
Hari ini kami memutuskan untuk berkumpul di apartemen sambil makan gepuk lagi. Padahal dua hari lalu baru saja makan. Memanglah, kerinduan makan gepuk bersama ini tidak ada obatnya. Vavan juga mengosongkan jadwalnya dan ikut membawakan buah-buahan saat tiba di apartemen. Syukurnya peraturan pemerintah yang melonggarkan lockdown ini membuat kami sedikit lebih mudah berkumpul. Meski kami harus selalu menggunakan masker di berbagai tempat dan banyak café atau restaurant masih tutup saat ini.
"Eh yang mau order siapa nih?" tanyaku sambil mengarahkan pandangan pada Livi dan Mauli yang sedang cekikikan. Entah apa yang sedang dilihat mereka di layar Hp.
"Gua aja deh. Soalnya gua tau cabang paling enak dekat sini" Vavan yang sejak tadi juga sibuk memandangi layar mengambil insiatif.
“Oke” aku kembali menyibukkan diri dengan membuka kotak di hadapanku.
Kotak istimewa yang berisi barang untuk masa depanku. Beberapa perlengkapan pernikahan yang kuorder sebelumnya. Kerudung panjang 4 meter yang akan menutup sebagian kepalaku dan menjuntai ke lantai. Aku memilih putih Ivory seperti warna gaun pengantin yang sebelumnya kubeli. Sepatu hak blink blink perak juga sudah sampai.
“Masih belum ada kabar dari Luky, kapan dia bisa tiba di Indonesia?” Mauli yang tadi sibuk dengan HP mengalihkan perhatiannya ke arahku. Aku menggeleng dengan sedih.
Kurasakan pilu yang besar di hatiku dan berharap masa Corona ini akan berlalu. Sungguh, aku begitu ingin menyentuh dan memeluk Luky saat ini. Merasakan kehidupan kami dengan nyata, bukan hanya lewat layar semata. Aku berharap Indonesia membuka gerbangnya segera untuk orang asing yang masuk ke sini, atau paling tidak, adanya pengecualian untuk mereka yang butuh mempersiapkan pernikahannya. Ingin kuberharap Jerman juga melakukan yang sama, mulai membuka pintunya untukku agar dapat menemui cintaku di sana. Cinta kami di antara birokrasi dan regulasi yang begitu tak menentu selama masa pandemi ini.
“Eh aku lihat di Jerman, gerakan kampanye Love is Essential makin menguat. Mereka terus mendorong pemerintah untuk membuat pengecualian bagi pasangan yang ingin bertemu. Baik pasangan kekasih, suami-istri, adik-kakak, anak dan bapak, semua heboh di berbagai media” Livi menceritakan kondisi di Jerman saat ini menurut yang ia baca dan lihat di media.
“Iya, di Indonesia juga sudah dimulai sejak beberapa waktu, hanya belum terlalu kuat gerakannya” tambahku.
__ADS_1
“Kenapa Love is Essential nama kampanyenya?” Vavan yang baru selelsai mengorder makanan memberikan perhatiannya pada kami saat ini.
“Karena, pada saat itu, banyak pasangan dari berbagai negara yang menghubungi pemerintahnya atau kedutaannya, menanyakan informasi tentang visa atau open border agar dapat bertemu, jawaban yang diberikan staf pemerintah atau yang sedang bertugas selalu, oh itu tidak terlalu essential. Jadi mempertemukan orang-orang yang saling mengasihi ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting. Akhirnya, karena banyak orang menerima jawaban yang sama, kampanye untuk Gerakan Love is Essential dan Love is not Tourism mencuat. Gerakan ini memperjuangkan pertemuan dan mendorong pemerintah untuk melonggarkan regulasi supaya melakukan sesuatu untuk orang-orang yang terpisahkan selama pandemi” aku menjawab pertanyaan Vavan.
“Apa tidak ada yang bisa kita lakukan di Indonesia? Kupikir kita semua butuh berjuang untuk kampanye ini. Mempertemukan orang yang mencintai satu sama lain adalah sangat penting dan cinta adalah sesuatu yang begitu essential di dunia ini. Kenapa orang tidak melihat cinta sebagai sesuatu yang agung dan patut diperjuangkan?” Kata-kata Mauli menarik perhatian kami semua dan memberi isyarat yang sama.
Yes, kita punya ide. Kita butuh melakukan sesuatu dengan bergabung bersama Gerakan ini di dunia dan ikut mengkampanyekannya. Mata kami berbinar dalam kedipan, seperti menemukan semangat perjuangan para prajurit dalam diri. Kami mendekat dan kemudian mulai mengatur strategi bagaimana kami semua dapat terlibat dalam kampanye ini.
“Oke, pertama-tama yang kita butuhkan adalah informasi lebih banyak mengenai kampanye Love is not Tourism dan Love is Essential. Yuk bagi tugas! Livi mengambil komando untuk aksi kami ini.
“Mauli, kamu bertugas mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang kampanye yang telah berjalan di Indonesia dan brandingnya seperti apa, di mana peran lebih lanjut yang dapat kita bantu untuk kampanye nantinya” perintah Livi langsung disambut Mauli.
“Siap. Akan kumulai segera” sahut Mauli semangat.
“Vashla, kamu fokus di petisi dan content writing. Karena kamu yang punya cerita di sini, dan cerita-cerita yang sudah kamu tulis nantinya dapat membantu publikasi dan kita posting di banyak tempat” Livi sangat tepat dalam memberikan instruksi untukku.
“Van, kamu selain mengurus makanan untuk kita semua, tugas berikutnya, jelajahi regulasi dari pemerintah. Cari tahu lebih banyak di ditjen imigrasi dan regulasi visa lainnya” Vavan langsung merespon dengan sikap hormat pada Livi.
__ADS_1
“Oke, guys, genk Gepuk beraksi. Kita semua sudah mendapatkan tugas. Sambil menunggu orderan gepuk datang, mari kita mulai aksi kita ini” Livi terlihat begitu semangat.
Aku berkaca-kaca memandang mereka semua. Vavan yang menyadari itu langsung merespon cepat.
“Lo kenapa?” tanya Vavan.
“Aku terharu dengan yang kalian lakukan. Aku tau kalian nggak punya kepentingan dengan ini semua, tapi melihat betapa semangatnya kalian untuk menciptakan keajaiban ini, aku nggak tau harus ngomong apa” jawabku dalam haru biru.
“Makanya kamu itu juga semangat memperjuangkan hubunganmu. Jangan sedih terus mandangin gaun weddingnya. Just believe in universe, pasti ada jalannya, oke?” Mauli memelukku yang diikuti pelukan yang lain.
“Sudah-sudah jangan kelamaan pelukannya. Yuk, lanjutkan aksi” perintah Livi kembali diikuti kami semua.
Belum selesai kami menyelami semua informasi yang kami butuhkan dari berbagai sumber, makanan datang. Vavan menghidangkan piring untuk kami semua dan aroma gepuk langsung membuyarkan fokus kami. Kami tertawa cekikikan karena inilah kami, para penggila ayam gepuk.
“Udah, nanti lagi aja, gua tau lo pada keluar air liurnya. Buru cuci tangan dan ke meja makan” Kami langsung mencuci tangan seperti arahan Vavan dan dengan sigap duduk sekeliling meja, memulai ritual makan gepuk yang sedikit barbar.
Makan dengan tangan ditemani nasi panas mengepul dari rice cooker yang baru dibuka. Cabe dalam tumisan minyak merah menyala, terong kriuk goreng, kol, tahu dan tempe, semua tertata menunggu tangan-tangan kami menjamahnya dan memasukkannya ke dalam mulut kami yang sudah berliur ini. Ah nikmat sekali rasanya. Love is Essential sama essentialnya dengan rasa gepuk yang sedang kami nikmati.
__ADS_1