CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 34


__ADS_3

"Kamu lagi memikirkan apa, Fir?" tanya Dian saat mereka makan malam. Seno, sang ayah belum pulang dari kantor karena biasanya selepas jam kantor dia masih menjadi driver ojek online.


"Bu, ayah narik lagi?" Dian mengangguk.


"Memangnya gaji ayah nggak cukup ya bu?" tanya Salman.


"Bu, kasihan ya ayah," ucap Sania.


"Memangnya ayah kenapa?" tanya Dian.


"Selesai kerja bukannya pulang untuk istirahat, tapi masih harus narik," jawab Sania sambil menundukkan kepalanya.


Dian membelai lembut kepala putri bungsunya. Dipandangnya satu-satu wajah anaknya. Ia sungguh bersyukur memiliki mereka. Anak-anak yang pandai, taat beragama dan memiliki empati yang tinggi bukan hanya kepada anggota keluarganya tapi juga kepada orang lain.


"Kenapa ayah harus narik lagi bu? Ayah kan sudah mulai tua. Kapan ayah bisa istirahat dengan baik kalau masih narik malam-malam."


"Karena ayah sayang pada kalian, sama seperti kalian sayang ayah. Ayah memiliki impian menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang yang tinggi. Dulu ayahmu hanya lulusan D3. Dia nggak mau kalian hanya sampai tamat SMA. Minimal pendidikan kalian setara dengan pendidikan ayah."


"Apakah itu alasan ayah menjalani dua pekerjaan seperti saat ini?" tanya Safira. Bukannya menjawab, Dian hanya tersenyum lembut.


"Kalian nggak usah terlalu memikirkan hal itu. Sudah kewajiban kami memberikan pendidikan yang terbaik untuk kalian. Yang penting buat kami adalah kalian belajar sebaik mungkin dan tidak pernah melupakan Allah."


Kasihan ayah, aku mau membantu ayah, batin Safira. Kurasa aku nggak perlu mendiskusikan penawaran pak Broto kepada ayah dan ibu.Besok akan kusampaikan pada pak Broto bahwa aku menerima tawaran mereka. Saking bertekadnya Safira, ia mengabaikan kenyataan Troy adalah kakak dari calon muridnya.


⭐⭐⭐⭐


"Fir, ke kantin bareng yuk!" ajak Angga saat mereka bertemu di depan perpustakaan.


"Aku mau ke ruang kepala sekolah, Ngga."


"Ngapain kesana? Kamu nggak dihukum kan? Atau ini gara-gara dia?" Terlihat sekali Angga malas menyebut nama Troy.


"Dia siapa? Maksudmu kak Troy?" Angga mengangguk. Wajahnya terlihat tak suka saat Safira menyebutkan nama itu.


"Bukan. Ini nggak ada hubungannya dengan kak Troy. Aku mau ketemu dengan kepala sekolah saja. Ada yang mau dibicarakan dengan beliau."


"Kamu mau ditemani?"


"Eh, nggak perlu. Memangnya aku anak kecil." Safira tertawa lepas tanpa menyadari ada jantung yang mendadak berdegup kencang.


"Fir, jangan sering-sering ketawa kayak gitu. Nggak sehat," ucap Angga absurd


"Lho bukannya ada yang mengatakan tertawa itu sehat?" sahut Safira.


"Iya. Tapi ketawamu itu tidak membuat sehat."


"Maksudnya? Kok aku nggak ngerti ya?"


"Ketawamu membuatku terkena serangan jantung," ucap Angga sambil memegang dada kirinya.


"Ah, kamu itu ada-ada saja. Konyol ah! Aku duluan ya." Safira melangkah meninggalkan Angga yang masih memegang dada kirinya.


"Woy! Kenapa lo?" Tiba-tiba Bento dan Arif muncul di belakang Angga dan menepuk bahunya sehingga membuat Angga terlonjak kaget.


"Sialan lo pada! Kalau gue pingsan gara-gara serangan jantung gimana?"

__ADS_1


"Bukan kita yang bikin elo kena serangan jantung, tapi cewek itu," ucap Bento sambil menunjuk Safira yang sudah menjauh.


"Lagian sampai segitunya ngeliatin pujaan hati pergi menjauh. Tenang, kalau emang jodoh nggak akan kemana-mana, bro," ucap Arif sambil merangkul bahu Angga.


"Perasaan semenjak gue kenal elo, baru kali ini gue liat elo kayak begini." Kali ini Bento merangkul lengan kanan Angga.


"Angga tuh kalau suka sama cewek emang kayak gitu. Lo lupa gimana dia tergila-gila sama kakak lo? Angga mendadak jadi bego. Disuruh apa aja pasti mau."


"Oh iya. Jadi sekarang elo sudah nggak naksir kak Bintang?" tanya Bento.


"Dia sudah kepincut gadis berhijab itu, Ben."


"Ini kalian ngapain sih ngurusin percintaan gue? Lagian elo Ben, ngapain gelendotan di tangan gue. Berat tau. Sana gih kalian jauh-jauh, bikin gerah aja."


"Cieee... jadi cuma Safira yang boleh gelendotan sama elo. Latihan Ngga. Sebelum sama Safira, sama gue dulu." Bukannya melepaskan lengan Angga, Bento malah sengaja mengeratkan pelukannya di lengan Angga.


"Fira nggak gendut kayak elo. Sudah ah, lepasin tangan gue. Sorry kita bukan mahram. Lagian kalian ngapain sih nempel-nempel sama gue. Kayak ulat bulu nempel di pohon."


Sementara itu Safira sudah di dalam ruangan kepala sekolah.


"Jadi gimana Fir? Kamu bersedia?"


"Insyaa Allah saya bersedia pak. Tapi sebelum mulai saya mau bertemu dan ngobrol dengan anak bapak. Bagaimana pak?"


"Oke, selesai jam pelajaran nanti kamu ke sini lagi. Nanti saya akan suruh Cantika ke sini."


"Baik pak. Saya mengucapkan terima kasih sudah dipercaya menjadi tutor anak bapak."


⭐⭐⭐⭐


"Fir, mau ikutan nggak? Mas Seto mau ajak kita jalan," ajak Sinta setelah bel pulang berbunyi.


"Mau ngapain?" tanya Santi yang baru bergabung.


"Biasa, ada obyekan."


"Obyekan apa?" tanya Sinta.


"Nanti saja aku ceritain kalau sudah berhasil."


"Ih, gaya banget sih. Mau dijadiin calon menantu ya?" ledek Santi.


"Dih, apaan sih. Siapa juga yang mau jadi calon menantu dia. Jangan nyebar gosip deh."


"Bukan gosip Fir, tapi memastikan. Siapa tau kamu sudah bisa membuka hati untuk kak ......"


"Membuka hati buat siapa Fir?" tanya Seto yang menunggu di depan kelasnya Rosa.


"Itu lho mas, Fira mau dijadiin menantunya..... hmmmp." Sinta tak jadi bicara karena Safira buru-buru menutup mulutnya.


"Sin, jangan ngegosip deh. Nanti kalau orang lain dengar disangkanya aku benar-benar....."


"Iya.. iya.. aku kan cuma main-main. Segitu tegangnya kalau sudah berurusan dengan beliau. Hati-hati lho, dari benci bisa jadi cinta," goda Sinta.


"Sudah.. sudah.. kalian jangan meledek Fira terus. Yuk buruan kita berangkat, mas Seto sudah lapar berat nih."

__ADS_1


"Maaf mas, Fira nggak ikutan ya."


"Lho, kenapa?" tanya Seto dan Rosa bersamaan.


"Mau ke ruang kepala sekolah, mas."


"Ngapain? Kamu bikin salah? Kamu dihukum?" tanya Rosa khawatir.


"Nggak Cha. Aku nggak dihukum. Ada sedikit urusan dengan beliau." Safira tersenyum melihat Rosa cemas.


"Beasiswa kamu bermasalah? Apa karena kejadian waktu itu? Atau karena kejadian di hutan?"


"Nggak mas. Nggak ada masalah kok. Beasiswa Fira juga baik-baik saja," jawab Safira.


"Dia mau dikasih obyekan sama pak kepsek." ucap Santi.


"Oh ya? Wah hebat kamu," puji yang lainnya.


"Ah, bukan obyekan besar kok. Jadi malu."


"Fira mau ngajarin adek gue." Tiba-tiba Troy muncul dan langsung melingkarkan tangannya di bahu Safira.


"Kak Troy!" Safira sangat kaget dengan perlakuan Troy. Ia langsung mencoba menjauh, namun lengan kokoh Troy tak mau melepaskannya.


"Troy, ngapain lo kesini?" tanya Seto heran.


"Disuruh oma jemput adek gue."


"Kak, lepasin dong," pinta Safira dengan suara bergetar.


"Iya Troy, jangan bikin ulah. Kasihan Fira." Seto membela Safira yang sudah hampir menangis. Lalu Seto menarik Troy untuk mengikutinya. Untunglah Troy tak menolak.


"Apaan sih? Gue kan cuma mau peluk dia. Wajar kan memeluk pacar."


"Elo jangan gila deh! Sejak kapan dia jadi pacar lo? Perasaan dia nggak pernah terima elo jadi pacar."


"Sebentar lagi dia bakal luluh kok. Kita bakal sering ketemu," ucap Troy percaya diri.


"Apapun alasannya, jangan perlakukan dia kayak gitu. Dia bukan model cewek-cewek yang pernah lo pacarin. Kalau ada orang lain melihat kelakuan lo tadi, Safira bakal di-bully."


"Siapa yang berani nge-bully dia? Sini berhadapan sama gue." tantang Troy.


"Elo lupa, kalau sebentar lagi bakal lulus? Kalau sudah lulus, elo nggak akan bisa melindungi dia. Apa yang lo lakukan tadi malah bisa menjerumuskan dia ke dalam neraka bullying." sentak Seto kesal.


Troy terdiam mendengar ucapan Seto.


"Kalau elo beneran serius suka sama dia, dekati pelan-pelan. Jangan sradak sruduk model gitu. Elo sudah tau dia nggak mau pacaran, elo juga sudah tau gimana keinginan orang tuanya. Saran gue, mending pending dulu deh perasaan lo. Siapa tau rasa suka lo itu cuma sesaat," nasihat Seto. "Kalau elo serius mau dekatin dia, itu artinya elo serius mau halalin dia. Elo sanggu?"


"Gue cuma mau pacarin dia, bukan nikahin dia. Nggak usah serius-serius amatlah," jawab Troy.


"Kalau pemikiran lo kayak gitu. Saran gue, mending hapus penasaran lo itu. Fira berhak mendapatkan orang yang serius sama dia. Bukan yang main-main model elo." Setelah mengucapkan hal itu Seto kembali ke Rosa dan adik-adiknya. Dilihatnya Safira sudah tidak ada disitu.


"Fira tadi nangis," lapor Rosa. "Kenapa sih kak Troy suka bersikap seenaknya gitu."


"Sekarang Firanya mana?"

__ADS_1


"Dia ke ruang kepsek, mas." Seto hanya bisa menghembuskan nafas kesal karena Fira menangis akibat ulah Troy.


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2