Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Emosi Di Bandara Istanbul


__ADS_3

Sebentar lagi, aku akan meninggalkan Istanbul. Waktu transit hampir berakhir. Kubereskan meja, memasukkan kembali buku-buku, termasuk perkakas mewarnai yang sengaja kubawa untuk membunuh kebosanan. Rasa khawatir di hati ini tak mau pergi. Emosiku masih bercampur aduk. Luky yang masih terjebak di Kota Tallinn. Pertemuan tiba-tiba dengan Saad di antara ribuan orang di sini, bagaimana bisa kami berpapasan. Suatu kebetulan? Rasanya mustahil. Selain semesta punya cerita di masa depan yang mungkin masih tersimpan.


"Cerita kita tak biasa Vashla. Pasti ini tanda sesuatu yang mungkin telah lama kita tunggu. Semesta selalu punya cara dalam membangun ceritanya" kata-kata Saad yang terakhir.


Aku bergidik sendiri memikirkannya. Apanya yang ditunggu. Aku tidak merasa menunggu dia. Bahwa aku menunggu Luky, cintaku, iya. "Hihhhh..." aku berkata pada diriku sambil menggoyangkan tubuhku beserta kepala. Perasaan apa ini.


"You good?" seorang lelaki tua di seberang meja bertanya.


"Yes, I'm good. Bye" aku melambai ke arahnya. Meninggalkan tatapannya yang entah berapa lama ia menatapku dari belakang.


Aku terus berjalan melewati orang-orang ke arah gate penerbanganku. Seorang lelaki muda tiba-tiba melewatiku dan bertingkah seperti anak-anak. Ia membentangkan kedua tangannya dan berjalan seperti pesawat terbang yang sedang manuver.


"Mhhummmmm....hummmm...." ia membunyikan mulutnya sambil membelok-belokkan badannya di depanku.


I can't believe this, kataku pada diri sendiri. Benar-benar hari yang aneh. Hati sedang dipenuhi kesedihan, kekhawatiran dan sekarang melihat seseorang bertingkah di depanku.


"Bhummm bhummmmm....." ia menggoyang-goyangkan tangan dan badannya di depanku. Posisi kami begitu dekat. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan kemudian tertawa.


Lelaki yang tampan, memiliki bola mata coklat, ia mengenakan topi dan tas punggung. Fix, ini anak muda kebanyakan minum, pikirku. Tetapi ini masih siang bolong, ia mabuk di dekat waiting room. Aku menggeleng-geleng kepalaku dan melanjutkan perjalanan. Melewati beberapa gate lainnya, dan kemudian aku tiba di gate yang kutuju. Kuhempaskan badan di kursi. Di depan dan di deretan bangkuku, duduk beberapa orang Indonesia.

__ADS_1


Seperti biasa, mudah menebak warga Indonesia di mana-mana. Ada yang memang sedang bicara dalam Bahasa Indonesia, ada yang Bahasa Jawa. Bahkan tanpa bicara, jelas dari wajahnya orang Indonesia. Ini Turki, tentu saja banyak orang Indonesia yang datang ke sini. Baik yang bekerja, sekolah atau berbisnis. Baru sebentar aku bersandar, dengan mata, punggung dan seluruh tubuh yang lelah. Tiba-tiba terdengar orang-orang berteriak.


Aku dan beberapa orang lainnya melihat ke arah suara. Seorang perempuan ditemani lelaki, mungkin suaminya kutebak, memaki petugas dalam Bahasa Inggris. Ia menunjuk-nunjuk jarinya ke arah petugas sambil menyuruhnya mengecek dokumen yang ia pegang. Adegan ini berlangsung beberapa waktu, sampai petugas lainnya datang dan mencoba menyelesaikan apa yang sedang terjadi.


"Sepertinya Corona dan semua kekacauan jadwal penerbangan ini telah membuat orang emosi di mana-mana" kata lelaki paruh baya yang duduk di dekatku.


"Iya, kurasa juga begitu" sahutku.


Ia melanjutkan kesibukan dengan HPnya. Aku bersyukur ia tidak mengajakku mengobrol saat ini. Karena aku benar-benar lelah dengan semua kejadian hari ini. Mulai dari perpisahanku dengan lelaki yang kusayang di Tallinn, melihat orang-orang menangis karena terjebak di bandara ini yang penerbangannya dibatalkan. Lalu bertemu Saad, meski sangat terhibur dengan pertemuan ini, namun keresahan hati berlanjut.


Melihat tingkah pemuda yang mabuk di tengah hari di bandara dan bermain-main di depanku. Lalu baru saja menonton pertengkaran. Aku berharap, semoga keadaan membaik dan aku ingin beristirahat sebentar saja sambil menunggu pengumuman boarding.


Tak bisa kubayangkan kalau delay atau bahkan dibatalkan. Tubuhku benar-benar butuh istirahat saat ini. Aku membayangkan duduk di kursi pesawat yang sengaja aku check in online sebelumnya dan mendapatkan posisi dekat jendela. Lalu merebahkan tubuhku di sandaran dan kemudian terlelap. Betapa menyenangkan membayangkan hal ini.


Aku berbaris di antara yang lainnya menuju antrian boarding. Sampai aku melihat seorang perempuan muda menggigil kedinginan di barisan bangku di dekatku duduk tadi. Perempuan muda berambut pirang itu terlihat menahan kesakitan. Dari posisi duduk, kemudian ia meringkuk di atas kursi. Tubuhnya menggigil.


Ingin kuabaikan pemandangan ini, karena aku juga harus segera masuk ke pesawat. Namun hatiku tak bisa berpura-pura, tak bisa kubiarkannya menderita seperti itu. Aku ingin melakukan sesuatu untuknya. Aku menurunkan tas punggungku dan kemudian kuacak-acak untuk melihat selembar kain atau scarf yang biasanya selalu kubawa ke kabin. Ada dua, akan kuberikan satu untuknya, batinku.


"Hi are you okay? Do you feel cold?" aku mendekatinya.

__ADS_1


"Hi, I'm okay" jawabnya dan aku tahu ia berbohong.


Orang-orang yang sedang mengantri melihatku. Mungkin mereka berpikir, aku mengambil resiko. Perempuan yang kuajak bicara ini jelas sedang demam tinggi. Tubuhnya berguncang dengan mulutnya terkatub-katub. Bagaimana kalau ternyata ia sedang demam karena infeksi virus Covid-19. Bukankah aku tidak boleh mendekat, mungkin ia akan menularkannya padaku. Tidak, naluriku berkata aku harus membantu.


"Take this. You will need it" kataku padanya.


Ia tidak beranjak dari kursi, masih terus meringkuk. Lalu aku menutup tubuhnya dengan kainku. Postur tubuhnya yang tinggi memang tidak tertutup sempurna dengan kainku itu. Biasanya aku mengenakannya sebagai selendang atau juga selimut di pesawat.


"So kind of you" katanya sebelum aku berlalu.


Aku kembali ke barisan antri. Pikiranku tertinggal pada perempuan yang sedang kesakitan itu. Kuputuskan untuk memberitahu petugas bandara.


"Thank you, this way, please" kata petugas saat selesai memeriksa passport dan tiketku.


"Hi, I need your help!" kataku pada petugas.


Aku menjelaskan kondisi perempuan yang sedang sakit di sana dan meminta petugas perempuan yang memeriksa tiketku untuk meminta rekannya yang lain memberikan bantuan pada perempuan itu. Petugas ini merespon permintaanku dengan ramah dan kemudian memanggil rekannya yang lain untuk mengecek kondisi perempuan itu. Lega, karena mereka merespon cepat dan aku berjalan menyusuri koridor untuk masuk pesawat.


Dalam hidup, terkadang kita tak harus berpikir banyak dalam membantu orang lain. Buka mata dan hati untuk melihat sekeliling. Hidup bukan hanya tentang diri kita tetapi juga tentang mereka yang kita temui dalam perjalanan. Aku selalu memegang nilai ini dalam hidupku. Living beyond yourself, hidup melampaui kepentingan dirimu sendiri. Terima kasih untuk para mentor dalam kehidupanku, yang juga tidak pernah berhenti mengingatkan nilai ini untuk dijaga. Aku menghempaskan tubuhku di kursi pesawat. What a journey, pikirku. Dalam satu hari, begitu banyak emosi yang kualami. Silih berganti, dan begitu menguras energi.

__ADS_1


__ADS_2