
Luky baru mendapatkan pekerjaan di Jerman, setelah menolak pekerjaannya dari Swiss. Terpaksa ia menolaknya karena akses border yang ditutup. Sementara dia butuh pekerjaan sambil menunggu waktu untuk kami dapat bertemu. Dia berpikir untuk mengambil pekerjaan dan menghasilkan sedikit uang yang akan mendukung pernikahan kami. Aku harus memberitahunya segera, tidak ada jalan bagiku untuk mengurus visa saat ini. Meski Jerman telah mengubah regulasinya, Indonesia justru baru mengeluarkan peraturan baru yang super ketat di masa Corona. Di mana VFS Global sebagai agency visa kedutaan tutup disertai dengan penuhnya jadwal di kedutaan Jerman saat ini.
"Negara ketiga! Itu jalan saat ini yang kita punya" kataku padanya setelah menjelaskan situasi yang terjadi.
"Turki?" Ia bertanya padaku apakah itu termasuk pilihan yang tersedia.
"Ada beberapa, di mana negara-negara ini masih membuka border dan aku tidak butuh visa yang ribet untuk tinggal di sana. Seperti Turki, aku hanya butuh visa elektronik. Maroko dan Serbia, aku juga tidak butuh visa" jelasku pada Luky.
Kami berdiskusi lama, sempat menutup telpon untuk melakukan research terhadap negara-negara yang dapat menjadi pilihan kami. Luky sangat teliti, hobinya yang berselancar di internet dan membaca beragam website sangat membantu. Kami membuat list-list negara pilihan kami dan menuliskan juga syarat-syarat yang dibutuhkan untuk tinggal di sana serta plus minus jika memilih tinggal di sana.
Luky, memiliki semua kemudahan yang dia butuhkan sebagai warga negara Eropa. Negaranya yang masuk jajaran European Union dapat dengan mudah terbang ke berbagai negara tanpa visa. Berbeda denganku yang memiliki paspor Indonesia, semua gerak terbatas. Sulit mendapatkan visa dengan berbagai keruwetan proses imigrasi, belum lagi sering tertahan di airport dengan berbagai proses introgasi. Rasanya muak sekali dengan batasan-batasan ini.
Setelah mempertimbangkan segalanya, termasuk Luky yang keluar kerja demi kami bersama. Kami memilih Turki sebagai negara untuk bertemu. Aku membuat keputusan dengan segenap hati. Kukatakan pada diri sendiri, bahwa jika pun aku harus mati nantinya karena virus Corona ini, maka telah kuikhlaskan. Sebab, aku memilih jalan perjuangan untuk mewujudkan mimpiku. Luky adalah mimpi yang kutulis, mimpi yang kupanjatkan pada semesta.
__ADS_1
Aku ingat, bagaimana surat untuk semesta kutuliskan di langit Istanbul di dalam pesawat. Tentang jodoh impian yang kuharapkan dikirimkan Tuhan padaku di tanah Estonia. Di sana kami bertemu tak lama berselang setelah surat itu kutuliskan. Aku juga ingat bagaimana Bang Zeyn mentorku mengatakan Lebih baik mati dalam memperjuangkan mimpi dari pada mati dalam keraguan dan tidak memperjuangkan apa-apa.
Aku kabarkan Mauli dan Livi keputusanku, begitu pun keluargaku. Kami melakukan packing 2 hari setelah keputusanku itu. Aku tahu, inilah saatnya aku bertemu cintaku. Jika ada hari di mana traveling yang paling melelahkan dalam hidupku, maka hari itu adalah hari aku berjuang untuk bertemu dengan cintaku kembali. Setelah lebih dari 7 bulan menahan rindu di antara ketidakpastian, lalu tiba-tiba peluang datang.
Hatiku dipenuhi kecemasan, apakah aku akan bisa terbang menemuinya. Bagaimana kalau aku tak lolos imigrasi di Indonesia, atau bagaimana jika ternyata tertahan di negara transit, atau bagaimana saat pesawat akan mendarat, ternyata ada perubahan regulasi dan aku terjebak di sana. Sementara dia menanti di pintu keluar bandara berharap aku keluar bersama penumpang lainnya. Aku sampai demam karena stress. Tak pernah tertekan sebanyak ini selama perjalanan.
Livi, Vavan & Mauli memelukku di bandara. Mereka melepasku dengan bahagia. Tak berhenti melambaikan tangan sampai aku masuk ke dalam untuk proses boarding. Kulihat sekali lagi teman-temanku yang begitu setia itu
"Menyusul tunanganku yang sudah lebih dulu tiba di sana," kataku.
Tak lama setelah mengecek semua dokumen, aku lolos masuk. Bandara transit berikutnya Doha. Aku yang biasanya tukang tidur saat melakukan perjalanan, kutemukan diriku terjaga terus-terusan dalam keresahan. Di Doha, sambil menikmati kopi, kubaca buku dan membalas email-emailku. Waktu transitnya memang lama, hampir 8 jam. Biasanya transit selama apapun tidak masalah bagiku, sebab aku selalu bisa kerja dengan baik di bandara, namun tidak dengan kali ini.
Beruntungnya tidak ada kendala saat masuk pesawat berikutnya menuju negara tujuan. Pada saat itulah kembali kuhitung waktu. Jam berlalu, 36 menit lagi pesawat akan mendarat, aku benar-benar menghitung setiap menitnya. Kurasakan dadaku sesak seakan mau meledak. Benarkah akan menjadi kenyataan bertemu. Apa yang harus kulakukan? Apakah dia masih sama? Bagaimana caranya berekspresi? Aku harus seperti apa? dan sebagainya, banyak sekali pertanyaan di kepalaku.
__ADS_1
Aku telah menulis permohonan dalam surat-suratku kepada semesta. Supaya keajaiban pertemuan ini benar-benar terjadi. Di sinilah aku sekarang, dari 10.000 KM lebih jarak kami sebelumnya, kini hanya tersisa beberapa ratus meter dengannya.
Hati & pikiranku beradu dalam langkah yang tak lagi berirama. Ini adalah bandara Turki yang baru. Aku tak punya pengalaman transit ataupun berakhir di bandara ini sebelumnya. Biasanya transit di bandara lama Ataturk. Bukan, bukan soal bandara yang ingin kuceritakan. Tetapi aku kembali mengumandangkan harapan menuju proses imigrasi berikutnya.
Please...please let us meet.Aku terus mengulang kata yang sama dalam hatiku.
Saat akhirnya passporku distempel, di situlah aku bertambah ragu. Kenapa tanpa tes apapun, dan aku merasa proses ini begitu mudahnya. Masuk Turki dengan modal hanya tiket dan lembaran e-visa serta paspor, itu saja. Segera menuju baggage claim, mengambil bagasiku dan kemudian berlari keluar bandara mencari dia. Setelah 7 bulan dalam gejolak emosi. Beberapa kali hubungan ini hampir menemui batas rapuhnya diri. Kini, tiba untuk kami bertemu kembali.
Aku melihatnya dari jauh. Tentu dapat kukenali dengan baik postur tubuh lelakiku meski wajahnya ditutupi masker. Aku berjalan lebih cepat dan setengah berlari menghampirinya, dia melakukan hal yang sama. Jika ada adegan slow motion di film-film itu, inilah saatnya. Kami berhamburan satu sama lain, berpelukan erat, melepas masker kami dan mencium satu sama lain. Mengabaikan berpasang-pasang mata yang memandang. Larut dalam pelukan di antara mata kami sendiri yang berkaca-kaca. Tumpah segala emosi yang telah lama kami pendam bersama.
Terima kasih Turki telah mempertemukan kami, berbaik hatilah pada kami, bisikku pada semesta. Saat ini aku tahu, semesta memilih tanah ini untuk kisah kami berikutnya. Telah kukejar cintaku ke Turki untuk menjemput kisah-kisah indah lainnya. Telah kusiapkan diri dengan petualangan yang baru. Akulah Vashla, perempuan yang tahu apa yang aku mau. Perempuan yang meletakkan hati dalam mencintai dan mempercayai mimpi-mimpi dari surat-surat yang kukirimkan pada semesta. Bantu aku merawat cinta kami di Tanah Turki ini.
Lanjutkan Membaca Cinta Kita Di Antara Corona 2
__ADS_1