
"Angga! Bangun sayang!" Zahra mencoba membangunkan Angga yang masih memeluk guling dengan mesra. Bukannya bangun, Angga malah membelakangi Zahra.
"Si Angga belum bangun juga?" tanya Ahmad yang terlihat rapi dengan baju kokonya. "Juna gimana?"
"Juna sedang di kamar mandi. Si Angga nih yang susah banget dibangunin. Sudah hampir 10 menit aku mencoba membangunkan tapi belum berhasil. Malah tambah mesra dengan gulingnya," keluh Zahra. "Gimana ya enyak bisa bertahan mengurus dia?"
Ahmad tertawa mendengar ucapan Zahra. Enyak Rodiah memang nggak ada lawan kalau dalam urusan mengurus anak. Dia akan menggunakan tangan besi kalau sudah berurusan dengan masalah ibadah.
"Coba kamu ambilkan semprotan yang babe biasa pakai untuk burung." Zahra segera mengambil barang yang dimaksud lalu memberikannya pada Ahmad.
"Kamu semprotin ke wajahnya si Angga. Aku yakin cara ini jauh lebih ampuh daripada kita meneriaki dia."
Benarlah apa kata Ahmad. Angga langsung terbangun saat Zahra menyemprotkan air ke wajahnya.
"Bangun, sudah adzan subuh. Sana buruan siap-siap ke masjid. Engkong, papamu dan bang Juna sudah nunggu di ruang tamu. Jangan sampai kamu dihukum engkong gara-gara nggak shalat di masjid."
Tanpa banyak cingcong lagi Angga bergegas masuk kamar mandi. Dalam waktu kurang dari 5 menit Angga sudah siap dan segera menemui keluarganya yang akan shalat di masjid.
"Kenapa telat?" Omelan pertama meluncur dari mulut engkong Rojaih. "Pulang jam berapa semalam?"
"Nggak malam-malam amat kok. Jam 10 Angga sudah sampai rumah."
"Sudah beh, ngomelnya nanti aja. Keburu mulai shalatnya," Zahra langsung memotong saat dilihatnya Engkong Rojaih sudah siap mengomeli Angga.
Pagi itu keluarga mereka berkumpul di meja makan menikmati sarapan nasi kebuli buatan Zahra. Tak ada yang buka suara selama sarapan.
"Jun, gimana persiapannya?" Akhirnya Ahmad membuka suara.
"Alhamdulillah sudah siap semua, pa. Tinggal foto prewednya aja."
"Foto apaan tuh?" tanya enyak Rodiah. "Perasaan jaman mama papa kalian nikah nggak ada tuh foto-foto model gitu."
"Itu lho nyak, foto menjelang pernikahan. Buat dipajang di tempat resepsi. Nih, kayak gini contohnya," Zahra memperlihatkan beberapa foto dari website.
"Elo sama Priska bakal foto sambil pelukan gitu? Pan elo sama Priska belum halal. Mana boleh foto kayak gitu. Enyak nggak setuju!" Enyak Rodiah langsung menentang ide foto prewed Juna.
"Ya ampun enyak, nggak musti pake peluk-pelukan juga bisa. Tergantung konsepnya gimana," jelas Angga.
"Ah, sok tau lo! Anak kecil tahu apa sih?" Enyak Rodiah tak percaya pada ucapan Angga.
"Dih, enyak lupa ya kalau Angga suka ikut bantuin bang Idang motret calon pengantin." Angga tak terima dibilang sok tau. "Lagian pas foto nggak cuma berdua kan."
"Jadi foto rame-rame gitu den?" tanya mpok Mumun yang sedari tadi ikut mendengarkan. "Lah, ngapain tukang fotonya ikut foto bareng? trus yang motret siapa?"
Yang lain langsung tertawa mendengar ucapan mpok Mumun. Kepolosan mpok Mumun-lah yang membuat mereka semua menyayangi wanita separuh baya itu.
"Ya nggak gitu juga mpok. Maksudnya di tempat pemotretan nanti akan ada banyak orang yang membantu. Ada yang urus pakaian, ada yang urus make up, ada yang urus pencahayaan. Pokoknya rame deh. Tapi yang difoto ya cuma calon pengantin," jelas Arjuna setelah tawanya reda.
__ADS_1
"Fotonya nanti aja kalau sudah resmi menikah. Biar enak, sudah halal. Mau peluk, mau cium atau mau jungkir balik juga boleh," Engkong Rojaih mengeluarkan pendapat.
"Nanti di tempat resepsi nggak ada foto mereka dong, beh?"
"Nggak perlu." Yang lain terdiam mendengar jawaban engkong Rojaih. Wah, bisa gawat nih kalau nggak ada fotonya. Bisa-bisa Priska ngambek, batin Arjuna.
"Begini aja, gimana kalau konsepnya kita ubah. Kalau memang bang Juna dan kak Priska mau ada foto yang dipajang, Angga punya ide nih."
"Ide apa?" Arjuna terlihat antusias.
"Kalau Angga kasih tau, bang Juna pinjemin mobil ya buat Angga ke sekolah besok." Angga mencoba bernegosiasi.
"Huuuu.. itu mah maunya kamu. Tanya sama papa dulu, boleh nggak kamu sekolah basa mobil."
"Gimana pa?" tanya Angga penuh harap.
"Terserah abangmu," jawab Ahmad pendek.
"Mau ngapain sih ke sekolah bawa mobil segala? Bikin macet aja," ucap enyak Rodiah.
"Hmm... mama tahu nih kenapa kamu mau bawa mobil ke sekolah. Biar bisa ajak anak bu Dian berangkat bareng ya?" tanya Zahra sambil mengerling ke arah Angga.
"Hehehehe.. mama tau aja. Gimana bang?"
"Abang dengar dulu idenya. Kalau kak Priska setuju, abang pinjemin mobil buat besok. Tapi untuk bensin pakai uang sendiri ya?"
"Jadi gimana ide kamu?"
"Bagaimana kalau nanti foto yang dipajang adalah foto masa kecil? Nanti bisa dibahas dengan wedding organizer-nya bagaimana penataan yang bagus."
Arjuna mengangguk-angguk mendengar ide Angga. "Oke abang sampaikan ide kamu ke Priska. Kalau dia setuju, kamu boleh pakai mobil bang Juna."
⭐⭐⭐⭐
"Fir, nanti kamu dan adik-adikmu naik angkot ya. Ayahmu harus dinas keluar kota," ucap Dian saat menyiapkan dagangannya.
"Wah, ayah dinas kemana bu? Pasti seru ya bisa jalan-jalan seperti ayah." tanya Salman yang baru keluar dari kamar.
"Hush! Ayahmu bukan mau jalan-jalan, tapi bekerja." jawab Dian.
"Iya, bekerja sambil jalan-jalan." celetuk Safira. "Ingat nggak Man, dulu kita pernah ikut ayah ke KL?"
"Iya kak. Seru ya. Ayah kerja, kita berempat jalan-jalan," sahut Salman.
"Kalau sekarang ayah dinas kemana bu?" tanya Safira sambil menyiapkan sarapan untuk keluarga.
"Kalau nggak salah ke Yogyakarta," jawab Dian. "Ibu juga lupa. Kayaknya ada beberapa kota yang harus ayahmu kunjungi dengan bosnya."
__ADS_1
"Nanti ayah akan ke Yogyakarta, Solo dan Malang," ucap Seno yang tampak baru selesai mandi.
"Ayah kok belum siap-siap?" tanya Sania. "Ayah nggak kerja?"
"Ayah mau dinas keluar kota seminggu ini. Sania dan kakak-kakak berangkat sekolah naik angkot ya."
"Yah, motornya boleh Salman pakai nggak?"
"Nggak usah ngide," omel Safira. "Belum punya SIM nggak boleh bawa kendaraan. Anak SMP naik sepeda atau angkutan umum aja."
"Iya, iya." Salman bersungut-sungut.
"Kamu saja yang pakai motor ayah untuk ke sekolah. Sekalian kamu antar Sania," usul Seno.
"Fira belum terlalu lancar bawa motor, yah." tolak Safira. "Khawatir nanti jatuh."
"Naaaah... jangan-jangan kak Fira mau diantar jemput kak Troy ya?"
"Kak Troy? Dih, nggak yaaa."
"Beneran Fir?" tanya Seno dengan tatapan curiga.
"Nggaklah yah. Safira kan selalu ingat pesan ayah."
"Tapi ayah perhatikan sekarang kamu sering diantar dia."
"Ya ampun ayah, itu kan gara-gara pak Arga dan bu Kemala yang memaksa Safira pulang diantar kak Troy."
"Jangan aneh-aneh, Fir. Ingat, masa depan kamu masih panjang. Beri contoh yang baik untuk adik-adikmu." nasihat Seno.
"Tenang yah, Fira nggak akan berbuat aneh-aneh. Lagipula kami nggak cuma berdua. Selalu ada Cantika yang ikut mengantar."
"Ayah percaya kamu. Ayah hanya khawatir."
"Tenang yah, percaya deh sama Fira."
"Ayah percaya kamu, tapi nggak percaya sama teman kamu itu." ucap Seno ketus dengan muka cemberut. "Ayah nggak suka sama cowok yang bisanya nebeng harta orang tuanya. Nggak mandiri. Anak manja."
Safira dan adik-adiknya tertawa melihat mimik wajah Seno.
"Berarti kalau kak Troy sudah sukses atas usahanya sendiri, dia boleh mendekati kak Fira dong?" tanya Salman.
"Hmm... itu tergantung kakakmu. Siapa tahu, sebelum Troy sukses kakakmu sudah dipinang oleh pria lain."
"Siapa tau kak Angga yang duluan sukses dan melamar kak Fira," ledek Salman.
"Cieeee... kak Troy atau kak Salman ya?" goda Sania sehingga membuat Safira hanya bisa tersenyum kecut.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐