Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Lelaki Aljazair


__ADS_3

Law of attraction, aku percaya bila pikiranku ingin menarik seseorang untuk minum kopi denganku maka aku akan dapat menarik orang tersebut. Maka kupusatkan segala perhatianku pada keinginanku itu. Aku Membeli dua gelas minuman, dengan berharap seseorang akan duduk satu meja denganku dan bersedia berbagi kisah, menemani kesendirianku di hari ulang tahun.


Bandara dan hati yang terluka, tak ingin kubiarkan perkara ini merusak hari mulia dalam hidupku. Menit-menit berlalu, meja di depanku dan di samping kiri dan kananku masih kosong. Aku menunggu, berharap meja segera terisi dan kemudian aku dapat menyapa mereka serta menawarkan untuk bergabung di meja yang sama. Aku Vashla, gadis yang seringnya memang tak malu mewujudkan hal-hal yang kuinginkan, meski itu keinginan yang sepele sekalipun. Namun, sampai es mencair dalam minuman yang kubeli, meja masih kosong.


Aku bangkit dan berdiri, menghampiri meja paling pojok di cafe, seorang lelaki muda sibuk dengan HPnya. Rambut pendek, postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, berperawakan Timur Tengah. Ia mengenakan celana jeans panjang, sepatu kets, T-shirt dan menimpa jaket kulit coklat muda di atasnya.


"Hi, boleh aku minta tolong?" tanyaku tanpa basa basi.


"Boleh, apa yang dapat kulakukan untukmu?" tanyanya.


"Aku punya masalah dengan internet di bandara dan juga cafe ini, boleh kamu meminjamkan internetmu sebentar?".


Ia mengetikkan passwordnya di HPku dan kemudian aku berlalu. Kembali ke meja, duduk melamun dan bertanya pada diri sendiri. Kan butuhnya teman untuk berbagi dan merayakan ulang tahun bersama, kenapa jadi minta jaringan internet darinya. Bukankah aku sedang tidak butuh internet. Kemudian aku sadar bahwa ternyata hatiku gugup saat di hadapannya. Mengajak bicara orang asing, memang terkadang bisa memicu degup jantung yang tak biasa.


Bagaimana kita membayangkan respon dari orang tersebut. Kutimang-timang lagi kegilaanku. Sudah kepalang, tinggal sedikit lagi untuk mewujudkan imajinasi di kepalaku. Aku bangkit dari mejaku dan kemudian kembali ke hadapan lelaki tadi. Dia terperanjat karena aku muncul tiba-tiba.


"Actually, today is my birthday. Do you want to celebrate it with me?" aku pasti gila. Meminta orang asing merayakan ulang tahunku.


Dia tertawa. Aku bingung kenapa. Apa cowok ini berpikir aku gila atau mungkin dia sedang mengejek. Ingin kubatalkan apa yang baru saja kuucapkan. Namun kata-kata tak pernah bisa kutarik ulang.


"Today is my birthday too" katanya.


"What? Unbelievable" kataku melongo.


Oh ini kebetulan yang indah sekali. Saat kamu mencari orang untuk menemanimu merayakan ulang tahun, kemudian orang yang kamu ajak justru sedang berulang tahun tanpa kamu ketahui sebelumnya. Aku benar-benar tertawa kegirangan. Tetapi, tunggu dulu, bagaimana jika dia berbohong. Bisa saja, tadi yang diucapkan hanya candaan. Namun, ia terlihat jujur saat menyampaikannya.


"Nih passportku, kalau kamu mau lihat" seperti membaca keraguanku. Ia membuka passportnya dan meletakkannya di meja.

__ADS_1


Aku mendekat. Tulisan di sana bercampur tulisan Arab dan latin, dapat kulihat benar ia punya tanggal lahir yang sama denganku.


"Kamu benar, kita punya tanggal lagir yang sama" kataku setelah mengecek kebenaran yang dia sampaikan.


Dia setuju pindah ke mejaku dan kemudian kami berdua bersulang. Itu adalah hari yang indah. Kami menjadi teman dan bahkan berbagi hal-hal yang sifatnya personal. Tak lupa kami mengambil foto serta passport kami berdua.


"Lucu ya, ingat kejadian itu" kataku pada Saad sambil mengajaknya mengenang kejadian tahun lalu.


"Iya, kebetulannya unik. Bayangkan coba, berapa persen kejadian seperti ini terjadi di dunia ini. Di bandara, seorang perempuan berdiri di depanku dan mengajak aku yang orang asing merayakan ulang tahunnya. Di waktu yang bersamaan, ternyata aku juga berulang tahun. Tapi aku berterima kasih padamu" katanya sambil memanggil pelayan.


"Untuk?" aku mengernyitkan dahiku.


"Karena keberanianmu tahun lalu. Melakukan itu semua, aku jadi punya teman dari Indonesia. You are a bold woman" jawabnya sambil tertawa.


Kami memesan Kopi dan Ice Cocholate demi mengulang kenangan tahun lalu. Hanya saja, kami memilih cafe yang berbeda.


"Iya, aku pulang seperti biasa. Beberapa bulan sekali aku terbang ke negaraku" jawabnya.


"Bisnis gimana? lancar?" tanyaku lagi.


"Yah..begitulah. Kadang lancar kadang tidak. Apalagi sedang masa Corona seperti ini".


Saad dulu kuliah di Turki, di kota Istanbul. Setelah kuliah, ia memutuskan membangun perusahaan dan kemudian menjalankan bisnis export-import dari turki ke Aljazair dan sebaliknya.


"Tell me your story. Kemarin kamu cerita deh tentang seorang cowok yang kamu sukai selama 3 tahun dan kemudian kamu jadian dengan dia di Estonia?" Saad penasaran.


Kami memang sering berbagi kisah, termasuk kisah hubunganku. Kalau Saad menelpon, aku memang tak sungkan berbagi kisahku dengannya. Terlebih karena lelaki yang satu ini sangat nyaman untuk diajak ngobrol.

__ADS_1


"Iya, seperti yang kamu tahu, aku jatuh cinta pada lelaki Jerman, sahabatku sendiri. Cinta yang bersemi di musim winter. Perjalanan persahabatan kami dimulai di Bali 3 tahun lalu. Luky, dia menjadi lelaki yang kupilih akhirnya".


"Dia sekarang masih di Tallinn?" Saad bertanya lagi.


"Iya, kami mau menikah di Indonesia. Dia akan pulang ke Jerman segera, bertemu keluarganya dan menyiapkan semuanya untuk pernikahan kami nanti. Tetapi dia sekarang terjebak di Tallinn, penerbangannya dibatalkan".


"Wah aku sudah mendengar itu. Banyak penerbangan dibatalkan. Tuh lihat aja papan pengumuman, banyak negara menutup akses saat ini demi mencegah penyebaran virus" Saad menunjuk papan pengumuman.


"Iya, itu juga yang membuatku sedih. Apakah persiapan pernikahan kami dapat berjalan dengan baik. Apakah Luky akan mendapatkan jadwal penerbangannya segera? Aku tak bisa berhenti untuk khawatir" kataku sendu.


"Vashla, pasti ada jalannya. Mungkin memang penuh tantangan tapi kita akan bisa melalui ini. Pandemi adalah sejarah, sudah terjadi jauh-jauh hari sebelum kita. Colera, Flu Spanyol, Ebola dan sebagainya. We will survive!" Saad terlihat begitu optimis dan entah bagaimana itu membuatku sedikit lega.


"Eh, aku boleh pinjam internetmu lagi?" Aku masih ingin melanjutkan diskusi dengannya. Tetapi aku juga ingin mengecek keadaan Luky.


"Mau telpon Luky?" Ia langsung tahu. Aku mengangguk.


"Pakai sebanyak yang kamu mau" Seperti dejavu. Kami mengulang ini semua persis sebagaimana tahun lalu kami melakukannya di bandara ini.


"Thank you Saad" aku tersenyum ke arahnya dan kemudian izin menjauh sebentar untuk menelpon Luky.


Kami mengobrol selama 30 menit. Saad dengan sabar menunggu dengan sibuk main game di HPnya. Ia sama sekali tidak menunjukkan kebosanan atau terlihat buru-buru. Aku menelpon Luky untuk kembali menanyai perkembangan jadwal penerbangan. Luky terdengar lesu saat menjawabnya karena tidak ada kabar dari travel agency yang dia pesan tiketnya. Aku mencoba menghiburnya sebelum menutup telpon.


"Gimana?" Saad bertanya saat aku kembali ke meja kami.


Aku menghela napas dan memberikan update padanya. Saad kembali mencoba meyakinkanku kalau semuanya akan baik-baik saja. Kami melanjutkan cerita sampai saatnya berpisah karena penerbangan Saad yang lebih dulu dariku. Ia memelukku dengan erat dan memintaku untuk memberikannya update apapun atau bahkan saat aku butuh bantuan.


"Ingat, jangan sungkan. Kamu tahu aku punya banyak teman di sini. Mereka bisa datang ke bandara kapan saja kalau aku minta" tegasnya sebelum berlalu.

__ADS_1


Aku melambai padanya dan kemudian kembali duduk sambil menulis buku harianku. Penantian penerbangan ke Jakarta, aku sudah tak sabar.


__ADS_2