CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 44


__ADS_3

"Fir, pulang sekolah ikut kita yuk," ajak Rosa. "Nanti mas Seno mau ajak nonton."


"Aku nggak mau jadi obat nyamuk, ah!" sahut Fira sambil mengaduk-aduk baksonya dengan sambal.


"Fir, banyak amat sambalnya? Kamu kesurupan?" tanya Santi sambil nyengir. "Sejak sering ketemu kak Troy, kamu jadi galak."


"Nggak ada hubungannya, Santi. Kebetulan aja aku lagi kepengen makan yang pedas-pedas."


"Eh, tunggu dulu," Tiba-tiba tangan Rosa menahan tangan Safira. "Fir, elo nggak ........"


"Iih... apaan sih?" Safira balik bertanya. Tiba-tiba Safira tergelak. "Jangan mikir yang aneh-aneh."


"Soalnya sekarang kan bukan hal aneh yang kayak gitu. Tuh, pacarnya kak Duta kan ha....."


"Hush, nggak boleh ghibah." Safira mengingatkan. Ia sudah tau apa yang akan Rosa ucapkan.


"Iya, aku juga kaget waktu dengar cerita mas Seto. Untung aja kak Duta mau tanggung jawab ya." ucap Sinta. "Mas Seto menceritakan hal itu pada kami supaya kami hati-hati bergaul. Supaya kami bisa menjaga diri dan kehormatan kami."


"Kamu sendiri gimana, Sa? Kamu kan sudah biasa melihat pergaulan bebas seperti itu," tanya Sinta. "Kamu dan mas Seto nggak melakukan hal itu kan?"


"Aku memang besar di Australia, tapi untungnya daddy dan mommy selalu mengajarkan tentang norma-norma yang berlaku di sini. Bahkan mereka mengirimku belajar ngaji di konsulat."


"Wah, orang tua kamu hebat ya," puji Safira.


"Justru aku malah terkaget-kaget saat melihat pergaulan anak muda disini. Banyak banget yang melakukan pergaulan dan s*** bebas. Nggak usah jauh-jauh, murid-murid disini banyak yang kayak gitu."


"Kata siapa?" tanya Sinta penasaran.


"Aku pernah lihat dengan mata kepalaku sendiri, kok. Ada pasangan yang masuk ke kamar hotel."


"Kamu ngapain di hotel?" tanya Santi curiga. "Bukan sama mas Seto kan?"


"Ya ampuuun.. ya nggaklah. Kakak kalian itu salah satu cowok tersopan yang pernah aku temui. Kalau kami jalan berdua, sikap paling mesra yang pernah dia lakukan tuh hanya menggandeng tanganku. Memeluk bahu saja nggak pernah."


"Lalu kamu ngapain di hotel? Sama siapa?"


"Aku dan mommy lagi menemui daddy yang datang berkunjung. Karena mereka sudah divorce nggak mungkin kan daddy menginap di rumah kami. Dan nggak mungkin juga mommy sendirian menemui daddy," jelas Rosa.


"Jadi gimana? Mau ikut nggak?" tanya Rosa.


"Ayolah ikutan. Sudah lama lho kita nggak jalan bareng. Kepalaku sudah berasap nih gara-gara belajar terus dari awal semester. Apalagi besok kan libur," bujuk Sinta.


"Iya Fir. Nanti siang kamu juga nggak ada jadwal mengajar kan?" tanya Santi.


"Aku tanya ibu dulu ya?"


"Sip. Jangan lama-lama ya. Biar mas Seto bisa langsung beliin tiketnya. Jadi sampai sana kita nggak usah antri lagi."

__ADS_1


"Iya, iya.. aku habisin dulu makananku. Setelah itu aku akan kirim pesan ke ibu."


Tak lama bel berbunyi. Tanda istirahat sudah usai. Mereka pun kembali ke kelas masing-masing. Kelas 12 ini si kembar kelasnya terpisah. Santi sekelas dengan Rosa. Sementara Sinta sekelas dengan Safira. Dalam perjalanan ke kelas, Safira melihat Angga dan teman-temannya.


"Hei, Fir!" panggil Angga dengan senyum lebar. Ia berlari ke arah Safira.


"Halo, Ngga. Kamu baru mau ke kantin? Kamu nggak masuk kelas?"


"Kelas kami baru istirahat. Tadi pas jam istirahat kami tes pelajaran olahraga. Biasa, pak Dino kalau sudah ngajar suka lupa waktu. Untunglah kami tetap dikasih waktu istirahat."


"Kalau gitu aku duluan ya."


"Eh Fir, tunggu dulu!" Angga menahan tangan Safira, tapi lalu buru-buru melepaskannya.


"Ada apa Ngga? Ada yang mau dibicarain? Nanti aja ya. Aku buru-buru nih. Ada ulangan biologi."


"Aku cuma mau ajak kamu pulang bareng. Kebetulan bang Juna minjemin mobilnya."


"Eemm sorry Ngga, aku diajak nonton oleh Rosa." Wajah Angga tampak kecewa. Rosa melihat hal itu.


"Ngga, elo mau ikutan nggak? Ajak juga teman-teman lo. Makin ramai makin seru," ajak Rosa.


"Beneran nih?" tanya Angga nggak percaya. "Oke, nanti aku kasih tahu yang lain. Sampai nanti ya."


"Sa, kamu beneran mengajak mereka?" tanya Safira heran.


"Iya. Memangnya kenapa? Nggak apa-apa kan? Nggak ada yang marah kan kalau aku ajak mereka? Jangan-jangan kamu takut Troy marah ya?" goda Rosa sebelum masuk ke kelasnya.


"Ih, nggaklah."


"Tapi sekarang kamu kan tambah dekat sama kak Troy. Sering diantar pulang kalau habis mengajar adiknya."


"Sebenarnya aku risih sering diantar oleh kak Troy. Nggak enak sama ayahku. Beliau juga mengira aku dan kak Troy pacaran. Padahal aku sama sekali belum ada niatan punya pacar."


"Hmm.. tapi sikap keluarganya ke kamu gimana? Kata mas Seto, omanya galak ya?"


"Keluarganya baik. Omanya bukan galak tapi tegas. Aku kagum sama beliau. Walau kak Troy calon penerus usaha keluarganya, tapi dia nggak dimanja. Malah sekarang ini kak Troy sudah disuruh bekerja di perusahaan teman opanya."


"Hmm.. ada nada-nada kagum nih," ledek Sinta.


"Iih.. apaan sih kamu. Biasa aja tau. Sudah ah, tuh miss Lina sudah masuk. Sudah siap ulangan kan?"


"Siap dong! Kelas 12 ini aku mau lebih semangat belajarnya."


"Nah gitu dong!"


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


Segerombolan anak muda itu asyik ngobrol sambil menikmati cemilan di foodcourt. Mereka adalah para siswa SMA Bhakti Nusa. Ya, mereka adalah Safira dan teman-temannya.


"Sumpah, filmnya seru banget!" ucap Rosa. "The best banget deh untuk jump scared nya."


"Siapa sih yang pilih film?" tanya Sadewa. "Tuh si Kula sampe nahan pipis gara-gara nggak berani ke toilet sendirian."


"Bukan nggak berani, tapi penasaran. Kalau gue ke toilet nanti ketinggalan filmnya," sahut Nakula membela diri. "Elo juga sama aja, Wa. Sampai sakit tangan gue lo cengkeram."


Yang lain tertawa melihat perdebatan si kembar.


"Kamu takut nggak, Fir?" tanya Angga.


"Nggaklah, itu kan cuma film."


"Takut sih nggak, kaget iya," ledek Rosa. "Beberapa kali tanganku dipukul sama Fira gara-gara dia kaget."


"Sakit nggak?" tanya Seto perhatian.


"Ih, lebay amat Sa. Aku kan mukulnya nggak kencang."


"Nggak kencang tapi sering," jawab Rosa sedikit kesal tapi sambil tersenyum.


"Sebelah mana yang sakit?" tanya Seto lagi sambil memegang lengan Rosa.


"Duuuh... dunia serasa milik berdua ya. Yang lain cuma ngontrak," ledek Santi dan Sinta. "Nggak kasian ya sama kita-kita yang masih jomblo."


"Memangnya kalian belum punya pacar?" tanya Bento.


"Belum. Kenapa? Mau jadi pacar kita?" tantang Santi.


"Bukan gue," elak Bento. "Tuh si Dewa dan Kula juga masih jomblo. Kalian jadian aja. Pas kan, kembar pacaran sama anak kembar."


Santi - Sinta dan Nakula - Sadewa tak berkomentar namun saling mencuri pandang. Yang lain jadi gregetan melihat sikap mereka.


"Nggak usah malu-malu. Kalau suka bilang aja," ledek Arif yang sedari tadi nempel terus pada Sonya.


"Rif, lo ngapain sih duduk disini. Pindah gih ke samping Bento," usir Sonya kesal.


"Nya, si Arif mau nembak elo," ucap Angga sambil nyengir. "Akhirnya ada juga yang mau sama elo ya."


"Si***n lo! Gini-gini gue banyak yang naksir nih. Emangnya elo, nggak laku," balas Sonya sambil manyun.


"Bukannya elo naksir gue?" ledek Angga.


"Memangnya kalau gue naksir, elo mau sama gue?" Sonya balik bertanya.


"Wah, mendingan jangan deh. Nggak sanggup gue ngadepin cewek tomboy plus sompral model elo. Mendingan gue jadian sama Fira."

__ADS_1


"Huuuu... itu sih emang mau lo!" sorak yang lain sambil menoyor kepala Angga. Yang ditoyor hanya bisa nyengir sambil melirik Safira. Sementara itu Safira hanya tergelak melihat kelakuan teman-temannya.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2