
"Honey...honey! there is a good news for us!" Luky terdengar tidak sabar saat menelponku.
"Apa itu?" tanyaku juga semangat.
"Pemerintahku akhirnya mengeluarkan peraturan untuk memberikan pengecualian visa penyatuan keluarga. Setelah desakan publik bertubi-tubi, akhirnya sekarang pemerintah merespon dan berjanji akan mempersatukan keluarga yang terpisah selama pandemi. Sebagian orang menyebut jenis visa penyatuan keluarga dengan sweetheart visa" jelas Luky.
"Oh wow! benar-benar kabar baik untuk kita" kataku begitu semangat sekarang.
"Jadi apa yang perlu kita lalukan berikutnya untuk mendapatkan sweetheart visa ini?" tanyaku tak sabar.
Luky menjelaskan ada beberapa hal yang butuh kami persiapkan. Salah satunya, bapak dan dia akan mengurus surat di pemerintah lokal Jerman untuk mengeluarkan surat yang isinya bahwa mereka mengundangku sebagai tunangan Luky dan menginginkan persatuan kami di Jerman dalam rangka melangsungkan pernikahan. Sementara di waktu yang bersamaan, aku juga butuh menghubungi kedutaan Jerman di Jakarta untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai ini.
Kami merayakan kebahagiaan kecil ini. Penantian yang akhirnya memberikan kami jalan untuk bertemu. Sungguh terharu dan tak sabar ingin mempersiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan. Semoga, jalan ini dipermudah, doaku dalam hati. Aku mulai menghubungi kedutaan Jerman melalui nomor telpon yang ada di website mereka.
"Hallo selamat pagi, ada yang bisa kami bantu? suara perempuan dari seberang telpon.
"Mbak, tunangan saya orang Jerman dan kami telah terpisah selama hampir 7 bulan semenjak pandemi dan menunda pernikahan kami. Saya mendengar bahwa pemerintah Jerman memberikan visa pengecualian yang disebut juga sweetheart visa untuk keluarga yang terpisah, apakah saya bisa mendapatkan informasi yang lebih lengkap?" tanyaku sedikit menggebu-gebu.
"Iya memang benar informasi ini. Namun karena peraturan ini baru dikeluarkan 2 hari lalu, kami belum mengupdatenya di website kami. Mohon bersabar, dalam beberapa hari akan kami update informasinya dengan lebih lengkap" jelas mbak kedutaan.
__ADS_1
Aku menutup telpon penuh suka cita, lalu berhamburan memeluk Mauli dan Livi. Mereka ikut menari bahagia. Hal ini karena mereka juga adalah bagian dari kampanye Love is not Tourism dan Love is Essential. Sangat terasa juga bagi mereka yang ikut berjuang untuk mencari dan mendorong dibukanya jalan hubungan kami.
Luky juga mengirimku pesan tentang bapaknya yang sudah membuat janji dengan pemerintah lokal di tempat tinggal mereka minggu depan. Sekarang mereka sedang menuliskan surat permohonan untuk pemerintah. Aku mengabari ibuku, bahwa sedang bersiap ke Jerman saat ini. Kuceritakan bahwa jalan itu telah terbuka. Ibuku memberikan restunya dan ikut bahagia.
Satu kekhawatiran besar tertinggal. Kasus Covid-19 menyentuh angka ratusan ribu di Indonesia, hal ini membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yang disebut PPKM atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Pemerintah Jakarta memperketat segala akses publik dan keramaian. Terutama perkantoran yang tidak dibolehkan untuk lebih dari 50 persen karyawannya masuk kantor. Artinya hanya 50 persen boleh bekerja di kantor dan 50 persen lagi bekerja dari rumah.
Kebijakan ini juga berdampak pada segala akses dan fasilitas publik lainnya. Semua toko harus tutup kecuali toko yang menjual makanan, obat-obatan dan beberapa pengecualian lainnya. Sementara toko lainnya yang dianggap bukan merupakan kebutuhan pokok harus tutup. Aku cemas menunggu. Hari-hari berlalu dengan keadaan Covid yang semakin tak menentu.
Seminggu kemudian, aku mendapat kabar dari Luky, bahwa bapak berhasil mengurus surat itu, surat yang menjadi syarat untukku mendapatkan sweetheart visa. Betapa bahagianya, karena di waktu yang bersamaan aku juga sudah menyiapkan berkas lainnya yang dibutuhkan.
"Besok bapak akan ke sana lagi untuk ambil surat. Lalu kami scan dan kirim ke kamu. Nanti kamu cukup print itu dan bawa ke VFS bersama berkas visa lainnya" Luky mengabarkanku status surat yang sebentar lagi akan kami genggam ini.
Itu dia, VFS atau Visa Facilitation Services yang menjadi agent kepercayaan kedutaan-kedutaan luar negeri ini berada di mall di Jakarta. Mengacu kepada peraturan baru yang dikeluarkan pemerintah, khawatirnya mereka akan dianggap sebagai kantor yang merupakan bukan kebutuhan pokok saat ini. Bagaimana kalau mereka masuk kategori ini.
"Kamu tahu kalau kedutaanmu adalah salah satu yang bekerja sama dengan VFS Global. Di mana, merekalah yang mengurus semua berkas visa sebelum masuk kedutaan. Aku khawatir kalau kantor mereka terkena dampak penutupan karena pandemi" kataku pada Luky.
"Tapi sekarang mereka masih buka kan?" ia bertanya lagi.
"Iya, belum ada pengumuman baru di website mereka. Semoga tidak berubah. Dua hari lagi saja, sampai aku menggenggam dokumen-dokumen lengkap dan dapat membuat janji dengan mereka" kataku penuh harap.
__ADS_1
"Semoga!" jawab Luky.
Aku melanjutkan menghubungi ibu, setelah berdiskusi dengan Luky. Ibu mengabarkan hal yang baik bahwa ia telah mengurus dokumen pernikahan yang dibutuhkan dari Kantor Urusan Agama dan Kepala Desa di Aceh. Ibu akan segera mengirimkannya ke Jakarta pakai pengiriman kilat. Lalu aku akan dapat melegalisirnya di kementerian untuk di bawa ke Jerman. Berharap, semua dokumen lengkap dan kami dapat mendaftarkan pernikahan kami di Jerman.
Semua perkembangan dan usaha yang mendadak ini sungguh membuat hati gundah. Aku sering tak dapat tidur di malam hari, karena memikirkan semua proses yang tinggal sedikit lagi ini. Doa-doa kulambungkan ke langit. Mudahkan ya Tuhan, mudahkan niat baik kami untuk dapat hidup bersama.
Aku terlelap dalam lelah di malam harinya. Sampai pagi melecutkan semangatku untuk membuka komputer dan melihat berbagai perkembangan terbaru di website VFS maupun kedutaan. Jantungku serasa berhenti saat kubaca pengumuman baru di sana, yang mengatakan mereka menutup servis selama PPKM. Pupus sudah, semua harapan bertemu dan memperjuangkan pernikahanku.
Aku menangis di antara cahaya matahari pagi yang mulai memasuki kamarku melalui celah gorden. Hari ini, bapaknya Lukas akan menggenggam dokumen dari pemerintah Jerman untukku. Saat VFS ditutup untuk waktu yang tidak ditentukan. Semua jadwal appointment dengan Kedutaan penuh sampai beberapa bulan ke depan. Ingin kukutuk pandemi ini. Mauli dan Livi mencoba menghiburku. Masih berusaha mencari jalan.
"Kenapa tidak ketemu di negara ketiga aja?" saran Livi.
"Negara ketiga?" Mauli bertanya karena tidak paham yang dimaksud Livi.
"Iya, negara yang dijadikan titik temu oleh pasangan-pasangan lainnya yang tidak punya jalan untuk bertemu di negaranya. Aku membaca beberapa postingan dari kemarin, ada negara-negara yang masih membuka border tanpa aturan yang ketat" jelas Livi.
"Bukan ide yang buruk, namun ada resiko lainnya" kataku.
"Apa?" mereka kompak bertanya.
__ADS_1
"Luky harus keluar dari pekerjaannya, yang artinya dia akan menjadi pengangguran. Banyak orang saat ini kehilangan pekerjaan dan hidup akan semakin sulit dengan kondisi pandemi begini. Bagaimana kami akan bertahan?" aku mempertimbangkan sisi Luky yang tentu saja berat baginya.
"Diskusilah dulu dengan Luky. Keputusan harus diambil berdua dengan pertimbangan yang matang. Kalaupun Luky terbang ke Indonesia, bukankah dia juga harus resign?" Livi benar.