CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 31


__ADS_3

"Angga!" Sebuah suara lembut memanggil Angga yang baru saja mengeluarkan sepedanya.


"Eh, Fira. Tumben pagi-pagi kesini. Ada apa? Kangen ya sama aku?" Dengan PD-nya Angga mengatakan hal itu.


"Dih, ge-er kamu."


"Lalu mau ngapain?"


"Ini." Safira menyerahkan rantang kepada Angga. "Ibu menyuruhku mengantarkan ini untuk Enyak dan Engkong."


"Apa nih? Nasi uduk?" Safira mengangguk. "Cuma buat engkong dan enyak?"


"Ya nggaklah. Buat kalian semua. Kalau nggak salah orang tua kamu kemarin baru datang kan?"


"Iya. Tahu darimana?"


"Mpok Mumun yang cerita. Kemarin siang pas beli gado-gado."


"Wah, mau nyogok calon mertua ya?" ledek Angga. Safira tertawa mendengarnya.


"Huuu... itu mah maunya kamu!"


"Kok tau kalau itu maunya aku?" Kembali Angga menggoda Safira. "Padahal aku belum nembak lho."


"Apaan sih. Emangnya aku binatang buruan mau ditembak segala."


"Iya. Kamu itu ibarat kijang dengan tanduknya yang cantik, yang menjadi incaran banyak pemburu. Pemburu cintamu."


"Astaga Angga. Pagi-pagi sudah lebay. Nggak usah ikut-ikutan kayak kak Troy deh. Sudah ah, aku pulang ya."


"Eeeh... tunggu dulu. Aku minta uangnya dulu ke mama."


"Uang buat apa?"


"Ya buat bayar inilah." Angga mengangkat rantang yang berada di tangannya.


"Nggak usah, Ngga."


"Kenapa begitu?"


"Kata ibu, itu sebagai ucapan terima kasih karena kemarin aku diajak pulang bareng dari pasar."


"Ya ampun Fir, itu kan pas aja momen ketemuan kita. Lagipula kamu kan membantu enyak. Tunggu sebentar ya, aku ambil uangnya."


"Nggak usah, Angga. Ibu pasti akan marah sama aku kalau sampai menerima pembayaran. Ibu memang sudah meniatkan memberi makanan sebagai ucapan terima kasih. Kamu nggak mau kan kalau aku sampai dimarahin ibu?" Safira menahan lengan Angga.


"Justru aku yang makasih banget karena kamu sudah mau membantuku. Ayo, masuk dulu." Angga memandang tangan Safira yang masih memegang lengannya. Kembali sengatan listrik seolah menjalar di seluruh tubuh Angga. Apalagi ini disentuh oleh Safira, gadis pujaannya.


"Eh, maaf Ngga," Safira menarik tangannya.


"Nggak papa. Santai aja. Aku suka kok." Kalimat terakhir diucapkan pelan.


"Eh, apa Ngga?" tanya Safira.


"Nggak apa-apa. Aku masuk dan taruh ini. Kamu jangan kemana-mana ya." Angga bergegas masuk dan keluar kembali dalam waktu tak sampai lima menit. Di belakangnya tampak seorang wanita cantik.


"Eh, ada tamu rupanya. Pantas saja Angga buru-buru banget. Ternyata ada bidadari menunggu." Wajah Safira memerah mendengar ucapan wanita tersebut. Ia menganggukan kepalanya dengan sopan kepada wanita tersebut.


"Ih, mama jangan bikin Safira malu dong," protes Angga walaupun ia sangat menikmati wajah Safira yang tambah cantik saat malu-malu begitu.

__ADS_1


"Kenalkan, saya mamanya Angga. Kamu ... pacarnya Angga?" tebak wanita tersebut.


"Oh, bu-bukan tante. Saya teman sekolahnya Angga, tapi beda kelas," jawab Safira gugup.


"Ma, jangan bikin teman Angga takut dong," bisik Angga.


"Lho, siapa yang nakut-nakutin. Mama cuma tanya. Siapa tau kamu mau mengikuti jejak bang Juna."


"Apaan sih, Ma. Angga kan baru kelas 11." Wanita itu tertawa renyah mendengar jawaban Angga.


"Mama lupa. Sekian lama mama papa meninggalkan kalian, ternyata kamu menjadi dewasa lebih cepat. Ayo, duduk dulu nak Safira."


"Eh, panggilnya Fira saja tante. Maaf saya malah lupa memperkenalkan diri. Nama saya Safira. Rumah saya nggak jauh dari sini. Itu tadi titipan dari ibu saya karena kemarin Angga dan enyak mengantar saya sampai rumah."


"Perkenalkan saya Zahra, kamu boleh panggil saya tante Ara. Saya mamanya Angga."


"Wah, mana mungkin tante mamanya Angga. Tante pantasnya jadi kakaknya Angga. Masih muda dan cantik," puji Safira. Dan itu memang benar. Di usianya yang menjelang 50 tahun, Zahra masih terlihat muda.


"Ah, kamu bisa aja. Ayo masuk dulu, Fir."


"Nggak usah tante. Fira buru-buru. Mau bantuin ibu di warung. Kalau pagi warung ibu ramai," tolak Safira sopan. "Tolong sampaikan salam saya untuk enyak dan engkong."


"Kamu naksir dia ya?" tanya Zahra pada Angga yang masih memandangi Safira yang sudah menjauh.


"Ah, mama tau aja."


"Iyalah. Mama kan pernah muda. Gini-gini dulu penggemar mama banyak. Yang menyatakan cinta ke mama juga banyak. Yang malu-malu tapi mau kayak kamu juga banyak."


"Wah, berarti dulu mama primadona dong."


"Iya, mamamu itu primadona kampus. Dulu papa harus berjuang untuk mendapatkan hati mamamu." ucap Ahmad yang baru bergabung dengan mereka.


"Kok mama mau sama papa?"


"Maksudnya?" tanya Angga bingung.


"Ya cuma papamu yang berani melamar mama setelah selesai kuliah. Padahal saat itu kita belum pacaran."


"Kenapa nggak pacaran kalau memang suka?"


"Saingan menjadikan mama mu sebagai pacar banyak. Tapi saingan yang ingin menjadikan mamamu sebagai istri sedikit. Itu pun tidak mudah. Papa harus meyakinkan kakek nenekmu selama 6 bulan lebih sebelum akhirnya lamaran diterima."


"Makanya kalau kamu mau berhasil mencuri perhatian dia, jangan sekarang. SMA saja belum selesai," ucap Zahra. "Paling tidak kamu sudah bisa seperti abangmu. Jangan nebeng keberhasilan orang tua."


Angga manggut-manggut.


"Kalau jodoh nggak akan kemana, Ngga." imbuh Ahmad.


"Saingannya banyak, ma."


"Kalau memang benar-benar suka sama dia, minta Allah menjaga dia untuk kamu," ucap Zahra sambil mengacak rambut Angga.


"Iih mama.. rambut Angga kan jadi berantakan." sungut Angga kesal.


"Habisnya kamu ngegemesin sih. Suka sama cewek tapi nggak berani menyatakan perasaan."


"Ngegemesin? Ma, Angga bukan anak kecil lagi. Masa sudah segede ini masih dibilang nge-gemesin," protes Angga.


"Oh iya, mama lupa kalau kamu sudah mau 17 tahun ya. Pantas saja anak mama ini sudah berani naksir cewek," ledek Zahra sambil mencium gemas pipi Angga.

__ADS_1


"Iiih... mama apaan sih. Malu kan kalau dilihat orang." Sekali lagi Angga protes sambil berusaha menjauh dari Zahra.


"Tuh pa, anaknya sudah nggak mau dicium lagi. Si bontot sudah mulai besar."


"Iyalah. Kan di kasih makan sama mpok Mumun."


"Buat mama, kamu tetap si bontot yang menggemaskan."


"Awas ya kalau mama cium Angga di depan teman-teman. ."


"Kalau di depan Safira, boleh?" ledek Ahmad.


"Iih... papa nggak usah ikutan ngeledek Angga deh." Kedua orang tua Angga tergelak melihat kuping Angga memerah karena malu.


"Kalau kamu memang sudah besar, coba dong menyatakan perasaanmu ke Safira," tantang Ahmad.


"Papa gimana sih? Mereka kan masih SMA. Masih kecil, nggak usah pacaran segala. Nanti aja kalau sudah kuliah atau bekerja."


"Kelamaan sayang. Biar aja dia cari pengalaman. Biar tahu bagaimana rasanya cinta ditolak."


"Papa ngedoain Angga ditolak Fira?" sungut Angga. "Papa nggak asyik nih."


"Cewek model Fira nggak akan mau pacaran, Ngga. Tapi daripada kamu pendam perasaan, menurut papa ada baiknya kamu menyatakan perasaan kamu. Siapa tau dia belum mau pacaran sekarang, tapi minta kamu menunggu sampai selesai kuliah nanti."


"Hmm.. ide papamu boleh juga dicoba. Siapa tau dia juga menyimpan perasaan ke kamu."


"Berat ma, saingannya anak kepsek. Anak paling tampan dan tajir di sekolah."


"Eh, siapa tau Fira nggak suka yang model gitu. Lebih susah dijaganya. Mungkin Fira lebih suka yang model kamu, sederhana dan sholeh." Lagi-lagi telinga Angga memerah mendengar pujian Zahra.


"Liat nanti aja deh. Angga main sepeda dulu ya." Angga meninggalkan kedua orang tuanya yang masih senyum-senyum melihat Angga yang malu-malu.


⭐⭐⭐⭐


"Mas, aku mau ngomong," ucap Kemala saat mereka bersiap-siap tidur.


"Masalah Troy?"


"Bukan."


"Lalu masalah apa? Kamu hamil?" tanya Broto penuh harap.


"Bukan mas. Nggak mungkinlah aku hamil lagi. Usiaku sudah nggak muda lagi. Apa kata dunia, kalau Troy punya adik bayi sementara dia kuliah."


"Kata siapa kamu sudah tua. Kamu itu masih muda, sehat, cantik dan pastinya memiliki suami yang masih joss," ucap Broto sambil menunjukkan otot bicep nya.


"Akunya yang nggak mau, mas. Sudah nggak sanggup. Memikirkan dua anak kita saja aku pusing. Troy dan Oma yang sedang berselisih mengenai kuliah. Ditambah lagi Cantika yang nilainya akhir-akhir ini menurun."


"Masalah Troy dan oma pasti akan ada jalan tengahnya. Masalah Cantika juga mudah. Suruh saja dia ikut bimbel."


"Dia nggak mau ikut bimbel. Katanya nggak bisa konsentrasi. Dia cerita kalau akhir-akhir ini dia sulit berkonsentrasi. Apa perlu kita bawa dia ke psikiater?"


"Kamu sudah tanya kenapa dia begitu?"


"Dia nggak mau cerita."


"Bagaimana kalau dipanggilkan guru privat?" usul Broto.


"Boleh juga. Besok pagi kita bicarakan sambil sarapan," Kemala menerima usulan tersebut. "Mas, Safira itu siapa sih? Apa hubungannya dengan Troy?"

__ADS_1


"Kapan-kapan aku ceritain. Malam ini aku mau tidur sambil peluk kamu." Broto mematikan lampu kamar lalu menarik Kemala ke dalam pelukannya.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2