
"Angga, tolong kamu antarkan undangan-undangan ini ke para tetangga ya," perintah Zahra pada Angga yang sedang asyik bermain PS.
"Iya ma, nanti dulu. Nanggung nih." Bukannya buru-buru melaksanakan perintah Zahra, Angga malah melanjutkan main.
"Ngga,kamu mau uang jajannya abang potong?" ancam Juna yang sedang sibuk memandang kertas berisi daftar tamu yang akan diundang.
"Iya bentaran bang. Nanggung, bentar lagi lawannya mati. Yaaaa... mati kan." Angga terlihat kesal. Ia mematikan PS dan TV lalu mendekati Juna. "Mana undangannya?"
"Ngga, kamu punya teman yang jago baca al qur'an? Semalam Priska nanyain." tanya Juna.
"Ngapain jauh-jauh cari teman yang jago baca Al Qur'an, Angga juga jago bang. Buat apaan? Akad nikah ya?"
"Iya. Priska lagi cari qori dan saritilawah. Kamu ada usul?"
"Hmm.. gimana kalau Angga yang jadi qori, teman Angga yang jadi saritilawah."
"Hmm.. kayaknya mama tau nih siapa yang bakal kamu minta jadi saritilawah. Pasti Safira ya?" tebak Zahra sambil tersenyum.
"Safira anak bu Dian, ma?" tanya Juna heran. "Memangnya dia temannya Angga?"
"Fira teman sekolah Angga, bang."
"Kamu naksir dia?" tanya Juna lagi.
"Hahaha... abang tau aja."
"Sudah nggak naksir Bintang?"
"Bintang? Siapa tuh bang?" tanya Zahra bingung.
"Kakaknya si Bento, ma," jawab Juna.
"Bento temanmu yang gendut itu?" tanya Zahra pada Angga. "Memang kakaknya cantik? Cantikkan mana sama Fira?"
"Cantikkan Fira ma. Apalagi Fira pakai jilbab. Kalau kakaknya Bento nggak pake," jawab Angga. Matanya menerawang membayangkan Safira.
"Wah, adik bang Juna sudah mulai gede nih. Dah, lamar aja si Fira nanti setelah lulus SMA. Abang yakin, cewek model Fira nggak bakal mau pacaran."
"Kamu mau nikah sama dia, Ngga?" tanya Zahra penasaran.
"Dih, apaan sih ma? Masih lama ma. Angga mau kuliah dulu, terus kerja dan jalan-jalan ke luar negeri seperti mama papa. Kan mama sendiri yang bilang kalau Angga harus sukses dulu baru boleh melamar anak orang. Minimal sudah kayak bang Juna."
"Sah-sah aja kok nikah sambil kuliah. Teman bang Juna ada yang kayak gitu."
"Hehehe... skip deh bang. Lagipula Fira juga nggak bakalan mau diajak buru-buru nikah. Dia punya cita-cita kuliah dan bekerja. Dia mau bantu orang tuanya."
"Memangnya kamu sudah menyatakan perasaan ke dia?" tanya Ahmad yang baru saja bergabung
__ADS_1
"Belum pa."
"Nggak berani? Takut ditolak?" tanya Ahmad penasaran.
"Dua-duanya pa. Angga nggak mau hubungan kami jadi awkward kalau Angga menyatakan perasaan."
"Sudah kasih kode?" tanya Juna.
"Sudah ah, ngapain sih jadi bahas hubungan Angga dan Fira. Mana undangannya. Sini Angga yang antar. " Angga buru-buru mengambil setumpuk undangan yang telah disiapkan. "Angga pergi dulu ya."
"Ngga, jangan lupa tanyain Fira dia mau nggak jadi saritilawah," seru Juna.
⭐⭐⭐⭐
"Fir, mau ya kak Troy jemput," bujuk Troy melalui telpon.
"Nggak usah kak. Bukannya jam segini kak Troy harus bekerja ya?" tanya Safira. " Biar nanti Fira dan Cantika pulang naik angkot saja."
"Kak Troy bisa ijin sebentar kok buat jemput kalian."
"Jangan kak. Nanti kak Troy diomelin oma Linda."
"Siapa? Kak Troy?" Safira mengangguk. Cantika langsung merebut ponsel Safira.
"Kak, tambeng amat sih. Nggak usah pake jemput kita segala. Kak Troy fokus bekerja saja. Kalau kak Troy tetap ngeyel, nanti Cantika laporin ke oma." ancam Cantika.
"Kak Troy cuma mau jemput kalian. Paling-paling nggak sampai dua jam sudah balik ke kantor. Anggap aja ini jam istirahat kak Troy."
"Thanks ya Can. Kak Fira bingung kalau kak Troy sudah kayak gitu. Suka maksa."
"Maaf ya kak. Gara-gara kak Troy bersikap seperti itu, kak Fira jadi nggak nyaman. Apa kita belajarnya di ruangan papa saja?"
"Ah, nggak apa-apa. Justru kak Fira nggak enak kalau kita belajar di ruang pak Broto. Khawatir jadi omongan siswa lain."
"Oke deh. Pokoknya kak Fira bilang aja kalau tingkah kak Troy sudah makin menyebalkan."
"Siiip."
"Oh iya kak, memangnya kak Fira nggak naksir kak Troy? Padahal banyak banget lho cewek-cewek yang mau jadi pacar dia. Apa kak Troy kurang ganteng?"
"Hehehe.. kak Fira belum mau pacaran. Nggak boleh sama ayah."
"Oh gitu. Tapi kalau nggak ketahuan nggak papa kan kak."
"Itu artinya kak Fira berbohong pada orang tua dong. Kak Fira nggak mau kayak gitu. Dulu kak Troy juga pernah bilang begitu."
"Kak Troy sudah pernah nembak kak Fira?" Safira mengangguk. "Kakak tolak?"
__ADS_1
"Hehehe.. iya." Cantika tergelak mendengar jawaban Safira.
"Pasti kak Troy bete banget tuh ditolak kak Fira. Selama ini dia nggak pernah ditolak sama cewek. Kayaknya baru kak Fira deh cewek yang dia tembak dan menolak. Yang lainnya langsung nempel kayak perangko. Sumpah, nyebelin banget liat cewek-ceweknya kak Troy. Semuanya nganggap aku anak kecil. Parahnya lagi ada cewek kak Troy yang suka nganggap aku nggak ada."
Safira tersenyum mendengar celoteh Cantika. Keluarga mereka sepertinya memiliki sifat yang sama. Suka ngobrol. Bahkan beberapa penumpang di dalam angkot ikut serius mendengarkan percakapan mereka.
"Can, kamu punya cita-cita apa kalau sudah besar?" Safira langsung mengalihkan pembicaraan saat Cantika mau bercerita tentang kakaknya lebih banyak lagi. "Kamu mau melanjutkan kuliah jurusan apa kalau nanti lulus SMA?"
"Belum tau kak. Oma pernah bilang untuk ambil kuliah manajemen pendidikan atau yang sejenisnya. Oma maunya aku melanjutkan mengelola yayasan."
"Kamunya sendiri maunya gimana?"
"Kenapa harus aku? Kan ada kak Troy. Dia cucu kandung oma. Atau anaknya om Anto juga ada."
"Kamu pernah mengutarakan keberatanmu ke oma?"
"Nggak berani, kak. Di keluarga kami, ucapan oma itu laksana titah raja yang nggak bisa dibantah." Pandangan Cantika menerawang. Safira meraih tangan Cantika dan menepuk-nepuknya.
"Kak Fira sendiri pengennya melanjutkan kuliah jurusan apa?"
"Belum tau Can, apakah kakak bisa lanjut kuliah atau nggak. Kakak masih punya dua adik. Kakak nggak mau merepotkan orang tua. Tapi kalaupun kuliah, kakak akan mencoba mencari beasiswa," jawab Safira.
"Kita berandai-andai saja kak, seandainya kakak bisa melanjutkan kuliah maunya kuliah apa? Apa impian kakak?"
"Hmm.. apa ya? Mungkin kakak akan ambil jurusan arsitektur atau psikologi. Kampusnya cari yang dekat saja, biar nggak perlu keluar biaya kos. Kasihan orang tua kalau harus banyak keluar biaya untuk kak Fira."
Cantika mengangguk-angguk mendengar jawaban Safira. "Kakak nggak kepengen jadi dokter? Kak Fira kan pintar."
"Nggak semua orang pintar harus jadi dokter, Can." Safira terkekeh mendengar ucapan Cantika. "Kalau semua orang pintar jadi dokter, gimana dengan bidang yang lain? Lagipula perlu biaya besar banget untuk kuliah kedokteran."
"Kak Fira jago gambar?"
"Jago sih nggak. Cuma bisa aja. Dan kakak senang aja bikin desain-desain rumah atau ruangan begitu."
"Pantas saja rumah kak Fira walau mungil dan sederhana tapi tetap eye catching. Pasti kakak yang menjadi interior desainernya."
"Ya ampun, pujian kamu ketinggian. Kakak mah belum pantas disebut interior desainer. Lagipula penataan rumah kami itu kolaborasi kakak, ibu dan kak Salman."
"Kak, adik kak Fira yang namanya kak Salman ganteng nggak?" tanya Cantika iseng.
"Ada apa nih nanya-nanya? Hmm.. kamu mulai puber ya?" ledek Safira.
"Iih.. bukan gitu kak. Cantika penasaran aja. Kak Fira dan dek Sania cantik. Ibu dan ayah kak Fira juga cakep-cakep. Pasti kak Salman juga nggak kalah cakep dari ayah kak Fira."
"Sama kayak kamu dan kak Troy. Dua-duanya cakep seperti orang tua kalian."
"Cieeee... jadi menurut kak Fira, kak Troy itu cakep ya?" Cantika balas meledek.
__ADS_1
"Sudah ah, kamu yang dibahas random banget." Safira langsung membahas hal lain agar Cantika tak menggodanya lagi.
⭐⭐⭐⭐