Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Tahun Baru, Mungkinkah Pacar Baru?


__ADS_3

Saat natal telah berlalu dan jodohku belum kunjung tiba. Aku mulai bertanya, kemana perginya permohonan di surat yang kusiapkan di pesawat itu. Apa waktunya masih terlalu singkat atau aku terlalu berharap. Jika bukan sekarang, bukankah baiknya menunggu. Seperti kebanyakan perempuan yang kukenal, yang lebih memilih menunggu untuk urusan jodoh. Kata orang kalau sudah jodoh takkan kemana.


Tetapi itu bukan aku. Menunggu kesempatan dengan sendirinya datang bukanlah sikapku. Aku selalu memperjuangkan yang kumau. Jika bisa kuupayakan, kenapa memilih menunggu? Aku tak pernah menunggu untuk mimpiku mewujud, akulah yang menciptakan keajaiban dalam hidupku.


Mentorku mengatakan kesempatan itu diciptakan bukan untuk ditunggu.


"Jika tidak ada kesempatan yang datang, maka ciptakan kesempatan itu". Kata-katanya tentu saja kuingat dengan baik. Termasuk menciptakan kesempatan untuk membawa jodoh ke pangkuanku.


"Sesuatu yang baru menunggumu di Estonia". Kata-kata yang diucapkannya saat melepasku. Tentu dia punya alasan mengatakan ini.


Sesuatu yang baru yang dimaksudkannya pasti jodohku. Aku mulai menyusun strategi bagaimana mewujudkannya. Jika aku tahu bagaimana mewujudkan mimpiku yang lain maka seharusnya aku juga tahu bagaimana mewujudkan yang satu ini.


Mulai dari membuat list: datang ke bar, ke undangan party, menghadiri event-event yang dipublish di internet, kelas Salsa, kelas bahasa, aplikasi kencan online. Wait, what? kencan online? Bagaimana bisa aku memakai aplikasi ini di sini, bahkan di Indonesia sekalipun aku tidak melakukannya.


Aku pasti sangat frustasi. Namun, kan tidak ada salahnya mencoba. Namanya juga usaha, coba saja dulu. Aku pasti sudah gila. Bagaimana kalau ada yang mengenalku. Siapa yang akan mengenalmu disini. Lagian kalau iya ada yang mengenalku, memangnya kenapa. Come on, cuma pakai sebentar, lalu hapus lagi setelah dapat orangnya. Ya Tuhan, aku benar-benar berjuang bahkan sedang meyakinkan diriku sendiri untuk membuka aplikasi ini.


"Eh coba deh pakai apps ini. Seru tau". Vavan suatu ketika pernah mengajakku. Aku sempat cemburu waktu itu, kok dia mau menghabiskan waktu berkenalan dan jalan dengan perempuan-perempuan yang ditemuinya di aplikasi itu. Aku sebenarnya tidak ikhlas saja melihat dia jalan sama perempuan-perempuan lain selain Livi dan Mauli.


"Gile lu ya, ngapain pakai apps begituan?". Kata-kataku waktu itu, pasti tidak adil untuknya. Dia kan punya hak untuk memakai aplikasi apa saja dan berteman dengan siapa saja.


"Hey justru harus dicoba yang begini-begini biar punya pengalaman," kata-katanya ada benarnya waktu itu, namun kecemburuan menguasaiku.

__ADS_1


Aku terbiasa memelihara perasaan ini dalam hatiku, seolah kalau seseorang adalah teman dekatku, maka dia hanya boleh dekat denganku atau mainnya dengan geng Gepuk kami saja. Sungguh kolot pemikiranku waktu itu.


"Terserah, kalau aku jadi kamu, ogah" kataku lagi.


"Eh Livi aja pake" ucapan Vavan itu membelalakkan mataku.


"Oh ya? Sejak kapan?" aku bahkan tidak tahu soal itu.


"Udah lama kali. Lu aja yang ketinggalan. Coba tanya Mauli, mungkin dia juga pakai" aku tahu Vavan menggodaku. Kata-katanya ingin menguji kesabaranku karena sering menutup diri untuk hal seperti itu.


Intinya, sejak aplikasi seperti ini mulai menjamur, aku belum sekalipun memakainya. Mungkin Vavan & Livi akan bertanya apa yang terjadi jika tahu aku memakainya sekarang. Apakah se-frustasi itu aku. Walau pada kenyataannya tidak ada yang salah dengan memulai sesuatu yang baru. Aku hanya terlalu gengsi untuk mengakuinya.


Aku meluncurkan segala usaha beberapa hari menjelang tahun baru. Serius melakukan misi pencarian jodoh. Akhirnya, dengan mengorbankan segala ego yang kupunya dan rasa bangga akan tak pernah memakai aplikasi ini dalam kehidupanku sebelumnya, di sanalah aku berada.


Aku menggunakan nama asli, beberapa foto asli dan menulis bahwa aku mencari teman. Oh betapa lurusnya pencarian ini. Banyak yang kemudian cocok denganku, puluhan jumlahnya hanya dalam waktu 3 hari. Di antara ketakutan dan keraguan, kulangsungkan chat ke beberapa dari mereka yang berhasil mencuri perhatianku.


Sesungguhnya ketakutanku luar biasa melihat respon manusia-manusia disana. "Hey there, where are you from. Want to have *** with me?, oh sorry, I'm not looking for friends here. Friends with benefit ok, you in?. I have a big....you want to try?. What about meeting in my place?. How long you stay? You really need friends?. What about ONS?. Can you tell me your b...size? Can I come to your place?


Oh My God, aku pasti gila disuguhi ini semua. Memang hampir semuanya good looking yang kupikir cocok denganku. Namun aku justru takut sendiri melihat cara-cara pendekatan ini. Mereka sangat terbuka. Tiap membuka diskusi selalu to the point. Itu terlihat menakutkan bagiku yang tidak terlalu berpengalaman.


Aku menjalani pertemuan pertama, berlangsung kencan singkat dan gagal. Lalu yang kedua, berakhir tanpa kabar. Aku memutuskan untuk melakukannya hanya tiga kali. Jika gagal juga, maka aku tak akan meneruskan jalan ini.

__ADS_1


"Gimana Vashla? ada perkembangan?" tanya Hanno pada saat kami sedang makan malam.


Hanno adalah orang yang menyarankan aku menggunakan aplikasi kencan online ini. Aku cerita padanya dan Alin bahwa aku ingin mencoba punya pacar baru di tahun baru. Hanno bilang mungkin aplikasi membantu untuk menemukan seseorang di waktu yang singkat.


Meski Alin dan Hanno sangat was was dengan kondisi ini, mereka berdua mendorongku berani namun tetap menjaga keselamatan diri. Harus selalu kirim nomor HP lelaki yang ditemui, lokasi dan foto kalau bisa. Ah aku merasa sedang bermain drama dalam keluarga. Namun mereka ada benarnya. Aku harus hati-hati, terlebih ini pengalamanku pertama kali menggunakan aplikasi kencan online.


"Tidak banyak kemajuan. Aku gagal dua kali. Akan mencoba kali ketiga. Jika masih gagal, aku akan mengambil jalan lain" jawabku.


"Tidak perlu khawatir my dear, jodohmu akan tiba. Mungkin sekarang saatnya having fun aja dulu" Alin berusaha menyemangatiku.


"Iya, atau tidak perlu dipaksakan harus tahun baru. Nikmati pelan-pelan aja percakapan dan pertemuan di tempat-tempat yang aman"saran Hanno sebagaimana seperti biasanya, pelan dan hati-hati.


Kami menyelesaikan makan malam bersama dan melanjutkan movie night. Ini budaya yang kusukai dari keluarga ini. Makan, nonton film, dan main game bersama. Aku ingin punya keluarga seperti ini juga nantinya. Manu sedang menginap di tempat neneknya jadi hanya kami bertiga. Film berakhir dan saatnya tidur.


Kuhempaskan badan di kasurku dan mengirimkan pesan pada Luky.


"Aku frustasi ingin punya pacar, jadi kuputuskan pakai aplikasi online. Aku sudah mencoba kencan dua kali, gagal. Berharap yang ketiga akan berhasil" Sent to Luky.


Lagi, pikiran tentang lelaki ini memenuhi otakku. Akan jauh lebih mudah jika bisa mengencaninya. Namun Luky sudah pernah menolakku. Dia bilang, tidak akan menyia-nyiakan persahabatan yang kami punya dengan bermain perasaan. Nanti akan sulit kembali seperti sedia kala.


Tahun Baru, mungkinkah Pacar Baru? Aku kembali meminta pada semesta. Bantu aku, biar aku melupakan rasa sakitku sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2