
"Ma, nanti siang Cantika mau ke toko buku. Mama bisa nemenin nggak?" tanya Cantika pagi itu saat mereka sarapan.
"Kamu mau cari buku apa? Bukannya buku kamu sudah banyak?" tanya Kemala seraya memberikan setangkup sandwich pada Broto. "Oh iya, kamu mau sarapan nasi goreng atau sandwich kayak papa?"
"Ada salad buah nggak?"
"Salad buah? Itu kan dingin, Can. Nanti perut kamu sakit."
"Cantika lagi pengen itu, ma."
"Tumben lo nggak mau makan nasi," komentar Troy yang baru bergabung di meja makan. "Ma, Troy mau nasi gorengnya dong. Oh iya ma, hari ini kan hari terakhir ujian. Troy dan teman-teman mau ke pantai."
"Memangnya kamu nggak capek?" tanya Kemala. "Beberapa hari ini kamu kan belajar terus."
"Nggak mungkinlah kak Troy capek. Dia kan nggak pernah belajar. Paling-paling juga nyontek." celetuk Cantika.
"Heh, anak kecil! Jaga ya omongan lo!"
"Troy, jangan bicara kasar sama adikmu. Beri Cantika contoh yang baik. Kamu juga Cantika, jangan suka sembarangan komentar. Kakakmu akhir-akhir ini lagi sensi."
"Kenapa kak? Habis ditolak cewek ya?" ledek Cantika. "Makanya kak Troy harus rajin belajar biar tuh cewek mau."
"Sudah.. sudah. Cantika, mama mau tanya sesuatu." Wajah Cantika langsung meredup mendengar ucapan Kemala.
"Hahahaha.... rasain lo mau disidang sama mama, Weeeek... " ledek Troy.
"Kak Troy jahat ih!"
"Sudah.. sudah... " Kemala melerai. Broto tak banyak bicara. Ia tahu Troy tak akan suka bila dirinya ikut campur. Walaupun sayang pada Cantika, namun hingga saat ini Troy masih belum bisa 100% menerima dirinya sebagai pengganti almarhum papanya.
"Sayang, mama dapat laporan dari gurumu kalau akhir-akhir ini nilaimu turun."
"Naaaah... ketahuan ya... Elo punya pacar ya?" tebak Troy. "Masih kecil nggak usah pacar-pacaran deh. Fokus aja sama pelajaran."
"Iiih... apaan sih?! Emangnya aku kak Troy yang pacarnya banyak." Cantika mulai terlihat kesal dan mau menangis.
"Dih, siapa juga yang pacarnya banyak. Ngarang lo!" balas Troy.
"Emang iya sih. Siapa tuh yang terakhir... Za... Zara! Sebelumnya ada Vanny, Lisa, Candice, Trully... aah masih banyak lagi deh." Troy terdiam saat Cantika menyebutkan deretan gadis yang pernah dekat dengannya.
"Kalian ini bisa nggak dengarkan dulu mama mau bicara. Cantika, kamu mau ikut bimbel?"
"Nggak mau ma. Buang-buang duit."
"Tumben pikiran lo bener," sindir Troy.
"Dih, aku tuh bukan kak Troy yang suka foya-foya ke club, traktir teman kesana kemari."
"Sudah.. sudah.. dengarkan dulu mama kalian mau bicara." Kali ini Broto ikut bicara.
__ADS_1
"Lalu bagaimana caranya kamu bisa menaikkan nilaimu kalau kamu nggak mau ikut bimbel. Apa kamu mau mama carikan guru privat?'
"Papa setuju dengan usul mama."
Cantika terlihat berpikiri keras mendengar usulan tersebut.
"Tapi Cantika nggak mau guru yang sudah tua. Pasti ngebosenin nantinya."
"Kamu mau yang seperti apa? Apa kamu mau papa pilihkan salah satu guru dari Bhakti Nusa?"
"Teman-teman papa kan sudah tua semua. Aku nggak mau!" tolak Cantika.
"Kalau guru di sekolah kita rata-rata memang sudah tua, tapi kualitas mereka teruji. Bukan hanya sekali dua kali sekolah kita juara olimpiade matematika."
"Guru matematikanya om Anto ya, pa?" tanya Cantika. "Aku nggak mau!"
"Tapi dia pintar, sayang."
"Tapi om Anto itu nggak seru, ma. Cantika pasti akan mati bosan kalau diajarin om Anto."
"Gimana kalau salah satu murid di sekolah kita yang papa hire untuk menjadi tutor kamu?" tawar Broto.
"Anak SMA jadi guru privat? Memang bisa? Mereka aja masih pelajar, mana mungkin bisa mengajar." ucap Cantika menyangsikan.
"Kamu jangan meremehkan siswa SMA menjadi guru privat. Dulu papamu sebelum lulus SMA sudah bekerja sambilan menjadi guru privat anak-anak SD dan SMP," jelas Kemala.
"Benar kata mamamu. Dulu sejak kelas 1 SMA atau kelas 10, papa sudah bekerja mengajar anak SD. Lalu kelas 12 papa mulai berani mengajar anak SMP dan membantu persiapan mereka ujian," imbuh Broto. "Berkat pekerjaan tersebut papa bisa kuliah di jurusan keguruan. Bahkan menjadi guru privat masih papa lakoni hingga papa lulus D3."
Cantika terlihat berpikir keras sambil menikmati salad yang disediakan Kemala. Sepertinya ia mulai tertarik dengan tawaran dicarikan guru privat.
"Mas, siapa murid terpandai di sekolah kita?" tanya Kemala.
"Hmm.. kalau nggak salah ada beberapa penerima beasiswa yang selalu menjadi top ten di sekolah kita. Salah satunya temannya Troy, si Ilyas."
"Cantika nggak mau diajarin sama kak Ilyas!" tolak Cantika. Wajahnya mendadak memerah.
"Kenapa muka lo merah? Waaah.. jangan-jangan elo naksir Ilyas ya?" tebak Troy sambil tergelak. Apalagi saat dilihatnya wajah sang adik semakin memerah. "Waaah.. anak mama sudah mulai genit tuh!"
"Kak Troy!" Cantika terlihat mau menangis karena ledekan Troy.
"Troy, sudah dong. Jangan ledek adikmu terus."
"Ma, gimana kalau Safira aja yang jadi guru privatnya Cantika?" usul Troy tiba-tiba.
"Safira? Gadis yang waktu itu tersesat di hutan bareng kamu?"
"Waaah.. pacar kak Troy ya?" Kali ini Cantika ganti meledek Troy yang kupingnya langsung memerah. "Tuuuh benar kan. Dia pasti pacar kak Troy. Cantik nggak orangnya?"
"Apakah Safira pintar mas?" tanya Kemala pada Broto .
__ADS_1
"Sejak kelas 10 dia selalu rangking tertinggi di sekolah kita," jelas Broto.
"Hmm.. bagaimana menurut mas, kalau kita coba tawarkan pada dia pekerjaan sebagai guru privat ini?"
"Anaknya cantik? Gaul? Asyik?" Masih sederet pertanyaan yang Cantika ajukan kepada Broto.
Troy tersenyum penuh kemenangan saat melihat sang mama menimbang usulannya. Kalau Safira menjadi guru privat Cantika, maka ia akan memiliki kesempatan lebih untuk mendekati gadis itu.
"Hmm.. nanti papa tanyakan dulu ke anaknya. Kalau dia bersedia, pulang sekolah kamu mampir ke sekolah kakakmu. Kita trial dulu. Kalau kamu sreg, barulah dia kita panggil untuk mengajar di rumah. Bagaimana?"
Tanpa menunggu keputusan akhir, Troy berdiri dan berpamitan untuk berangkat sekolah.
"Ma, nanti Troy pulang agak malam ya. Pulang dari pantai, Corong mau ngajakin jalan." Tanpa menunggu jawaban Kemala, Troy ngeloyor pergi.
Tinggallah Kemala dan Broto geleng-geleng kepala melihat tingkah Troy.
"Kak Troy, Cantika berangkat bareng dong!" Cantika buru-buru menghabiskan susunya lalu mencium tangan kedua orang tuanya dan mengejar Troy yang sudah mulai memanaskan mobilnya.
Broto dan Kemala hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan anak mereka. Walaupun seperti Tom dan Jerry, kakak beradik itu saling menyayangi.
"Kak, beneran naksir sama si Safira?" tanya Cantika saat mereka dalam perjalanan menuju sekolah.
"Elo naksir kak Ilyas?" Bukan menjawab pertanyaan adiknya, Troy malah balik bertanya.
"Eengh.. nggak. Siapa juga yang naksir kak Ilyas," elak Cantika dengan wajah memerah. Troy tertawa ngakak melihat Cantika salah tingkah.
"Terus kenapa elo salting gitu? Cieee... sudah mulai puber ya?"
"Memangnya salah ya kalau Cantika kagum sama kak Ilyas? Dia pintar, baik, kalem, dan rajin shalat. Nggak kayak kak Troy."
"Masih SMP nggak usah ngide naksir anak SMA."
"Kenapa nggak boleh? Ideal lho selisih usianya," sahut Cantika tak mau kalah.
"Kasihan Ilyas kalau pacaran sama anak manja kayak elo," jawab Troy sambil menahan senyum. "Manja, boros, malas. Wah nggak pacarable banget deh."
"Iiih.. kak Troy mah jahat!" Cantika ngambek mendengar jawaban Troy.
Tak lama kemudian mobil mereka sudah memasuki area parkir. Yayasan Bhakti Nusa memiliki fasilitas pendidikan mulai dari SD hingga SMA. Walaupun lokasinya berada dalam satu komplek pendidikan, namun lokasi gedung SMP dan SMA memiliki jarak yang lumayan jauh.
"Kak, kok nggak ke SMP dulu? Kan jadi jauh jalannya," protes Cantika.
"Harusnya elo bersyukur gue parkir disini," jawab Troy kalem.
"Maksud kak Troy?"
"Elo jadi ada kesempatan liat idola lo. Tuh dia disitu," bisik Troy sambil menunjuk dengan dagunya. Tampak Ilyas yang sedang melepas jaketnya di tempat parkir motor.
"Iih.. apaan sih kak Troy." Kembali wajah Cantika memerah. Ia sudah mau lari saat tangannya ditahan oleh Troy.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐