
Sepakat untuk pulang. Itulah akhir keputusan kami berdua setelah berdiskusi semalaman. Mungkin orang tua kami benar. Lebih baik kembali sekarang ke negara masing-masing, menyelesaikan dokumen pernikahan dan kemudian bertemu di Indonesia untuk menyiapkan pesta. Meski sudah sepakat untuk berpisah sementara, dan melambungkan doa pada Tuhan, berharap ada jalan untuk pertemuan segera di Indonesia. Namun, hati kami tetap sulit melepaskan satu sama lain secara fisik. Corona, siapa yang tahu akan seperti apa. Tetapi pulang juga adalah kebutuhan untuk mempermudah langkah masa depan kami.
Menyiapkan pernikahan beda negara bukanlah hal yang mudah. Tanpa dokumen-dokumen resmi dari kedua belah pihak dari dua negara, maka pernikahan secara resmi takkan pernah bisa terjadi. Itulah yang membuat kami menguatkan hati, bahwa perpisahan ini demi penyatuan kami sendiri.
"Aku punya permintaan sebelum kita kembali ke negara kita masing-masing" kata Luky.
"Permintaan apa?" Aku menarik kursi dan duduk dengan meletakkan kedua tanganku di meja makan. Ini sikapku yang biasa saat akan menerima pancake darinya.
"Wait, sebelum itu, aku mau banana pancake hari ini" Kataku cepat sebelum ia menuang selai strawberry ke dalam pancake yang hampir matang di wajan.
"Lah, biasanya Strawberry" Luky segera menutup kembali selai.
"Justru itu, keseringan Strawberry. Aku mau Pisang hari ini" pintaku.
"Tapi cuma ada satu Pisang nggak pa-pa?" katanya sambil mengarahkan Pisang ke arahku.
"Nggak pa-pa deh. Aku makan pancakenya satu aja hari ini".
"Oke princess" Ia mencium keningku. Kemudian mulai memotong pisang dalam ukuran tipis dan ditaburkan di atas pancake.
Tak lama pancake terhidang indah di hadapanku. Ia meletakkan kopi susu panas di sebelah kiri piring dan kembali mencium kepalaku kali ini.
"Enjoy your breakfast sweetie" katanya dengan lembut dan manis.
__ADS_1
"Kamu punya permintaan apa tadi?" aku memulai suapan pertama.
Ia menyeruput kopinya dan tersenyum ke arahku. Luky tidak suka sarapan, ia hanya butuh kopinya dan itulah sarapan baginya.
"Aku mau kita pergi ke semua tempat yang pernah kamu datangi sama mantanmu di sini dan juga melakukan hal yang semua pernah kamu lakukan dulunya sama mereka".
Aku terhenyak di antara pancake yang masih penuh dalam mulutku. Buru-buru kutelan tanpa ingin kukunyah.
"Uhuukkk...uhukk" mataku membesar di antara pancake tersendat di tenggorokanku.
Luky segera membuka kulkas dan menuangkan air minum ke dalam gelas. Ia meminumkannya ke mulutku sambil satu tangannya membelai punggungku.
"You okay?" Ia meletakkan kembali gelas di meja.
"Karena aku ingin kita menyelesaikan apa yang belum selesai. Kita sudahi luka di hatimu yang mungkin sesekali masih mengundang rasa sakit jika kamu ingat tempat itu. Terlebih Kota Tallinn ini adalah kota magic yang indah, sayang jika yang nantinya kamu kenang adalah rasa sakit bersama mereka. Izinkan aku menggantinya dengan kenangan indah".
Aku berkaca-kaca, ini adalah pagi yang sungguh mempesona. Melalui kata-katanya kutemukan jalan penyembuhanku. Luky memenangkan hatiku dengan berbagai ucapan dan perbuatannya terhadapku. Setelah sarapan, aku mulai membuat list tempat-tempat yang pernah kukunjungi bersama mantanku dulu. Lebih tepatnya adalah K dan Allan. Hanya mereka berdua yang kukencani dengan status resmi pacar. Selebihnya hanya kencan singkat tanpa ikatan. Terlebih saat dulu aku aktifkan Tinder dan lagi masa-masa frustasi.
Di antara semua tempat yang pernah kukunjungi itu, ku persempit lagi dengan list yang paling sering atau sifatnya berulang kali kukunjungi dan paling banyak kuhabiskan waktu bersama mereka. K dan Allan punya tempat berbeda. Aku juga baru sadar hal ini setelah semua tempat kumasukkan dalam list. Baiklah, sepertinya perjalanan mengganti kenangan mantan itu bakalan seru. Dari mana Luky punya ide semacam ini.
Niatnya Luky memang baik. Karena kami mau memulai kehidupan pernikahan kami, ia mau aku memulainya dengan hati yang sudah terobati. Ia hadir menggantikan rasa sakit yang kupunya selama ini. Bahkan membereskan rasa sakit yang tersisa. Kami menjadwalkan untuk memulai petualangan ganti kenangan mantan ini. Karena kerjaku online, jadi memang mudah untukku menyusun jadwalku sendiri.
Kami mulai dari semua tempat yang paling sering kukunjungi bersama K dulunya. Sebuah restaurant Turki di Kota Tallinn. Tempat pertama kalinya aku bertemu K. Luky menggenggam tanganku saat kami akan memasuki restaurant. Ia bertanya meja mana yang biasanya kududuki bersama K. Aku menunjuk meja kosong di pojok kiri dari pintu masuk.
__ADS_1
"Oke kita duduk di sana" Ia membuka jaket di badanku dan meletakkannya di kursi di sebelah kirinya.
"Apa makanan yang biasanya kamu makan?" Aku menunjuk menu dan memang itulah yang kami pesan kemudian.
Aku melihat K duduk di depanku. Tepat dulu seperti ia melakukannya. Ia yang jarang tersenyum mengenakan kemeja dan celana jeans hitam kesukaannya. Aku mengedipkan mataku sendiri. Hey no, not K. Sekarang Luky adalah lelakimu, kataku pada diri sendiri.
"Coba untuk menggantikan semua kenangan itu dengan kehadiranku. Mari berdamai dengan masa lalumu. Jadi nanti, suatu saat jika kamu kembali lagi ke tempat ini, kamu punya kenangan indah denganku yang selalu layak dikenang" Ia menggenggam tanganku.
"Hey Vashla, how are you?" oh itu pemilik restaurant ini, Fadhal, orang Pakistan. Ia mengenalku dengan baik.
"I'm good. How about you?" tanyaku kembali.
"Me too" ia melihat ke arah Luky, melambaikan tangan dan mengatakan Hi. Luky membalasnya sambil tersenyum.
Aku mempernalkan mereka berdua. Kuceritakan padanya bahwa lelaki ini pernah membantuku beberapa kali saat dulu aku butuh bantuan. Termasuk saat aku menitipkan koperku pada mereka, memesankanku taksi, saat aku sedang demam dan menumpang istirahat di kantor mereka di lantai atas. Ia dan karyawannya sangat ramah padaku.
"Gimana restauran? lancar?" Tanya Luky pada Fadhal.
Fadhal adalah lelaki Pakistan. Ia bersama adiknya dan beberapa anggota keluarganya pindah ke Tallinn. Ia telah menjadi pembuka jalan bagi keluarganya untuk pindah ke Eropa sejak ia kuliah di kota ini.
"Well, not running well, since Corona" Fadhal melanjutkan pekerjaannya sambil mempersilahkan kami menikmati makanan yang terhidang di depan kami.
Iya, begitulah Corona membawa dampak bagi siapa saja. Memporak-porandakan bisnis dan hubungan manusia. Kami menikmati makanan dengan hati. Rasa yang gurih dari daging sapi dan ayam panggang yang dicincang mampu menabuh hati kami penuh gembira. Luky memadankan daging dengan Kentang, aku, seperti biasa dengan nasi khas Turki.
__ADS_1
Usai dari restaurant Turki, kami bersiap mengambil langkah berikutnya. Hanya tersisa dua tempat lagi yang akan kami kunjungi untuk mengganti kenangan dengan K. Sebelum ke sana, kami memutuskan berjalan-jalan sebentar di taman dekat Oldtown. Karena baru saja selesai makan, kami masih ingin mengobrol di antara cuaca dingin dan udara segar.