Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Tentang Law of Attraction


__ADS_3

Aku sudah lama menjadi pengikut The Secret dan mempercayai Law of Attraction. Pada saat membaca bukunya, aku tahu apa yang aku mau. Mulai mempercayai kebaikan semesta yang merespon energi dalam diri. Membuat permohonan-permohonan dan percaya bahwa itu akan terjadi. Termasuk permohonan yang pernah kutulis di pesawat pada saat terbang dari Istanbul ke Tallinn.


Masih kuingat dengan baik, apa yang kutulis dalam surat permohonanku pada semesta. Berikan aku lelaki Eropa, bentuk hidung seperti yang kumau, mata cantik, bibir tipis, bulu mata lentik, postur tubuh, tentang hobinya dan sebagainya. Semua kutulis detail dan rapi. Kemudian kulatih diri ini untuk mempercayainya. Semesta memiliki cara untuk menjawab permintaan-permintaan ini. Aku juga ingat bagaimana Vavan menanyakanku soal Law of Attraction ini.


"Lo benar percaya ini semua?" Tanyanya suatu ketika usai makan gepuk dan tentunya diskusi setelah pedas berakhir.


"Come on, aku sudah mengujinya selama beberapa tahun ini. Biasanya permintaanku yang sungguh-sungguh menjadi kenyataan, selama aku benar-benar mempercayainya" jawabku dipenuhi keyakinan.


"Oh, asal lo nggak frustasi aja kalau gak terjadi" balasnya.


"Ya gampanglah, tinggal makan gepuk aja bareng kamu kalau emang ada yang gak terwujud. Jadi gak stress-stress amatlah" haha aku tertawa.


Vavan memang masuk akal, dia selalu memperhitungkan sesuatu dengan matang. Baginya semua dilogikakan dulu. Sementara aku selalu sibuk mempercayai instingku dan sepenuhnya percaya pada mimpi-mimpi yang kutulis bahw itu akan mewujud dalam kehidupanku. Aku percaya, demikian kali ini. Seharusnya juga berlaku untuk permintaan akan seorang lelaki yang kumau. Benarkah Allan untukku? Benarkah Allan lelaki yang kutulis itu? Sebagian tanda-tanda memang ada di Allan, namun belum semuanya teruji. Ada masih banyak yang harus kukonfirmasi dari list yang telah kusiapkan.


Kupandangi layar HPku, belum ada tanda-tanda kemunculan pesan darinya. Malah pesan dari luky bertumpuk di WhatsAppku. Kubiarkan saja dulu, nanti sekalian kurespon Luky. Aku masih menunggu pesan Allan. Kupandangi lagi Tower TV yang menjulang tinggi dekat apartementku. Membayangkan apa yang dilakukan orang-orang saat ini di sana di antara cuaca dingin ini. Balik kupandangi kembali layarku. Oh pesannya makin bertambah, terutama dari group-group bejibun yang kupunya. Tepat sekali, salah satunya dari Allan. Akhirnya dia luluh juga.


"I'm sorry about what happen at the restaurant. Can we talk?". Tulisnya.


Kubiarkan pesannya, biar tidak kebiasaan. Bertengkar dan pergi begitu saja. Akan kubuat dia menunggu, paling tidak selama satu jam aja dulu. Aku membuatkan teh lemon dan duduk santai di sofa sambil membaca buku. Walau tak benar-benar fokus pada cerita yang sedang kubaca. Terkadang butuh melakukan hal ini biar lelaki tidak seenaknya ketika emosi dan menganggap aku bisa luluh kapan saja mereka mau. Dia pasti tahu aku sudah membaca pesannya. Tetapi kucueki sementara.


"Call me in 10 minutes". Balasku setelah satu jam.

__ADS_1


"Thanks love, talk shortly". Balasnya dalam menit yang sama.


Dapat kubaca ketidaksabarannya untuk berbicara. Aku tersenyum, di tanganku sedang kupegang buku tentang Law of Attraction saat ini. Aku memang sudah membaca beberapa seri dari bukunya. Tiap kali kubaca ulang babnya, aku selalu ingin mempraktikkannya dan menguji keinginan-keinginanku dengan sungguh-sungguh.


Allan menelpon lebih dari satu jam. Dia meminta izin untuk menjemputku dan membawaku ke apartementnya besok. Katanya dia ingin memasakkan makanan Estonia untukku. Tentu saja aku senang mendengarnya. Aku memintanya untuk menjemputku di kantor, usai jam kerja.


***


"I miss you," katanya saat aku sudah duduk di mobil di sebelahnya.


"I miss you too," balasku.


Lama kami berciuman di area parkir. Selain mobilnya, memang ada beberapa mobil lainnya yang terparkir disini. Tidak terlalu banyak, mungkin karena sudah jam pulang kerja. Kami masih diam di mobil beberapa menit dan saling memandang.


Tak lama kami meninggalkan area parkir. Menuju apartementnya yang letaknya tak jauh dari kantorku. Dibandingkan jarak dari apartemenku ke kantor, apartementnya justru lebih dekat. Allan tidak berasal dari Tallinn. Ia lahir dan besar di Parnu, sebuah daerah lainnya di Estonia yang lumayan jauh dari kota Tallinn. Karena pekerjaannya di kota, jadinya dia mengambil apartement disini.


Kami melewati beberapa mall. Meski mall di Tallinn tak sebanyak mall di Jakarta. Di sini hanya ada beberapa saja. Gedung-gedung di sini juga tidak terlalu tinggi. Tidak ada gedung yang menjulang macam Jakarta. Kebanyakan juga bangunan tua dari masa penjajahan dulu.


"Aku akan belikan wine. Kamu tunggu di mobil ya, atau mau ikut turun?" Allan memarkir mobilnya di halaman supermarket. Ini salah satu supermarket yang menjual kue Vastlakukkel, kue tradisional Estonia yang menjadi kesukaanku.


"Aku tunggu di mobil. Belikan aku Vastlakukkel dong," pintaku.

__ADS_1


"Oh wow, gadisku benar-benar jadi orang Estonia sekarang. Kamu suka banget sama kuenya?" ia kembali ******* bibirku.


"Iya, beli ya," rengekku.


"Sure. Mau berapa banyak?" katanya menunggu.


"5". Aku mengarahkan 5 jari tanganku ke arahnya. Dia tertawa dan segera keluar dari mobil.


Vastlakukkel, nama kue yang memiliki kemiripan dengan namaku. Bagaimana aku tahu, Estonia punya kue tradisional seenak ini.


Vastlakukkel biasanya hanya dijual di bulan Februari. Bulan di mana rakyat Estonia merayakan hari dengan menikmati Vastlakukkel bersama keluarganya. Hari tersebut disebut Vastlapaev, dulu sejarahnya Vastlapaev ini adalah festival di mana anak-anak dan remaja akan naik ke bukit dan kemudian meluncur menuruni bukit atau lereng untuk menentukan bagaimana hasil panen di tahun mendatang. Mereka yang meluncur paling jauh artinya akan mendapatkan hasil panen terbaik. Inilah yang dipercayai masyarakat waktu itu. Sejak saat itulah mereka selalu memperingatinya di bulan Februari. Anak-anak yang ikut sledding dan kemudian mereka akan diberikan kue Vastlakukkel ini.


Terlepas dari semua sejarah tentang kue ini, aku jatuh cinta pada saat pertama kali memakannya. Sejak saat itulah aku selalu menunggu Februari untuk dapat menikmati ini bersama keluarga Estoniaku. Namun biasanya, setiap ke super market, aku pasti akan membelinya. Tidak menunggu Vastlapaev, kapan saja aku ingin makan dan biasanya dijual 2 minggu menjelang perayaannya.


Kami tiba di apartement Allan saat hari sudah benar-benar gelap. Baru jam 6.30 sore, seperti tengah malam di musim winter. Matahari hanya singgah sebentar hari ini, lalu tenggelam kembali entah ke mana perginya.


"Kamu santai aja di sofa, aku akan siapkan makan malam untuk kita," kata Allan.


"Aitah! Aku boleh lihat buku-bukumu lagi nggak?" Aku kembali meminta izin.


"Boleh dong. Sana baca. Jadi kamu juga tidak bosen nunggu".

__ADS_1


Aktivitas membaca adalah sesuatu yang membahagiakan untukku. Kebanyakan buku-buku Allan memang dalam Bahasa Estonia. Namun ia juga punya banyak buku dalam Bahasa Inggris di raknya. Aku terpaku pada sebuah buku yang tidak pernah kuperhatikan selama ini. Buku ini berada di bawah tumpukan buku lainnya. Aku mengenal sampulnya dengan baik dan tertulis The Secret. Oh jadi ia juga penggemar buku ini, sekarang aku tahu apa yang membawa kami bersama. Law of Attraction.


__ADS_2