CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 36


__ADS_3

"Anak kecil duduk di belakang," perintah Troy saat Cantika hendak membuka pintu depan.


"Nggak! Cantika maunya duduk di depan. Lagian aturan dari mana yang mengharuskan anak kecil duduk di belakang? Aku kan bukan anak balita," tolak Cantika lalu dengan cueknya ia duduk di kursi depan samping supir.


"Eeeh... malah duduk disini. Pindah sana ke belakang!" perintah Troy sekali lagi.


"Ih kak Troy mah nyebelin. Cantika tuh nggak bisa duduk di belakang. Pusing," alasan Cantika.


"Ya sudah sono naik taksi aja kalau nggak mau nurut sama gue!"


"Memangnya kenapa sih aku nggak boleh duduk depan?"


"Itu buat calon kakak ipar lo," jawab Troy sambil melempar senyum ke arah Safira. Senyuman yang mampu membuat para gadis meleleh dibuatnya, tapi hal itu tak berlaku untuk Safira yang sejak tadi kesal dengan sikap Troy.


"Can, kalian pulang saja. Nggak usah mengantar kak Fira. Biar kak Fira pulang naik angkot saja." Safira hendak berjalan meninggalkan kakak beradik itu saat Cantika menahan tangannya.


"Kak, jangan gitu dong. Ini kan amanah dari mama untuk mengantar kakak pulang. Kalau kakak pulang naik angkot, itu artinya kita nggak amanah dong."


Safira menoleh ke arah Troy yang tersenyum penuh kemenangan. Pasti dia menyuruh adiknya untuk membujukku, batin Safira.


"Arah rumah kalian kan nggak searah dengan rumah kakak. Sayang bensinnya."


"Tapi aku lebih sayang sama kamu, Fir," ucap Troy absurd. "Makanya aku nggak keberatan buang bensin demi kamu."


"Kak Troy nggak usah aneh-aneh deh ngomongnya. Nanti kak Fira benar-benar nggak mau pulang bareng kita," omel Cantika.


"Oke.. oke.. aku akan diam tapi yang penting Fira pulang bareng kita," sahut Troy mengalah.


"Ayo kak!" Kali ini Cantika mulai menarik Safira ke arah mobil mereka. "Kak Fira duduk depan saja."


"Ah, nggak usah Can. Kakak duduk di belakang saja," tolak Safira.


"Yaaa... kok gitu?" protes Troy.


"Oke, nggak apa-apa kak Fira duduk di belakang, yang penting kakak pulang bareng kita." Cantika langsung memotong sebelum Troy protes lebih panjang.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Safira, Troy tak banyak diberi kesempatan bicara. Cantika dan Safira asyik berbicara tanpa melibatkan Troy.


"Kak Fira, punya adik? Berapa?" tanya Cantika.


"Punya, dua orang. Cowok dan cewek."


"Kembar?"


"Nggak. Yang cowok kelas 9, yang paling kecil cewek kelas 7."


"Wah pasti seru ya punya saudara perempuan." ucap Cantika dengan nada sedih. "Enak, ada yang diajak curhat. Adik cowok kak Fira jahil nggak?"


Safira tertawa melihat Cantika manyun sambil melirik judes pada kakaknya.


"Sama aja Can, saudara laki atau perempuan. Kamu juga seharusnya bersyukur punya kakak cowok yang selalu melindungi kamu."


"Kak Troy? Dia mah nyebelin banget. Rese!" omel Cantika. "Kak Troy itu paling senang gangguin aku. Dia nggak akan berhenti sebelum aku menangis."

__ADS_1


"Itu karena kamunya lebay banget. Digodain dikit aja marah. Ya sekalian aja kak Troy bikin nangis," sahut Troy kalem sambil menatap kaca spion di tengah, mencuri pandang kepada Safira yang sedang tertawa.


"Sebagai kakak, seharusnya kak Troy memberi contoh yang baik bukannya malah gangguin adiknya, apalagi sampai nangis."


"Ah, itu dianya aja yang lebay. Digangguin dikit ngadu melulu. Ya sekalian aja dibikin nangis."


"Iih.. kak Troy jahat banget sih!" Cantika mencubit pinggang Troy. "Gimana nggak ngadu, kalau lagi asyik baca novel digangguin. Pake acara tuh novel di taruh di atas lemari. Kan susah ambilnya."


"Eh, jangan cubit-cubit segala ya. Kalau nanti kita tabrakan gimana? Kak Troy kan belum jadian sama kak Fira."


"Dih, ngarep banget sih kak. Mana mungkin kak Fira mau sama cowok seperti kak Troy. Weeek.....!" Cantika menjulurkan lidahnya meledek Troy.


Safira hanya bisa geleng kepala samb tersenyum melihat hubungan kakak adik yang seperti Tom dan Jerry.


Saking asyiknya ngobrol dan saling ledek, tak lama mobil Troy sampai di depan rumah Safira.


"Wah, di rumah kak Fira ada warung nasi uduk dan gado-gado. Pasti enak. Siapa yang jualan kak?"


"Ibunya kak Fira kalau pagi jualan nasi uduk dan kalau siang sampai ashar jualan gado-gado,"


"Kak Fira tiap hari makan nasi uduk dan gado-gado dong."


"Nggak juga. Ibu selalu menyempatkan masak buat kami."


"Kak, kalau jam segini masih ada nggak gado-gadonya?"


"Ada. Memangnya kamu doyan?" tanya Safira tak percaya.


"Doyan kak. Aku pernah cobain waktu main ke rumah temanku."


"Nggak gitu jugalah kak. Aku ini termasuk omnivora, pemakan segala." Safira tertawa mendengar lelucon Cantika.


"Soalnya kakak punya kenalan yang maunya makan di mall atau resto melulu. Bahkan makan di foodcourt mall juga pake ngomel." Troy hanya bisa nyengir mendengar sindiran yang ditujukan padanya.


"Kalau begitu, turun dulu yuk. Nanti kakak akan minta ibu membuatkan gado-gado untuk kalian. Eh, kak Troy doyan juga kan?" Troy hanya garuk-garuk kepala tanpa menjawab.


Sementara itu di dalam rumah, Dian dan Sania sedang memperhatikan mobil yang berhenti di seberang rumah mereka. Bahkan Sania sampai berdiri di depan jendela agar dapat melihat lebih jelas.


"Bu, itu kayak mobil temannya kak Fira."


"Teman yang mana? Perasaan ibu, nak Seto nggak punya mobil kayak gitu. Nak Angga malah nggak punya mobil. Mobil kakek neneknya nggak seperti itu."


"Bu, tuh kan benar itu mobil kak Troy.... Lho, itu kak Fira turun dari mobil?!" seru Sania heboh. "Ngapain kak Fira ikut mobil kak Troy. Nanti diomelin ayah deh."


"Assalaamu'alaykum." Terdengar salam diucapkan.


"Wa'alaykumussalaam," jawab Dian dan Sania bersamaan.


"Baru pulang Fir? Tumben lebih siang dari biasanya," sambut Dian. "Kamu pulang sama siapa?"


"Bu, kenalin ini Cantika, murid Fira." Safira memperkenalkan seorang gadis cantik berambut panjang kepada Dian. Gadis itu mengangguk sopan pada Dian dan Sania.


"Kak, kok pulang naik mobil kak.... Eh, ada kak Troy." Tampak tubuh tinggi Troy memasuki rumah mereka.

__ADS_1


"Kak, kalau masuk rumah beri salam dong," tegur Cantika.


"Eh.. assalamualaikum bu," sapa Troy tergagap.


"Wa'alaykumussalaam nak... Troy? Benarkan nama kamu Troy? Maaf ya, ibu tuh suka lupa dengan nama temannya Safira."


"Eh iya nggak apa-apa bu."


"Bu, masih ada gado-gadonya?"


"Masih. Kamu mau makan dengan gado-gado? Ibu masak ayam goreng mentega dan capcay."


"Bukan buat Fira, bu. Nih, Cantika mau nyobain gado-gado buatan ibu."


"Tadi kamu bilang Cantika itu murid kamu. Memangnya kamu ambil job jadi tutor? Lalu apa hubungannya dengan nak Troy? Kok kamu pulangnya diantar nak Troy? Ingat pesan ayahmu Fir."


"Iya bu. Fira selalu ingat pesan ayah. Nanti Fira jelaskan ya."


Sementara Dian dibantu Safira menyiapkan gado-gado, Cantika ditemani ngobrol oleh Sania.


"Kak Cantika kelas berapa?" tanya Sania penasaran.


"Aku baru kelas 8. Kamu kelas 7 ya?" Sania mengangguk. "Kenapa? Kamu kok kayak nggak percaya gitu."


"Soalnya kakak tinggi banget. Bahkan tingginya melebih kak Fira. Padahal kak Fira sudah kelas 11."


Cantika tertawa mendengar ucapan Sania. Entah mengapa ia merasa mudah akrab dengan Sania, padahal mereka baru sekali ini bertemu.


"San, tinggi badan nggak ditentukan dengan tingkat pendidikan. Kebetulan aja kak Cantika lebih tinggi karena memang keturunannya jangkung-jangkung."


"Kak Cantika apa hubungannya dengan kak Troy? Kok kalian kesini naik mobil kak Troy?" tanya Sania penasaran.


"Si jelek ini adik kak Troy satu-satunya," jawab Troy yang duduk di dekat mereka.


"Siapa si jelek?" tanya Sania lagi.


"Nggak usah dengerin kak Troy. Dia emang gitu," ucap Cantika dengan wajah cemberut.


"Ih, kak Troy ngaco deh. Kak Cantika tuh sesuai dengan namanya, cantik."


"Kak, jangan suka ngegodain adiknya dong," tegur Safira yang masuk sambil membawa 2 piring gado-gado. "Can, nih makan dulu. Yg satu lagi buat kak Troy."


Mata Cantika langsung berbinar saat melihat gado-gado dengan bumbu kacang yang melimpah. Kebalikan dengan Cantika, Troy memandang makanan tersebut dengan ragu. Seumur hidup ia paling tidak suka makan sayur.


"Kenapa kak? Ayo dicobain. Fira jamin makanan ini enak banget. Tuh lihat Cantika semangat banget makannya, padahal lumayan pedas."


"Kak Troy itu nggak suka makan sayur, kak." adu Cantika dengan mulut penuh. Di hidungnya mulai muncul bukir keringat akibat gado-gado pedas yang dimakannya.


"Oh ya? Sudah segede ini tetap nggak doyan sayur? Hmm.. kayak anak kecil ya." Cantika dan Sania tertawa mendengar ucapan Safira yang diucapkan dengan wajah datar.


"Kamu bilang aku kayak anak kecil? Aku ini justru bisa membuat anak kecil." Kalimat terakhir Troy ucapkan sambil berbisik di telinga Safira. Sontak wajah Safira memerah mendengarnya. Belum lagi posisi mereka yang ternyata dekat.


Kali ini Troy tersenyum puas berhasil membuat wajah Safira memerah. Gilaaa.. cantik banget sih nih cewek, puji Troy dalam hati. Lama-lama gue beneran jatuh cinta sama dia.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2