Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Lamaran Dari Jerman


__ADS_3

Kami berselancar di internet sampai larut malam. Bahkan Vavan memutuskan nginap di apartemen kami karena masih banyak yang kami kerjakan dengan ide kampanye Love is not Turism dan Love is Essential. Kami berhasil menghubungi orang-orang yang sudah memulai kampanye ini di Indonesia dan di negara lainnya.


Kami ikut menandatangani petisi di Change untuk menuntut diberikannya pengecualian bagi pasangan atau keluarga yang sedang terpisahkan oleh pandemi ini. Kami ikut menyebarkan petisi dan meminta jaringan serta orang-orang yang kami kenal untuk ikut menandatanganinya. Melakukan publikasi dalam bentuk material lainnya, poster, cerita dan sebagainya. Mungkin tidak banyak yang bisa kami lakukan, tetapi selalu layak mencoba sebuah harapan.


Luky menelpon dan menyatakan niatnya untuk melamarku, meski lewat online saat ini. Meski pembicaraan ini sudah pernah dibahas sebelumnya dengan keluarga kami masing-masing, namun belum ada acara resminya. Baginya yang paling penting adalah menyatakan komitmennya dengan serius pada hubungan kami ini. Sudah banyak air mata perjuangan selama perpisahan karena Corona ini. Kami menangis dan saling menguatkan, apalagi Bahasa cinta kami berdua adalah pyshical touch di mana semakin memperparah keadaan. Ini sungguh berat bagi kami karena ingin segera Bersatu.


“Lamar aku pada mentorku. Itu hal yang pertama yang butuh kamu lakukan, setelah itu, baru lamar aku pada ibuku” kataku padanya saat ia mengutarakan niatnya itu.


“Kenapa mentormu?” tanyanya.


“Aku pernah punya pengalaman sebelumnya di PHP-in lelaki dalam hidupku. Aku tantang ia untuk bicara dengan mentorku sebelum melamarku kepada keluargaku. Mentorku menunggu dan memberikan waktu, tetapi ia tidak pernah datang. Aku tinggal di perantauan dengan didampingi mentorku selama ini, orang yang telah merawatku seperti anaknya sendiri. Memenuhi kebutuhan pendidikanku dan mengirimku untuk berpetualang ke berbagai tempat di dunia. Orang yang lebih mengenalku melebihi keluargaku sendiri yang sedarah denganku. Orang yang selalu di sana, mendengarkan curhatan hatiku saat aku jatuh cinta atau kehilangan cinta” aku menjelaskan padanya bahwa posisi mentorku dalam hidupku sangat penting. Tanpa bantuannya di perantauan, mungkin aku tak akan mampu bertahan melalui kerasnya hidup di ibukota atau di luar negeri sekali pun.

__ADS_1


“Oke, tidak masalah bagiku. Aku akan melakukannya” Luky menjawab itu tanpa beban sama sekali.


Aku bangga dengan keseriusan Luky, ia yang tak bermain-main dengan kata-katanya. Aku ingat dulu, ada banyak temanku yang sering bilang, hati-hati pacaran dengan orang bule, karena mereka hanya ingin seksnya saja. Mereka tidak akan pernah serius, apalagi dengan bule Jerman. Kamu hati-hati lo, sama orang Jerman itu, mereka itu mudah banget mencampakkan kita, kata temanku suatu ketika. Mungkin sebelumnya, dia atau teman-teman lainnya pernah punya pengalaman dengan lelaki bule yang perilakunya sering mencampakkan perempuan Indonesia. Bagaimana pun bukankah tidak baik mengeneralisasi sesuatu, tidak adil rasanya bagi orang lain yang memperjuangkan hubungan dengan serius dan kemudian tidak mendapatkan kesempatan.


Hari yang telah dijanjikan tiba. Luky, aku dan mentorku melakukan video call. Luky memperkenalkan diri dengan baik dan menjelaskan maksud ia ingin melamarku jadi istrinya. Mentorku menyambut hangat dan mereka mengobrol layaknya teman lama yang baru bertemu. Aku terpana dengan percakapan yang mengalir di antara mereka.


“Apa yang membuatmu begitu yakin, kalau Vashla adalah orang yang tepat untukmu?” tanyanya pada Luky.


“Seperti yang Friedrich Nietzsche sampaikan, seorang filsuf Jerman, ia bilang bahwa nikahilah sahabatmu atau orang bikin kamu nyaman untuk diajak diskusi. Saya pikir kamu melakukan apa yang direkomendasikan oleh seorang filsuf dari negerimu itu. Saya melihat hubungan percintaan kalian memiliki dasar persahabatan yang kuat. Saya berpesan, jika kalian berdua sudah memutuskan untuk mengambil keputusan hidup bersama, membina rumah tangga, jangan lihat ke belakang. Buat keputusan dengan 100 persen keyakinan dan setelah itu melangkahlah ke depan. Ingat, cinta atau ****, ada masanya akan pudar. Namun rasa nyaman, kebersamaan dengan seorang sahabat baik yang selalu menemani sekaligus adalah pasangan kita sendiri, adalah harga yang mahal dari sebuah hubungan. Perjuangkan orang yang mampu memberikan kita rasa nyaman dan aman ini, karena hanya ada sedikit orang yang memiliki hubungan seperti ini” pesan yang akan selalu kami ingat.


Kami bertiga memiliki waktu yang begitu baik dengan berdiskusi bersama mentorku. Sekarang saatnya bagiku untuk membawa Luky bertemu ibu, kakak dan adikku. Luky akan melamarku pada mereka, hal ini karena aku juga sudah tidak punya ayah. Luky akan membawa orang tuanya untuk ikut meminangku. Dia sudah beberapa kali berbicara dengan keluargaku, tetapi sebelumnya bukan untuk lamaran resmi.

__ADS_1


Hari yang dijanjikan itu adalah hari ini. Ibu, kakak dan adikku berdesakan di layar Hp untuk bersiap menyambut lamaran Luky. Aku & Luky sekaligus menjadi penerjemah. Luky menjadi penerjemah dari Bahasa Jerman ke dalam Bahasa Inggris, karena salah satu bapaknya atau bapak tirinya Wilhem tidak bisa Bahasa Inggris. Sementara aku menerjemahkannya dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Aceh, bahasa yang dipakai sehari-hari oleh keluarga kami. Setelah perkenalan kedua belah pihak keluarga. Adikku mengajukan pertanyaan yang sudah kami duga sebelumnya.


"Kamu memilih masuk Islam, apakah karena cintamu pada kakakku atau karena memang kamu sendiri memilih menjadi muslim?" ia bertanya.


"Karena kakakmu. Aku mencintai kakakmu dan itu syarat yang diberikan keluargamu untuk kami hidup bersama. Aku hanya mengenal kakakmu, tidak mengenal Islam. Jadi untuk sekarang, karena kakakmu. Namun, aku sudah membuka hatiku untuk belajar lebih jauh tentang Islam, belajar mengenal Islam dan juga tradisi keluarga kalian. Semua butuh kulakukan pelan-pelan. Aku terlahir di keluarga yang tidak memiliki agama, berbeda dengan kalian yang dari kecil sudah menjadi muslim" Luky menjawab pertanyaan adikku.


Itulah hal yang benar. Ia mengenal Islam melaluiku, tidak pernah belajar sebelumnya tentang Islam. Tapi ia memiliki niat untuk belajar lebih jauh tentang Islam, hal itu telah membuat keluargaku dapat mengerti kondisinya. Karena memang pada dasarnya, ia tidak tahu apapun tentang menjadi seorang muslim. Tapi ia belajar pelan-pelan, belajar tentang syahadat, bagaimana orang muslim melakukan shalat, puasa dan sebagainya. Keluargaku menyambut Luky dengan hangat. Ibuku bahagia menerimanya sebagai calon suamiku.


"Selamat datang di keluarga" kata ibuku. Hal yang sama dikatakan keluarga Luky.


Luky belum menjadi muslim. Namun, bahagia melihat ibuku, kakakku dan adikku telah memberi restu pada hubungan kami. Proses syahadat akan dilakukan sebelum ijab kabul. Pertanyaannya kini, kapan kami semua dapat bertemu dan melangsungkan pernikahan kami ini. Indonesia dan Jerman masih belum membuka bordernya. Cinta kami terjebak di antara Corona, begitu pun dengan pernikahan kami yang terombang ambing di antara ketidakpastian regulasi selama pandemi ini.

__ADS_1


__ADS_2