Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Estonesia Family


__ADS_3

Selain memiliki keluarga Estonia, aku berbahagia memiliki keluarga Indonesia yang tinggal di Tallinn ini. Sudah bertahun-tahun mereka tinggal disini dan menikah dengan warga Estonia. Aku menemukan kecocokan dengan beberapa orang Indonesia yang akhirnya membuat kita setuju untuk menyebut group kita ini dengan nama Estonesia dari singkatan Estonia-Indonesia.


Biarkan kukenalkan satu persatu, orang Indonesia yang asik ini. Dina, perempuan asal Jawa Timur yang bertemu jodohnya orang Estonia asli di Surabaya, akhirnya menikah dan tinggal di Estonia selama 10 tahun. Dia juga menjadi guru TK di Tallinn. Anaknya Angel sering ikut bergabung bersama kami yang berusia baru 7 tahun. Lincah, cantik dan suka menari serta menyanyi. Melly, perempuan asal Kalimantan yang menikah dengan warga Republik Ceko namun suaminya ditugaskan ke Tallinn. Jadilah dia sekarang menjadi ibu rumah tangga yang senantiasa mendampingi tugas suami. Selain masih muda, Mbak Melly asik untuk diajak ngobrol dan karauke. Ada Alif, salah satu teman Indonesiaku juga yang sedang magang di Estonia. Jadi dia hanya stay sementara di Tallinn. Yang terakhir adalah kesayangan kami semua. Namanya Senar, tanpa dia, perkumpulan kami sepi. Mas Senar berasal dari Solo, bertemu jodohnya yang juga warga Estonia yang sedang kuliah di Solo. Jadilah mereka menikah di Jawa dan Mas Senar diboyong kesini. Mas Senar skillnya banyak, pintar masak, pintar main alat musik, pintar menyanyi dan jago silat juga. Dia dan tingkah lucunya selalu dirindukan oleh kami.


"Besok kita masak apa euy?" tanyaku di group.


Sejak memiliki hubungan yang kompak satu sama lain, kami bersepakat untuk membuat group whatsapp. Selain mempermudah komunikasi saat harus mencolek satu sama lain, group juga mempermudah kirim foto dan video. Sebab tiap kali berkumpul, tak mungkin tanpa foto bareng atau video karauke. Tak lupa foto makanan tentunya.


"Bakso aja apa?" sahut Mbak Melly tak lama kemudian.


"Wah kalau bakso nih jagonya Mbak Dina. Piye Mbak?" Wah gak nyangka nih Mas Senar langsung todong Mbak Dina.


"Ok, kalian belanja ya. Besok aku kesana tinggal masak" balas Mbak Dina.


"Aku bantuin belanja sama Mas Senar," Alif menyahut paling akhir.


"Ok. Ketemu di Baltijaam lif, belanja disitu aja kita" balas Mas Senar.


Baltijaam ini selain menjadi sentral untuk kereta api, bus dan tram juga memiliki pusat belanja yang lengkap. Kami memang suka belanja di sini karena sayur mayur yang murah juga untuk daging. Di sini juga ada toko Asia yang menjual berbagai bumbu dari negara-negara Asia. Bahkan Tempe pun ada. Tempenya diimpor dari Belanda dan tidak yakin apakah diproduksi oleh orang Indonesia atau orang bule. Siapapun yang produksi, yang penting Tempe. Kami sering membeli beberapa bumbu termasuk mie instant pastinya yang tidak boleh ketinggalan.


Hal lainnya yang kusukai dari orang Indonesia, budaya gotong royong yang begitu kental. Bahkan untuk urusan makan seperti ini, pembagian tugas dan saling membantu sudah menjadi tradisi. Aku bangga memiliki Estonesia family ini.

__ADS_1


Apartemenku lumayan besar ruang tamunya. Cukup untuk kami joged-joged sambil karauke. Dapurku tidak terlalu besar, meja makan pas untuk berenam. Lagu dangdut biasanya favorit, Wulan Merindu, Cindai, Kopi Dangdut, Goyang Dumang, Aku Syantik, Sakitnya Tuh Disini dan berbagai dangdut heboh lainnya dari lagu lama sampai lagu baru.


Aku bahagia berkumpul dengan mereka. Menghihur diri dan melupakan sejenak masalah dengan Allan kemarin. Dia belum menghubungiku sejak pertengkaran di restauran pancake. Bagaimana pun, Allan tidak berhak mengaturku. Dia boleh tidak setuju dengan keputusanku menerima kedatangan Luky, namun bukan berarti dia berhak memberlakukan aturan seperti itu untukku.


Luky adalah orang yang selama 3 tahun telah menjadi teman berbagiku. Sementara Allan, meski pacarku, dia baru datang dalam hidupku. Memang aku mencintainya, dan aku ingin memberikan kesempatan pada kami berdua. Aku menghormati privasi dia saat berkumpul bersama teman-temannya dan bagaimana aku tahu ketika dia bertugas di luar kota, dia tidak tinggal bersama teman-teman perempuannya.


Pilih! Kamu di pihak aku atau Luky. Ah kata-katanya itu. Masih kuingat di akhir debat kami. Tentu saja aku memilih mendengarkan diriku sendiri.


Aku tidak memilih kamu atau Luky. Aku memilih melakukan hal yang kurasa benar dan hal yang memang mau kulakukan. Jangan memberi perintah atasku. Aku merdeka dengan caraku berpikir dan membuat keputusan. Kata-kataku telah melepaskan amarahnya yang menghancurkan suasana kencan kami kemarin itu.


Aku tahu, mungkin memang ada celah bagi kami berdua untuk kembali memperbaiki hubungan ini. Hanya saja, aku tidak akan menghubunginya. Biar saja dulu dia berpikir dan aku juga ingin memberikan waktu untuk diriku sendiri.


***


"Eh ini bakso udah jadi belum sih", Alif sudah bolak balik beberapa kali mengecek kondisi bakso yang masih mendidih di panci.


"Buset, lapar pak? Makan ini dulu aja!" Kataku sambil melempar snack di depannya.


Alif kembali duduk di meja makan, dia sepertinya benar-benar membiarkan dirinya kelaparan menunggu bakso, sampai tidak mau makan yang lain dulu.


"Biarlah aku sabar menunggu bakso ini," dia mulai mendramatisasi keadaan.

__ADS_1


"Dasar, sini makanya nonton bareng aku". Mas Senar tak mengalihkan pandangannya yang masih menonton silat di Youtube.


Sementara Mbak Dina, Angel dan Mbak Melly sibuk membuat video terbaru. Mereka punya channel youtube sendiri yang biasanya diisi dengan video-video tentang kehidupan mereka di Estonia.


"Vashla minta tolong aduk dulu ya?" Pinta Mbak Dina.


"Siap mbakku" jawabku cekatan sambil mengaduk bakso di panci.


Aku sambil memastikan beberapa makanan lainnya yang sebelumnya kami siapkan. Tidak hanya mie, bakso, beberapa macam snack, tak luput nasi dan sayur juga ada. Memanglah orang Indonesia, sudah makan mie, tambah nasi lagi.


Setelah 30 menit, penantian Alif berakhir. Bakso yang ditunggu-tunggu matang. Kami semua berpesta dengan makanan Indonesia. Siapa yang bisa menolak surga makanan ini. Ah kuah baksonya di tengah cuaca dingin seperti ini mengembalikan kehangatan, tidak hanya kehangatan badan namun juga kehangatan hati keluarga Estonesia.


"Kalian beneran berantem?" Tanya Mbak Dina saat kami menyudahi makan kami. Mungkin ia sengaja tidak membawa topik ini sebelumnya, takut merusak nafsu makanku.


"Iya, karena Luky," jawabku singkat.


"Mungkin nanti juga baikan lagi," Mbak Melly menimpali.


"Biasalah itu dalam hubungan. Cemburu-cemburu genit sedikit," Mas Senar memainkan ekspresi wajahnya dengan bergaya genit memancing tawa kami semua.


"Mama, karauke?" tanya Angel. Kami semua saling lihat.

__ADS_1


"Ayuk!" serentak, kompak jiwa raga kalau urusan karauke ini.


Mas Senar, langsung cepat mengambil remot. Sebenarnya Angel tidak mengerti apa yang kami nyanyikan. Karena ia berbicara lancar dalam Bahasa Estonia tetapi tidak lancar untuk Bahasa Indonesia. Dia hanya senang ikut joged-jogednya. Kadang kami mengikuti keinginannya bernyanyi beberapa lagu anak-anak, termasuk lagu anak-anak Estonia. Kami tetap saja menari, karena butuh membakar kalori segudang makanan. Keseruan membelah malam seperti biasa. Tepat jam 9 malam, pesta berhenti. Karena biasanya Mbak Dina harus pulang sebelum jam 10 malam. Estonesia family, obat hati.


__ADS_2