
Pemerintah memperpanjang PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Hal ini tak lain karena kasus Covid di Jakarta terus meningkat. Dengan perpanjangan PSBB tersebut, ditambah Indonesia yang masih menutup akses untuk warga asing, maka semakin kecil kemungkinan untukku dan Luky bertemu.
Orang asing yang boleh masuk ke Indonesia hanya mereka yang memiliki KITAS atau melakukan tugas negara. Ini berita tidak mengenakkan untukku dan untuk ratusan pasangan lainnya di Indonesia yang menjalin hubungan dengan orang asing. Setiap malam kami menelpon berjam-jam, lalu menangis menahan rindu. Batin tertekan dan tak pernah kurasakan rindu yang menyakitkan seperti ini. Saat hanya bisa memandangi layar, tak bisa menyentuhnya dan tak ada kepastian akan pertemuan kami.
"Apa kamu yakin, kita bisa bertahan?" tanyaku padanya.
"Kurasa kita bisa" jawabnya.
"Aku baca ada banyak pasangan yang kandas hubungannya selama pandemi" kataku lagi.
"Mungkin karena hubungan mereka tidak terlalu kuat. Siapa tahu, kita bisa melalui ini dengan baik" hiburnya.
Dia benar, siapa tahu kami dapat melaluinya. Aku kembali menangis, begitu ingin kupeluknya saat ini. Aku rindu, saat tangannya melingkar di tubuhku. Dapat kudengar jantungnya berdetak saat aku meletakkan kepalaku di sana. Dapat kuingat dengan baik cara ia menciumku dan memanjakanku dengan sentuhan jari-jarinya. Di atas tempat tidur, aku meringkuk, menangis sampai terlelap.
__ADS_1
Ketika pagi datang, seolah dapat kucium aroma kopi yang biasa dibuatnya untukku. Pancake strawberry di meja makan. Dia akan jalan ke kamar mengecup pipiku dan berkata sweetie, I make you coffee. Wake up. Aku akan bermalas-malasan bangun dengan mata setengah tertutup. Dia kemudian akan menciumi seluruh tubuhku sampai aku mau bangun dan duduk di tempat tidur. Ia akan mendekatkan gelas ke mulutku untuk menyeruput sedikit kopi dan kemudian punya semangat lebih untuk segera sarapan, mandi dan berangkat kerja.
Aku kembali membenamkan wajahku ke bantal dan menangis. Rasa rindu yang menyakitkan. Cerita ini hanya berlangsung di otakku saat ini. Bagaimana aku mengembalikan kepercayaan diri dan kepercayaan pada hubungan kami saat aku dirundung kekacauan karena ketidakpastian pertemuan ini.
Ini adalah weekend. Aku punya jadwal menelpon mentorku. Setelah satu jam lebih aku bermalas-malasan di kasur, kemudian bangkit dan membuatkan kopi. Bagaimana pun aku harus melalui hari-hari yang tidak mengenakkan ini. Kerja seperti orang gila, mungkin sedikit meringankan pikiranku ini. Demikian yang kupikirkan saat ini. Lari, tentu saja kuulangi.
"Aku sedang kacau. Tak pernah kupikir bahwa rindu bisa begitu menyakitkan saat tak dapat bertemu dan menyentuhnya secara langsung" kataku pada mentorku.
"Seberapa yakin kalau abang melihat Luky sebagai calon suamiku?" seharusnya pertanyaan ini untuk diriku sendiri, bukan untuknya.
"Abang tidak tahu, kita belum pernah bertemu. Hanya mengobrol sedikit via telpon melalui kamu. Satu hal yang abang percaya bahwa cinta akan menemukan jalannya untuk bertahan di segala kondisi. Jika cinta menjadi dasar perjuangan kalian bersama, maka cinta akan menunjukkan jalannya. Jangan lupa, ikatan persahabatan yang baik di antara kalian berdua juga menyumbang porsi yang besar dalam perjuangan cintamu" jawabnya lagi.
Kami mengobrol lama, tidak hanya membahas hubunganku, pekerjaan, dan urusan organisasi. Aku sadar, setelah mengobrol dengannya, seharusnya cinta memberikan kami kekuatan. Sudah saatnya mengembalikan kepercayaan pada hubungan ini. Kenapa aku harus ragu dan mempertanyakan ini semua.
__ADS_1
Aku jadi ingat, Law of Attraction, seharusnya hukum tarik menarik ini juga dapat bekerja kali ini. Bukankah sudah banyak mimpi atau pun keinginanku yang terpenuhi dari praktik law of attraction yang kulakukan. Benar, aku harus kembali melakukannya. Aku kembali ke kamarku setelah mengobrol dengan mentorku. Kata-katanya tentang cinta yang menunjukkan jalan, seharusnya menjadi jawaban dari perjuangan kami. Aku tahu Luky tidak diam di sana. Ia terus berusaha dan menunggu jawaban dari email-email yang dikirimkannya kepada pemerintahnya.
Aku mengambil buku diariku dan kembali kutuliskan surat kepada semesta. Kalau sebelumnya semesta punya cara menerbangkannya dari New Zealand, Swiss dan kemudian Jerman untuk bertemu denganku di Estonia, seharusnya pun sekarang demikian. Aku melayangkan permohonan kepada Tuhan, kepada semesta dan seluruh energi baik yang kupercayai. Dengan hati yang tulus, atas semua rasa cintaku pada semesta, planet ini, dan pada humanity aku berharap bantuan untuk hubungan kami berdua.
Terdengar seperti melakukan transaksi dengan Tuhan. Seolah kalau aku pernah mengerjakan hal-hal baik, maka menuntut untuk hal-hal baik pula yang seharusnya terjadi dalam hidupku. Aku membayangkan saat menuliskan permohonanku di langit Istanbul. Surat yang kutulis di pesawat tentang ciri-ciri lelaki yang kuinginkan. Semua ciri detail itu ada pada Luky. Setelah 3 tahun, ia terbang ke Estonia dan menjawab semua doa yang kutulis dalam surat.
Bagaimana aku mengosongkan rak lemariku waktu itu, demi menyambut seorang lelaki yang akan datang dan kupercaya di sanalah bajunya akan kami taruh. Hal-hal gila ini malah dulu kulakukan saat aku tidak punya bayangan siapa lelaki yang akan datang itu. Itu dia! aha! Lemari yang kukosongkan. Seolah memberi harapan yang memenuhi seluruh rongga dadaku. Ide itu muncul kembali. Aku berjalan ke lemariku dan menggeser pintunya ke kiri. Kuperhatikan baju-bajuku yang tersusun rapi. Penuh di semua rak yang ada di sana.
Bagaimana aku memiliki ruang untuknya, kalau aku tidak berusaha menyiapkan diri untuk menyambutnya. Kukosongkan sebagian bajuku dan saat itulah kuniatkan bahwa bajunya Luky akan berada di sana nantinya. Rak lemari yang kukosongkan ini akan menyambut bajunya. Beri ruang, beri ruang, beri ruang untuknya datang, kataku pada diriku sendiri. Sekaranglah saat mengembalikan seluruh kepercayaan diriku dan pada hubunganku. Semoga keajaiban akan datang. Luky dapat terbang ke Indonesia.
Apa lagi ya kira-kira hal lain yang butuh kulakukan. Aku harus bersikap siap dan seolah-olah Luky akan segera tiba. Oh aku tahu, baju pengantin. Aku harus membeli baju pernikahan kami. Aku berteriak senang pada diriku sendiri. Membuka HP, memilihkan baju pengantinku secara online. Pilihanku tertuju pada gaun putih sederhana yang memiliki beberapa bunga dari dada sampai bagian perut. Gaun putih tanpa lengan. Tak lupa kupilih kerudung panjang pengantin yang menjuntai ke bawah. Lalu sepatu pengantin warna putih yang serba penuh bunga. Semuanya warna putih, aku klik Check Out, membayarnya dan menunggu gaun pengantinku datang.
Aku menari bahagia, membayangkan bahwa kini aku telah siap menyambutnya. Memberi ruang di lemari untuk bajunya, di rak sepatu untuk sepatunya, dan membelikan baju pengantin. Keajaiban, kini datanglah, aku telah siap! kataku pada diri sendiri.
__ADS_1