
Hari-hariku terasa lebih ringan, setelah menyelesaikan urusan percintaanku dengan Luky. Bahagia sekali dapat mempersatukan kembali cinta kami. Menjahit luka yang sempat tercabik oleh kesalahpahaman dan rasa sedih perpisahan. Bahagia dapat bernafas lega, melepaskan sesak di dada. Aku berdiskusi dengan Luky, terkait dua hal berikutnya yang harus kuselesaikan. Hubunganku dengan Vavan dan juga hubunganku dengan Livi yang saat ini tak lagi bicara satu sama lainnya. Luky menyarankan untuk membereskan urusanku dengan Vavan dulu.
"Kenapa?" tanyaku padanya.
"Karena itu jalan yang akan membuka kembali hubungan persahabatanmu dengan Livi" jawabnya.
"Kan aku dengan Vavan juga sahabatan?" tanyaku lagi.
"Justru itu, kembalilah menjadi sahabat dengan Vavan. Lalu bawa Livi kembali setelah itu" sarannya.
Masuk akal, pikirku. Meski tak sabar ingin menemui Livi, memeluknya, meminta maaf padanya, tetapi Vavan adalah jalan pertama itu. Ini tidak mudah, memulai komunikasi secara terbuka, pikiran dipenuhi oleh berbagai asumsi sendiri. Bagaimana kalau Vavan tambah marah, lalu memutuskan persahabatan kami berdua. Bagaimana kalau Livi juga meneruskan kemarahan di antara kami.
"Thank you and I love you" kataku pada Luky menutup pembicaraan kami.
"I love you too and thank you for coming back to me" ia melayangkan ciuman melalui layar telpon padaku. Dapat kurasakan Kembali hangatnya cinta kami mengalir melalui udara. Corona, masih di sini, yang menjadi halangan membentang perpisahan jarak di antara kami. Namun, aku juga percaya, akan ada jalannya, meski belum kupahami benar kapan virus Corona ini akan berakhir.
Ayam Gepuk di Jakarta Selatan, di sanalah aku dan Vavan akan bertemu. Ia membalas pesanku dengan cepat, saat kukatakan padanya ingin menemuinya segera. Saatnya mandi dan bersiap-siap. Itu kawasan macet ibukota, meski waktu bertemu masih agak lama, lebih baik berangkat duluan. Sebentar lagi, waktunya pulang kerja untuk orang-orang yang tinggal di ibukota. Bus, Commuter, Trans Jakarta, Angkot, Bajai, transportasi online, semuanya akan sibuk dan berdesak-desakan di jalanan.
Aku tiba lebih awal dari janji kami. Duduk di meja pojok sambil memandangi orang-orang yang memesan makanannya. Apalagi para driver online yang mengantri, menunggu jatahnya untuk mengantarkan makanan pada pelanggan. Vavan masih belum membaca pesanku. Aku tahu ia akan datang, karena membatalkan janji bukanlah sifatnya.
Kembali kulayangkan wajah pada layar HPku, masih belum ada balasan. Aku menghela napas dan mengalihkannya pada ayam goreng yang dicelupkan ke dalam wajan besar yang berisi minyak panas. Bunyi suara ulekan sambal gepuk, kasir yang sibuk dan orang yang terus berdatangan, beberapa pelanggan harus rela mengantri mendapatkan tempat duduk. Sebagai makanan jalanan favorit, tempat ini jauh dari kata fancy seperti café-café atau restaurant, hanya warung tenda biasa yang sudut-sudutnya diikat di depan sebuah bengkel motor. Berhubung di sore hari sampai malam bengkel ini tutup, jadi warung tenda Ayam Gepuk selalu dibuka di jam segini.
__ADS_1
“Udah lama?” Vavan tersenyum ke arahku, menarik kursi dan kemudian duduk tepat di depanku.
Bagaimana ia bisa se-bahagia ini, dapat kulihat binar matanya seperti biasa. Ringan dalam hatinya dan menyapaku dengan senyuman. Aku mencemburuinya saat ini, dia memiliki perasaan indah ini saat hatiku bercampur aduk ingin menyelesaikan urusan kami.
“Mhhhmmm belum. Kita mau makan dulu, atau ngobrol dulu?” tanyaku.
“Pesan dulu, sebelum diusir abang-abangnya hahaha” kata dia sambal tertawa. Aku ikut tertawa, dia benar adanya. Setelah mengorder makanan, aku memulai percakapan kami dengan menghela nafas dalam.
“Ngapain stres? Macam sama orang lain aja” dia menaikkan alisnya.
“Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku tidak mau menyakitimu dengan kata-kata yang akan kusampaikan” Jelasku padanya.
“Gua udah tau lagian” katanya sambil menatapku.
“Mauli udah cerita semuanya apa yang terjadi antara lo dan Livi dan gua juga udah tau kalau lo balikan sama Luky” ia sama sekali tidak menunjukkan kemarahannya. Apa memang ia tidak marah, atau bagaimana, aku sibuk dengan pikiranku.
“Gua nggak marah, bahkan ini yang gua inginkan. Gua pengen kita balik kayak dulu. Kita berempat, genk gepuk” belum sempat ia menyudahi kalimatnya, aku beranjak dari kursiku, memeluknya penuh haru.
Vavan adalah sahabat baikku yang tidak pernah berubah. Dia tahu aku menggunakannya pada saat aku putus dari Luky hanya karena aku tidak mau menghadapi kesedihan dan kesepianku. Ego yang membuat hubungan persahabatanku porak poranda dengan Genk Gepuk, terutama Livi. Thanks God, kini aku dan Vavan dapat merajut Kembali hubungan persahabatan kami yang manis.
“Lupakan yang terjadi di antara kita beberapa waktu lalu. Gua nggak mau kehilangan sahabat baik gua” aku melepaskan pelukan darinya dan Kembali duduk. Tersenyum ke arahnya, dan menyetujui semua yang dikatakannya. Indahnya Kembali pada cinta, baik pada cintaku untuk Luky dan juga cintaku pada Genk Gepukku.
__ADS_1
“By the way, kok kamu pesan makanan banyak banget?” tanyaku yang baru menyadari kalau Luky memberikan order yang tidak biasa. Karena terlalu sibuk dengan pikiranku yang seakan mau meledak, aku tidak sempat bertanya.
“Untuk Livi dan Mauli” jawabnya enteng.
“What?” kataku membelakkkan mata, antara bahagia dan deg degan dengan Livi akan ada di antara kami saat aku belum sempat Menyusun kata-kata dalam kepalaku untuk minta maaf padanya.
“Hey! Sini!” Vavan melambaikan tangan ke arah jalanan. Livi dan Mauli menyeberang sambil bergandeng tangan. Ah betapa aku iri dengan kebersamaan mereka.
Livi langsung memelukku saat tiba di meja kami. Aku merasakan haru yang bertubi-tubi, sebelumnya dengan Vavan dan sekarang dengan Livi yang seolah semuanya memaafkanku dengan begitu mudah, tanpa perlu kukatakan satu kata pun. Kurasakan hangatnya pelukan gadis Papuaku ini. Ah rindunya hatiku.
“Jadi aku sudah dimaafkan nih?” kataku menyeka air mataku.
“Tidak ada yang perlu minta maaf dan harus dimaafkan. Kita berdua dalam kondisi yang tidak tahu apa yang terjadi saat kita tidak bersama waktu itu. Apalagi timing saat kita bercerita kurang tepat aja” kata Livi.
“Terima kasih untuk tidak marah padaku” kataku lagi.
“Kamu pasti kangen ya waktu aku pergi” goda Livi.
“Menurut ngana? Ya iyalah, kangen setengah mampus” kataku.
“Serunya berpelukan, mbok aku jangan ditinggal gitu lo” Mauli menghampiri kami dan ikut memeluk kami.
__ADS_1
“Lah terus gua? Kagak ada yang peluk nih?” Vavan terlihat kesal kami abaikan. Kami segera menariknya untuk ikut berpelukan berempat.
Indahnya cinta Geng Gepukku. Terima kasih semesta telah menghadiahkanku sahabat-sahabat seperti mereka yang begitu baik, begitu setia pada cinta kami. Thank you, thank you, thank you.