
Aku melalui hari-hari berikutnya di rumah saja. Setelah mengambil izin sakit di kantor, jauh lebih tenang. Meski di waktu yang bersamaan terkadang aku masih bekerja di sela-sela cuti sakitku. Cara melupakan rasa sakit yang paling jitu. Menyibukkan diri dengan pekerjaan. Semua kerja online yang memang selama ini dari kantor justru mempermudah segalanya.
Meski, sesungguhnya pelarian tetaplah pelarian. Apakah lari untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan atau lari mengerjakan aktivitas lainnya. Lari tetaplah lari. Masing-masing orang selalu memiliki jalannya dalam memilih lupa atau menghindar. Alin beserta suami dan anaknya datang menjengukku setelah kukabarkan kejadian ini. Ia membawa banyak makanan dan mengisi kulkas kami. Kulkas yang tadinya separuh kosong jadi penuh dengan berbagai sayur dan buah. Ia juga membawa jus berry buatan Hanno. Madu, beberapa herbal melengkapi.
Alin Khawatir dengan kondisiku, ia tidak hanya datang berkunjung namun juga menghabiskan waktu memasak dan makan malam bersama kami. Kami tidak bercerita banyak tentang kejadian itu. Terlebih karena Manu yang masih kecil sedang bersama kami. Sebelumnya ia sudah mendengar cerita dariku lebih detail. Kami makan malam dengan menceritakan hal lainnya, termasuk aktivitas sekolah Manu.
"Call me anytime if you need something," katanya sebelum pamit. Ia memelukku erat.
"Kamu tahu kamu selalu punya rumah dan keluarga di sini, jangan pernah sungkan," lanjut suaminya yang juga memelukku.
Manu ikut berpelukan dan melambai ke arah kami ketika menuruni tangga mengikuti ibu dan bapaknya. Hangat, karena aku tahu keluarga ini selalu di sisiku saat aku kesulitan. Mentorku menelpon keesokannya saat membaca chatku. Ia menunjukkan rasa simpati yang besar. Memintaku untuk beristirahat dari berbagai aktivitas selama beberapa hari. Full penyembuhan dan memberi waktu pada diri sendiri.
"Kamu selamat di antara batas garis hidup dan mati. Ini akan menjadi turning point dalam hidupmu. Jangan memukul diri habis-habisan. Jangan menyesali berkepanjangan" Ia menutup telponnya.
Tim Gepukku ribut bukan main saat menelpon. Livi, Mauli dan Vavan tak berhenti bertanya tentang keadaanku. Meski di group sudah dipenuhi chat berulang kali dengan pertanyaan yang sama.
"Call us anytime ya kalau kamu butuh apa-apa," kata Livi menutup telpon.
Aku kembali tenggelam dalam selimutku setelah semua telpon berhenti. Lelah namun juga bahagia mengetahui kasih sayang yang begitu besar diberikan padaku.
__ADS_1
"Estonesia team datang jam berapa?" Ah iya, pertanyaan Luky mengingatkan ada satu group lagi yang akan tiba. Dari mereka yang memberikan cinta dengan caranya.
"Jam 6 mungkin," jawabku sambil membuka selimut.
"Mau teh madu?" tanya Luky lagi sambil duduk di pinggir sofa.
"Mhmmm mau deh. Kalau sama pancake juga boleh gak?".
"Gimana kalau cemilannya buah aja? Soalnya bentar lagi jam makan malam. Kita juga pasti makan bareng Estonesia team kan? Jadi nggak makan berat berulang kali" saran Luky.
Itu cara dia mengalihkanku dari makanan. Luky punya kebiasaan dengan tidak makan cemilan menjelang makan berat. Itu adalah kebiasaan yang dulu diajarkan ibunya. Dia masih melakukannya sampai sekarang. Hal yang sama coba ia terapkan padaku.
Aku tidak membantah, karena ia memang benar dalam hal ini. Makan berulang-ulang di jam-jam yang tak seharusnya seringkali menjadi kebiasaanku bahkan juga pelarianku. Makanan adalah teman yang baik untuk mengobati hati atau sekedar berlari dari kondisi yang dihadapi. Selain mengenyangkan, ia memang menggembirakan. Hal yang sama kuulangi ketika kondisi hati seperti ini. Lagi, pelarian tetaplah pelarian, makanan juga salah satunya.
Kami menikmati teh sambil memakan beberapa potongan Apel. Menonton berita Corona dari negara-negara di dunia sambil menunggu tim Estonesia datang. Corona semakin parah, tidak hanya menginfeksi orang-orang namun juga sudah membunuh banyak manusia. Negara-negara Asia dan Eropa berlomba-lomba dalam peringkat urutan untuk kasus tertinggi.
"Negaraku juga lumayan parah," kata Luky sambil tak memalingkan wajahnya dari TV.
"Italia juga," sahutku.
__ADS_1
Sebagai generasi yang tidak pernah mengalami pandemi dalam hidup kami, sekarang Corona hadir begitu menakutkan. Dekat dan senyap, namun juga berbahaya. Kami tiduran di Sofa sambil terus memantau berita dan tak lama setelah itu keluarga Estonesia kami datang.
Bahagia sekali rasanya menyambut mereka, seolah luka yang ada lenyap sementara. Mereka memang selalu menghibur. Sebagaimana keluarga Estoniaku yang membawakan kami banyak makanan, keluarga Estonesia ini juga tak tanggung-tanggung.
"Ngapain bawa banyak sih mas, kan aku udah bilang banyak makanan di sini" Aku menepuk pundak Mas Senar yang sedang mengosongkan berbagai makanan yang dibawakan rombongan.
"Yo nggak pa-pa, kan kita juga bisa makan bareng di sini. Lagian perutku ini menampung banyak," katanya sambil menepuk perutnya diikuti tawa yang lain.
Aku tidak diizinkan ikut masak-masak sama yang lain. Hanya boleh duduk istirahat menonton mereka. Aku mengulang cerita yang terjadi, mereka semua menunjukkan rasa simpati yang besar. Kali ini formasi yang hadir lengkap, kurang anaknya Mbak Dina yang biasa ikut kumpul dan karauke bersama kami.
"Eh udah-udah, versi sedihnya kita ganti dengan makan-makan dulu ya. Makan dengan hati gembira," Mas Senar membuyarkan kami para ladies yang sedang berpelukan di sofa.
Hangatnya kasih sayang pertemanan ini, Mbak Dina, Mbak Melly dan Lessy memelukku erat. Kemudian berhamburan ke meja makan setelah dipanggil Mas Senar. Luky menyiapkan minuman seperti biasa. Kali ini ia menyiapkan soft drink yang lumayan banyak di kulkas. Pelan-pelan, hiburan ini mulai menyembuhkan lukaku yang menganga. Mereka tak melewatkan karauke Dangdut usai makan malam bersama. Aku duduk di sofa tertawa bahagia menonton pertunjukan gratis ini.
Saat yang lain sudah pulang, Alif memilih menginap di tempat kami. Sebagai teman lamaku, satu kampung denganku sama-sama dari Aceh, dan kini masih bersama lagi di Estonia, kami punya banyak cerita. Terlepas dari itu semua, Alif memang jenis teman yang setia sekali. Ringan tangan dalam membantu. Dia juga nyaman di apartemen kami karena tak lain juga cocok dengan Luky. Sisa malam kami habiskan dengan menonton film. Luky memutuskan tidur di kamarku dan Alif tidur di ruang tamu.
"Tidur yang lelap, jangan lagi khawatir. Kamu aman di sini dalam dekapanku," Luky merapatkan tubuhnya ke tubuhku.
Luka itu membaik. Sulit menghilangkan ingatanku tentang Allan dan perlakuan buruknya. Kejadian yang sekali itu telah meluluhlantakkan kenangan manis yang pernah kami lalui bersama-sama. Bukan seperti ini tujuanku, putus yang membawa tragedi seperti ini. Ah sudahlah, dekapan Luky hangat, sehangat hatinya dalam mencintaiku. Aku tak dapat kembali ke masa di mana aku disakiti atau membalikkan keadaan yang telah terjadi. Tapi kini, aku bisa jadi penentu kisah kami selanjutnya. Bukan aku, namun kami berdua.
__ADS_1