Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Tunangan Di Antara Jakarta & Jerman


__ADS_3

Setelah mendapatkan restu kedua belah pihak keluarga secara lebih resmi dalam proses lamaran sebelumnya, kami tambah semangat untuk mempersiapkan pernikahan kami. Kami sibuk berselancar di dunia maya mencari berbagai informasi, jikalau mungkin ada perubahan regulasi atau berharap kami menemukan celah untuk bertemu di Jerman atau Indonesia. Kami bersiap menikah baik itu dilakukan di Indonesia bersama keluargaku atau di Jerman ditemani oleh keluarganya. Tetapi harapan kami masih jauh dari harapan.


Genk Gepuk juga tidak berhenti membantu mencari informasi dan sudah join kampanye Love is not Tourism. Tetapi bahkan banyak negara tambah memperketat regulasinya. Kulihat beberapa postingan dari pasangan yang pada akhirnya harus mengakhiri hubungannya karena tidak sanggup menghadapi perih perpisahan. Itu juga menambah perih dan putus asa yang kami punya.


"What should we do?" Luky terdengar sedih melalui telpon.


"I don't know" jawabku pendek.


"Semalam aku melihat banyak kehebohan di media. Pasangan yang terpisah karena pandemi ini menembakkan lampu leser ke dinding bangunan pemerintah dengan tulisan raksasa Love is not Tourism. Cahaya lampu yang berwarna warni itu membuat dampak yang lumayan besar, mereka berhasil mengambil perhatian media. Itu salah satu bentuk protes yang dilakukan di negaraku. Karena pemerintah masih belum merespon isu ini" Luky bercerita padaku tentang perjuangan orang-orang di sana.


"Mereka belum menyerah, begitu pun seharusnya dengan kita. Bersatu dengan semangat pasangan-pasangan lainnya yang terpisah" kataku kemudian.


"Bagaimana kalau kita tunangan aja dulu?" Luky mengusulkan idenya.


"How? online?" tanyaku lagi.


"Why not?" katanya seperti menemukan semangatnya kembali.


Kami kemudian menyusun strategi untuk mengadakan pertunangan kami secara online. Mentorku adalah orang yang sangat membantu. Kami mendiskusikan online ceremony ini dengan melibatkan teman-teman, juga pihak keluarga. Menyusun rundown acara, menentukan moderatornya dan operator zoom online. Syukurnya aku punya Genk Gepuk dan teman-temanku di organisasi Gerakan Mari Berbagi. Teman-teman di organisasi ini adalah keluargaku selama hidup di perantauan Jakarta. Mereka dengan sigap mengambil peran dan menjadi tim pertunangan online ini.

__ADS_1


3 hari sebelum pertunangan, aku dan Livi pergi membeli cincin. Luky sudah mengirimkan sejumlah uang dan ia meminta Livi untuk menemaniku memilih cincinnya. Livi dengan senang hati melakukannya, bahkan ia mendapat tugas lainnya dari Luky untuk menyematkan cincin di jariku sebagai penggantinya.


Tak pernah kubayangkan, bahwa pertunanganku akan berlangsung secara virtual. 3 tahun virtual friendship, berbulan-bulan menjalani hubungan yang juga virtual selama Corona, kini tunangan pun demikian. Cinta kami menembus ruang dan waktu. Hari ini dua keluarga bertemu. Di hadapan orang-orang ini kami kembali mengikat komitmen satu langkah menuju pernikahan kami.


Ini tentu saja sejarah untuk hubungan kami. Pandemi telah merubah situasi. Pertunangan ini akan menjadi cerita untuk anak-anak kami nanti. Tak menyerah di tengah pandemi. Belum bisa melangsungkan pertunangan tatap muka, maka online pun jadi. Di sinilah kami semua, menyemangati diri sendiri yang dimabuk cinta.


"Aku tahu hatiku, selalu Luky di sana. Aku telah memilihnya sekarang dan selamanya, sebagai teman baikku, tunanganku dan calon suamiku" kata-kataku telah membuat yang hadir terharu.


Teman kami, Nadhil yang menjadi moderator pertunangan kami ikut berkaca-kaca. Ia kemudian mempersilahkan Luky memberikan kata-kata penutupnya.


"Perkenalan kami dan hari-hari kami pernah sangat menyenangkan tetapi juga sempat begitu kacau di awal-awal. Tetapi aku telah memilihnya menggunakan logikaku dan hatiku, dia sebagai teman baikku, tunanganku dan calon istriku" tutup Luky di akhir kalimatnya.


Mentorku memberikan pesan yang baik untuk kami ingat setelah hari bersejarah ini.


Torstin, ayah biologis Lukas juga menyampaikan pesan yang baik untuk kami. Ia yang khusus berdandan rapi, menggunakan jas dan dasi telah mempersiapkan diri dengan baik di proses pertunangan ini.


"Hari ini, kalian telah memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lebih serius. Kalian akan hidup bersama, yang artinya sekarang memiliki tanggung jawab yang besar untuk selalu menjaga satu sama lain. Kalian adalah pasangan yang baik, yang telah memberikan hati kalian dalam mencintai. Saya percaya kalian akan hidup dengan bahagia".


Demikian pula dukungan dari ibu tiri Luky, bapak tirinya dan juga teman-temannya yang hadir, semua terasa hangat sekali. Sementara dari sisiku, beberapa teman-teman dekat memberikan testimoninya dengan pertunangan kami.

__ADS_1


"Kamu beruntung Luky, Vashla itu selalu tahu apa yang ia mau dan kalau dia udah bilang dia mau itu, dia akan setia dengan perjuangannya. Sama, ketika dia memilihmu, dia akan berjuang dengan sepenuh hatinya" Tika salah satu teman yang juga sangat mengenalku, memberikan testimoninya dengan serius.


"Eh eh sebentar dulu. Aku lupa, cincinnya mana? Belum dipasang lo di jarinya Vashla" kata Nadhil sang moderator yang disambut tawa teman-teman lainnya. Semua orang sibuk dengan menyaksikan ungkapan cinta dan obrolan-obrolan hangat dari keluarga, sampai hampir lupa satu agenda yang belum.


"Di sini cincinnya sama aku. Lukas sudah memberikan titah padaku untuk memasang cincin ini di jari Vashla" sahut Livi yang langsung mengeluarkan cincin.


Livi bergabung satu layar denganku untuk memudahkan yang lain melihat prosesi semat cincin ini. Mauli juga merapat dan duduk di antara kami. Alif yang bertindak sebagai operator sudah menyalakan spotlight.


"Vashla, terimalah cincin pemberian kekasihmu. Aku merasa terhormat mendapat tugas ini" Livi lalu menyematkan cincin di jariku.


Semua bersorak gembira dan bahagia setelah penyematan cincin di jariku. Luky tersenyum bahagia saat aku melambaikan tangan ke kamera dan memberikannya ciuman melalui layar. Hari ini, pertunangan kami telah terjadi secara virtual. Sungguh, sesuatu yang tak kubayangkan dalam hidupku. Biasanya bayangan-bayangan tentang acara pertunangan selalu terjadi secara langsung di rumah. Di mana lelaki akan meminta izin meminang kepada pihak perempuan dengan membawa serta keluarganya. Namun, ceritaku telah berbeda dari apa yang kubayangkan. Masih indah dan sama bahagianya dengan yang kubayangkan dulu.


Malam merambat perlahan saat acara pertunangan berakhir. Mauli keluar apartemen membeli makan. Aku dan Livi berbaring di ranjang. Lalu kulihat Livi mengirimkan icon love melalui pesan di whatsappnya kepada seseorang.


"Siapa itu?" aku bertanya penasaran.


"Dia yang kucintai" balasnya cepat.


"Jangan bilang Vavan?" desakku ke Livi. Kulihat wajahnya bersemu malu.

__ADS_1


"What?" aku berseru heboh penuh bahagia.


Lalu sibuk menggodanya sambil mencolek colek seluruh tubuhnya memaksa ia cerita. Bahagia tak terkira, kisah cinta yang sedang kurayakan bukan hanya milikku, tetapi juga milik sahabat baikku. Tak ada yang lebih baik dari ini. Kami berdua bercanda sambil jungkir balik dan tertawa sebebas-bebasnya.


__ADS_2