
"Troy, lo liat deh si Rosa makin lama makin cantik ya." Corong alias Toni yang duduk di samping Troy menunjuk seorang gadis cantik yang baru saja memasuki kantin. Nama Corong diperolehnya karena kalau bicara suaranya kencang kayak toa.
"Rosa anak 10 IPS 3? Yang rambutnya sering dikuncir kuda?" tanya Troy tanpa mengalihkan tatapannya dari games di ponselnya.
"Bukan, itu mah pacarnya Dicky. Itu lho, Rosa anak 11 IPA 2. Anak pindahan dari Brisbane. Yang setengah bule itu lho." Info Seto si ketua tim basket sekolah mereka.
"Oh yang itu. Biasa aja," komentar Troy sambil terus memainkan ponselnya. "Yeeeaaah... akhirnya gue menang!!"
"Astaga Troy. Menang main Sudoku aja heboh banget," omel Duta yang duduk disebelahnya. Kupingnya terasa berdenging akibat teriakan Troy. Yang lain tertawa melihat Duta mengusap-usap kupingnya.
"Lo beneran nggak tertarik sama dia?" tanya Seto sambil mencomot batagor dari piring Troy.
"Woy, kenapa makanan gue lo habisin sih?" tanya Troy kesal saat melihat isi piringnya hampir habis.
"Bukan cuma gue yang makan," elak Seto. "Tuh si Duta dan Corong juga ikutan makan."
"Troy, elo nggak ada niat ngegebet si Rosa?" tanya Seto penasaran.
"Elo kenapa sih? Elo mau ngedeketin dia? Ya sudah lo deketin aja. Gue lagi ngincer Safira anak kelas 11 IPA 4."
"Si ustadzah itu? Cewek berjilbab yang dingin banget sama cowok? Serius lo?" tanya Ilyas, cowok paling alim di kelompok mereka. "Jangan deh Troy. Mendingan elo ngegebet si Vonny, anak kelas 12 IPA 1. Dia kan naksir berat sama elo sejak kelas 10."
"Kenapa elo yang keberatan Yas? Jangan-jangan elo juga suka sama Safira," tanya Duta penasaran. Yang lain menunggu jawaban Ilyas.
"Bukan gitu, gue kasian aja sama dia kalau dijadiin mainan sama Troy. Safira masih polos banget. Lagian ngapain sih sudah dekat ujian masih mikirin cewek. Fokus woy fokus!"
"Iye pak ustadz. Sudah ah, ayo kita ke kelas. Sebentar lagi masuk, nih," ajak Troy ketua gank mereka. "Gue malas kalau sampai dipanggil ke ruang kepsek hanya gara-gara telat masuk kelas. Apalagi setelah ini jam pelajarannya si Anto botak."
"Masa sama om sendiri takut, bro," ledek Duta.
"Bukan si Anto yang gue takutin, tapi oma Linda. Si Anto pasti bakal laporan sama oma. Kalau oma tahu, dia pasti lapor ke si Broto. Malesin banget gue berurusan sama dia."
Yang lain mengikuti Troy sambil geleng kepala. Semua orang tahu kalau Brotoyudho, sang kepala sekolah adalah ayah tiri Troy. Oma Linda adalah ibu dari Kemala, ibunya Troy. Sementara ayah kandung sudah meninggal saat Troy lulus SMP. Oma Linda adalah ketua yayasan yang menaungi sekolah mereka. Anto adalah putra bungsu oma Linda yang mengajar sebagai guru matematika di sekolah tersebut. Hubungan Troy dengan Brotoyudho atau yang biasa disebut Broto tidaklah terlalu baik karena biasanya segala kenakalan Troy akan dilaporkan ke oma Linda. Kalau sampai oma Linda tahu, bisa berabe. Segala fasilitas bisa dibekukan selama sebulan. Tak ada lagi clubbing, tak ada lagi traveling. Bahkan lebih sadisnya lagi, uang saku distop.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐
"Assalaamu'alaykum. Nyaaaak, Angga pulaaaang!" Teriak Angga sambil memasuki rumah enyak Rodiah, neneknya. Ruang tamu terlihat sepi. Pada kemana sih? Bang Juna belum pulang kerja ya? tanya Angga dalam hati. Biasanya jam segini bang Juna sudah duduk manis di musholla.
"Nyaaaaak! Engkoooooong! Baaaaang! Etdah pada kemana sih orang-orang?" Angga meletakkan sepatunya di rak sepatu dengan rapi. Kalau enyak Rodiah lihat sepatu berantakan, bisa dipastikan besok dia ke sekolah nyeker alias tanpa sepatu.
"Den Angga ada apa sih teriak-teriak?" tanya mpok Mumun, asisten rumah tangga yang sudah bekerja pada keluarga mereka sejak Ahmad, ayah Angga, masih bujang.
"Lagian rumah sepi banget sih. Angga kasih salam nggak ada yang nyautin. Pada kemana sih mpok? Tadi mpok kemana kok nggak jawab salam Angga?"
"Wa'alaykumussalaam den Angga. Tuh sudah mpok jawab ya. Tadi mpok lagi goreng ikan peda kesukaan den Angga. Kalau mpok tinggalin takut gosong. Nanti den Angga nggak jadi makan pake peda."
"Mpok, enyak dan engkong kemana sih?"
"Tadi juragan dan nyonya pergi ke rumah wan Amir, diantar sama den Juna. Katanya, den Juna mau melamar Priska anak wan Amir yang janda itu," info mpok Mumun. Angga yang sedang minum langsung tersedak mendengarnya.
"Mpok nggak salah ngomong kan?" tanya Angga tak percaya. "Bukannya bang Juna pacarannya sama Diva, teman kuliahnya?"
"Wah, kalau itu mpok nggak tahu deh. Setahu mpok, den Juna dulu memang pernah pacaran sama non Priska pas mereka SMP."
"Kalau laki-laki menikah tanpa kehadiran keluarganya nggak papa den. Yang wajib ada wali kan perempuan. Lagian jaman sekarang pan sudah canggih. Tadi aja kata den Juna, mereka mau ajak si njum biar mama papa den Angga bisa ikutan ngobrol. Tau deh, siapa si njum ini."
"Njum? Siapa tuh mpok? Keluarganya wan Amir?" tanya Angga bingung.
"Mana mpok tau den. Mpok mah kenalnya si Jumilah anak nyak Manih. Apa si Jumilah itu yang dimaksud ya?" Angga dan mpok Mumum terdiam. Keduanya tampak berpikir keras.
"Astagaaaa... maksudnya Zoom!!" teriak Angga keras sehingga membuat mpok Mumun yang setengah budeg melompat kaget.
"Iyeee si njum itu den. Eh, njum tuh siapa deh? Anak RW mana?"
"Bukan njum mpok. Tapi zoom...Z-O-O-M. Itu aplikasi untuk video call-an rame-rame gitu. Jadi kita bisa ngobrol sama orang-orang yang ada di luar negeri atau luar kota. Biasanya suka dipakai buat meeting, mengajar, reuni.... Mpok, mpok Mumun." Mpok Mumum terdiam. Sepertinya ia mencoba mencerna ucapan Angga.
"Den, mpok bingung." Angga tertawa melihat wajah mpok Mumun kebingungan. Dengan rasa sayang dirangkulnya bahu mpok Mumun layaknya merangkul ibu sendiri. Ya sejak kecil enyak Rodiah, engkong Rojaih serta Mpok Mumunlah yang merawat Juna dan dirinya. Kedua orang tua mereka merantau dan membuka perusahaan kontraktor di Dubai. Dengan semakin berkembangnya usaha membuat keduanya semakin jarang berkumpul dengan orang tua dan kedua anak mereka.
__ADS_1
"Sudah nggak usah dipikirin mpok. Oh ya, mpok sudah makan?" Mpok Mumun menggeleng. "Makan bareng yuk."
"Den Angga ganti baju dulu. Mpok siapin dulu makanannya ya. Sekalian mpok mau bikin sambal terasi kesukaan den Angga."
"Siap mpok!" sahut Angga dengan gaya ala militer. "Tapi nanti mpok temenin aku makan ya."
"Oke den."
⭐⭐⭐⭐
"Fir, kamu beneran nggak mau pulang bareng kita?" ajak Sinta. Sementara itu Santi kembaran Sinta sudah duduk manis di dalam mobil yang dikendarai oleh Seto kakak si kembar.
"Nggak usah Sin. Sebentar lagi ayahku sudah mau sampai kok," tolak Safira.
"Tapi ini sudah mau hujan lho. Tuh lihat langitnya sudah mulai gelap." Kali ini Seto ikut menawarkan.
"Nggak apa-apa mas. Kasihan ayah kalau sudah sampai sini tapi akunya nggak ada." Sekali lagi Safira menolak.
"Telpon saja ayahmu supaya nggak jemput," usul Santi.
"Setengah jam lalu ayah sudah berangkat menuju kesini. Mungkin lima menit lagi beliau sampai."
Tak sampai lima menit datanglah ojek online menghampiri Safira.
"Lho, katanya ayahnya yang jemput. Itu kok malah naik ojol?" tanya Seto heran.
"Mas perhatikan dong baik-baik." Seto menuruti ucapan Santi. Betapa terkejutnya Seto saat melihat Safira mencium tangan driver ojol itu. Ia menoleh ke arah adik-adiknya.
"Ayahnya Safira itu driver ojol mas. Sejak di PHK dari tempat kerjanya, beliau membiayai keluarga dengan menjadi driver ojol. Ibunya buka warung makan di teras rumahnya."
"Aku duluan ya!" Safira melambaikan tangan kepada ketiganya. Sinta dan Santi membalas lambaian tangan Safira, sementara Seto hanya termangu.
"Mas, ngapain bengong. Ayo kita pulang. Tadi mama kirim pesan, minta tolong dibeliin ayam panggang di resto dekat kantor pos." Sinta mencolek tangan Seto yang masih bengong melihat kepergian Safira dan ayahnya.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐