
Pandemi, isolasi, pertengkaran dengan calon lelaki yang akan segera kunikahi, serta rindu yang memporak-porandakan hati. Sakit sekali rasanya menerima semua ini, ketika merasa seperti tak punya kuasa dalam menyelamatkan hubungan kami. Bagaimana kalau kami berpisah, bagaimana kalau kami berpisah, bagaimana kalau kami berpisah, aku terus bergumam pada diri sendiri.
Satu hal yang aku lupa, bahwa law of attraction bekerja dengan baik biasanya untukku. Karena energiku terarahkan pada kekhawatiran akan kehilangan, pada negativity yang kuhadapi, tebak apa yang terjadi. Persis, kekhawatiran itu menemui puncaknya.
Kupandangi danau dari jendela kamarku. Di luar, cuaca cerah. Air danau memantul di bawah sinar matahari. Meski danau terlihat begitu kecil di antara gedung-gedung lainnya yang menjulang di ibukota Jakarta, tetapi pesona danau tetap indah. Aku sering berdiri di jendela kamarku, saat aku sedang berpikir keras. Aku rindu. Kulayangkan panggilan melalui layar untuk kembali menghubunginya. Hanya beberapa detik dan ia mengangkat.
"I miss you" kataku memulai.
"I miss you too" balasnya.
Masih dingin, dapat kurasakan kita berdua menyimpan rindu, tetapi masih membeku dalam kalimat-kalimat berikutnya yang mengalir di percakapan kami. Aku dapat mengerti, faktornya bukan hanya masalah foto dan lagu itu, tetapi juga rasa frustasinya karena pandemi. Bapaknya bilang saat aku menelpon dua hari lalu, bahwa dia minum banyak akhir-akhir ini.
Frustasi karena tak dapat terbang kemana pun, dia diterima di salah satu pekerjaan baru di Swiss. Tetapi karena border masih close, dia belum bisa ke sana. Sementara Jerman, tempatnya tinggal terutama saat ini seperti kota mati. Bar, Restaurant, hotel, dan berbagai tempat hiburan lainnya, semua tutup. Hanya supermarket yang buka untuk belanja kebutuhan sehari-hari.
"Luky, keluar yuk! Aku mau jalan-jalan ke taman dekat sini" suara perempuan di seberang sana. Dapat kudengar jelas dan darahku berdesir cemburu. Siapa itu, kenapa dia terlihat begitu dekat dengan Luky.
"Okay, wait a second!" jawab Luky. Hatiku terbakar, meski belum tahu siapa itu.
__ADS_1
"Itu siapa?" tak menunggu lama. Aku bertanya ketus.
"Sherlyn!" jawabnya singkat.
"Sherlyn siapa? Mantanmu yang dulu?" aku butuh meyakinkan diri dan masih berharap kalau itu bukan dia.
"Iya. Dia nginap di sini, selama weekend. Lagi punya masalah sama keluarganya" jawab Luky.
Jawaban dia yang singkat, menyalakan api cemburu yang sebelumnya sudah memanas. Tubuhku mendidih, mantannya tinggal bersama keluarga Luky selama weekend. Artinya, dia memiliki lebih banyak waktu bersama Luky. Sesuatu yang tidak kumiliki saat ini.
"Aku cemburu pada Sherlyn" kalimat ini meluncur begitu saja dari mulutku.
"Tetap saja, aku cemburu!" kataku lagi.
"Terserah! Aku harus pergi sekarang” katanya dan menutup telpon.
Kami berdua meneruskan perang. Ini sulit, karena kami punya rasa cemburu yang besar, namun juga sedang dikuasai energi negatif. Dalam hatiku, aku percaya kami berdua tak ingin menyakiti satu sama lain dengan cara ini. Aku juga percaya pada hatinya, juga pasti begitu. Namun ego dalam diri kami terlalu besar saat ini. Tidak ada yang mau mengalah, dan seolah saling meluapkan emosi yang berlebihan, adalah jalan yang memuaskan.
__ADS_1
Luky sibuk dengan keberadaan Sherlyn di rumahnya. Kemarin-kemarin, kami sudah jarang mengobrol dan sekarang bertambah jarang. Sampai akhirnya, hal yang kutakutkan terjadi. Pesan singkat melalui Whatsapp. Kenapa? Kenapa pengalaman menyakitkan ini harus terulang. Dulu, aku diputuskan dengan sebuah surat Panjang melalui Whatsapp dari K. Sekarang, Luky melakukan hal yang sama? Aku tak percaya ini semua.
Aku ingin mencoba lagi hubunganku dengan Sherlyn. Sudah saatnya kita mengakhiri hubungan yang menyakitkan ini. Hanya itu saja, pesan singkat telah mengubur semua kenangan manis yang kami punya.
Aku menangis seperti orang gila di kamarku, memukul dadaku dalam kekecewaan yang begitu dalam. Aku block semua aksesnya untukku. Whatsapp, Instagram, facebook dan semuanya. Ini terlalu menyakitkan, menerima kenyataan di saat kondisi seperti ini.
Aku merasa Tuhan tidak adil. Aku memiliki begitu banyak pengalaman menyakitkan dalam hubunganku dengan lelaki lain sebelumnya. Rasanya, Tuhan jahat sekali, jika melakukan ini padaku saat aku ingin memperjuangkan sebuah hubungan menuju pernikahan. Apa yang akan kulakukan dengan gaun pengantin yang baru saja kubeli? Apa yang akan kuberitahu pada keluargaku? Saat semua sudah dikabari, bahwa pernikahan kami akan segera terjadi. Hanya perlu menunggu border dibuka dan cinta kami akan segera Bersatu dalam ikatan pernikahan.
Apa yang akan dikatakan teman-temanku? Apa kata semua orang yang telah mengikuti semua kisah cinta kami yang telah kuposting di berbagai media sosial? Apa kata tetangga? Apa kata dunia? Tidak, tidak! Aku tidak sanggup menghadapi kenyataan saat ini?
Bukan, bukan tentang orang lain, aku harus menanyakan pada diriku sendiri. Apa yang aku rasakan saat ini? Apa hal yang paling menyakitkan itu Ketika aku kehilangan dia seperti ini? Rasa ditolak? Diabaikan? Dicampakkan? Rasa dibuang setelah disayang-sayang? Apa yang aku rasakan?
Bolehkah aku tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ini saat ini. Aku tak mampu, bahkan sekedar menjawab pertanyaan yang saat ini ada di dalam kepalaku. Aku hanya ingin bertahan hidup, dan berharap ini semua adalah mimpi. Bangunkan aku dari mimpi buruk ini.
Hari-hari yang paling getir dalam pandemic. Luka menganga tak menemukan obatnya.
Aku bekerja seperti orang gila. Menenggelamkan diriku dalam pekerjaan kantor yang menggunung. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, mencoba berbagai cara agar tak mengingatnya. Mengerjakan berbagai pekerjaan volunteering yang kuikuti. Memimpin dengan gagah di hadapan public, tetapi tidak, saat aku kembali ke kamarku dan seorang diri. Tania, kehilangan cara dalam menghibur. Ia tahu betul, aku berlari sangat kencang demi menghalau segala perasaan yang melabuhkan rinduku padanya.
__ADS_1
Aku mulai memikirkan untuk melakukan pengkhianatan dengan diriku sendiri, yaitu mencari tumbal hati. Meski, kutahu betul, tak ada yang bisa menggantikan Luky di hatiku. Cinta yang begitu dalam untuk kesayanganku yang baru saja mencampakkanku. Meski hari-hari telah berlalu, aku belum memberi ruang untuknya mengakses keberadaanku.
Luky menghubungi genk gepukku melalui media sosial, bertanya tentangku dan berulang kali mengatakan pada mereka bahwa ia ingin bicara. Bagiku, pesan yang terakhir darinya adalah pembicaraan penutup. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hubungan manis kami berakhir. Aku menghubungi Vavan, ia bilang akan segera tiba di Jakarta. Hatiku memiliki percikan kecil Bahagia. Karena tak satu pun dari Genk Gepuk yang kembali ke Jakarta, kabar kembalinya Vavan adalah harapan bagi sedikit kegembiraanku.