CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 21


__ADS_3

Nggak terasa sudah lumayan panjang ya. Bagaimana nih? Mau dilanjut atau selesai saja? Kira-kira apa yang terjadi pada Safira dan Troy?


Ditunggu komen dan votenya supaya author semangat menulisnya.


⭐⭐⭐⭐


Happy Reading Guys 💖


Cahaya matahari menyentuh pipi Troy. Dengan enggan Troy membuka matanya perlahan yang langsung disambut oleh pemandangan yang mampu membuatnya terkejut setengah mati bahkan tanpa sadar Troy berteriak. Bagaimana tidak terkejut kalau saat ia membuka mata yang ada di hadapannya adalah jurang yang dasarnya tak terlihat. Rupanya Troy tertidur persis di bibir jurang. Apabila Troy bergerak sedikit saja, tubuhnya saat ini pasti sudah terhempas ke dasar jurang. Pelan-pelan Troy mencoba menggeser tubuhnya menjauhi bibirjurang. Setelah dirasa cukup aman Troy mencoba duduk hingga kesadarannya benar-benar pulih. Ia memandang sekelilingnya yang terlihat sepi. Hanya kicauan burung yang terdengar memenuhi udara pagi.


Kenapa gue bisa ada di sini? batin Tryoy. Perasaan semalam gue duduk bersandar pada sebuah pohon. An**r, kenapa tuh bapak nggak ngebangunin gue?


Troy pada akhirnya mencoba berjalan mencari jalan setapak. Tubuhnya terasa lelah, cacing-cacing di perut mulai melakukan perlawanan dan demo menuntut diberi makan. Kerongkongannya terasa kering. Sekali lagi Troy memandang sekelilingnya.


Bukannya semalam kita berjalan dekat sungai? Gue yakin mendengar suara aliran sungai. Hmm.. apa gue coba mencari sungai itu? Troy merogoh saku jaketnya dan menemukan ponselnya. Untung hp gue masih hidup, pikir Troy sambil mencoba membuka aplikasi peta. Namun sayang tak berhasil karena tidak ada sinyal. Sialan, omelnya dalam hati. Troy mencoba mengumpulkan memorinya mengenai pelajaran survival yang pernah ditontonnya di internet.


Troy menengadah ke langit, berharap dapat melihat matahari. Apakah gue harus mengikuti arah terbit matahari yang gue yakin adalah timur atau arah berlawanan? Tapi gue nggak yakin dimana posisi desa. Jangan-jangan malah ketemu jurang lagi, batinnya sambil bergidik. Akhirnya Troy menyerah dan memutuskan berjalan hanya dengan mengikuti instingnya. Setelah berjalan selama satu jam, kali ini Troy dapat memastikan waktu dengan melihat jam tangan yang ada di pergelangannya, ia menemukan sebuah goa. Ragu-ragu Troy mendekati mulut goa.


Apakah gue masuk saja ke goa itu atau gue berjalan lagi? Tapi kaki gue sudah mulai pegal. Gue nggak sanggup lagi. Sekali lagi Troy menatap langit yang tampaknya mulai mendung. Ah, lebih baik gue masuk saja daripada kehujanan. Gue nggak akan masuk terlalu dalam, cukup di bagian depan saja. Kalau nanti hujannya deras baru gue akan masuk lebih ke dalam.


Dengan sedikit ragu Troy melangkah masuk ke pintu goa yang terlihat tidak terlalu besar. Troy masuk sambil merangkak. Kira-kira lima meter dari pintu goa ternyata atap goa menjadi lebih tinggi dan ruang di dalam goa juga cukup lapang namun gelap. Troy mencoba membiasakan matanya dengan kegelapan tersebut. Setelah beberapa saat matanya dapat beradaptasi. Perlahan Troy melangkah dengan hati-hati.


Tiba-tiba didengarnya sebuah bisikan, "Siapa kamu?"


Bulu kuduk Troy langsung meremang saat mendengar bisikan yang seperti suara wanita tersebut. S****n, masa gue harus ketemu setan di dalam sini, rutuknya dalam hati.


"Siapa kamu?" Kali ini bisikan itu terasa semakin jelas di telinganya. Troy memejamkan mata dan mencoba mengingat doa-doa yang dulu pernah dipelajarinya. Tapi rupanya otak Troy tak bisa diajak kompromi. Pikirannya terasa kosong. Tak seuntai doa pun yang dia ingat. Kakinya terasa berat hendak melangkah. Ya tuhan, apakah aku harus mati di dalam goa ini?


"Bismillahirrahmanirrahim, tolong jangan ganggu gue. Sumpah, gue nggak bermaksud jahat. Gue cuma mau menumpang berteduh. Tolong jangan ambil nyawa gue karena gue masih belum kawin. Kalau elo mau kawin sama manusia, sama si Duta atau Corong aja. Nanti gue kenalin. Mereka suka sama berbagai jenis cewek kok. Siapa tahu mereka juga suka sama jin atau setan cewek."


Tiba-tiba sebuah tangan memegang bahu Troy. Tubuh Troy langsung menegang. Ia langsung memejamkan mata dan mulutnya komat kamit membaca Al Fatihah. Saat ini cuma surat itu yang mampu diingatnya.


"Bismillahirrahmanirrahim.. please jangan ganggu gue. Alhamdulillahirabbil'aalamiin.. Ijinin gue hidup dan lulus SMA... Arrahmaanirrahiim.. Gue belum berhasil ngedeketin Safira. Maalikiyaw middiin.. Gue janji bakal berubah kalau...."


"Kak Troy?" Safira? Suara itu terdengar dekat. Ah, ini pasti jin meniru Safira.


"Ihdinashshirotol mustaqiim... Pergi jauh-jauh. Nggak usah pura-pura jadi Safira. Gue nggak bakal percaya."


"Kak Troy!" Pegangan di bahu Troy semakin kencang. Bahkan kini mengguncang tubuh Troy.


"Pergi!! Please jangan ganggu gue!!"


"Kak, ini Safira! Buka matanya kak! Ini beneran Safira, bukan setan."


Perlahan Troy membuka matanya dan benarlah sosok Safira berdiri di hadapannya. Perasaan Troy tak karuan saat melihat gadis yang dicarinya sejak semalam. Antara senang dan takut.

__ADS_1


"Elo beneran Safira? Elo bukan setan yang menyamar jadi Safira kan?"


"Ini beneran aku kak, Safira."


"Gue nggak percaya! Elo pasti jin yang menyamar dan mau menjadikan gue tumbal." Troy berkeras tak percaya.


"Astaghfirullahal azhiim. Ini beneran Safira kak. Tadi malam kita kan shalat maghrib bareng," Safira mencoba meyakinkan Troy yang terdengar ketakutan. "Kalau kakak nggak percaya coba baca Ayat Kursi."


"A-ayat kursi? Eeenghh... gue nggak hafal," jawab Troy pelan. Safira tertawa mendengar jawaban Troy. Saat itulah Troy baru yakin yang ada di hadapannya adalah Safira.


"Kak Troy beneran nggak hafal ayat kursi? Murid-murid ustadzah Fatimah yang masih TKdan SD saja hafal." Safira masih terus tertawa.


"Fir, sudah dong ketawanya. Serem tau di dalam goa dengar suara ketawa. Mana gelap lagi."


"Hahaha.. eh...maaf kak. Habisnya kak Troy lucu sih. Masa ayat pendek begitu nggak hafal."


"Fir, kamu kenapa ada disini? Semalaman gue dan yang lainnya nyariin kamu," potong Troy sebelum Safira melanjutkan pembahasan mengenai ayat kursi. "Kamu kenapa nggak mencoba keluar?"


"Kaki Fira sakit, kak. Subuh tadi Fira sempat tersandung saat mencoba mencari jalan kembali ke dusun. Saat Fira memaksakan berjalan, kaki tambah sakit. Tadi nggak sengaja Fira menemukan goa ini."


"Sekarang masih sakit?" tanya Troy khawatir.


"Masih kak. Malah tambah sakit. Mungkin karena Fira paksa pakai buat berjalan."


"Ouch..," Safira menjerit tertahan saat kakinya terantuk kaki Troy dan membuatnya hampir jatuh. Untunglah Troy cepat menangkap pinggang Safira sehingga gadis itu tidak terjatuh ke lantai goa.


"Kak Troy, lepasin! Kakak mau ngapain?" Suara Safira terdengar panik. Sementara itu di luar terdengar suara hujan yang turun dengan deras.


"Kamu ngapain pakai mundur-mundur segala sih? Kamu takut gue bakal macam-macam? Fir, gue tuh nggak ada niatan jahat. Gue cuma mau bantu memapah kamu. Kaki kamu bengkak, jadi jangan dibebani dengan berat tubuhmu. Nanti malah tambah bengkak," Troy berusaha menjelaskan. "Please jangan berontak. Sini bersandar sama gue, kita duduk ke dekat pintu masuk."


"Tapi kak ..."


Troy tak memperdulikan protes yang keluar dari mulut Safira. Dengan sigap diangkatnya tubuh mungil gadis itu dan dibawanya ke dekat pintu masuk goa. Safira mendadak terdiam. Wajahnya memanas karena malu sekaligus gugup. Selama ini belum pernah ada cowok menyentuhnya sampai sejauh ini. Kini tubuhnya berada dalam pelukan Troy. Ya tuhan, aku musti gimana? Ampuni aku tuhan, ini bukan mauku. Hati Safira terus berdoa mohon ampun pada tuhan.


"Nah, kita duduk disini saja. Lumayan nggak segelap di sebelah sana. Udaranya juga lumayan segar." Troy meletakkan Safira di lantai goa, lalu duduk di sebelah gadis itu.


"Ma.. ma.. makasih kak. Seharusnya kakak nggak usah gendong Fira. Aku bisa jalan sendiri kok."


"Kamu memang bisa jalan sendiri, tapi kakimu pasti sakit banget. Gue nggak tega membayangkan kamu kesakitan," ucap Troy tegas. "Sebagai cowok, sudah seharusnya gue menolong cewek yang sedang kesakitan kayak kamu."


"Ah, kak Troy berlebihan. Waktu kak Vonny terpeleset di sungai kok nggak ditolongin?" tanya Safira berusaha meredam gemuruh di dadanya akibat perbuatan Troy tadi. Entah mengapa rasa gugup itu tak juga hilang walau kini mereka hanya duduk berdampingan. Istighfar Fira, hatinya terus mengingatkan.


"Vonny? Dia mah pura-pura jatuh supaya gue tolongin," jawab Troy enteng.


"Nggak boleh su'uzhon kak."

__ADS_1


"Siapa yang su'uzhon? Eh, tapi su'uzhon itu apa?"


"Su'uzhon itu berprasangka buruk," jelas Safira.


"Gue nggak berprasangka buruk sama dia. Gue emang tahu kalau dia melakukan itu buat cari perhatian gue."


"Mungkin dia melakukan itu karena dia suka sama kak Troy." Safira teringat percakapannya dengan Vonny yang berakhir dengan tamparan di pipinya.


"Gue tau dia emang sudah lama naksir gue. Sejak kelas 10."


"Lalu kenapa nggak kakak jadiin pacar?"


"Gue nggak suka gaya dia yang suka semena-mena dan murahan, kayak p*****r."


"Astaghfirullahalazhiim. Kak Troy, jangan ngomong gitu ah. Hati-hati jadi fitnah."


"Gue bukan memfitnah dia, tapi memang itu kenyataannya. Dia mau aja dipacarin sama si Corong dan Duta padahal cuma buat digrepe-***** sama mereka. Dia lakuin itu supaya bisa dekat sama circle gue."


"Kakak tau darimana? Bisa aja itu cuma gosip."


"Ya dari Corong dan Duta lah. Bahkan mereka punya bukti berupa foto. Dan gue percaya sama mereka. Keduanya sudah berteman sama gue sejak kelas 10."


"Astaghfirullah." Cuma itu yang mampu Safira ucapkan saat mendengar cerita Troy.


"Dia pikir kelakuan gue sama kayak Corong dan Duta."


"Tapi kakak kan memang terkenal playboy," ucap Safira pelan.


"Gue memang playboy, tapi gue bukan tipe cowok yang suka make out sama sembarang cewek. Paling-paling ciuman. Itupun atas dasar sama-sama mau."


"Astaghfirullahalazhiim, itu juga dosa kak," ucap Safira terkejut. Lalu ia kembali terdiam. Ia sendiri tak tahu apakah ucapan Troy benar atau tidak. Ia hanya sering mendengar cerita dari si kembar mengenai Troy yang gonta ganti pacar, clubbing dan gaya hidup hedonis.


"Kamu pasti nggak percaya dengan omongan gue," ucap Troy pelan saat tak mendengar respon Safira. "Wajar saja, soalnya kamu belum tau siapa gue. Kita belum saling mengenal lebih jauh."


"Hmm.. maaf kak kalau Fira salah sangka. Fira hanya sedikit tau tentang kakak dari .... "


"Si kembar?"


"Dari mas Seto, tepatnya."


Seto?! Ya tuhan, apa yang sudah Seto ceritain ke Safira? hati Troy mendadak panik.


"Kamu jangan percaya pada semua ucapan Seto," sahut Troy cepat menutupi rasa paniknya. "Sedekat itu kamu sama Seto, sehingga bisa banyak membahas tentang gue."


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2