CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA

CINTA KITA BUKAN CINTA MEREKA
CKBCM 9


__ADS_3

"Fir, besok pagi gowes yuk habis kajian di masjid," ajak Angga saat menemani Safira menunggu angkot.


"Nggak bisa. Aku harus membantu ibu jualan. Kasihan ibu kalau nggak dibantuin. Kamu ajak Salman aja. Kalian biasa ketemu pas shalat subuh kan?" tolak Safira.


"Aku maunya bareng kamu. Memangnya nggak bisa sekali saja nggak bantuin ibu?"


"Angga, kamu tahu kan gimana kondisi keluargaku. Lagipula aku nggak tega melihat ibu jualan sendirian. Beliau pasti capek banget."


"Ya, tapi kan kamu butuh refreshing juga."


"Melihat wajah bahagia ibu saat melayani pelanggan salah satu cara aku refreshing." Angga mengerti tak ada gunanya lagi memaksa Safira.


"Oh iya, fieldtrip nanti kamu ikut kan?" Safira menunduk. "Kamu nggak ikut?"


"Aku nggak enak sama ayah dan ibu. Kasihan mereka harus mengeluarkan uang sedemikian besarnya hanya untuk aku sendiri. Padahal uang sebesar itu bisa buat membayar spp adik-adikku."


"Tapi fieldtrip ini kan bukan jalan-jalan biasa. Ada tugas sekolah di dalamnya. Nanti bagaimana dengan nilai kamu?"


"Nanti aku akan menghadap guru BK untuk membahas hal ini. Semoga mereka bisa mengerti." Baru saja Safira selesai bicara sebuah sedan biru berhenti di depan mereka. Tak lama kaca jendela terbuka dan tampaklah wajah Troy dengan senyum mautnya.


"Fir, ayo aku antar kamu pulang."


"Eh, nggak usah kak. Aku naik angkot saja."


"Naik angkot panas lho. Nanti kamu kepanasan," bujuk Troy.


"Ya iyalah namanya juga naik angkot, pasti gerah, panas," gumam Angga sambil lalu. "Nenek-nenek peyot juga tau."


"Heh, apa lo bilang?" tanya Troy kepada Angga.


"Nggak bilang apa-apa," sahut Angga sambil membalas tatapan Troy. Safira membaca gelagat kurang enak di antara keduanya.


"Kak Troy silahkan jalan duluan. Aku biar naik angkot. Tuh angkotnya sudah kelihatan. Terima kasih tawarannya ya kak." Safira segera berlalu dan menaiki angkot yang berhenti di belakang mobil Troy.


Setelah angkot yang membawa Safira berlalu, Angga dengan santainya mulai mengayuh sepedanya. Belum lama berjalan tiba-tiba mobil Troy memotong jalannya. Untung saja Angga sempat mengerem sehingga sepedanya tidak sampai menabrak mobil Troy.


"S****n nih orang. Bisa nyetir nggak sih?" ucap Angga gusar. Saat itulah Troy turun dari mobilnya dan mendekati Angga.


"Heh, cari mati lo?!" panggil Troy dengan nada kesal. Angga diam saja bahkan ia mulai menjalankan sepedanya, namun Troy menahannya.


"Ada masalah apa sih elo sama gue?" tanya Angga gusar.


"Ngapain elo ngedeketin Safira?"

__ADS_1


"Ngapain nanya-nanya? Bapak ibunya aja nggak pernah nanya kayak gini? Elo bodyguard dia?" Angga tanya balik. Troy yang dari tadi sudah emosi mencengkeram kerah baju Angga sehingga membuat Angga terpaksa melepaskan sepedanya. Untung saja sepedanya tidak mengenai mobil Troy.


"Jangan kurang ajar ya sama senior!" bentak Troy seraya semakin kuat mencengkeram kerah baju Angga.


"Heh, siapa yang kurang ajar?! Elo yang tiba-tiba menghalangi jalan gue! Elo yang nggak pakai basa basi menginterogasi gue kayak polisi!" balas Angga tak kalah keras.


"Dasar b******n!" Tanpa banyak bicara kepalan tangan Troy terarah ke wajah Angga. Untunglah jelek-jelek begini Angga pernah belajar silat pada Engkong Rojaih sehingga ia bisa menangkis pukulan Troy. Melihat lawannya bisa menangkis, membuat Troy semakin emosi. Ia mencoba melayangkan pukulan lagi kali ini ke arah perut Angga. Dan lagi-lagi Angga berhasil menangkis.


Tak berapa lama perkelahian antara keduanya sudah menjadi tontonan orang banyak. Tak ada yg berusaha melerai keduanya. Bahkan ada beberapa siswa siswi Bhakti Nusa yang ikut menonton. Untunglah tak lama kemudian datang security sekolah melerai mereka, karena memang lokasi mereka berkelahi tak jauh dari sekolah. Segera keduanya dibawa menghadap Brotoyudho.


Di hadapan Broto keduanya diam tertunduk. Wajah mereka berdua terlihat babak belur. Rupanya keduanya sama-sama jago bela diri. Sehingga keduanya sama-sama merasakan pukulan dari lawan. Baju mereka terlihat lecek dan kotor. Di sudut bibir mereka terlihat sedikit darah.


"Cepat katakan apa penyebab kalian berkelahi seperti p****n di pinggir jalan?!" tanya Broto gusar. Selama ini siswa siswi sekolahnya terkenal tidak pernah berkelahi. Kali ini terjadi perkelahian, di jalan raya, dan ditonton orang banyak. Apalagi salah satu pelaku perkelahian adalah anak tirinya.


"Troy, cepat ceritakan kenapa kalian berkelahi!" perintah Anto yang ikut menginterogasi. "Angga ceritakan apa penyebabnya!"


"Ma-maaf pak, bapak tanya saja sama dia. Saya sendiri nggak tahu kenapa tiba-tiba dia memukul. Saya hanya membela diri." jawab Angga membela diri. Ia merasa tak bersalah. Karena Troy tak juga buka mulut, akhirnya Angga menceritakan semua yang ia tahu.


Broto, Anto, Miss Vera wali kelas Angga dan Miss Lia wali kelas Troy, hanya bisa geleng-geleng kepala setelah mendengar cerita Angga.


"Astaga Troy, papa sudah nggak tahu lagi gimana harus menghadapi kamu."


Papa? Angga kaget mendengar ucapan Broto. Mampus gue, bakal panjang urusannya nih. Gue kagak tau kalau dia anak kepsek, batin Angga. Troy hanya mendecih mendengar ucapan Broto.


"Troy, sekali lagi papa tanya apa benar apa yang dikatakan oleh Angga?" Tetap tak ada jawaban. "Oke kalau begitu kalian harus panggil wali kalian untuk menghadap ke sekolah, besok jam 10 pagi."


"Sekarang kalian boleh pulang. Dan kamu Troy, berikan kunci mobilmu," perintah Broto tegas. "Silahkan kamu pulang naik angkot atau apapun pilihanmu."


Troy terkejut mendengar ultimatum yang Broto berikan. Ia tak menyangka papa tirinya akan berani mengambil keputusan seperti itu. Biasanya selama ini Broto hanya melaporkannya kepada oma tanpa mengambil tindakan langsung.


"Ingat, besok jam 10 pagi saya tunggu wali kalian di kantor saya." Broto meninggalkan ruangan dengan membawa kunci mobil Troy. Sementara itu dengan tertatih Angga keluar ruangan menuju sepedanya yang terparkir di dekat pos security.


Troy memandang marah kepada Broto dan Angga. Gara-gara mereka ia pasti akan dihukum kembali oleh oma Linda. Lalu gimana ini pulangnya? Oma masih membatasi uang sakunya. Tadi pagi ia hanya dibekali uang 100 ribu, itu sudah termasuk membeli bensin. Kini uang di kantongnya tinggal sepuluh ribu.


"Om, pinjam mobilnya ya?" mohon Troy pada Anto. Biasanya pantang buat Troy memohon seperti itu. "Om bawa mobil Troy. Kita tukeran mobil. Gimana om?"


"Maaf Troy, kalo ini om nggak bisa bantu kamu. Kali ini kamu benar-benar keterlaluan. Kamu sudah mencemarkan nama baik sekolah kita." sahut Anto.


"Tapi om, ini semua kan gara-gara anak b******k itu mau merebut cewek Troy," balas Troy kesal.


"Ya ampun Troy, hanya gara-gara cewek kamu sampai berantem di pinggir jalan dan jadi tontonan orang banyak. Coba deh sekali-sekali otak kamu itu dipakai berpikir. Bukan hanya memikirkan having fun saja. Ingat kamu sudah kelas 12, sebentar lagi akan ujian dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Dewasa sedikitlah." Anto mengomel panjang pendek kepada keponakannya. "Kamu siap-siap saja dipanggil oleh oma."


S****n, si Broto pasti ngadu sama oma. Mampus gue. Hukuman kayak apa lagi yang bakal oma kasih. Baru dua hari tuh kunci mobil dibalikin, masa sekarang disita lagi. Dasar apes. Lihat aja tuh anak, bakal gue kasih pelajaran. Dan jangan harap dia bisa merebut Safira dari tangan gue.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


"Bang, besok abang yang ke sekolah ya." Wajah Angga tampak memelas saat meminta kakaknya datang ke sekolah. Angga tak mau enyak dan engkong mengetahui kalau dia membuat masalah di sekolah. Bisa lebih parah hukuman yang akan diterima dari kakek neneknya itu.


"Elo bikin ulah apa sih?" tanya Juna setelah menyelesaikan membaca Al qur'an. "Astaga Angga.. muka lo kenapa?!"


"Ssst... abang ngomongnya jangan kencang-kencang, nanti enyak denger." Angga meletakkan telunjuknya di bibir.


"Oke.. oke. Tapi bilang dulu sama abang, muka lo kenapa bonyok?"


"Angga ceritain tapi abang janji jangan cerita ke enyak dan engkong. Angga nggak mau mereka khawatir. Lebih tepatnya Angga juga nggak mau dihukum sama enyak."


"Okay, abang janji." Tawa Juna langsung meledak setelah mendengar cerita Angga. "Astagaaa.. abang pikir elo bikin ulah apa di sekolah. Nggak taunya hanya gara-gara cewek. Nggak penting banget."


"Iya, tapi itu kan bukan salah Angga, bang. Dia duluan yang mulai. Tapi bang, si Troy itu ternyata anaknya pak kepsek. Kira-kira dia bakal bisa adil nggak ya?"


"Hmm... kalau dengar cerita lo barusan kayaknya sih pak kepsek bisa adil. Buktinya dia menyita kunci mobil anaknya kan?"


"Iya juga sih. Tapi besok abang bisa datang kan?"


"Hmm.. apa balasannya?"


"Yaelah bang, sama adik sendiri itung-itungan banget deh."


"Gue kan harus ngorbanin jam kerja. Ya harus ada kompensasinya dong."


"Ya sudah, selama seminggu motor bang Juna gue yang cuciin. Gimana?"


"Oke. Deal ya. Oh iya, cewek yang kalian perebutkan cantik banget ya? Seksi?"


"Abang tau Safira anak tukang nasi uduk?"


"Safira anak sulung pak Seno?"


"Abang kenal sama bapaknya?"


"Kenal, dulu beliau itu sekantor sama Priska. Tahun lalu beliau kena PHK karena dituduh melakukan penggelapan. Padahal atasan beliau yang melakukannya. Tapi karena atasannya memakai pengacara handal, maka kesalahan ditimpakan kepada beliau."


"Ya ampun, kasihan banget. Abang tahu kalau sekarang pak Seno jadi driver ojol?" Juna mengangguk.


"Kayaknya aku tertarik sama dia," ucap Angga santai. "Si Troy juga sama."


"Dasar anak muda, hanya gara-gara cewek koo berantem. Childish banget."

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2