Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Kadar Cinta


__ADS_3

Hari ini, segalanya menjadi lebih jelas. Namun, kepalaku masih dipenuhi oleh berbagai diskusi yang kumiliki bersama mentorku dan juga Alin. Semua keyakinanku lebih mengarah ke Luky. Rumit, aku bertanya pada diri sendiri, apa memang seperti itu, dulu pada saat jomblo, tak ada satu pun yang datang bahkan untuk sekedar memberi signal. Sekarang, malah dua sekaligus. Bahkan bisa 3 atau 4 dari aplikasi online kalau aku mau lebih ribet lagi. Untungnya aplikasi sudah kuhapus saat mulai menjalin hubungan dengan Allan.


"Kamu beneran belum tau? Hatimu condong ke siapa?" Livi menunggu jawabanku. Hari ini hanya kami berdua dalam diskusi rutin mingguan kami via telephone. Karena aku memang sedang ingin cerita padanya. Meski yang lain juga sudah tahu soal kegaduhan hatiku ini.


"Iya, kadang aku merasa menginginkan Luky, namun di lain sisi hatiku juga masih tertaut pada Allan. Meski Luky belum mengutarakan perasaanya secara serius sih, tapi hatiku rasanya lebih ke Luky deh" kataku ragu-ragu.


"Jadi selama ini kamu masih menebak-nebak?".


"Siapapun yang berada di posisiku juga tahu, kalau Luky punya perasaan padaku Vi. Cuma itu dia, aku nggak tau sejak kapan. Kamu kan tau sendiri, aku selalu yang minta dia jadi pacarku waktu dulu. Jawabannya selalu sama, dia menolakku berulang kali. Tapi sekarang? Kenapa sih dia harus seperti itu, bikin orang bingung tau gak?".


"Kamu sebenarnya cinta gak sama Allan?"


"Itu dia Vi, sebenarnya kita bisa gak sih mencintai dua orang sekaligus di waktu yang bersamaan?". Aku balik bertanya ke Livi.


"Bisa aja sih. Namanya hati, juga bisa dibagi. Cuma, biasanya ada level tertentu yang membuat kita mengukur akan kadar cinta kita sendiri".


"Kadar cinta?".


Mentorku meninggalkan kebingungan untukku berpikir bagaimana mengambil sikap yang tidak didasarkan pada cinta atau ****. Alin membeberkan 3 jenis cinta untuk bertanya pada diriku sendiri, jenis cinta yang mana yang paling kubutuhkan dan lelaki yang mana yang memiliki ketiga jenis cinta itu. Sekarang Livi, bicara tentang level cinta yang dapat diukur. Lingkaran pertolongan cinta yang dahsyat. Saat aku sendiri makin diliputi keraguan dan kebingungan menakar ini semua.


"Cara mengukurnya gimana Vi?". Aku menunggu penjelasan Livi seperti seorang gadis naif yang terlihat tak berpengalaman sama sekali dalam urusan cinta.


Mungkin benar kata orang, ketika datang pada urusan cinta, rasanya kita terlihat bodoh dan konyol. Tak ada rumus matematika yang dapat menjawab segala kerumitan hati dan pikiran yang dipenuhi berbagai warna cinta, aku pun sama.

__ADS_1


"Cara mengukurnya, ambil buku dan pulpen. Tuliskan semua plus dan minus dalam mencintai mereka berdua. Apa kekuatan dan kelemahan dalam mencintai Luky, lalu tuliskan juga apa kekuatan dan kelemahan dalam mencintai Allan. Perhatikan list yang berhasil kamu tuliskan".


"Trus apa lagi setelah itu?". Aku bertanya dengan menggebu. Tak sabar, setelah diskusi kami berakhir, aku ingin segera mempraktikkan ini.


"Tulis juga kekuatan dan kelemahan yang akan kamu alami jika kamu harus kehilangan mereka berdua".


"Kenapa begitu vi?".


"Karena apapun yang terjadi, selalu ingat, tak ada yang abadi. Orang lain dalam kehidupan kita akan selalu datang dan pergi. Hanya diri kita sendiri yang bertahan sampai akhir, bahkan setelah kita mati. Jadilah teman baik bagi dirimu sendiri, sebab jika kamu kehilangan akan dirimu sendiri, maka apa yang tersisa?".


Aku terpana dengan kata-kata Livi. Itu kenapa aku mengagumi gadis Papuaku ini. Dia sangat benar dalam hal ini. Ukur kadar cinta dan kadar diri. Tepat setelah berdiskusi dengan Livi, aku tenggelam dalam mengukur kadar cintaku pada dua lelaki ini. Cinta seperti mengerjakan project, pikirku. Iya, project cintaku sendiri.


Tok! Tok! Tok! Lagi, pasti Luky.


"Mhmmmm....ok, in 20 minutes," balasku.


Aku tidak pernah mengatakan tidak saat ia mengajakku bermain. Seperti anak kecil yang mendapat hadiah, hatiku berdentum ceria setiap kali kami bermain. Luky sudah mengaduk kartu saat aku keluar kamar. Ia meletakkannya di meja, menungguku.


"Sebelum kita bermain, aku punya permintaan," katanya. Kucium niat sesuatu dari permintaannya ini.


"Apaan?" Jawabku sambil menarik kursi dan duduk di hadapannya.


"Pilih salah satu kartu dan jangan buka dulu. Aku akan beri aba-aba".

__ADS_1


Gini kalau sama Luky, semua jadi permainan dan seringnya seru. Hal yang tak kudapatkan dari Allan yang seringnya serius. Aku mengabaikan Allan sudah beberapa hari ini. Pesan darinya kubalas singkat-singkat dan selalu menghindar kalau diajak ketemu.


Sejenak terbayang bagaimana aku meninggalkannya begitu saja di apartemennya. Bukan karena apa, aku hanya merasa tak siap bertemu dengannya saat aku belum menyelesaikan ragu yang kupunya saat ini. Ah tapi aku tak ingin memikirkannya saat ini.


"Ready?" Luky membuyarkan pikiranku.


"Yes. Jadi aku ambil nih?" Aku menarik salah satu kartu yang bertumpuk dan menunggu aba-aba berikutnya.


"Ok, sekarang buka dan tarok di meja".


Lambang Queen love merah. Aku tersenyum padanya dan pada kartu di tanganku. Karena aku memang menyukai kartu ini. Luky juga membalas senyumku, kemudian mengambil kartu queen tersebut dari tanganku dengan tangan kirinya. Ia membungkuk di bawah kursi dengan tangan kanannya meraih tangan kiriku. Hatiku deg-degan, ini kenapa ada adegan drama tiba-tiba.


"Vashla, maukah kamu menjadi ratu dalam hidupku?" Ia masih menggenggam kartu queen di tangan kanan kirinya dan kemudian meletakkannya di tangan kananku.


"Oh, kupikir aku sudah menjadi ratu dalam hidupmu selama ini. Emang belum ya?" Ia tertawa mendengar kata-kataku.


"Memang, tapi kan belum ada pernyataan dari kamu sendiri. Lupakan soal ratu dan raja. Aku mau serius. Would you like to be my girfriend?"


Tangan kiriku berisi penuh genggaman tangannya dan tangan kananku berisi kartu sang ratu. Hatiku? Siapa yang ada di sana? Kulihat wajah tulus Luky dalam memintaku. Bayangan Allan juga muncul di waktu yang bersamaan. Sesaat, kami tenggelam dalam tatapan kami masing-masing. Aku butuh waktu. Aku tahu waktunya mengakhiri keraguan, saat kulihat ke kedalaman mata Luky. Bagaimana pun, sehari lagi saja, biar kutemukan kemantapan hatiku.


"Give me one more day," kataku padanya.


Aku memilih Luky sejak tiga tahun lalu, saat pertama kali bertemu temannya. Namun karena ia tidak pernah mengakui dan aku yang juga ragu antara persahabatan dan perasaan cinta yang kumiliki. Rasa apa yang sebenarnya di hatiku lebih mendominasi. Sehari lagi saja, biarkan kuputuskan akhir dari keraguan. Mengakhiri hubunganku dengan Allan dan memilih Luky untuk pasanganku di masa depan. Aku sudah tahu, Luky yang memenangkan hatiku. Namun, sehari lagi, biar kumantapkan kondisi hati ini bersama kadar cinta yang terus kuukur.

__ADS_1


__ADS_2