Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Farewell Sementara


__ADS_3

Apa hal yang paling sulit di antara sebuah pertemuan? Bagiku adalah perpisahan di antara kerinduan yang belum sepenuhnya terobati. Saatnya bagi kami kembali ke negara masing-masing memenuhi panggilan keluarga. Menyiapkan pernikahan dan membina rumah tangga yang kami janjikan di hadapan mereka. Meski lamaran belum sepenuhnya resmi dilakukan, karena nanti akan dilakukan oleh Luky dan keluarga secara tatap muka.


Hati kami terasa begitu berat. Harus berangkat saat Corona masing berkeliaran di sekeliling kami. Apakah kami juga akan terjerat virus Corona ini saat berjuang menyiapkan pernikahan kami. Farewell party sudah kami umumkan. Estonesia team dan Estonia family sudah kami beritahu. 2 farewell party yang berdekatan waktunya. Memang kami buat terpisah biar kedua group ini punya waktunya masing-masing mengobrol dengan kami.


Estonia family yang pertama, dan farewell bukanlah di apartement kami melainkan di apartemen Alin. Menarik sekali karena Alin ingin aku memasak nasi goreng Indonesia di sana. Ia akan membuatkan Ayam goreng Estonia favoritku. Aku dan Luky tiba sebelum jam 7 malam. Alin sudah menyiapkan semua bahan masakan di kulkas. Jadi aku tinggal mengambilnya dan memulai persiapan masak.


"Apa aku perlu bantu?" tanya Luky di belakangku.


"Nggak usah, sana main sama Manu. Ini juga cuma sedikit" kataku.


Luky mengikuti kataku dan kemudian sibuk dengan layar TV bersama Manu. Hanno belum tiba di rumah. Aku dan Alin memulai aksi kami menyiapkan makanan. Aku memotong wortel dan buncis kecil-kecil, mengiris bawang merah, tomat, daun bawang, seledri dan beberapa potong keju kesukaan Alin. Lalu mulai menumis wortel dan buncis dengan sedikit margarin dan kemudian menyisihkannya. Berikutnya adalah bawang yang ditumis sampai warna kecoklatan dan meninggalkan keharuman di seluruh ruangan diikuti irisan tomat segar.


Masakan di rumah Alin tanpa cabe, tak lain karena Manu dan Hanno tidak bisa makan pedas sama sekali. Setelah tomat menyatu dengan bawang, kembali kutuangkan seluruh wortel, buncis, beserta daun bawang dan teman-temannya.


"Oh wow aromanya. Benar-benar harum. Seperti biasa nih chef kesayangan kita" Alin mengarahkan wajahnya ke wajan untuk menghirup aroma sayur yang ditumis dengan mentega itu.


Aku menuangkan garam, 2 butir telur dan kemudian potongan keju ke dalam sayuran yang sudah mulai matang itu. Mata Alin berbinar saat ia melihat potongan-potongan keju meleleh bersama sayuran dan telor.


"Aku tak lupa sama favoritmu ini. Di Indonesia, aku tidak pernah mencampurkannya dengan keju. Namun sejak tinggal di Estonia, nasi gorengku jadi bertambah resep baru" kataku. Alin terbahak mendengarnya.


Ia membalikkan potongan Ayam yang sudah berwarna kecoklatan di panci. Ayam crispy ini hanya digoreng dengan sedikit minyak Oliv dengan api kecil yang rata. Sebelumnya juga di Marinate dengan minyak olive dan bumbu cabe beserta beberapa rempah lainnya yang tidak pedas. Di waktu yang bersamaan semua sayur dan bumbu nasi gorengku sudah menyatu rata, saatnya menuangkan nasi dan mengaduk-aduk beberapa saat lagi. Sentuhan terakhir adalah taburan seledri dan daun bawang.


"I'm hungry" tiba-tiba Manu muncul di dapur.


"Eh eh sekarang banget? Tunggu dikit lagi ya" kataku sambil membelai kepalanya.

__ADS_1


Manu mengangguk tapi masih belum beranjak dari dekat wajan. Luky juga datang ke dapur dan kemudian memelukku dari belakang. Alin tersenyum bahagia ke arah kami.


"Tere!" oh suara Hanno pikirku. Alin langsung ke pintu menyambut suaminya, memeluk dan memberikan kecupan. Khas mereka setiap harinya.


"Sangat tepat waktu" sambutku juga.


"I know, kan memang tau waktu yang tepat untuk makan" balas Hanno.


"How are you Luky?" Tanya Hanno ke Luky.


"Sad, it's a farewell, but ya, happy too. Satu langkah menuju pernikahan kami " jawabnya.


Aku menuangkan seluruh nasi goreng yang sudah matang ke dalam Baskom besar dan meletakkannya di atas meja makan. Alin membalikkan ayam goreng terakhir dan tak lama ia juga meletakknya di atas meja. Luky menyusun piring makan beserta cutlery.


"Aku buka wine sekarang ya?" Luky sudah siap dengan botol wine.


"Susu untuk Manu ya?" Luky bertanya lagi.


"I will do it" jawab Alin cepat sambil membuka kulkas dan kemudian menuangkan susu ke dalam gelas Manu.


Kami duduk di meja dan mulai bersulang. Menyantap makanan dengan hangat kasih sayang di tengah perpisahan sementara yang akan kami jalani.


"Kira-kira berapa lama kalian di sana? Pasti kembali ke sini kan?" Tanya Hanno di sela-sela percakapan kami tentang betapa lezatnya makanan.


"Rencana sih paling 3 bulanan di Indonesia. Jadi bulan ini Luky kembali ke Jerman. Trus April bulan depan kita ketemu di Indonesia sekalian pesta pernikahan. Mungkin Juni atau Juli paling telat balik lagi ke Estonia" jelasku.

__ADS_1


"Wah pas summer. Seru! Jadi kita bisa liburan bersama sambil nge-camp atau hadiri festival bareng" sambut Alin bahagia.


"Iya, semoga Corona tidak memperparah situasi" tambah Luky.


"Semoga" jawabku.


"Vashla, kamu pakai baju apa waktu wedding nanti?" tanya Alin lagi.


"Kami berdua akan pakai baju adat Aceh. Karena rencana pestanya juga di rumah ibuku di Aceh, rencananya" jawabku.


"Nggak sabar melihat kalian berdua pakai baju pernikahan" Alin berbinar-binar sambil menepuk tangannya.


Usai makan, Alin mengeluarkan buah-buahan dan juga desert. Kami masih begitu bersemangat menghabiskan makanan penutup ini. Cerita demi cerita mengiringi penutupan farewell kami. Hangat dalam malam yang semakin merambat. Semua makanan ludes, tersisa beberapa coklat dan juga candy kesukaannya Manu.


"Siapa yang mau main board game?" Alin bertanya senang.


"Me! me!" kataku.


"Me! me! me!" Manu ikut menimpali.


Hanno dan Luky saling melihat dan mengangguk tersenyum. Alin memilih board game yang akan kita mainkan dan membentangkannya di hadapan kami di lantai. Kini kami berpindah dari ruang makan ke ruang TV. Tempat yang lebih luas dan leluasa untuk kami bergerak. Alin punya sofa yang besar. Sofa yang kadang juga kami jadikan area tempat tidur dan bisa dibuka lebih lebar. Hiasan lampu-lampu Natal dan tahun baru masih di ruang tamu. Terkadang ia memang membiarkannya berbulan-bulan.


Bunga dan beberapa ornamen lainnya ada di ruang ini. Kami duduk melantai bersama di atas selembar karpet yang tidak terlalu besar, tapi dapat memuat kami berlima. Permainan berlangsung seru sampai beberapa babak lamanya. Namun karena kami memang tidak berencana menginap di rumah mereka, kami harus berpamitan. Alin, Hanno dan Manu memeluk kami berdua.


"Segera kembali setelah pernikahan ya. We will miss you" kata Alin sambil mengantar kami ke halaman.

__ADS_1


Taxi telah tiba, kami melambai sekali lagi dan masuk ke dalam taxi yang membawa kami pulang. Aku menggenggam tangan Luky kuat-kuat. Ia membalasnya karena mengerti yang kurasakan. Excited, dan deg degan di waktu yang bersamaan. Tolong lancarkan perjalanan kami ke negara masing-masing dan juga pernikahan kami Tuhan, bisikku dalam hati.


__ADS_2