
Safira berjalan memasuki ruangan kelas dengan kepala tertunduk. Setelah dipersilahkan oleh sang guru, Safira bergegas duduk di tempatnya. Dilihatnya teman2 sekelasnya sedang sibuk mengerjakam tes review pelajaran kimia. Setiap mulai semester baru, sekolah mereka memang rutin mengadakan review pelajaran semester sebelumnya. Hal ini dilakukan agar para siswa tetap mengulang pelajaran meski saat berlibur.
"Fir, elo nggak apa-apa?" tanya Sinta sambil berbisik. Safira menggeleng. Ia berusaha fokus mengerjakan tes review. Bukan hal mudah mengingat apa yang telah terjadi pagi ini.
Dua jam kemudian pelajaran selesai. Dilanjutkan dengan pelajaran Matematika. Untunglah guru matematika tidak ikut memberikan tes review di hari ini. Murid-murid menghela nafas lega.
"Kenapa? Kalian senang ya tidak ada tes review?" tanya sang guru. Para murid menjawab dengan suara ceria.
"Iya pak."
"Bapak memang guru paling top."
"Coba semua guru baiknya kayak bapak."
"Alhamdulillah, kepala saya nggak jadi berasap."
"Saya doain bapak semakin ganteng dan subur."
Sang guru hanya tersenyum mendengar komentar para siswanya.
"Sebagai gantinya, bapak akan meminta kalian mengerjakan tugas di halaman 30 sampai 34.... "
"Tapi pak, itu kan pelajaran semester ini. Bapak belum pernah mengajarkan materi ini," protes para murid.
"Bapak nggak jadi tambah ganteng deh."
"Yaelah pak, belum juga dingin kepala saya."
Keluhan demi keluhan terdengar di penjuru kelas.
"Kalian jangan mengeluh dulu. Bapak belum selesai bicara. Kerjakan tugas tersebut secara berkelompok. Kalian bisa melihat caranya di internet. Setelah kalian mencoba kerjakan, bapak akan menerangkan. Dengan cara seperti ini kalian akan lebih mudah mengerti."
Masih terdengar gerutuan di sana sini.
"Satu jam pertama kalian coba kerjakan sendiri. Satu jam lagi bapak akan jelaskan materi ini."
"Pembagian kelompoknya bagaimana pak?" tanya Dani, sang ketua kelas.
"Kalian bebas menentukan kelompok kalian dengan syarat para siswa yang masuk dalam peringkat satu sampai lima yang menjadi ketua kelompok."
"Berarti ketua kelompoknya Safira, Sinta, Andi, Santi dan Prabu," jelas Dani.
"Yaa, kita nggak satu kelompok Fir," keluh Santi. "Malas banget deh kalau tuh genk nenek lampir gabung dengan kelompokku."
"Iya. Aku juga malas banget bareng mereka. Cewek-cewek malas yang nggak punya otak," sahut Sinta.
"Nggak apa-apa kan kalau bareng mereka," sahut Safira kalem. Padahal sebenarnya ia juga enggan satu kelompok dengan cewek-cewek yang dimaksud oleh si kembar.
"Dan... Dani!" panggil Santi. Dani menghampiri mereka.
"Kenapa sayang?" sahut Dani sambil menebar senyum penuh pesona. Semua teman sekelas mereka tahu kalau Dani naksir Santi sejak kelas 10.
"Apaan sih. Nggak usah panggil kayak gitu. Bukan mahram," sentak Santi kesal.
"Oh jadi kamu mau aku halalin dulu biar aku bisa panggil kamu sayang? Ayo, nanti aku bilang sama abahku untuk melamarmu. Jadi lulus SMA nanti kita bisa langsung menikah," sahut Dani kalem. Safira dan Sinta terkekeh geli melihat wajah Santi yang ditekuk.
"Nggak usah aneh-aneh, deh."
"Memangnya aneh ya kalau aku mau melamar kamu?"
"Dan, serius dikit dong!"
"Aku kurang serius apalagi sih, sayang?"
"Dani, ngapain kamu berlama-lama disitu?" tegur pak Adrian, guru matematika mereka. "Bapak kasih waktu 10 menit untuk membentuk kelompok dan satu jam untuk mengerjakan soal-soal tersebut. Dani, kamu yang bertanggung jawab. Panggil bapak kalau kalian sudah selesai."
"Dan," panggil Santi sepeninggal pak Adrian.
"Apa sayang?" tanya Dani mesra. Safira dan Sinta kembali tergelak melihat kenekatan Dani
"Dan, kamu kan yang atur pembagian kelompok. Aku nggak mau satu kelompok dengan para nenek lampir itu ya."
__ADS_1
"Lho, kenapa begitu? Mereka kan juga butuh dibantu belajar."
"Gabungkan mereka dengan kelompok Andi dan Putra. Please ya Dan," bujuk Santi.
"Apa imbalannya kalau aku menuruti keinginan kalian?"
"Aku traktir kamu makan di kantin pas jam istirahat nanti."
"Nggak mau."
"Hmm.. gimana kalau besok aku bawain kamu sarapan?" usul Santi lagi.
"Nggak mau." Dani tak bergeming dengan usulan Santi.
"Terus kamu maunya apa?" tanya Santi kesal.
"Aku mau kamu." bisik Dani sambil berbisik di telinga Santi. Sontak kalimat itu membuat muka Santi memerah.
"Iih.. apaan sih. Nggak jelas!"
"Masih kurang jelas gimana lagi, sayang."
"Please Dan, jangan bercanda deh." Mata Santi mulai berkaca-kaca. Dani tak tahan melihatnya.
"Oke.. oke.. aku akan turutin keinginanmu dengan syarat malam minggu besok kamu menemani aku ke ulang tahun orang tuaku di hotel Flora. Aku mau kamu berkenalan dengan mereka. Hanya berkenalan. Bagaimana?"
Santi tampak berpikir keras. Ditolehnya Sinta dan Safira. Keduanya mengangkat bahu.
"Boleh aku ajak mereka?" tanya Santi sambil menunjuk Sinta dan Safira.
"Boleh. Aku juga nggak berani ke hotel hanya berdua kamu. Takut khilaf,"goda Dani tapi sebenarnya ia serius.
Akhirnya setelah nego yang cukup alot itu, Dani berhasil mengatur kelompok sesuai keinginan Santi.
⭐⭐⭐⭐
"Fir, dicariin kak Troy." Veronica salah satu siswa kelas 11 IPA 3 memberitahu saat mereka keluar dari musholla.
"Iya. Tadi aku ketemu dia di kantin."
"Oh..... "
"Kak Troy bilang, kamu disuruh menemui dia di perpustakaan."
"Mau ngapain lagi sih," ucap Safira pelan.
"Dia juga bilang, kalau kamu nggak menemui dia disana maka dia akan memanggilmu melalui speaker sekolah."
Astaga, nekat banget sih.
"Fir, kalian jadian?" tanya Veronica penasaran. "Memangnya apa yang terjadi saat kalian berdua tersesat di goa?"
"Nggak ada apa-apa Ver."
"Masa sih? Ada gosip yang beredar lho. Katanya kalian berdua melakukan 'itu' di dalam goa. Memang benar Fir? Gue sih nggak percaya, tapi gosipnya sudah menyebar lho. Bahkan kak Troy kalau ditanya cuma senyum-senyum aja."
"Vero, kamu tahu kan kalau aku nggak mungkin melakukan hal seperti itu." Kebetulan Veronica dan Safira sama-sama aktif di ekskul rohis. "Nggak ada apa-apa di antara kami."
"Tapi tadi pagi kamu berangkat sekolah bareng kak Troy kan? Kebetulan gue lihat kamu turun dari mobil dia."
"Memang benar aku berangkat bareng kak Troy. Itu juga karena dia...."
"Fira, aku mau bicara sama kamu." Tiba-tiba muncul Angga dari dalam mushola. Wajahnya tampak keruh. Aduh ada apa lagi sih ini, batin Safira.
"Fir, gue duluan ya. Ingat, kamu ditunggu kak Troy." Veronica meninggalkan mereka.
"Kenapa, Ngga?"
"Kamu tadi pagi bareng Troy?" tanya Angga tanpa basa-basi.
"I-iya Ngga."
__ADS_1
"Kenapa kamu mau? Apakah karena dia menjemputmu dengan mobil mewah? Selama ini kamu selalu menolak bila kuajak berangkat bareng pakai motor. Aku nggak nyangka ternyata kamu... "
"Cewek Matre? Itu yang kamu mau bilang, Ngga?" Suara Safira mulai bergetar menahan tangis. Ia tak menyangka Angga yang sudah dianggap teman baik menuduhnya seperti itu.
"Eh.. bu-bukan begitu Fir. Tapi..."
"Sudahlah Ngga. Kamu nggak usah berkata apa-apa lagi. Terima kasih kamu mau berteman denganku." Safira berjalan cepat meninggalkan Angga yang masih terpaku di tempatnya.
Angga, elo bego! Omel hati Angga. Elo cemburu? Elo tuh bukan pacar dia! Angga masih sibuk berdialog dengan hatinya hingga tak menyadari kehadiran para sahabatnya
"Woy bro!" tegur Bento sambil menepuk keras punggung Angga. Hampir saja sumpah serapah meluncur dari mulut Angga akibat perbuatan Bento.
"Kam***t lo! Bikin kaget aja," maki Angga kesal
"Lagian sih elo jalan kayak orang linglung. Kenapa lo?" tanya Bento.
"Nggak taulah kenapa tadi gue bego banget," keluh Angga sambil berjalan menuju kelas.
"Elo kenapa sih?" Sekali lagi Bento bertanya dengan penasaran. Nggak biasa sahabatnya yang satu ini terlihat murung. "Gara-gara Safira ya?"
"Safira? Elo ditolak sama dia, bro?" tebak Arif sok tau. "Wajarlah kalau dia milih yang pakai mobil. Nah elo ke sekolah naik sepeda. Paling mentok naik motor tua punya bang Juna."
"Wah, kalau gitu Safira cewek mat...." Belum sempat Bento menyelesaikan ucapannya, Angga sudah mencengkeram kerah bajunya.
"ELO JANGAN SEMBARANGAN NGOMONG YA!" Arif yang melihat gelagat tak enak langsung melerai sebelum terjadi baku hantam.
"Bro.. bro... sabar.. sabar."
"Memangnya gue salah ngomong ya?" tanya Bento bingung. Sementara itu Angga berjalan meninggalkan kedua sahabatnya yang masih terbengong-bengong melihat sikapnya.
"Sudahlah Ben, nggak usah ngomong lagi. Elo nggak liat Angga lagi kesal. Pasti tadi terjadi sesuatu di antara mereka. Nanti sepulang sekolah kita ke rumah dia."
⭐⭐⭐⭐
Sementara itu Troy sudah mengambil tempat di perpustakaan. Dipandangnya jam tangan mewah yang melingkar di tangannya. Hmm... sudah lima belas menit gue menunggu, tuh cewek kenapa belum datang juga? batin Troy. Apakah gue perlu memanggil dia pakai speaker sekolah?
"Woy bro, ngapain lo di sini?" tanya Corong yang baru saja masuk ke perpustakaan. "Jangan bilang elo kesini karena mau belajar."
"Lo liat Safira?"
"Safira? Nggak," jawab Corong. "Lo janjian sama dia disini?"
"Hmm.. gue nggak janjian sih, tapi tadi gue titip pesan ke temannya supaya Fira menemui gue disini."
Corong tergelak mendengar jawaban Troy. "Elo tuh kenapa sih? Elo yakin dia bakal nemuin lo disini?"
Troy mengangkat bahu tak acuh. Matanya kembali memandang jam tangannya. Lima menit lagi jam istirahat akan berakhir. Troy beranjak dari duduknya. Corong yang baru saja duduk di sampingnya menahan tangannya.
"Elo mau kemana?"
"Ke ruang Audio."
"Ngapain? Jangan bilang elo mau panggil Fira pakai speaker sekolah?!"
"Kenapa nggak?"
"Elo jangan gila, deh!" cegah Corong. "Elo mau diomelin pak Broto?"
Belum sempat Troy menjawab, muncullah Safira. Senyum Troy langsung mengembang melihat gadis pujaan hatinya muncul memenuhi panggilannya.
"Eh Safira. Mau ketemu ayang ya?" tanya Corong sambil tersenyum jahil.
"Kak Troy, mohon maaf Fira nggak bisa lama-lama. Sebentar lagi bel masuk. Ada apa kak?"
"Troy gue balik ke kelas ya." Corong meninggalkan mereka berdua.
"Pulang sekolah bareng ya. Tunggu aku." Troy tersenyum lembut pada Safira yang masih terlihat bingung. Tangan Troy terulur hendak mengusap kepala Safira, namun Safira menghindar.
"Maaf kak, aku .... "
"Aku nggak mau mendengar penolakan. Atau aku akan minta oma membatalkan beasiswamu." Troy meninggalkan Safira yang masih tertegun mendengar ancaman tersebut.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐