CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 8


__ADS_3

"Troy, elo serius suka sama Safira?" tanya Ilyas.


"Kenapa sih elo nanya melulu? Gue sudah bilang berkali-kali kalau gue suka sama tuh cewek."


"Tapi dia bukan tipe lo banget. Dia beda dengan cewek-cewek yang pernah lo pacarin," ucap Ilyas. "Yang gue tahu pasti dia nggak akan mau pacaran sama cowok yang jarang shalat macam elo."


"Gampang itu. Apa susahnya sih menjalankan shalat selama di sekolah? Yang penting si Troy ikutan berjamaah di mushola kan?" komentar Duta mendukung Troy.


"Hehehe.. berhubung agama gue beda dengan kalian, gue nggak mau komen ya," sela Corong. "Cuma setahu gue, agama apapun itu mengajarkan ibadah itu karena tuhan. Bukan karena pengen menarik perhatian cewek."


"Tumben otak lo benar Cor," ledek Seto. "Omongan si Corong benar banget Troy. Gue juga nggak setuju elo melaksanakan shalat karena ingin menarik perhatian Safira."


"Kalian nih gimana sih, bukannya mendukung sahabat malah kasih ceramah. Kalau menurut gue siapa tau yang awalnya shalat gara-gara cewek, lama kelamaan jadi terbiasa." Duta tetap mendukung keinginan Troy.


"Orang yang niat shalatnya karena Allah aja bisa up and down keimanannya. Gimana yang niatnya karena cewek. Begitu tuh cewek menolak, jangan-jangan malah jadi meninggalkan shalat." Ilyas mengatakan pendapatnya. "Menurut pendapat gue, lo perbaiki dulu diri lo. Niat berubah karena Allah. Kalau sudah benar, baru deh lo tanya sama diri lo sendiri apakah elo masih mau mendekati dia atau nggak."


"Troy, elo mendekati dia bukan karena penasaran kan?" Tiba-tiba Seto mengajukan pertanyaan.


Troy tak menjawab. Ia pun bingung apa alasannya ngotot mendekati Safira. Ia akui ada keinginan menaklukkan Safira yang terkenal alim. Tapi ia tak bisa memungkiri wajah cantik Safira sering terbawa dalam mimpi. Bukan mimpi-mimpi liar seperti yang selama ini ia alami bersama barisan para mantan. Bahkan akhir-akhir ini ia sering merindukan gadis berhijab itu.


"Elo jatuh cinta sama dia?" tanya Seto lagi. Yang lain langsung menatap Troy penasaran.


"Elo melanggar aturan sendiri Troy? Aturan untuk tidak jatuh cinta sama cewek alim model Safira." Duta mengingatkan. Troy hanya mengangkat bahu tanpa menjawab.


"Si kembar bilang sama gue kalau Safira nggak mau pacaran. Elo tau kan kalau dia sekolah disini karena dapat beasiswa?" tanya Seto. "Elo juga tau kan gimana pressure yang harus dihadapi oleh anak-anak beasiswa? Jadi menurut gue sebaiknya elo memang jangan mendekati dia. Biarin dia fokus sama sekolahnya."


"Gue kagum dengan sifat dia. Kalian masih ingat kan waktu gue pura-pura ulang tahun? Waktu itu gue sudah pinjam duit sama si Corong lima ratus ribu. Bahkan gue sudah siap-siap pinjam kartu kredit dia buat traktir kalian semua. Dan kalian tahu kan gimana dia menolak ajakan gue makan di resto mahal. Waktu itu pada akhirnya buat makan kita semua gue cuma ngabisin duit tiga ratusan. Padahal biasanya cewek-cewek yang gue dekatin, selalu minta makan di resto mahal. Yang sekali makan habis sejuta buat berdua."


"Cewek aneh," komentar Duta.


"Kok aneh? Bagus dong. Berarti Safira nggak matre. Bahkan dia tadinya nggak tahu lho kalau si Troy cucu pemilik sekolah ini," balas Seto.


"Ah itu pasti pura-pura nggak tahu dan pura-pura jaim waktu mau ditraktir sama Troy." Duta bersikeras memberi penilaian negatif.


"Gue kenal Safira sejak awal kelas 11. Boleh percaya atau nggak, teman dekat dia cuma adik-adik gue. Bukan karena dia sombong. Tapi teman-teman lainnya nggak mau berteman sama dia karena dia penerima beasiswa. Perlu kalian tahu, ayahnya cuma seorang driver ojol. Sementara ibunya berjualan nasi uduk dan gado-gado. Safira dan adik lelakinya terkadang ikut membantu orang tuanya dengan bekerja membantu tetangga yang membutuhkan tenaga mereka."


"Kok elo tahu banyak tentang dia?" tanya Corong yang dari tadi lebih banyak diam. "Gue curiga elo dan Ilyas juga naksir Safira."


"Nggaklah. Gue sudah anggap dia kayak adik sendiri. Kalau Ilyas gue nggak tau deh." elak Seto.


"Gue kenal Safira karena dia temasuk siswi yang aktif di rohis sekolah. Beberapa kali kami bertemu saat jadi panitia. Anaknya tidak banyak bicara, namun dia pintar dan gesit. So far gue nggak naksir dia. Nggak tau kalau nanti-nanti. Yang pasti saat ini gue fokus sama ujian. Kalian tahu kan gue juga anak beasiswa."

__ADS_1


"Troy, kayaknya elo punya saingan deh. Anak kelas 11 IPS. Minggu lalu tuh anak datang ke kelas Safira," info Corong.


"Oh yang waktu itu diantar sama Rosa?" tanya Duta. Corong mengiyakan.


"Benar banget. Setelah hari itu gue lihat tuh cowok beberapa kali nemenin Safira nunggu angkot."


"S****n tuh anak mau motong di tikungan!" geram Troy. Baru kali ini dia menemukan saingan dalam mendekati cewek. Biasanya para siswa disitu akan mundur teratur bila tahu Troy sedang mendekati seseorang.


"Elo pdkt-nya kurang gencar bro," ledek Corong. "Gue aja belum pernah lihat elo mampir ke kelasnya Safira."


"Biasanya juga cewek-cewek yang nyamperin si Troy, bukan sebaliknya," bela Duta.


"Safira ini beda sama cewek lain, bro. Nggak bakalan dia nyamperin cowok. Gue aja nggak yakin si Troy bisa menaklukan dia," ucap Seto.


"Kok gitu? Elo meragukan kharisma seorang Troy Gunadi Hartawan?" tanya Troy emosi. "Gue beneran curiga nih elo naksir dia. Bilangnya aja menganggap dia adik, padahal tujuannya pengen dijadiin adik ketemu gede."


Seto tak menjawab tuduhan Troy. Ia tak memungkiri kalau ia pun kagum pada sosok Safira. Sejak berteman dengan Safira, kedua adik kembarnya banyak berubah. Tentunya perubahan yang positif. Tentu saja hal itu membuat kedua orang tua mereka senang melihatnya. Beberapa kali Safira main ke rumah mereka. Sikapnya kepada orang tua sangat santun. Berbeda dengan anak-anak jaman sekarang yang cenderung cuek. Berkali-kali ibu mereka memuji Safira setelah gadis itu berkunjung.


"Kok diam saja? Dugaan gue benar ya?" desak Troy. Kali ini Seto hanya mengangkat bahu.


"Nggak mungkinlah. Seto kan lagi naksir Rosa. Walaupun si Rosa nggak se-alim Safira tapi dia termasuk cewek yang rajin ibadah, punya pendirian, cerdas, dan pastinya cantiknya melebihi Safira. Iya kan bro?" tanya Ilyas.


"Hehehe... baru kali ini gue liat gank kita hampir pecah gara-gara cewek. Ayolah bro, ngapain kita ribut gara-gara cewek. Ke kantin yuk. Gue lapar berat nih. Tadi pagi cuma sarapan roti doang," ajak Corong. "Tenang Troy, gue yang traktir elo. Gue tau elo masih dihukum oma Linda."


⭐⭐⭐⭐


"Fir, ke kantin yuk!" ajak Sinta. Kembarannya sejak tadi sudah ngacir duluan ke kantin.


"Nggak ah, gue di sini aja," tolak Safira.


"Memangnya elo nggak lapar?"


"Insyaa Allah hari ini gue puasa, Sin."


"Puasa apa? Senin Kamis?"


"Bukan. Puasa ayamul bidh, puasa tengah bulan."


"Sekarang kan tanggal 5, belum tengah bulan Fir."


"Maksudnya pertengahan bulan hijriyah, Sin. Bukan pertengahan bulan Masehi," jelas Safira.

__ADS_1


"Elo rutin puasa itu?"


"Insyaa Allah kalau nggak ada udzur."


"Udzur? Elo kan masih muda belum udzur." tanya Sinta bingung. Safira terkekeh melihat sahabatnya kebingungan.


"Bukan udzur tua. Maksud udzur disini tuh sesuatu yang menghalangi sehingga kita tidak bisa melaksanakan ibadah." Sinta mengangguk-angguk mendengar penjelasan Safira.


"Kok elo tau banyak sih soal agama? Padahal waktu itu elo pernah bilang kalau elo berubah seperti sekarang baru pas masuk SMA. Tapi menurut gue pengetahuan agama lo lumayan banyak. Elo mirip sama sepupu gue yang sekolah di pesantren."


"Belajar dong neng. Ilmu itu nggak akan datang dengan sendirinya. Ilmu itu perlu dicari. Gue pernah dengar dari kajian mingguan yang diadain rohis kalau seorang muslim wajib menuntut ilmu. Karena ilmu itu salah satu jalan menuju surga."


"Wah elo hebat ya. Semuda ini tapi ilmunya banyak." Sinta mengacungkan jempolnya. "Ya sudah, kalau gitu gue tinggal ke kantin dulu ya."


Sepeninggal Sinta, Safira mengeluarkan buku Fisika. Kebetulan hari ini ada ulangan dan ia ingin membaca materi yang akan diujikan. Baru sebentar Safira menekuni bukunya, tiba-tiba ada sepasang kaki berdiri di hadapannya. Safira tak berani mengangkat kepalanya karena ia tahu begitu ia mengangkat wajahnya maka ia akan bertatapan dengan seorang pria.


"Hai Fir, kok nggak ke kantin?" Kak Troy? Ngapain kak Troy kesini, tanya Safira dalam hati.


"Eeng.. nggak kak, mau belajar buat ulangan," jawab Safira tanpa mengangkat wajahnya dari buku yang dibacanya. Ia berusaha tenang, walau hatinya bertanya-tanya ada apa kak Troy mendatanginya.


"Jangan belajar terus menerus, nanti kepalanya berasap lho," Troy berusaha melucu. Safira hanya tersenyum tapi tetap menunduk.


"Kok aku berasa ngomong sendirian ya. Ada suara tapi nggak ada wujudnya."


"Maksud kakak?" tanya Safira bingung. "Kan ada Safira disini kak."


"Tapi aku berasa ngomong sendirian karena dari tadi kamu menunduk terus. Lagi ngeliatin apaan sih? Takut huruf-hurufnya pada kabur ya?" Sekali lagi Troy mencoba melucu. Kali ini Safira tertawa pelan. Ia mengangkat wajahnya sebentar lalu segera menunduk lagi. Troy terpana melihat senyum di wajah Safira. A***r cantik banget nih cewek.


"Maaf kak," sahut Safira. "Bukan bermaksud nggak sopan, tapi Fira kurang nyaman saja bertatapan sama cowok apalagi sekarang kita cuma berdua di kelas ini. Malu."


Ya ampun, di jaman milenial begini masih ada ya cewek pemalu model dia. Wah benar-benar beda nih, batin Troy.


"Kata Sinta kamu lagi puasa ya? Ini buat kamu buka puasa nanti sore." Troy meletakkan sebatang coklat di meja. "Kalau mau buka puasa jangan lupa ingat aku ya."


"Hmm.. makasih kak. Tapi kalau buka puasa Fira ingatnya sama Allah." Makjleb, skakmat Troy! Ini mah berat, semuanya dikaitkan kesana. Perjuangan lo nggak akan mudah Troy.


"Eh iya dong harus ingat Allah, habis itu ingat aku ya." Troy meninggalkan Safira sebelum Safira sempat membalas ucapannya.


Sepeninggal Troy, Safira menatap coklat yang tergeletak di atas meja. Apa artinya ini? Apakah benar apa yang si kembar bilang kalau kak Troy naksir aku? Fokus Fir, fokus! Ingat ayah ibu! Otaknya sibuk mengingatkan hati. Ini bukan waktunya memikirkan hal tersebut.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2