Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Keluarga Estoniaku


__ADS_3

Terbangun tanpa alarm, tanpa ada yang perlu dikejar, adalah kebahagiaan. Terlebih ketika membuka tirai kamar, hamparan salju telah memenuhi halaman belakang rumah kami.


Aku mengucap syukur, bahagia karena kesempatan telah membawaku kembali ke tanah ini. Tanah yang kurindukan. Meski hati berada di antara keraguan dan keyakinan. Keduanya kokoh dalam menghadapi kenangan-kenangan di sini.


Home is where your heart is, kata orang. Aku menyetujuinya, karena aku merasa hatiku menyatu dengan negara ini. Meski sempat tidak bermimpi atau ingin mengunjunginya, namun siapa tahu, ternyata pengalaman pertama menginjakkan kaki di tanah ini telah menancapkan akar cinta.


"Tere Hommikust Vashla!" aku memalingkan wajah ke pintu kamarku.


"Tere Hommikust Nunnu" sahutku pada Manu. Dia anaknya Alin yang selalu mencuri hati kami semua. The cutest one, itu kenapa kami memanggilnya Nunnu dalam Bahasa Estonia yang berarti cute.


Tere Hommikust artinya selamat pagi. Kami memang sering mengucapkan selamat pagi, siang, sore atau malam dalam Bahasa Eesti. Begitu pun apa kabar dan sapaan-sapaan ringan lainnya. Hal ini karena aku memang juga melatih diri menggunakan Bahasa Eesti.


"Gimana tidurmu?" tanyanya.


"Indah dan lelap sekali" jawabku.


"Bagaimana denganmu?" tanyaku kembali.


"Not too bad. Mom asked me to call you. Time for breakfast".


"Oh thank you. I will be there soon". Aku tersenyum ke arahnya.


Manu meninggalkan kamarku dan segera turun ke bawah diikuti kucing kesayangannya. Mischa, nama kucingnya. Ia memiliki bulu abu-abu dan berjenis kelamin perempuan. Menjadi kesayangan semua orang sebagai bagian dari anggota keluarga ini.


Aku menyentuh kaca jendela dan sekali lagi mengucapkan terima kasih. Pagi telah menjadi berbeda dari sebelumnya. Saatnya memulai kehidupan baru di Estonia. Duhai Tanah Baltic, berbaik hatilah padaku. Biarkan keajaiban datang di setiap langkahku. Bantu hatiku memaafkan apa yang telah berlalu dan tak dapat kuubah. Buka hatiku pada kemungkinan-kemungkinan baru. Terima kasih, bisikku sekali lagi.

__ADS_1


Ini weekend, dan ada satu budaya yang kutunggu di rumah ini yaitu Sabtu Pancake. Hanno, suami Alin ahli dalam memasak pancake. Aku jatuh cinta pada pancakenya bahkan saat pertama kali mencobanya. Biasanya Hanno akan membuat banyak pancake. Kami bisa makan sepuasnya. Di atas meja sudah dipenuhi dengan berbagai selai. Strawberry, Bluberry, Apel, termasuk butter dan Gula. Manu biasanya akan menaburkan gula di atas pancakenya.


Satu lagi yang kusuka dari keluarga Estonia, mereka biasanya membuat selai dari buah yang mereka tanam sendiri. Apel, strawberry, blueberry, blackberry, semua ditanam di sekeliling rumah. Dipanen saat summer, dibuatkan selai dan dinikmati saat winter.


Mereka juga membuatkan jus alami yang difermentasi untuk dinikmati saat winter. Aku telah begitu jatuh cinta dengan kebiasaan mereka memproduksi makanan yang mereka makan ini. Nanti kalau aku sudah punya rumah sendiri, punya tanah, aku ingin melakukan hal yang sama. Menanam dan memakan makanan dari hasil kebun sendiri.


Aku juga bermimpi jika memiliki suami nanti, suamiku pintar memasak pancake. Karena sejak mencoba pancake Hanno untuk pertama kalinya dua tahun lalu, aku langsung jatuh cinta pada pancake yang dibikinnya.


Alin sungguh beruntung. Hanno tidak hanya ahli dalam memasak, namun juga bisa melakukan pekerjaan rumah lainnya. Seperti membuat meja, kursi, tempat tidur dan perkakas rumah lainnya sampai lemari mereka pun dibikin sendiri. Hanno seperti Alin, menyayangiku sebagai bagian dari keluarga mereka. Menganggapku sebagai adik perempuannya.


"Hanno, pancakemu yang terbaik. Aku merindukannya saat di Indonesia. Akhirnya, sekarang benar-benar ada di piringku. Terima kasih sudah memasak ini"kataku dengan penuh syukur.


"My pleasure. Makan sebanyak yang kamu mau"jawabnya.


"Yes my dear, we are happy to have you back in our house," Alin menimpali.


"Nih tambah lagi selai favoritmu, strawberry from our garden" Alin menggeser botol selai supaya lebih dekat ke piringku.


"Tenang, kumakan semua selai di meja ini" jawabku sambil tertawa.


"Oh jus favoritmu jangan lupa". Alin membuka kulkas dan menuang jus Berry yang diproduksi sendiri oleh Hanno. Mereka biasanya menyetok jus dalam botol-botol kaca kosong yang terus dipakai berulang kali. Mereka juga menyebutnya sirup.


"Aitah. Oh I really miss this" mataku berbinar-binar bahagia.


Manu tersenyum sejak tadi melihat kelakuanku. Dia yang biasanya sering teriak di belakang ibunya setiap ibunya menelponku, bilang kangen. Mungkin, dia pun ikut bahagia, aku kembali ke sini. Meski dia malu mengatakannya.

__ADS_1


"Ema, aku akan main di rumah Jhonny". Manu memberitahu ibunya saat pancake di piringnya sudah habis. Ema adalah sebutan untuk ibu dalam Bahasa Estonia.


"Ok. Pastikan memakai gloves dan topi" kata Alin.


Manu meninggalkan meja makan. Memakai jaket dan topi, kemudian keluar rumah.


Aku begitu bersyukur memiliki keluarga Estonia yang senantiasa mencintaiku dengan baik disini. Pergi jauh dari negeri sendiri dan tetap memiliki kehangatan keluarga. Aku membayangkan betapa sulitnya tak memiliki siapa-siapa dan hanya beberapa rekan kerja saja. Mungkin suasana jauh berbeda tentunya dengan kehadiran mereka ini dalam hidupku.


Keluarga Estoniaku tinggal di desa Vaana Viti, sebuah desa indah di Estonia yang berbatasan dengan laut. Di beberapa tempat di sekitar desa masih dapat ditemukan benteng atau tembok terabaikan bekas perang di masa Uni Soviet. Ada juga bangunan-bangunan tua yang berada di dalam tanah, kuterka mungkin dulunya dihuni oleh tentara soviet.


Desa ini memang pinggiran dan jauh dari kota. Jika aku naik bus biasanya memakan waktu 45 menit atau 1 jam untuk sampai di Kota Tallinn. Jarak rumah ke terminal bus sekitar 500 meter, jarak yang lumayan untuk berjalan di antara udara dingin dan kadang mencekam badan. Melewati sedikit hutan yang diisi oleh rumah penduduk yang cukup jarang. Ini ciri Estonia, rumah mereka yang di desa jarang padat antara satu dengan lainnya.


Mereka juga masyarakat tertutup yang tidak sering-sering berhubungan satu dengan lainnya kecuali untuk urusan yang penting. Urusan anak biasanya menghubungkan mereka karena membiarkan anak-anaknya main bersama.


Alin sudah bilang bahwa ia akan pergi ke kantor bareng dengan aku setiap harinya. Karena kami memang bekerja di kantor yang sama. Dia adalah supervisorku kalau di kantor dan kakakku kalau di rumah.


Aku mendapatkan pekerjaan ini darinya karena ada project baru yang akan dikembangkan perusahaannya untuk negara-negara Asia dan dia merekrutku untuk mengerjakannya. Tentu saja sebuah kehormatan bagiku dipercayakan memimpin salah satu project di perusahaan mereka.


"Ambil waktumu dan nikmati weekend. Jangan pusingkan urusan kerjaan dulu," tentu saja, saran Alin kuikuti dengan baik.


"Ceritakan, bagaimana perasaanmu saat kembali ke sini?" Hanno memancingku untuk bercerita.


"Tentu saja aku senang. Semua kenangan yang pernah ada dulu di sini telah membantuku bertumbuh dan setelah kembali ke Indonesia, aku masih merindukan Estonia. Bahagia sekali dapat kembali ke sini".


"Apa kamu masih kontakan dengan K?" Ah pertanyaan Alin sungguh tiba-tiba. Nama ini tak pernah ingin kusebut lagi dalam hidupku.

__ADS_1


Otakku memproses memori-memori lama. Tentang cinta masa lalu yang pernah kumiliki. Bagaimana aku bisa lupa, orang yang pernah kucintai dan kemudian mencabik-cabik hatiku selama dua tahun.


Telah kuhabiskan malam-malam panjang menangisinya saat kami putus. Di antara semua memori yang kupunya selama tinggal di Estonia, memori tentangnya benar-benar ingin kulupakan sepenuhnya.


__ADS_2