
Happy Reading
"Fir, pulang bareng yuk," ajak Rosa. "Kebetulan hari ini aku ulang tahun dan mau mengajak mas Seto lunch di mall. Si kembar juga ikut."
"Emm.. kayaknya aku nggak ... "
"Safira nanti bareng di mobil gue aja." Tiba-tiba Troy sudah berdiri di belakang Safira. "Iya kan sayang?"
"Sayang? Kamu jadian sama kak Troy?" tanya Rosa heran sekaligus tak percaya.
"Nggak!" jawab Safira cepat. Dipandangnya Troy dengan kesal. Ya ampun, nyebelin banget sih.
"Dalam proses," ucap Troy kalem sambil memandang Safira lembut.
"Please, jangan kayak begini kak Troy." pinta Safira. "Kak Troy sudah dengar apa kata ayah Fira kan?"
"Ayahmu nggak perlu tahu kamu jadi pacar kak Troy."
"Maaf kak, itu sama saja Fira membohongi ayah. Fira nggak mau!" tegas Safira. "Kak Troy jangan mengajari Fira menjadi pembohong."
"Cuma bohong kecil kok," elak Troy sambil nyengir tak bersalah.
"Troy, yang namanya bohong mau kecil atau besar tetap aja bohong." Kali ini Seto yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka ikut urun suara. "Sudahlah bro, jangan aneh-aneh."
"Gue nggak aneh-aneh. Gue cuma minta dia jadi pacar," kekeuh Troy. "Apalagi mengingat apa yang pernah terjadi di antara kami, wajar saja gue menganggap dia juga suka sama gue."
"Kak Troy, nggak terjadi apapun di antara kita!" Suara Safira tercekat menahan amarah dan tangis. "Kakak jangan menyebar berita bohong!"
"Gue nggak bohong. Kita memang menjadi akrab saat terjebak di dalam gua. Kamu nggak lagi bersikap acuh saat itu." Troy membela diri.
"Sudah.. sudah.. Ayo Fir, kamu ikut mobil mas Seto. Bareng si kembar dan Rosa," tegas Seto. "Kebetulan hari ini bunda minjemin mobilnya."
"To.. kok elo gitu sih?"
"Elo mau ikut kita ke mall?" Troy mengangguk. "Ya sudah, lo ikutin aja mobil kita."
"Kak Troy! Anterin aku pulang dong!" Tiba-tiba Zara sudah berada di samping Troy dan bergelayut manja pada Troy.
"Apa-apaan sih lo, Zar?!" Troy terlihat kesal.
"Mama pengen ketemu sama kak Troy," pinta Zara manja. "Kata mama, papa sudah nggak kesal sama kak Troy. Papa sudah setuju kalau aku pacaran sama kak Troy."
"Troy, kita berangkat ya," pamit Seto. "Kalau mau ikut, ajak anak-anak ya."
"To, tungguin gue dong!" panggil Troy seraya ingin mengejar, tapi ditahan oleh Zara.
"Ayo kak Troy, kita ketemu mama," ajak Zara.
"Zar, gue tuh nggak mau pacaran sama elo. Ngerti?!"
"Apa gara-gara cewek miskin itu kak Troy nggak mau balikan? Apa sih hebatnya tuh cewek?" tanya Zara kesal.
"Gue nggak tau apa hebatnya tuh cewek. Yang pasti gue sudah nggak suka sama elo. Sekarang mendingan elo pulang sendiri. Tuh supir lo dah nungguin. Gue pergi dulu!" Troy melepaskan tangan Zara yang masih memegangi lengannya dan meninggalkan Zara yang cuma bisa bengong.
__ADS_1
"Kak Troy!" panggil Zara. Namun Troy tak menghentikan langkahnya. Tinggallah Zara mencak-mencak sendirian seraya mulut mungilnya mengeluarkan sumpah serapah.
"Zar, kamu kenapa?" tanya Duta yang datang bersama Corong dan Ilyas. "Itu si Troy kenapa?"
Bukannya menjawab pertanyaan Duta, Zara malah meninggalkan mereka sambil mulut mungilnya masih terus memaki-maki.
"Liat dia ngomel begitu jadi pengen gue c***," ucap Duta sambil memandang kepergian Zara.
"Bukannya kalian berdua sempat dekat setelah acara waktu itu?" tanya Corong sambil menarik lengan Duta mengikuti Troy.
"Iya sih. Tapi dia kayaknya belum bisa move on dari Troy. Padahal gue nggak masalah lho kalau dia bekasnya Troy."
"Troy, lo kenapa sih?" tanya Corong setelah mereka berhasil menyusul Troy.
"Nggak usah banyak tanya. Gue mau nyusul Seto." Troy bergegas masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakannya. Corong dan Duta langsung buru-buru masuk ke dalam mobil.
Tak lama mereka tiba di mall. Troy terlihat sibuk dengan ponselnya. Duta dan Corong menatap kelakuan Troy dengan heran. Kenapa sih nih anak? Tadi di mobil juga diam aja.
"To, elo dimana?" Tampak Troy mendengarkan dengan seksama jawaban dari seberang. Setelah menutup ponsel, Troy langsung melangkah meninggalkan para sahabatnya. Keduanya langsung berjalan mensejajari langkah Troy.
"Troy, lo kenapa sih?" sekali lagi Corong menanyakan hal yang sama.
"Elo kayak lagi ngejar maling. Buru-buru banget," ucap Duta.
"Gue emang lagi ngejar maling," jawab Troy cepat.
"Hubungannya sama Seto apa? Tadi elo telpon dia kan? Seto berhasil ngejar tuh maling?"
"Hah?!" Keduanya serentak menahan langkah Troy. "Lo jelasin dulu ke kita apa maksudnya. Ngapain Seto sama tuh maling
"Ya, karena Seto kenal sama tuh maling."
"Gue jadi bingung. Sejak kapan Seto berteman sama maling? Apaan yang diambil?"
"Milik gue yang paling berharga," jawab Troy ambigu sambil meneruskan langkahnya
"Apaan?" tanya Duta penasaran.
"Hati gue," jawab Troy pendek.
Corong dan Duta serentak menghentikan langkahnya dan membiarkan Troy berjalan. Keduanya saling berpandangan lalu pecahlah tawa mereka sehingga membuat pengunjung mall yang lain memperhatikan mereka. Keduanya langsung berlari mengejar Troy.
"Lo ngejar Safira?" tanya Corong sambil terkekeh. "Lo nggak mabuk kan?"
"Sialan, sejak kapan gue doyan mabuk."
"Dia lagi mabuk Cor," potong Duta. "Mabuk cinta." Keduanya tertawa ngakak.
"Troy, sudahlah menyerah saja. Tuh cewek nggak suka sama elo."
"Nggak ada cewek yang bisa menolak pesona seorang Troy Hartanto," sahut Troy tak peduli.
"Kalau elo mau membuat cewek itu luluh, harusnya elo bawain dia hadiah. Semua cewek pasti senang kalau dapat hadiah. Apalagi kalau harganya mahal." Troy berhenti sejenak setelah mendengar ucapan Duta. Ia tampak berpikir.
__ADS_1
"Menurut kalian gue beliin dia apa?"
"Cincin aja. Sekalian tanda bahwa dia sudah lo ikat."
"Tapi gue cuma mau pacarin dia, bukan mau gue kawinin."
"Troy... troy.. kenapa elo mendadak bego sih?" Kedua sahabatnya kembali tergelak. "Siapa yang nyuruh elo ngawinin dia? Itu tanda doang, biar anak IPS saingan lo nggak ngedeketin Safira lagi."
Troy tampak berpikir keras. Suatu hal yang jarang terjadi. Apalagi kalau sudah berurusan dengan para gadis. Selama ini bukan Troy yang mendekati para gadis, tapi sebaliknya. Baru kali ini Troy terlihat berusaha cukup keras untuk merebut perhatian Safira, gadis manis dan bersahaja.
"Kalau gitu kalian temenin gue ke toko perhiasan itu ya," ajak Troy sambil menunjuk toko perhiasan yang ada di dalam mall tersebut. Duta dan Corong bersiul kecil melihat nama toko tersebut. Mereka bisa membayangkan berapa harga sebentuk cincin, bahkan yang paling sederhanapun sanggup menguras uang jajan mereka. Tapi itu tak berarti apapun untuk Troy yang memiliki black card.
⭐⭐⭐⭐
"Fir, kamu beneran jadian sama Troy?" tanya Rosa sambil menunggu pesanan makanan mereka tiba.
"Nggak. Kak Troy aja tuh yang ngaco. Tadi pagi tiba-tiba dia muncul di rumah."
"Serius?!" Serentak Rosa dan si Kembar terbelalak mendengar ucapan Safira. Bahkan Seto yang sangat mengenal sifat Troy pun terkejut.
"Terus gimana tanggapan orang tua kamu?" tanya Seto setelah reda terkejutnya.
"Mas Seto tau kan gimana ayah Fira. Beliau nggak akan mengijinkan Fira pacaran. Tapi karena Troy sudah terlanjur menjemput, untuk hari ini ayah memberikan ijin. Itupun kami berangkat bersama adik-adik Fira," jelas Safira. "Ayah dengan tegas melarang kami pacaran ."
"Kamunya sendiri gimana?" Seto balik bertanya sementara yang lain memperhatikan dengan serius.
"Fira belum mau mikirin pacaran, kak. Fira mau serius sekolah dan mengejar beasiswa untuk kuliah. Pacaran cuma bikin ribet. Fira mau membahagiakan orang tua."
"Tapi kak Troy kan tajir dan tampan, Fir. Banyak cewek yang ngejar-ngejar dia lho," ucap Santi.
"San, kamu tahu kan kalau hal seperti itu nggak berpengaruh apapun untukku. Percuma ganteng dan kaya kalau akhlaknya buruk. Apalagi dia kaya kan nebeng orang tua, bukan hasil sendiri."
"Gue setuju dengan Fira. Cowok model gitu nggak bisa diandalkan."
"Kalau model aku gimana, Cha?" tanya Seto sambil senyum-senyum dan meraih tangan kekasihnya.
"Kalau mas Seto bedalah dengan kak Troy," puji Rosa dengan pipi memerah karena malu. Walaupun dibesarkan di Australia, ia masih belum terbiasa diperlakukan mesra di depan umum.
"Cie... cie... malu nih yeee," ledek si kembar. Yang lain pun tertawa melihat sikap Rosa yang malu-malu.
"Wah, ada apa nih. Seru banget ketawanya. Boleh dong kita ikutan ketawa," ucap Troy yang baru sampai dengan dua pengawalnya, Duta an Corong. Di tangannya terlihat sebuah paperbag mungil bertuliskan nama sebuah toko perhiasan.
Yang lain mengerutkan dahi samb sibuk bertanya dalam hati saat melihat paperbag tersebut.
"Kak Troy, itu hadiah buat Ocha ya?" tanya Rosa.
"Enak aja. Ini buat Fira," sahut Troy sambil menyerahkan paperbag tersebut kepada Safira.
"Yang ulang tahun kan Ocha. Kok Fira yang dapat kado?" tanya Sinta penasaran.
"Fir, please be my girl," ucap Troy tanpa mempedulikan yang lain. "Put this ring on and be my girl."
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1