CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 13


__ADS_3

"Tapi pak, saya kan belum daftar."


"Sudah ada yang mendaftarkan," jawab pak Husni.


"Bisa dibatalkan nggak pak?"


"Maaf nggak bisa, Fir. Lagipula sudah dilaporkan oleh panitia kepada kepala sekolah dan sudah dibayarkan juga biaya-biayanya sesuai jumlah peserta. Karena tinggal seminggu lagi jadwal keberangkatannya, maka nggak bisa dibatalkan." Pak Husni menjelaskan.


"Lalu pembayarannya bagaimana pak? Kapan paling lambat saya harus bayar? biar saya kasih tahu ke ayah saya," ucap Safira pelan sambil menundukkan kepala.


"Pembayaran sudah beres. Jadi kamu nggak usah khawatir. Tinggal mempersiapkan keberangkatan saja."


"Oh begitu. Kalau begitu terima kasih pak untuk infonya." Safira keluar dari ruangan pak Husni.


"Gimana Fir?" tanya si kembar saat Safira keluar ruangan.


"Aku bingung. Kata pak Husni sudah nggak bisa dibatalkan. Pembayaran juga sudah beres. Apa mungkin ayah yang membayar langsung ya?"


"Coba saja nanti tanya ke ayah kamu. Sekarang kita balik ke kelas yuk," usul Santi. "Eh, apa kita ke kantin sebentar? Aku lapar banget nih."


"San, kamu kan sudah makan sepiring siomay dan burger. Masa sih sudah lapar lagi?" tanya Safira heran.


"Nggak usah heran. Dia mah memang gembul. Kalau belum ketemu nasi, dia nggak akan kenyang," jelas Sinta. "Kamu lihat aja tubuhnya montok begitu."


"Iya, aku lagi pengen banget makan nasi gorengnya bang Jono. Semoga nggak kehabisan."


"Fir, ada kak Troy," bisik Sinta saat mereka memasuki kantin.


"Biarin aja. Nggak usah diliatin."


"Ya, terlanjur. Dia sudah keburu melihat kita."


"Fir, dia kesini."


"Kak Troy, makan bareng aku yuk!" Zara mencegat Troy sebelum Troy berhasil mendekati Safira.


"Eh, sori Zar gue sudah ma...."


"Ayolah kak... tuh Yuni dan Chyntia sudah menyediakan tempat buat kita Kebetulan hari ini aku ulang tahun."


"Tapi Zar, gimana kalau nanti ..."


"Nanti siang aku nggak bisa kak. Papi dan mami mau ajak aku ke mall untuk cari kado. Kak Troy tahu kan gimana papi. Dia masih suka sebal kalau liat kak Troy."


"Iya sih tapi...." Zara tak mau mendengar alasan Troy. Ia menarik Troy menuju meja yang sudah ditempati oleh teman-temannya Zara.


Sejak pertama Zara mencegat Troy, Safira buru-buru menjauh dan menyelip di antara kerumunan para siswa yang sedang jajan di kantin. Sesampainya di dalam warung bang Jono, barulah Safira bisa bernafas lega.


"Fir, elo ngapain disini?" Tiba-tiba terdengar seseorang menyapa. Safira cepat menoleh dan dilihatnya Bento sedang asyik menikmati nasi goreng di dalam warung.


"Eh kamu Ben. Aku mau cari mpok Muti. Mau minta air putih dingin. Biasanya mpok Muti punya air dingin di kulkasnya. Kamu ngapain disini?"


"Menurut ngana...? Ya jelas lagi makanlah." Safira terkekeh mendengar jawaban Bento. "Ya kali gue lagi bantuin mpok Muti cuci piring."


"Aku sering bantuin mpok Muti cuci piring kalau memang lagi ramai banget pelanggannya," ucap Safira santai.


"Elo? Nggak sayang sama tangan? Nanti kalau tangannya kasar gimana?"


"Ya ampun Ben, nggak gitu juga kali. Aku sudah biasa kok cuci piring di rumah. Lagipula kasihan lihat mpok Muti pontang panting bantuin bang Jono masak sekaligus cuci peralatan makan."


"Elo dibayar sama mereka?" tanya Bento penasaran. Safira menggeleng.


"Bujuuug.. jadi elo kerja gratisan?! Kok mau sih?! Rugi dong."


"Nggak semuanya dalam hidup ini selalu dihitung untung ruginya. Menolong mpok Muti sama seperti aku menolong ibuku sendiri. Aku memang nggak dibayar dengan uang. Tapi kadang-kadang mereka suka menggratiskan seporsi nasi goreng untukku. Atau sekedar segelas es teh manis."

__ADS_1


"Dibayar dengan nasi goreng dan es teh manis elo bilang cukup?" tanya Bento tak percaya. Safira mengangguk sambil tersenyum.


"Neng Fira ini nggak pernah mau dibayar dengan uang, Ben. Bahkan terkadang dia menolak kalau mpok mau kasih dia nasi goreng dan minuman gratis," celetuk Mpok Muti yang baru saja masuk dengan membawa setumpuk piring kotor. "Makanya mpok membolehkan dia ambil air dingin gratis. Bahkan kalau dia mau, dia boleh bikin sendiri es teh manis. Gratis."


"Ah, mpok Muti nih bisa saja. Kalau aku minta es teh manis, mpok Muti dan bang Jono bisa rugi."


"Ya ampun neng Fira. Mpok Muti malah malu karena nggak bisa membayar neng Fira. Cuma es teh manis mah nggak seberapa dibandingkan mpok harus membayar jasa asisten dapur."


"Terima kasih ya mpok. Pokoknya mpok jangan sungkan-sungkan minta tolong sama Fira, ya."


"Wah elo hebat Fir. Nggak heran kalau Angga naks...." Bento langsung menutup mulutnya karena hampir saja kelepasan bicara.


"Angga kenapa Ben?"


"Ah, nggak papa. Eh iya, elo mau makan nggak? Gue traktir deh."


"Makasih Ben, nggak usah. Tadi aku kesini sama Sinta dan Santi."


⭐⭐⭐⭐


"Ayah sudah daftarin fieldtrip ya?" tanya Safira saat malam itu mereka berkumpul di ruang makan mungil rumah mereka. Hari itu Seno memutuskan tidak narik sampai malam.


"Astaghfirullah, ayah lupa kasih uangnya ke kamu Fir. Masih bisa daftarkan?" tanya Seno.


Safira terdiam seraya menatap heran ayahnya. Ayah pasti lupa nih. "Ayah lupa ya? Kan ayah sudah daftar dan bayarkan biayanya."


"Maksudmu apa Fir? Dua hari lalu uangnya baru terkumpul dan rencananya tadi pagi ayah mau kasih uangnya tapi ayah lupa. Maafin ayah ya Fir,"


"Enngh... nggak papa yah. Safira jadi bingung deh."


"Bingung kenapa Fir?" tanya Dian seraya mengambilkan makanan untuk Seno.


"Ini lho bu, tadi Fira ketemu pak Husni untuk menanyakan kenapa nama Fira ada di daftar peserta fieldtrip. Fira mau tanya apa bisa dibatalkan. Ternyata nggak bisa dibatalkan. Fira tanya kapan terakhir harus bayar. Yang bikin bingung karena pak Husni bilang kalau sudab dibayar. Padahal ayah belum kasih uangnya ke Fira."


"Entahlah bu. Kayaknya pak Husni juga nggak tahu."


"Cieee... kak Fira punya secret admirer nih," ledek Salman.


"Secret admirer itu apa kak?" Tanya Sania sambil menikmati makan malamnya.


"Pengagum rahasia," jawab Salman.


"Nggak ada kok. Kamu sok tau nih!" sahut Safira cepat.


"Bu, yah, kenal kak Angga cucu enyak Rodiah kan? Nah dia itu salah satu pengagum kak Fira."


"Apaan sih kamu Sal. Jangan dengerin omongannya Salman," balas Safira.


"Oh, yang waktu itu ke sekolah naik sepeda ya?" tanya Seno. "Kayaknya dia anak baik."


"Kakaknya Angga, si Juna, kan mau menikah dengan Priska, mas."


"Priska teman kantor ayah yang sekarang menjanda itu?" Dian mengangguk. "Wah hebat dia mau menikahi janda satu anak."


"Bukannya kak Juna masih muda ya? Kok cowok mau sih menikah muda." tanya Safira heran. "Apalagi ceweknya sudah janda."


"Menurut cerita nak Juna, dulu dia dan Priska pernah pacaran pas mereka kuliah."


"Tapi mbak Priska ini cerai bukan gara-gara bang Juna kan?"


"Hush.. kalian kok malah ghibah. Sekarang ayo selesaikan makan malamnya lalu belajar," potong Seno sebelun obrolan istri dan anaknya melebar kemana-mana. "Oh ya, besok ayah ada interview pekerjaan. Nanti malam kalau kalian tahajud jangan lupa doain ayah ya."


"Siap bos!" jawab yang lain kompak.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


"Ngga, lo kenapa nggak nembak Safira aja?" tanya Bento saat mereka berkumpul di rumah Arif.


"Safira anak rohis?" tanya Nakula. "Yang sahabatan sama si kembar adiknya Seto?"


"Iya, anak kelas 11 IPA 4," jawab Bento. "Ternyata anaknya ramah banget dan baik hati."


"Ah, sok tau lo!"


"Yeee.. emang gue tau. Kalian tau nggak, dia tuh anaknya ringan tangan banget. Dia sering bantuin mpok Muti kalau warungnya lagi rame."


"Kata siapa?" tanya Sadewa penasaran.


"Mpok Muti sendiri yang cerita."


"Dibayar kali sama mpok Muti."


"Nggak dibayar bro."


"Kok mau?" tanya Nakula dan Sadewa bersamaan. Huuu.. mentang-mentang kembar. Ngomong aja bisa barengan gitu.


"Safira sudah biasa bantuin ibunya jualan di rumah. Gue yakin dia bantuin mpok Muti karena ingat ibunya."


"Kok lo tau kalau ibunya jualan?" Kali ini Arif yang bertanya. Arif baru saja sampai setelah tadi pergi membeli mie ayam untuk teman-temannya.


"Asyiiiik nyampe juga nih mie ayam," sambut teman-temannya. Mereka lebih tertarik pada mie ayam daripada menjawab pertanyaan Arif.


"Woy, nggak usah berebut. Semua pasti kebagian."


"Rif, pesanan gue dibuat dobel kan?" tanya Bento.


"Iye, buat lo semuanya serba dobel. Penjualnya sudah hafal."


"Makasih bro Arif yang ganteng," puji Bento sambil mendekati hendak memeluk Arif.


"Mau ngapain lo?" tanya Alif curiga. "Nggak usah aneh-aneh deh."


"Gue cuma mau ngucapin makasih. Gue terharu elo ingat kesukaan gue."


"Waah, mentang-mentang ditolak Lanny elo mau berubah haluan bro?" ledek Angga disambut tawa yang lain.


"Jenis kelamin nggak penting. Jaman sekarang yang penting kasih sayang, bro." Bento mengejar Arif yang berlari menghindari dirinya. Terjadilah kejar-kejaran antara keduanya di dalam kamar yang luas tersebut.


Tak lama Bento menyerah. Tubuhnya yang tambun tak sanggup lagi mengejar Arif. Nafas keduanya tersengal. Sementara yang lain terbahak-bahak melihat ulah mereka.


"Gue batal berpaling ke elo, Rif. Cuma bikin gue capek doang. Kalau kayak gini porsi dobel bakalan kurang nih. Elo pesan delivery dong."


"A***r, lo sudah bikin gue capek masih minta traktir. Dasar teman laknat," sahut Arif. "Sudah ah ayo makan. Keburu dingin mie ayamnya."


"Rif, bokap lo nggak mau kawin lagi?" tanya Angga.


"Nggak tau. Dia mah cinta mati sama almarhumah nyokap. Tiap malam sebelum tidur dia pasti bakal mandangin foto nyokap."


"Ngga, daripada mikirin bokapnya Arif mendingan elo mikirin kisah cinta lo sama Safira. Bakal lanjut atau nggak."


"Nggak taulah. Gue memang suka sama Fira, tapi kayaknya nggak mungkin gue pacarin dia. Kalian kan tau kalau dia belum mau pacaran."


"Ya sudah, lo lamar aja dia," usul Sadewa.


"Aji gileee!! Lulus aja belum sudah mikirin kawin. Lagian belum tentu dia suka sama gue. Belum lagi gue harus saingan sama si buaya darat, Troy."


"Jajal aja nanti pas fieldtrip elo nembak dia. Ya kalau ditolak berarti nasib lo apes, bro," usul Nakula.


Angga hanya manggut-manggut mendengar usulan Nakula. Hmm.. ide bagus, pikir Angga.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2