Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Bukan Cinta Atau Seks


__ADS_3

Luky masih memiliki bekas pukulan di wajahnya, begitu pun Alif. Tidak dengan Mas Senar karena dia cukup cekatan menahan pukulan dan melindungi wajahnya. Aku tidak tahu bagaimana kondisi lelaki-lelaki Rusia yang menghajar mereka kemarin. Mungkin mereka juga masih babak belur setelah dihajar Mas Senar dengan jurus silatnya.


Tim Indonesia vs Rusia, laga terjadi di tanah Estonia. Karena Corona yang sedang melanda, tidak hanya memukul masyarakat dunia dalam hal ekonomi, namun juga kesehatan mental yang terganggu. Efeknya bermacam-macam, salah satu yang kami alami kemarin. What a day!


Di lain sisi, aku punya masalahku sendiri. Kondisi hati yang belum kunjung selesai. Kemanakah perasaanku ini sesungguhnya berlabuh. Meski Luky, tidak membahasnya lebih lanjut, ia terus melanjutkan sikapnya yang seolah-olah aku ini pacarnya.


Hatiku menghadapi keraguan, semakin dalam dan dalam. Apakah hatiku untuk Allan atau untuk Luky. Siapa sebenarnya yang kumau. Aku menikmati hubunganku dengan Allan namun juga dengan Luky. Meski, setelah pertemuan terakhir dengan Allan, perasaanku padanya terguncang lebih jauh. Caranya memperlakukanku tak membuatku aman sama sekali setelah itu. Apakah ini pertanda? Hatiku telah menemukan kecenderungan sepenuhnya pada Luky. Aku merasa terjebak di antara lelaki Estonia dan Jerman ini. Aku butuh diskusi dengan mentorku. Kondisi ini bahkan mengganggu konsentrasi kerjaku.


"Abang, aku punya pertanyaan," aku memangkas cepat dalam sapa dan update kami di awal pembicaraan via telephone. Aku memanggil mentorku abang. Ia seperti abang bagiku, meski usianya mendekati angka 50, aku memilih memanggilnya abang. Karena kondisi fisik dan wajahnya yang juga terlihat jauh lebih muda dari usianya.


Aku tahu mentorku biasanya tidak akan bertanya apa. Dia hanya menunggu karena tahu bahwa aku tak akan menunggu jika ingin bertanya sesuatu. Rasa tak sabar yang menggebu-gebu, sudah begitu sering terjadi.


"Jika sebuah hubungan butuh dipertahankan atau diperjuangkan, apa pertimbangan terbesar yang harus dipikirkan?" Otakku mencoba memproses beberapa jawaban. Pasti ia akan menjawab cinta, kesetiaan dan seterusnya, pikirku.


"Yang jelas bukan cinta atau ****", Jawabnya.


Aku terdiam. Tebakanku salah. What? Bukan cinta? Bagaimana bisa? Saat semua orang menempatkan rasa cinta di atas segalanya dan cinta justru bukan jawabannya. Mentorku mungkin lagi linglung, lelah atau sedang tidak enak badan.

__ADS_1


"Are you there?" tanyanya setelah aku terdiam beberapa saat. Dia mungkin tahu aku terperanjat dengan jawaban yang diberikannya. Ia memang seringnya tahu cara memancingku untuk berpikir tentang jawaban yang diberikannya dari pertanyaanku.


"Oh, jawaban ini diluar dugaanku. Kenapa bukan cinta atau ****?" tanyaku padanya lagi.


"Karena cinta atau ****, keduanya akan pudar dan bahkan hilang suatu saat". Jleb! Enteng sekali caranya menjawabku.


Mentorku ini berbeda. Aku selalu butuh waktu untuk mencerna hal yang disampaikannya. Di mana-mana orang akan mengatakan bahwa cinta adalah segalanya. Cinta adalah alasan kenapa semua orang bertekuk lutut dan menyerahkan dirinya sepenuhnya.


"Aku nggak ngerti, bukankah cintalah yang menjadi alasan kenapa orang memutuskan bersama atau tinggal bersama?" Aku masih mencoba menemukan celah dalam membantah. Sama sekali tidak menyetujui apa yang baru saja kudengar ini. Dia pasti sedang galau saat mengatakan ini.


"Apa kamu juga melihat bagaimana cinta menjadi alasan untuk orang saling meninggalkan?" tanyanya kemudian.


"Aduh rumit. Jadi gimana maksudnya? Kalau cinta tidak menjadi pertimbangan dalam mempertahankan sebuah hubungan. Lalu apa yang harusnya menjadi pertimbangan?" tanyaku kembali.


"Rasa aman dan nyaman serta kesempatan untuk menjadi diri sendiri seutuhnya. Itulah yang harus menjadi pertimbangan besar dalam sebuah hubungan" jawabnya.


"Bukannya ada rasa aman dan nyaman dulu, baru kemudian baru cinta?".

__ADS_1


"Belum tentu, ada banyak orang yang sesungguhnya tidak merasa aman dalam hubungannya, atau tidak nyaman dengan orangnya namun dibutakan oleh cinta. Sehingga dia sanggup kehilangan dirinya sendiri demi mempertahankan seseorang di sisinya".


"Bisa dijelaskan lebih lanjut?" Entah berapa kali aku terus bertanya.


"Jadi begini, jika kamu tidak bisa menjadi dirimu sendiri saat kamu sedang bersamanya, artinya hubungan ini butuh dipertimbangkan lebih lanjut. Masak seumur hidup kamu mau menjadi orang lain. Jangan berusaha menjadi baik karena pasanganmu, seolah-olah semua yang kamu lakukan untuk terlihat baik atau menyenangkannya. Misalnya, sesederhana kentut saja di depannya kamu tidak bisa, atau tanpa make up dan sebagainya. Sebuah hubungan layak dipertahankan ketika orang yang hidup bersama dengan kita itu seperti teman kita sendiri. Tak perlu ada topeng menjadi orang lain. Tak perlu takut ia pergi meninggalkan kita hanya karena kita ingin menjadi diri sendiri. Merasa aman karena kita mempercayainya bahwa ia menerima kita seutuhnya. Kita pun merasa nyaman dengan diri kita sendiri dan dengannya" kata-katanya merasuk dalam ke otakku.


Kini, aku butuh waktu untuk mencernanya kata-katanya lebih lanjut. Kalimat-kalimat ini sungguh tajam dan terlupakan olehku selama ini. Terutama dalam hubunganku dengan Allan, kini setelah aku mempertanyakan beberapa kali, pelan-pelan kupahami. Jika kupikir-pikir dan menghubungkannya dengan diskusi ini, hanya bersama Luky aku menjadi diriku sepenuhnya. Sementara dengan Allan, benar, aku masih selalu berusaha menjadi atau terlihat baik di hadapannya. Meski kadang, aku mengalah pada diriku sendiri.


Kenapa aku melakukan ini, pada lelaki yang tak lama kukenal. Memang, dia berstatus sebagai pacarku, namun layakkah yang kuperjuangkan ini dan kupertahankan dalam sebuah hubungan jangka panjang.


Tok! tok! tok!. Pasti Luky. Sepertinya dia memang menungguku menyelesaikan telephone.


"Vashla, mau buat teh lemon madu nggak?" Tawarnya dari balik pintu.


"Mau, aku keluar segera," teriakku.


Aku duduk beberapa saat di tempat tidurku. Oh, terlalu lelah dengan pikiranku ini. Selalu mudah membuat keputusan jika segala sesuatu lebih jelas. Kini, memang jauh lebih jelas dari sebelumnya. Namun, kutemukan kabut masih menggantung di sana. Bukan cinta atau ****, aku kembali mengulang kalimat mentorku.

__ADS_1


"Sini, minum bareng selagi panas. Kita harus minum banyak lemon dan minuman herbal sejenisnya untuk meningkatkan imun tubuh. Corona menyerang cepat untuk orang yang terutama imunnya lemah," Luky seperti biasa sangat peduli.


Kasus semakin bertambah setiap harinya, yang meninggal pun tak sedikit. Ke mana kondisi Corona ini akan membawa kita semua. Tak ada yang benar-benar tahu. Pengalaman dunia tentang pandemi, jutaan umat manusia pernah mati karena kondisi virus. Bagaimana dengan kali ini? Apakah juga sama, akan membunuh jutaan umat manusia juga? Aku bergidik membayangkannya. Oh aku juga punya persoalan lain saat ini.


__ADS_2