
Pagi ini jauh lebih cerah. Secerah hatiku yang menemukan petualangan baru. Berjuang bersama group Love is not Tourism. Aku merasa senasib dengan banyak orang, sungguh kuat solidaritas ini. Aku sudah berkomunikasi dengan beberapa dari mereka. Sebagian melalui DM Instagram, facebook bahkan whatsapp. Menarik, melihat orang-orang berkerumun di akun Instagram Ditjen Imigrasi. Para pasangan yang terpisahkan baik di Indonesia atau sedang terjebak di luar negeri meminta kepastian dari peraturan pemerintah. Kapan perjuangan visa yang terpisahkan dari kesayangannya dapat dipertemukan.
Suasana hatiku yang baik hari ini bukan hanya karena bertemunya spirit perjuangan melalui Love is not Tourism. Namun juga karena hari ini adalah ulang tahunku. Luky menelpon berjam-jam semalam. Menyanyikan lagu ulang tahun dari Bahasa Inggris sampai Bahasa Jerman. Ia juga menyanyikan lagu Jerman lainnya yang kerap dinyanyikan ibunya saat dia masih kecil. Lalu ia menerjemahkan arti lagu tersebut.
Ia juga menuliskan surat cinta khusus dan kemudian ia bacakan pada saat aku hendak tidur. Surat cinta yang panjang bahkan aku terlelap tanpa tahu apakah ia menyelesaikan bacaan surat yang ia buat. Itu semua adalah kado yang indah untukku. Tak pernah kuminta hal lain darinya saat ini. Aku tidak menginginkan kado lain, cukup ia dan surat cintanya.
Bangun pagi tentu saja masih kubawa rasa bahagia dari drama cinta yang berusia muda ini. Setelah mengucap syukur di atas tempat tidur, sebagaimana kebiasaanku saat menyambut hari. Lalu barulah kaki kulangkahkan dari tempat tidur. Layar HP berkedip, love is calling. Tak perlu menunggu lama untuk menjawab suara manisnya dengan suaraku yang masih parau.
"Guten Morgen sweetie" sapanya, yang artinya selamat pagi dalam Bahasa Jerman.
"Guten Morgen honey" balasku.
"Alles Gute Zum Geburtstag, again" katanya lagi, mengulang ucapan selamat ulang tahun.
Aku tertawa mengingat dia sudah mengulang ucapan selamat ulang tahun beberapa kali dari semalam. Kami melanjutkan obrolan pagi yang manja. Dia menemaniku ke toilet dan membuatkan kopi. Ini cara kami untuk saling menemani pagi. Meski perbedaan jam Jerman dan Indonesia selisih 5 jam. Itu artinya dia begadang di Jerman demi bisa menikmati pagi bersama. Meski hal ini tidak terlalu sering, karena bagaimana pun, tidak sehat untuknya kalau harus begadang setiap malam. Aku memberitahunya bahwa seseorang mengirimku bunga di lobby. Aku akan turun sekarang, tepat setelah kubaca pesan dari kurir yang mengantarkan bunga.
"Oh check it out! someone might really in love with you" balasnya.
"Tapi siapa ya, biasanya ada satu temanku yang mengirim bunga di hari ulang tahun, Tika. Cuma dia tidak bilang apa-apa sih" aku masih mengobrol dengannya sambil mengganti baju tidurku dan bersiap turun ke LG.
"Aku matikan dulu ya. Soalnya di lift juga gak kedengaran jelas".
Aku menuju lobby dan bertanya pada resepsionis apakah ada yang mengirimku bunga.
"Ada mbak. Mawar Merah. Selamat ulang tahun ya" kata mbak resepsionist.
__ADS_1
"Terima kasih" aku membalas dengan senyumku yang ditutupi masker.
Aku mendekati bunga yang merupakan satu bouquet besar Mawar Merah. Mataku tak bisa berkompromi saat kubaca namanya tertulis di sana. Air mata berlinang sendiri tanpa sempat kuberanjak dari lobby.
Happy birthday my love. I'm sorry I can't be there. I hope you like the flowers. Your Honey Bunny, Luky.
Sempurnalah pagiku di hari ulang tahun. Aroma Mawar Merah semerbak saat kudekatkan ke wajahku dan kubawa ke apartemenku. Tak menunggu lama, aku kembali menelponnya dan menangis sesenggukan. Ah rindu ini, semakin berkuasa dalam diriku. Tok tok...suara ketikan di balik pintu kamarku. Tepat setelah aku menelpon Luky. Pasti Tania ini, mungkin dia sudah mendengarku sesenggukan dari tadi.
"Boleh aku masuk?" Tania bertanya.
"Boleh Tan" jawabku tanpa beranjak dari kasur.
Tania masuk dan melihat ke sekeliling kamar. Dipandanginya mawar yang tergeletak di atas kasurku.
"Indah banget ya. Kamu beruntung memiliki lelaki seperti dia, yang jauh di sana, saat pandemi seperti ini berjuang untuk tetap mengirimkan bunga" Tania duduk di ujung kasur.
"Happy birthday girl!" Tania menyerahkan bingkisan di tangannya.
"Oh wow! Thank you! Kapan kamu menyiapkannya. Perasaan kamu nggak pernah keluar rumah. Sama kayak aku" Aku menerima tas kecil dari tangannya dan kemudian mengambil kado yang dibungkusnya.
"Ini apaan Tan?" tanyaku penasaran. Meski dari bentuk aku sudah tahu.
"Buka aja" suruhnya.
Aku merobek kertas yang membalut kadonya. Jelas isinya adalah buku. Aku hanya penasaran buku apa yang diberikannya padaku. Wajahku berubah cerah seketika melihat sampul dari buku favoritku. Darimana ia mendapatkan buku keluaran terbaru ini, sementara aku belum bisa mendapatkannya. Toko langgananku mengatakan bukunya belum masuk kesana. Tania memang penuh kejutan.
__ADS_1
"Thanks so much. Tau aja apa yang sedang kucari". Aku memeluk Tania.
"Iya, sama-sama. Aku mau ke mall btw bentar lagi. Mau ikut nggak?" Tanya Tania. Aku berpikir sebentar, lalu menggeleng.
"Aku baru bangun, selain mau menata mawar-mawar ini, aku juga ada jadwal telpon dengan genk Gepuk bentar lagi".
"Oke, list dapur yang butuh kubeli whatsapp aja ya. Biar nanti sekalian aku belanja keperluan masak kita".
"Siap. Again, thank you ya buat kadonya".
Tania memelukku sekali lagi dan kemudian siap-siap untuk ke mall. Aku mencium aroma tubuhku sendiri, masih bau bantal. Jomplang sekali dengan mau mawar yang saat ini ada di depanku. Belum sempat aku beranjak mandi, telpon kembali berdering.
"Happy birthday!" Genk gepukku berteriak hampir bersamaan via telpon.
Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun lalu bergantian menyampaikan permohonan baik untukku. Kuaminkan semua doa-doa baik mereka.
"Buruan balik sini. Betah amat di kampung. Nggak kangen sama apartemen kita?" tanyaku pada mereka.
"Gue akan balik segera sih. Kalau nggak minggu ini mungkin minggu depan" kata Vavan.
"Aku masih lama beb. Ada beberapa acara keluarga lainnya dan orang tuaku minta aku stay di sini aja dulu. Ditambah isu Corona yang mereka dengar makin parah di Jakarta. Jadi parno deh mereka ini" Mauli menjelaskan kondisinya saat ini.
"Aku juga Vashla, belum bisa balik nih. Papa udah baikan sih, cuma aku stay sebentar lagi" Nada Livi masih terdengar sedih.
"Nggak pa-pa kalian gak balik. Yang penting kadonya aja sampai Jakarta" kataku yang disambut tawa mereka.
__ADS_1
Kami melepas rindu lewat layar. Seperti De Ja Vu, pada saat aku di Estonia sering video call berempat seperti ini. Sekarang sudah di Jakarta, masih video call juga. But I'm grateful, bayangkan berapa banyak orang-orang yang tidak memiliki teman baik untuk berbagi cerita. Sementara aku, memiliki mereka semua.