
Setelah diskusi kemarin dengan mentorku, kini kondisi hatiku makin gelisah syahdu. Karena aku butuh menaikkan level keyakinanku sedikit lagi untuk menentukan sikap dalam hubungan cintaku ini. Masih ada ragu di sana, tak peduli seberapa pun kutunggu untuk pura-pura bahwa semua masih berada di jalannya. Keraguan makin menguat. Tidak cukup satu mentor, aku butuh cerita pada mentor berikutnya.
Aku Vashla, perempuan yang seringnya bercerita tentang kondisi pikiran dan hati. Bukan hanya ketika dihadapkan dalam keraguan urusan karir, hal yang sama berlaku untuk urusan cinta. Orang berikutnya yang akan kutemui adalah Alin, dia kakak dan juga mentor untukku.
"Sudah siap pulang?" Tanya Alin sambil mematikan komputernya.
"Yuhu, wait a second" Aku pun mematikan laptopku dan memasukkan barang-barang ke dalam tas. Barang bawaanku banyak hari ini sebab memutuskan menginap di rumah Alin. Lagi, Luky kutinggal sendiri di apartemen.
Kami pulang kantor lebih cepat dari biasanya karena ingin pergi ke pantai. Di dekat rumah Alin ada pantai indah yang berbatasan dengan beberapa desa lainnya. Pantainya unik, di sana pasir putih bercampur pasir hitam. Seperti ada batasan pasir sepanjang bibir pantai. Tak sabar ingin tiba di sana, menghirup udara segar laut. Meski dingin jadi dua kali lipat. Kami menuju area parkir, masuk mobil dan bersiap meninggalkan area kantor.
Lagu fly me to the moon kembali menemani perjalanan kami. Disusul lagu-lagu Lady Gaga mulai dari Shallow, Always remember you this way dan lainnya sampai kami tiba di rumah. Kami segera ganti baju dan kemudian berjalan ke arah pantai, berencana menghabiskan sore hari kami sambil bercerita di bibir pantai. Jalan menuju ke sana sedikit licin, karena beberapa air di jalanan membeku jadi es. Kami berjalan kaki menembus pepohonan yang kebanyakan sudah ditelanjangkan daunnya.
Jalan-jalan seperti ini di sore hari, segar dan menyenangkan. Apalagi kami selalu memiliki topik yang menemani. Tak terasa lelah sama sekali. Kami bisa mendiskusikan apapun dan juga menertawakan hal-hal kecil yang kami temui. Terkadang kami mampir di supermarket di ujung jalan, menikmati kopi atau coklat panas yang dijual di sana.
"So, adakah topik khusus yang mau kita diskusikan hari ini?" Tanyanya saat kami berdua sudah tiba di bibir pantai dan duduk di ayunan yang menghadap laut.
Pantai ini memang tidak jauh dari rumahnya dan keindahan pantainya terkenal. Bahkan salah satu pantai diabadikan dalam lagu rap yang paling terkenal di seluruh negeri ini. Dari tempat kami duduk, dapat kulihat dua orang berselancar dengan ditarik jetski. Orang Estonia memang luar biasa, ini winter dan mereka berselanjar di tengah suhu beku. Memang menggunakan baju khusus, tapi tetap saja, sulit kucerna untukku yang besar di negara tropis.
"Aku diskusi dengan mentorku kemarin. Aku bertanya padanya, apa hal yang paling penting yang harus menjadi pertimbangan dalam sebuah hubungan".
"Apa jawabnya?" Alin menunggu lanjutanku.
__ADS_1
"Dia memberikan jawaban diluar dugaanku. Aku mengira ia akan menjawab cinta. Namun, ternyata bukan itu jawabannya. Ia bilang bukan cinta atau *** yang menjadi pertimbangan besar sebuah hubungan".
"Melainkan?"
"Rasa aman dan nyaman saat bersamanya. Kesempatan untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya di hadapan orang yang kita cintai. Itu jawaban yang ia berikan".
"Sepakat!" Alin menjawab cepat.
"Kamu juga? Jadi bukan cinta atau *** yang selama ini dipikirkan orang-orang?".
"Orang yang mana? kamu kali".
"Baiknya memang tidak mengeneralisir. Setiap orang punya pertimbangannya masing-masing, bisa jadi sebagian orang sepakat, bisa jadi tidak. Misal untukku sendiri, sepakat dengan mentormu. Tapi....tentu saja ada bagian-bagian lainnya yang bisa dimasukkan dalam pertimbangan. Tergantung kebutuhan kamu sendiri juga. Kadang cinta juga banyak jenisnya".
"Cinta banyak jenisnya?" Aku mengernyitkan dahiku.
"Iya, tergantung bagaimana orang mendefinisikan cinta itu sendiri atau juga membagi ke dalam beberapa jenis".
"Tell me, berapa jenis yang kamu ketahui?". Tak sabar ingin mendengar.
Aku penasaran tentang jenis-jenis cinta yang dimaksud olehnya. Yang kutahu, cinta adalah cinta. Rasanya yang bercampur bersama getaran yang direspon oleh tubuh kita sendiri.
__ADS_1
"Aku akan menyebut 3 disini. Passion love, intellectual love, and secure love" Jawabnya sambil tersenyum.
Aku terpana dengan yang disampaikannya. Sekarang kerumitan memahami ini jadi bertambah. Kupikir aku sudah mengerti dengan baik selama ini. Tentang cinta yang kujalani. Mendengar dua orang ini berbicara tentang cara mereka memandang cinta dan mempertimbangkan hal-hal dalam sebuah hubungan telah mengajari aku sesuatu yang begitu baru.
"Jelaskan padaku tentang 3 jenis cinta ini," pintaku.
"Ok, pertama passion love, ini adalah cinta yang membara, penuh hasrat dan gairah dalam mencintai, baik ketika kita sedang bersamanya, melakukan **** dengannya atau bahkan ketika tidak bersamanya, kita dapat merasakan perasaan ini. Seperti ada sesuatu yang terus memanggil-manggil dalam diri kita. Rasa yang tidak hanya dalam hati kita, namun juga seperti sesuatu dalam perut kita. Nafsu bercampur gelora, bercampur kasih sayang dan semua perasaan indah yang dapat kamu bayangkan, paham?"
Aku mencerna kata-katanya dengan baik, karena kupahami rasa yang dijelaskan olehnya. Tentu saja aku mengalami rasa seperti ini beberapa kali dalam hidupku.
"Ok paham. Lalu intellectual love?"
"Intellectual Love adalah cinta yang kamu miliki diiringi pengetahuan dan wawasan. Pasangan yang kompak dan nyaman untuk diajak berdiskusi, menguasai topik jika diajak bicara atau mau saling belajar. Setiap ada isu, atau ada topik yang mau didiskusikan, orangnya nyambung dan menempatkan diri di posisi yang equal dalam berdiskusi. Bahkan kita dapat merasakan rindu untuk dapat mengobrol dengannya dari waktu ke waktu".
"Yes. Lanjutkan, kalau Secure Love gimana?".
"Nah kategori ini adalah jenis cinta yang terkadang mengandalkan materi. Kemapanan hidup, pekerjaan yang bagus, bisa diandalkan dalam menjaga kestabilan financial keluarga. Penuh perencanaan masa depan, untuk pasangan dan bangun keluarga secara mandiri, juga berarti pendewasaan yang bikin kita nyaman dan merasa aman terlindungi jika sedang bersamanya, itu disebut secure love. Kamu paham dengan penjelasanku ini?" Alin melihatku dalam-dalam, mungkin ia mencoba mentaksir ekspresi yang sedang kutunjukkan.
Berat dan dalam, pikirku. Kenapa aku tidak berpikir tentang jenis-jenis cinta ini selama menjalani hubunganku. Alin kemudian meninggalkanku dengan berjalan-jalan sendiri. Aku tahu ia bermaksud memberikanku waktu untuk mencerna kata-katanya. Tentu saja, aku butuh memahami ini semua. Lebih tepatnya menempatkan hubungan yang sekarang sedang ku punya.
Apa yang dikatakan mentorku, apa yang dikatakan Alin. Kini, aku tahu bahwa aku punya PR baru untuk mengetahui pikiran hatiku secara lebih dalam. Seharusnya ini semua menjadi bekal yang lebih besar yang akan mendukung keputusan yang akan kubuat. Terima kasih untuk pelajaran ini, aku berbisik lirih, pada angin dan pasir.
__ADS_1