga sering ajak gue clubbing dan diner."
"Troy memang begitu ke cewek-cewek tapi nggak ada satupun yang dia jadiin pacar. Sudah, mendingan elo nanti duduk sama gue," bujuk Duta sambil memamerkan senyumnya yang tak kalah menarik. Memang kelompok mereka terkenal karena anggotanya tampan dan sebagian besar anak orang kaya. "Kebetulan hari ini gue punya film bagus yang bisa kita tonton biar nggak bosan. Gue dengar dari Yuni, elo lagi tergila-gila drakor kan?"
Zara langsung tersenyum lebar saat mendengar hal tersebut. "Memangnya nggak akan ada yang marah kalau kak Duta duduk sama gue. Jangan-jangan nanti ada yang ngelabrak gue."
"Tenang aja, cewek gue beda bis. Gimana?"
"Oke kak."
⭐⭐⭐⭐
Tak lama semua siswa sudah memasuki bus masing-masing sesuai yang sudah diatur, kecuali Troy dan Ilyas yang pindah dari bus 2 ke bus 1. Bus tempat Safira dan si kembar.
"Lo ngapain pindah ke sini Yas?" tanya Troy heran.
Saat itu Safira sudah duduk manis di baris paling depan, persis di dekat jendela.
"Fir, depan banget. Paling belakang yuk. Aku takut kalau duduk paling depan begitu," ucap Sinta. "Kalau paling belakang enak ngobrolnya."
"Tapi Sin, gue lebih suka duduk di depan. Bisa lihat jalanan," jawab Safira.
"Sin, kamu duduk belakang saja. Biar Safira duduk sama kak Troy." Troy yang baru saja naik langsung mengambil tempat di sebelah Safira. Safira memandang Sinta bingung. Ia ingin protes dan ikut Sinta pindah ke belakang, tapi Troy tak memberinya jalan.
"Tapi kak...." Protes Sinta tak diindahkan oleh Troy. Sinta yang melihat kode yang diberikan Troy mau tak mau menuruti keinginan Troy.
"Maaf permisi kak, bisa berdiri sebentar?" tanya Safira hati-hati.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau ikut Sinta, pindah ke belakang."
"Ngapain pindah? Sudah, duduk saja disini. Aku nggak akan macam-macam sama kamu. Aku cuma mau ngobrol sama kamu. Lagipula memangnya kamu nggak kasihan kalau si kembar duduk terpisah. Tenang saja aku nggak akan menyentuh kamu. Kecuali memang kamu yang minta." Troy tak bergeming dari tempatnya. Ia malah mengeluarkan ponsel dan memasang earphone untuk mendengarkan lagu. Ia juga mengeluarkan kacamata hitam dan memakainya.
"Fir, aku mau tidur dulu. Nanti kalau berhenti, tolong bangunin aku ya." Safira hanya bisa mendesah kesal karena keinginannya untuk pindah tempat duduk ditolak oleh Troy.
Dih, nih orang seenaknya aja sih? Ngerti nggak sih kalau aku risih duduk bersebelahan dengan cowok. Walaupun dia bilang nggak akan menyentuh, tetap aja bakal senggolan kan? Namanya juga naik bis. Makanya aku nggak mau duduk sama cowok, Safira mengomel dalam hati.
Akhirnya tak lama kemudian bis berjalan. Sepanjang perjalanan Sfira benar-benar tak berani bergerak. Ia lebih memilih duduk bersandar pada jendela. Demikian juga saat ia merasa- mengantuk. Sementara itu para siswa lain asyik bercanda, ngobrol atau bernyanyi, Safira hanya bisa terdiam. Gimana mau ngobrol kalau tempat duduk si kembar cukup jauh. Kemudian orang di sampingnya dari sejak berangkat tidur terus. Akhirnya Safira mengeluarkan ponselnya dan mendengarkan murottal. Tak lama Safira tertidur.
__ADS_1
Troy terbangun saat bia terguncang akibat jalanan jelek. Lebih tepatnya ia terbangun karena mendengar suara benturan. Benarlah, saat bis terguncang kepala Safira yang saat itu tertidur terbentur ke jendela. Troy memperhatikan gadis itu tetap tertidur. Tak lama bis kembali terguncang dan kepala Safira kembali terbentur jendela. Akhirnya Troy melepas jaketnya dan perlahan ia meletakkan jaketnya sebagai bantalan untuk mencegah kepala Safira kembali terbentur. Beberapa kali bis masih terguncang. Troy menatap Safira khawatir gadis itu terbangun. Untunglah gadis itu tetap tertidur pulas.
"Ssstt.. ngapain lo ngeliatin dia mulu? Naksir lho," bisik Seto yang duduk tak jauh dari Troy. Sebenarnya ia ingin satu bis dengan Rosa, tapi titah sang mama menyuruhnya menjaga si kembar. Terpaksalah ia dan Ilyas bertukar bus.
"Ssst jangan berisik," Troy mengingatkan. "Kalau sampai dia bangun, nanti gue nggak bisa lagi ngeliatin dia. To, cantik banget ya nih cewek."
"Iya, gue tau dia cantik. Tapi jangan lo apa-apain nih anak. Gue nggak mau si kembar ngadu sama nyokap kalau terjadi sesuatu sama dia. Nyokap gue sayang banget sama dia."
"Oh ya? Kok bisa?"
"Sejak kenal dia, adik-adik gue berubah jadi lebih baik. Sekarang mereka rajin bantuin nyokap tanpa harus disuruh. Shalat mereka juga nggak pernah bolong-bolong. Mereka juga jadi mengaji," jelas Seto. "Padahal biasanya tiap hari pake diomelin dulu."
Troy semakin mengagumi gadis cantik yang kini terlelap di sampingnya. Gila, belum pernah gue tertarik sama cewek berhijab kayak dia. Semakin lama, bukan hanya wajah cantiknya yang bikin gue penasaran, tapi juga sikapnya.
"To, kalau gue tembak kira-kira dia bakal nolak nggak?"
"Pastilah!" sahut Seto sambil berbisik. "Dia belum mau pacaran, bro. Bahkan mungkin nggak mau pacaran. Maunya langsung nikah."
"Ah, sok tau lo!"
"Hehehehe.... ini mah perkiraan gue aja. Cewek model dia sangat menjaga dirinya. Dia juga menjaga pergaulannya."
"Tapi sama si Angga itu dia bisa ramah. Kenapa sama gue nggak?"
"Angga itu bukan buaya kayak elo, bro. Dia juga rajin shalat, nggak pamer kekayaan. Kayaknya Fira demennya cowok model dia deh."
"Emangnya dia jadian sama Angga?"
"Nggak juga. Dia belum mau pacaran. Dia mau fokus sama studinya."
"Berarti gue punya peluang buat dapetin dia."
"Sebaiknya elo jangan ganggu dia deh. Mendingan lo pacarin aja tuh si Zara. Gue liat dari kemarin dia mepet elo mulu."
"Malas gue ngedeketin cewek kayak gitu. Nggak ada tantangannya. Gue yakin dia diapain aja pasti mau. Gue pengen nyoba ngedeketin cewek yang nggak gampangan, kayak yang satu ini."
"Kalau nekat, gue jamin elo bakal kecewa bro."
"Kalau memang worth it, gue mau kok nunggu sampai dia nerima gue."
"Gila lo, sudahlah nyerah aja," desak Seto.
"Gue jadi curiga sama elo. Kenapa sih dari kemarin elo maksa gue berhenti mendekati dia? Jangan-jangan elo mendekati Rosa hanya sebagai kedok. Sebenarnya elo sukanya sama dia," ucap Troy curiga.
"Jangan khawatir bro, hingga saat ini gue masih menganggap dia seperti adik-adik gue."
"Adik ketemu gede." sungut Troy kesal.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1