CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 4


__ADS_3

"Angga, elo nggak berangkat sekolah hari ini?" tanya enyak Rodiah pada Angga yang masih terlihat santai sarungan. Padahal jam menunjukkan pukul 06.15. Biasanya jam 05.45 Angga sudah sibuk bersiap-siap.


"Angga masuk siang, Nyak."


"Masuk siang? Perasaan sekolah lo kagak kekurangan kelas. Kenapa elo masuk siang?," tanya enyak Rodiah bingung.


"Anak kelas 12 ada tryout, Nyak," jawab Angga seraya menyeruput teh yang disediakan enyak Rodiah.


"Anak jaman sekarang mah dikit dikit libur, dikit-dikit libur. Bingung ah!" Enyak Rodiah menyerah. "Kalau gitu tolong beliin nasi uduk di warung yang di pengkolan dekat rumah Engkong Ahmad ya. Jangan lupa semur jengkol, tempe goreng dan pisang gorengnya ye."


"Yaelah Nyak, masa ganteng-ganteng begini disuruh beli nasi uduk sih. Bisa turun pasaran nih kalau ada teman sekolah yang liat."


"Bujug dah nih anak. Emang kenape kalau ada teman lo yang liat? Ada yang salah elo bantuin enyak beli nasi uduk? Enyak kan bukan nyuruh elo belanja ke pasar," Enyak Rodiah mulai mengomel panjang lebar. "Ya sudah kalau elo nggak mau biar enyak nyuruh Juna aja. Tapi hari ini elo kagak dapat uang saku ya. Pan sekolah siang. Berangkat dari rumah sudah kenyang. Nanti sekolah bawa bekal aja dari rumah."


Mampus gue, enyak ngambek. Angga buru-buru mengambil uang yang sudah diletakkan enyak Rodiah di meja.


"Iya, Angga berangkat nih. Si bu Dian itu sudah tau kan nasi uduk kedoyanan enyak dan engkong kayak apa?" tanya Angga.


"Iye, dia sudah tahu. Eh, jangan lupa ya semur jengkolnya. Buat mpok Mumun sambalnya dipisah. Buat si Juna jangan pakai jengkol soalnya siang ini dia ada presentasi di kantornya. Kalau elo terserah deh maunkayak gimana nasi uduknya."


"Nyak, kembaliannya nanti buat Angga ya?"


"Iye. Dah, buruan sono berangkat. Kesiangan dikit habis dah tuh nasi uduk. Kalau pagi begini rame banget warungnya. Mumpung baru jam segini, buruan elo kesono deh."


"Angga nggak usah ganti baju ya."


"Terserah elo dah. Yang penting elo kagak telanjang," Enyak Rodiah tertawa sambil mendorong Angga untuk segera pergi.


Dengan mengendarai sepedanya Angga pergi membeli nasi uduk pesanan enyak Rodiah. Benar apa kata enyak, sesampainya di warung yang berada di teras mungil sebuah rumah sederhana namun apik, tampak para pelanggan sudah berjejer menunggu dilayani. Bujuuug, rame banget. Perasaan ini bukan week end. Seberapa enaknya sih nasi uduknya? Jangan-jangan pakai pesugihan, tuduh Angga. Ini kenapa yang beli rata-rata cowok? Pertanyaan Angga terjawab saat melihat gadis yang membantu melayani pembeli.


A***r cantik banget tuh cewek, batin Angga saat melihat gadis cantik berhijab yang membantu si ibu pemilik warung. Mungkin itu anaknya ya. Ibu dan anak sama-sama cantik, batin Angga. Hmm.. kok gue familiar ya sama nih cewek, batin Angga. Kayak pernah lihat dimana gitu. Ah, perasaan gue aja kali ya. Tapi adem banget deh lihat muka nih cewek, sekali lagi Angga membatin. Kayaknya shalihah, baik hati dan ramah. Bayangin kalau punya bini cantik kayak begini, pasti betah banget di rumah. Eh, kok ngayal punya bini? Pacar aja kagak punya, mblo.. mblo.. nyadar woy, nyadar! Eh, tapi siapa tau nih cewek juga jomblo kayak gue. Gue ajak kenalan ah.


"Neng Fira tumben pagi-pagi bantuin ibu," Terdengar seorang pelanggan pria bertanya. Angga melihat ke pria tersebut, tampaknya pegawai kantoran. Hmm.. mau modus kayaknya nih.


"Iya om, kebetulan sekolahnya masuk siang," jawab Safira sambil tersenyum. Ambyaaaar, lembut banget suaranya. Senyumnya juga manis banget kayak buah mangga mateng di pohon, puji Angga dalam hati.


"Kok om sih. Aku kan masih muda. Panggil saja aku..."


"Seorang kapiten," celetuk Angga disambut tawa pengunjung lain. Muka pria tersebut langsung memerah hingga ke telinganya.


"Kenalin namaku Aldi," Si pria kantoran itu memperkenalkan diri. "Umurku baru 24 lho. Masih muda kan? Makanya jangan panggil om. Panggilnya bang Aldi saja ya."


"Om buruan dong. Ini bukan ajang perkenalan. Yang antri banyak nih!" teriak Angga yang mulai gemas melihat tingkah si Aldi. "Bininya nyusulin tuh."


"Heh, jangan sembarangan ngomong ya! Kata siapa gue sudah punya bini?!" Aldi melotot dengan sewot kepada Angga. "Jangan percaya neng. Abang masih single kok."


"Bang Aldi, mana nasi uduknya? Si Ali sudah nangis kelaparan nih nungguin bapaknya bawa nasi uduk. Bukannya buru-buru, malah ngejogrok disini ngegodain anak orang." Omel seorang ibu muda memakai daster dan rol masih terpasang di rambut yang datang membawa bayi dalam gendongannya. Didekatinya pria bernama Aldi itu lalu ditariknya tangan sang suami setelah membayar pesanan mereka. "Dasar kegatelan lo ye. Bini baru sebulan melahirkan, elo sudah ngegodain cewek lain. Ayo pulang!"


Pengunjung lain tertawa melihat wajah Aldi saat ditarik pulang oleh sang istri.


"Huu dasar buaya!"


"Mata keranjang!"


Akhirnya tibalah giliran Angga dilayani setelah menunggu selama 10 menit.


"Mau pesan apa mas?" tanya Safira dengan suara lembut. Angga terpana saat berhadapan dengan gadis cantik berhijab hijau muda. "Mas, masnya mau pesan apa?"

__ADS_1


"Eh.. anu... anu... gue mau pesan nasi uduk 5 bungkus," jawab Angga tergagap.


"Eh, kamu Angga adiknya Juna ya?" tanya si ibu penjual nasi uduk.


"I-iya bu. Kok ibu kenal sama bang Juna?"


"Ya kenal dong. Biasanya kan nak Juna yang disuruh enyak Rodiah beli nasi uduk sebelum berangkat ke kantor atau kalau habis jogging. Ini pesanannya seperti biasa kan?"


"Eh iya bu, tapi yang buat bang Juna jangan dikasih semur jengkol. Soalnya dia mau presentasi. Takut hawa-hawanya meracuni kantor." Safira tertawa mendengar lelucon receh yang dilontarkan Angga.


"Nak Angga sekolah dimana?" tanya Dian seraya menyiapkan pesanan.


"SMA Bhakti Nusa, bu."


"Oh ya? Kelas berapa? Sama dong dengan Safira. Dia juga sekolah disitu."


"Oh ya? Serius? Kelas berapa?"


"Aku kelas 11 IPA 4. Kamu?" tanya Safira dengan suara lembut, namun tak berani memandang Angga.


"Aku kelas 11 IPS 2. Wah, aku baru tahu kalau ternyata ada teman satu sekolah yang rumahnya disini."


"Kebetulan kami baru pindah kesini 6 bulan lalu."


"Oh pantesan aku baru lihat kamu. Apalagi gedung sekolah kita terpisah ya. Tambah nggak pernah ketemu deh."


"Nak Angga pesanannya apa? Pakai sambal nggak?"


"Pakai bu, tapi sedikit aja. Oh ya, enyak juga pesan tempe dan pisang gorengnya."


"Wah makasih bu. Fir, sampai ketemu nanti di sekolah ya."


⭐⭐⭐⭐


"Troy, lo kagak cabut? Pengayaan kan masih nanti sore," tanya Corong sambil berjalan menuju tempat parkir.


"Nggak. Gue nggak boleh kemana-mana. Lagipula gue juga lagi nggak pegang duit. Kartu kredit gue ditahan oma. Tabungan gue juga lagi diblokir. Oma cuma kasih gue segini." Troy melambaikan selembar uang dua puluh ribuan. Corong tertawa ngakak saat melihatnya. Seorang Troy hanya membawa 20ribu untuk sekolah.


"Kalau lapar gimana?"


"Gue disuruh ngomong ke Broto." ucap Troy dengan wajah ditekuk. "Sumpah, malesin banget deh harus berurusan dengan si Broto."


"Oma Linda tega juga ya sama elo, cucu kesayangannya."


"Justru sama gue dia jauh lebih tega, karena menurutnya gue itu calon pemimpin. Gue yang bakal gantiin urus perusahaan dan yayasan, termasuk sekolahan ini."


"Wah asyik dong. Masa depan lo sudah jelas," celetuk Duta yang baru saja tiba. "Mobil lo mana Troy?"


"Lagi kena hukum, jadi nggak bawa mobil."


"Terus gimana pulang perginya?"


"Bareng Broto." Meledaklah tawa Duta mendengarnya, hingga membuat beberapa siswa lain melihat ke arah mereka.


"Gara-gara apa? Gara-gara kemarin kita clubbing?" Troy mengangguk.


"Oma punya intel buat ngawasin gue. Gila! Benar-benar bisa gila gue gara-gara oma."

__ADS_1


"Bagus dong. Hidup lo jadi lebih terarah," ucap Ilyas dan Seto yang tampaknya baru balik dari musholla.


"To, elo darimana?" tanya Corong.


"Musholla." Kali ini Corong, Duta dan Troy yang tertawa ngakak mendengar jawaban Seto.


"Ngapain? Nyolong sandal? Atau ngintipin cewek?" tanya Duta.


"Ya shalatlah. Kebetulan tadi gue liat si Rosa juga shalat di musholla."


"Wah, niat shalat lo gak sah tuh. Masa shalat gara-gara cewek."


"Masih mendinglah daripada kalian nggak shalat. By the way tadi gue juga lihat Safira bareng adik-adik gue."


Mendengar nama Safira disebut, wajah Troy langsung berubah serius.


"Beneran?"


"Iya. Kayaknya mereka masih disana. Nih, gue lagi nungguin mereka. Tadi si kembar ajak Safira makan es krim di mall." Tanpa menunggu kelanjutan ucapan Seto, Troy beranjak meninggalkan mereka.


"Troy, elo mau kemana?" teriak Corong.


"Musholla." Balas Troy. Yang lain berpandangan dan kemudian meledaklah tawa mereka.


"Ngapain?" Para sahabatnya mensejajari langkah Troy. Ini suatu hal mengejutkan.


"Ya shalatlah."


"Emang bisa?"


"K*****t lo! Bisalah. Walau bandel, gw masih shalat meski banyak bolongnya "


"Cinta oh cinta. Kekuatanmu sangat menakjubkan. Mampu membuat manusia bahkan dunia ini berubah." ledek Duta.


"Berisik lo!"


"Ta, elo kagak shalat?" tanya Ilyas saat mereka tiba di depan musholla.


"Nggak."


"Kenapa?"


"Belum mandi wajib," jawab Duta enteng sambil nyengir.


"Edan!"


Tak lama Safira serta si kembar keluar dari salam Musholla. Semenit kemudian Troy juga sudah keluar dari musholla. Para sahabatnya saling berpandangan dan berusaha menahan tawa.


"Hai Fira," tegur Troy dengan senyuman mautnya


"Assalaamu'alaykum, kak," balas Safira tanpa berani menatap teman-teman Seto.


"Eh.. wa'alaykumsallam," Ragu-ragu Troy membalas salam.


"Kak Troy tumben shalat?" komentar Santi. Sontak yang lain langsung tertawa ngakak saat mendengar komentar Santi.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2