Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Corona, Agama dan Cinta


__ADS_3

Kami berjalan di antara pepohonan di dekat apartement. Jalanan licin dipenuhi es yang belum semuanya cair. Menggandeng tangan kami erat-erat, seakan tak ada yang dapat memisahkan kami berdua apapun kondisinya. Andai saja segampang itu, seindah itu dalam menciptakan cerita-cerita kami sendiri. Pada kenyataannya, saat ini kami dihadapkan pada dua kondisi, Corona dan agama. Keduanya memang tidak menjadi jurang pemisah, namun justru hadir menjadi syarat untuk bersama.


Corona menebarkan sesuatu yang tidak pasti. pandemi yang menyiutkan nyali karena tak ada kejelasan akan regulasi dari tiap negara atau kondisi lainnya. Agama, penuh tanya dari hati yang memilihnya dan hati orang yang menganjurkan pilihannya.


"Aku tahu, urusan agama ini menjadi perkara yang tidak mudah bagimu. Meski kamu bisa menerima aku sebagaimana aku, namun tidak dengan keluargamu" Luky merapatkan genggaman tangannya saat mengutarakan ini.


"Iya, memang tidak mudah. Aku tidak mensyaratkanmu agama pada saat memilihmu, pun sekarang demikian. Namun, aku tahu ada harga yang harus kubayar" Kataku.


"Aku sudah setuju menjadi muslim" katanya lagi.


"Aku tahu, kamu menyetujuinya memang untuk menghindari perdebatan yang ada. Aku tahu, kamu mengalah untuk kepentingan bersama. Demi kondisi budaya dan agama yang menganga di depan kita. Aku tahu, kamu tidak mau aku ditolak oleh keluargaku atau mungkin diusir kelak. Aku tahu, kamu...." aku kehabisan kata-kata menjelaskan isi hati dan pikiranku sendiri.


"Toh bukan ide yang buruk. Meski aku menjadi muslim saat ini karena kondisi ini. Bukankah itu juga jalan pembuka bagiku untuk belajar Islam?" Aku memandang ke dalam mata Luky. Ia serius dengan kata-katanya.


"Kamu tidak merasa terbeban dengan kondisi ini?" tanyaku lagi.


"Tidak. I'm okay with this".

__ADS_1


"Bagaimana menjelaskan ini untuk keluargamu?" Meskipun sudah dijelaskan Luky beberapa kali tentang keluarganya yang menerima apapun keputusannya, aku tetap gelisah penuh pertanyaan.


Luky adalah anak satu-satunya. Meski anak satu-satunya, ia memiliki dua orang ibu dan dua orang ayah. Orang tua biologisnya dan orang tua tirinya. Meski ibu kandungnya sudah meninggal. Berhadapan dengan satu keluarga saja, sudah sulit, pikirku. Bagaimana dengan keluarga besar yang dimilikinya ini. Meski menurutnya, anggota inti keluarganya terbuka, tidak demikian keluarga besarnya. Luky bilang mereka masih belum se-terbuka itu. Beberapa di antara mereka bahkan rasis terhadap perbedaan suku dan agama.


"Kamu tidak perlu khawatir tentang keluarga besar. Mereka tidak memiliki pengaruh. Artinya, aku tidak perlu mempertimbangkan cara berpikir atau perkataan dari keluarga besarku untuk membuat keputusanku" Seperti bisa membaca pikiranku, ia mencoba meredam kegelisahanku.


"Aku tetap khawatir," lanjutku.


"Karena Corona atau agama?" Ia menghentikan langkahnya dan menunggu jawabanku.


"Keduanya" kataku setelah menghela nafas berat di dadaku.


"Belum, masih ada diskusi yang belum selesai dengan keluargamu. Ayahmu masih ingin bicara denganku," lanjutku.


"Oke, tapi itu bukan perkara yang berat. Maksudku ia hanya ingin berdiskusi denganmu. Bukan memarahimu atau memintamu melakukan ini dan itu" tambahnya.


"Masih ada lagi kegelisahanku. Orang tua kita meminta kita pulang ke negara masing-masing, untuk menyiapkan pernikahan. Tetapi ada banyak negara saat ini membatalkan penerbangan dan melakukan lockdown sementara. Bagaimana nasib kita?".

__ADS_1


"Mungkin hanya sementara. Aku akan menyusulmu segera setelah dari Jerman. Percaya aku akan tiba di sana mengikutimu dan kita akan menyiapkan pernikahan kita bersama-sama" Ia begitu yakin dengan kata-katanya.


Pikiranku melayang, mengingat banyak orang terpisahkan bahkan saat dalam satu negara beda kota, mereka masih sulit bertemu. Ia mengecup bibirku dan kami kembali berjalan melewati pepohonan, lalu naik ke bukit. Matahari cerah hari itu meski dingin Salju masih membuat tubuh menggigil. Syukurnya baju winterku menghangatkan tubuhku dari dalam.


Kami menuruni bukit menyusuri sungai kecil. Sampai berakhir di sebuah Gereja Tua yang dipagari. Di sekeliling Gereja, ada pagar sepinggang dan gerbangnya di gembok. Gereja yang jelas sangat tua. Dari samping Gereja sebuah bangunan tua lainnya yang roboh. Beberapa dinding masih menjulang. Gedung itu dibiarkan begitu saja. Mungkin salah satu bangunan bersejarah dulunya. Banyak gedung, goa, terowongan, rumah dalam tanah dan lainnya yang di sini dibiarkan begitu saja. Semuanya peninggalan dari masa Uni Soviet.


Perang berkepanjangan yang dialami Estonia, memang menjadikannya sebuah negara penuh luka namun juga negara kuat yang menguasai teknologi. Ia mungkin pernah kalah dijajah lama, namun mental orang-orangnya bukanlah mental dijajah. Luky berdiri di depan gerbang Gereja. Mengecek beberapa jalan lainnya yang mungkin ada celah kami masuk.


"Sudahlah, memang dikunci" kataku dengan maksud menyuruhnya berhenti.


Kami memang penasaran memandangnya dari luar. Gereja yang indah, pikirku. Kami melanjutkan perjalanan ke pantai. Luky memang tahu caranya memaksaku berolahraga. Di musim winter, aku sebenarnya malas berjalan kaki jauh. Sering kali, jika bersama Luky, tak ada pilihan. Dia jarang sekali mau naik kendaraan baik transportasi publik atau taxi online jika jarak hanya 1 atau 3 kilo. Namun sepertinya hari ini kami sudah berjalan melebihi 3 KM.


Tujuan kami adalah ke Pantai Pirita yang indah. Menikmati sunset sampai kembali mendiskusikan ruang obrolan Corona dan Agama. Memanglah, topik ini yang paling panjang saat ini. Kami melewati sebuah Supermarket besar di area Pirita. Lalu menyeberang jalan di antara lalu lalangnya orang. Beberapa perempuan tua melihat ke arah kami. Lebih tepatnya ke arahku, menunjukkan wajah tak sukanya.


Aku tahu, ini hal yang sering terjadi karena bagaimana pun, kulit gelapku bersanding dengan lelaki putih seperti virus bagi sebagian mereka. Apalagi masa Corona, tentu saja aku dianggap pembawa virus ke negaranya. Seperti yang pernah-pernah, bagaimana kami diperlakukan, bagaimana Luky, Mas Senar dan Alif dihajar hari itu karena dianggap orang Asialah yang menyebabkan semua dunia kacau balau karena Corona. Orang-orang main hakim sendiri dengan begitu mudahnya. Semua masih begitu membekas.


Luky menghentikan langkahnya di lampu merah. Saat mata-mata itu masih memandang ke arah kami. Di sana, di antara orang lalu lalang itu, ia mencium bibirku sampai bunyi klakson menandakan lampu sudah hijau. Kami tertawa dan berlari ke pinggir sambil menggandeng tangan kami. Kami menutup hari indah itu dengan bermain di pinggir pantai.

__ADS_1


Duduk, menggenggam tangan sambil memandangi sunset. Meski tubuh terasa dingin oleh angin laut baltic yang menerpa wajah kami, namun sebagaimana beberapa orang lainnya di pantai ini, kami tak ingin berlalu begitu saja menutup hari yang indah ini. Berkali-berkali, kami berciuman manja di antara cahaya sunset yang melukis langit dan laut di hadapan kami. Beberapa anak kecil berlarian di bibir pantai diikuti ayah dan ibunya yang juga bercanda dengan bahagia.


Hidup harusnya memang seperti itu, pikirku. Bayangkan jika setiap orang sibuk menikmati keindahan semesta, mungkin memang ruang penderitaan manusia juga akan mengecil dengan sendirinya. Kami dan pantai Pirita, telah melukis keindahan dan kebahagiaan kami sendiri. Berlalu di antara cahaya sunset yang kemudian berganti gelap yang mulai turun perlahan. Kami menembus hutan cemara menuju jalan pulang ke apartemen kami tercinta. Seolah gundah karena Corona dan agama, hilang seketika.


__ADS_2