
Hari sudah tidak lagi panjang menjelang 3 tempat lainnya yang akan kami kunjungi. Kami sepakat untuk menyelesaikan semuanya hari ini, sebab memang tidak ada banyak waktu tersisa sebelum kami kembali ke negara kami masing-masing. Berikutnya adalah Restaurant Pancake di Kota Tua. Tempat di mana aku sering memakan pancake favoritku. Sayangnya kenangan bersama Allan juga banyak di sana.
"Pesan yang biasa kamu makan" Kata Luky saat kami sedang melihat-lihat menu.
"Pancake Strawberry" kataku.
"Minum?"
"Cappucino".
Luky memanggil pelayan dan kemudian menyebutkan menu yang telah kami pesan. Sambil menunggu pesanan datang, ia memainkan jari-jariku. Beberapa meja lainnya juga penuh. Ada yang sedang bersama pasangan juga serta keluarga.
"Honey, I love you" ucapan lembut keluar dari mulut Luky.
"I love you" balasku sambil tersenyum ke arahnya.
"Ketahui bahwa aku melakukan ini untukmu. Aku ingin kamu menjalani hidup tanpa dendam pada mantan-mantanmu. Meski aku tahu, kamu masih marah pada mereka. Pun, aku demikian, menyimpan kemarahan yang sama atas yang dilakukan mereka terhadapmu, terlebih Allan. Namun, aku ingin kita tidak membawa kemarahan itu dalam keseharian kita" katanya dengan bijak.
"Aku paham. Aku tahu alasan kamu melakukan ini semua. Aku tahu ini juga tidak mudah bagiku. Bagaimanapun aku menyetujui ide ini sejak awal. Aku juga ingin membebaskan diriku dari rasa sakit yang berpanjangan itu" jawabku.
__ADS_1
"Danke mein Schatz" ia mencium tanganku.
"Ich liebe dich mein Schatz" balasku dalam bahasanya.
Pancake pesanan kami datang. Mataku berbinar seperti biasa melihat makanan favoritku terhidang dengan cantik di depan mata. Setumpuk ice cream vanilla di sudut piring sedikit mengalir menyentuh bibir pancake yang masih hangat. Suapan demi suapan berlalu cepat. Disambung nikmatnya Cappucino. Kurang dari 30 menit kami sudah melahap semuanya.
"Tempat berikutnya adalah tempat yang berat untuk mentalmu. I'm with you, just want to let you know, you are safe".
"Thank you". Aku senang dia di sini mendampingiku melalui semua proses ini.
Usai dari restaurant pancake, kami berjalan ke halte yang hanya sekitar 200 meter jaraknya. Di sana kami naik trolli, bus listrik yang menggunakan kawat di atas busnya untuk menjadi penghantar listrik. Ini salah satu transportasi yang umum digunakan di kota ini. Hanya butuh melewati beberapa halte untuk tiba di tempat yang begitu berat untukku. Bangunan-bangunan apartement berwarna coklat pudar berjajar di samping jalan. Ke sanalah tujuan kami berikutnya, apartemen Allan.
Bantu aku, bantu aku memaafkannya, memaafkan kenangan bersamanya, memaafkan tempat ini. Bantu aku memaafkan diriku sendiri. Kututup lembar kenanganku dengannya. Bantu aku menutupnya dengan rapat di tempat terdalam.
Luky menggenggam tanganku dan kemudian mengecup air mata yang jatuh di pipiku.
"You are a strong girl my love" Kami bertolak dari tempat ini.
Trolley kembali membawa kami ke Oldtown. Kami memang sudah berencana menghabiskan evening kami di area OldTown. Berhubung tempat berikutnya adalah Freedom Square, di dekat gereja kuning. Itu adalah tempat aku menikmati tahun baru bersama Allan. Sekaligus menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi dalam perjalanan memaafkan kenangan ini.
__ADS_1
Aku mengulang hal yang sama seperti di tempat-tempat sebelumnya. Menutup mata, mengumandangkan maaf untukku, untuknya dan untuk kenangan kami. Usai itu kami melipir ke sebuah Cafe di dekat Gereja Kuning. Kami ingin menikmati coklat panas setelah berpindah-pindah lokasi dan dihantam dingin.
"Thank you" kataku dengan begitu tulus di antara asap coklat panas yang mengepul dari gelas kami.
"Yang kamu lakukan ini adalah hal yang begitu besar dalam hidupku. Mungkin tidak pernah dilakukan oleh lelaki manapun yang pernah aku kenal. Aku beruntung memiliki lelaki sepertimu" kataku lagi.
"Ingat, kita ini teman baik. Jauh sebelum kita menjadi pasangan, kita telah memberi ruang yang besar pada kasih sayang pertemanan di antara kita. Saat ini kita punya peran ganda, sebagai teman baik juga kekasih. Saling mendukung dalam berbagai kondisi" ia kembali menggenggam tanganku.
"I love you honey. I feel like I want to say this the whole time" lanjutnya.
Sudah hampir seharian ini tanganku digenggamnya, seolah ia terus bicara melalui perilakunya bahwa aku ada di sini, bersamamu. Membantumu menghadapi kondisi ini. Memang berat, saat ini menyadari bahwa kami akan berpisah sementara. Hanya tersisa sedikit waktu. Bukan hanya dia, aku ingin melakukan hal yang sama. Mengatakan I love you sebanyak yang kumau, dan itu terdengar begitu merdu saat ini.
Malam sudah turun melenyapkan warna jingga di langit Oldtown. Kami menghabiskan sisa coklat di gelas. Menunggu gelap sepenuhnya dan lampu di area Freedom Square menyala. Lampu warna warni di tiang-tiang menjulang di hadapan monumen Vabadussa, lebih tepatnya monumen peringatan kemenangan oleh Estonia setelah perang Uni Soviet.
Di hamparan Gereja Kuning yang saling menjulang berhadapan dengan monumen serta pohon-pohon telanjang di musim dingin. Malam di area ini terasa begitu indah. Aku sendiri punya beberapa kejadian menarik di depan Gereja Kuning ini. Dulunya setiap kali sedih, aku datang ke sini. Berdiri di tanah lapang nan luas yang menghadap ke gereja dan di belakang berdiri megah sang monumennya. Di belakang monumen, bukit yang menancapkan bendera-bendera besar Estonia.
Ada banyak anak tangga yang dapat dinaiki ke atas bukit kecil. Ada restaurant tua di sana, yang menyajikan kopi dan beberapa makanan Eropa. Selain itu beberapa bangku kayu disediakan di sana. Tempat orang bersantai melihat keindahan kota dari atas. Bagiku, kota ini memang indah sekali. Aku sering membuat permohonan dulunya di tanah lapang ini. Berdiri menghadap gereja kuning, memejamkan mata dan membayangkan hal-hal yang kuinginkan terjadi.
Aku memang terbiasa memilih tempat yang sakral bagiku membuat permohonan tertentu. Biasanya di kota atau tempat yang kutinggali, kupilih lokasi law of attractionku. Dengan begitu, aku selalu punya sesuatu yang seru untuk kutunggu. Di tanah lapang ini, tempat di mana orang-orang sering berkumpul untuk berbagai festival. Konser musik, perayaan kemerdekaan, pidato presiden, bahkan mengenang kematian juga dilakukan di tempat ini.
__ADS_1
Inilah salah satu alasan aku memilih tempat ini. Sebab ragam peristiwa dengan berbagai pengalaman suka dan air mata luka. Tempat yang kaya penuh gejolak emosi dan harapan-harapan yang dipanjatkan. Tempat ini, telah membantuku beberapa kali membuat permohonan-permohonan seru. Seringnya, permohonan itu tercapai sebagaimana yang aku bayangkan. Lokasi law of attraction, kupikir setiap orang mungkin punya tempat seperti itu. Aku bahagia mengenang ini, sebagaimana bahagia mengenang memory yang sudah kumaafkan. Tentang K, Tentang Allan, damai dalam ingatan.