
Ooh
All my bags are packed, I'm ready to go
I'm standing here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye
But the dawn is breaking, it's early morn
The taxi's waiting, he's blowin' his horn
Already I'm so lonesome I could die
So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
'Cause I'm leaving on a jet plane
Don't know when I'll be back again
Oh babe, I hate to go
Ooh
There's so many times I've let you down
So many times I've played around
I tell you now, they don't mean a thing
Every place I go, I'll think of you
Every song I sing, I'll sing for you
When I come back I'll wear your wedding ring
__ADS_1
So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
'Cause I'm leaving…
Aku sudah mengulang lirik ini berulang kali dari layar yang tertulis di TV kami. Bukan versi Karauke memang yang kuputar. Namun suaraku bercampur dengan suara penyanyi yang mengcover lagu legend ini. Lagu lama yang sering dinyanyikan oleh banyak orang di dunia saat farewell tiba. Luky tidak suka aku menyanyikan lagu ini. Namun, ia tidak protes serius. Sementara aku suka dengan lagu ini. Sudah menjadi kebiasaanku juga saat ada farewell untuk tidak absen dalam menyanyikannya.
Namun, kusadari satu hal setiap kali memandang wajah Luky. Ia bermuram durja sejak kembali dari rumah Alin. Katanya semakin dekat dengan perpisahan, semakin dalam kesedihan yang ia rasakan. Haruskah aku menghiburnya dan berhenti menyanyikan lagu kesukaanku ini.
"Apa kamu yakin kita mau berpisah?" ia kembali mengulang pertanyaan yang sama. Kulihat ragu di matanya.
"Kan kita bukan berpisah lama. Hanya sementara untuk bersatu selamanya dalam ikatan pernikahan kita" jawabku.
"Ya, tetap saja. Siapa yang tahu di tengah masa Corona seperti ini. Ada banyak pasangan yang terpisah dan belum bisa bertemu".
"Kita berdoa saja semoga membaik keadaannya dan kita segera bertemu di Indonesia. Aku tak sabar melihatmu di sana".
Kembali kuputar lirik Leaving on the Jet Plan dan bersiap bernyanyi.
Kini kulihat ia serius memintaku berhenti menyanyikannya. Sepertinya lagu ini memang begitu mengganggunya saat ini. Bettt....betttt.....bel di rumah kami berbunyi.
"°Estonesia team di sini" kataku sambil bergegas membukakan pintu untuk mereka.
"Heyyyyyyy....we are here!!" Mas Senar berteriak heboh.
"Masuk...masuk" kataku menyambut mereka.
Seperti biasa, lagi, mereka membawa makanan. Padahal aku sudah bilang kalau akan masak nasi Biryani malam ini untuk mereka.
"Nasi Biryani untuk makan malam aja ya. Sebelum itu Luky akan membuatkan kita pancake sebagai pembuka" kataku bersemangat.
"Haha langsung disambut makanan berat sebelum makanan berat" Mbak Dina ikut menimpali sambil tertawa.
"Halah, biasanya juga hajar bakso, trus sambung nasi, trus sambung makanan berat lainnya" lanjut Mas Senar. Kami kembali tertawa karena itu memang benar. Perut karet kami pemakan segalanya.
"Sambil nunggu pancake kita mulai karauke ya" kataku sambil melirik wajah-wajah bahagia di depanku.
__ADS_1
"Yuk! Aku yang pertama" Alif langsung bergegas duduk di sofa dan membuka Ipadnya. Ia sudah siap dengan list lagu seperti biasanya.
"Alright, party segera dimulai guys" Mas Senar menggoyang-goyangkan perut dan pantatnya.
Luky hanya tertawa melihat tingkah kami. Ia meracik minuman untuk kami semua sebelum memasak pancake. Cocktail pembuka untuk kami semua. Lagu terus berganti, dari sendu sampai yang heboh dangdut riang, berseling rap, pop, lagu lama, lagu baru pokoknya lengkap. Di antara lagu tersebut ternyata ada lagu yang menyedihkan bagi Luky, lagu, leaving on the jet plan ada di list, aku sudah membayangkan ekspresinya.
"....Every place I go, I'll think of you
Every song I sing, I'll sing for you
When I come back I'll wear your wedding ring..." aku melihat Luky lekat-lekat saat menyanyikan lirik ini.
Terlihat jelas, ia makin menyimpan kesedihan. Aku tidak menyadari sebelumnya kalau perpisahan sementara yang kami rencanakan membuatnya begitu sedih. Aku bertanya-tanya, apa ia menyimpan hal lainnya. Atau ia masih bersama firasat yang pernah diceritakannya, bahwa ia memang tidak merasa baik dengan kondisi yang terjadi saat ini. Luky serius memikirkan COVID-19, ia takut kami akan berujung seperti banyak pasangan lainnya di dunia. Aku berjalan ke arahnya dan berusaha menyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
"I love you dan aku tahu kita akan bersama, selamanya" aku mengecup bibirnya. Ia membalasku dengan lembut.
Cocktail dan pancake ludes sudah. Perut kami menyambet dengan cepat. Sekarang saatnya aku melanjutkan memasak nasi biryani. Kuminta yang lain meneruskan karauke. Aku dan Luky menyiapkan Biryani yang sebenarnya cukup sederhana. Potongan daging ayam sebelumnya sudah kami tumis dalam bumbu khusus khas India. Berikutnya kami panaskan kembali. Di waktu yang bersamaan, kami panaskan minyak di wajan lain, lalu menuangkan Bawang sampai kemudian aroma wanginya memenuhi ruangan.
Tahap berikutnya adalah menuangkan bumbu Biryani yang kami beli di Toko Asia di area Telliskivi dekat kantorku. Enaknya, karena semua bumbu adalah asli dan sudah di pack bagus jadi tidak perlu menambah banyak. Hanya bawang, garam dan beberapa rempah termasuk cabe jika merasa masih kurang. Namun, tanpa tambahan pun sebenarnya udah enak, asal tidak lupa pakai garam.
"Wahhhhh wangi sekali aroma Biryaninya" Mbak Melly berkomentar sambil tak berhenti berjoged. Kali ini mereka kembali mengulang lagi Siti Badriyah yang berjudul Aku Syantik.
"Sabar ya, bentar lagi kita lanjut ronde berikutnya" kataku.
Semua bumbu sudah matang, nasi siap dituang dan kemudian diaduk hingga merata. Berikutnya kutuangkan daging ayam yang kami tumis sebelumnya dengan bumbu spesial dan kembali kuaduk rata. Aroma Biryani dan campuran daging ayam menyatu sungguh menggoda perut. Kini semuanya sudah matang. Kami kembali menghidangkannya di atas meja.
Aku tidak tahu sebenarnya cara memasak nasi biryani yang tepat. Aku mencoba 2 cara. Terkadang menuangkan bumbu ke dalam beras yang akan di tanak, dan kemudian nasi matang menyatu dengan bumbu. Cara kedua memasaknya ala-ala nasi goreng. Aku suka keduanya, begitu pun Estonesia team.
"Yuk, ronde kedua!" seruku.
Mereka langsung bergegas berhenti karauke dan melingkar di meja makan. Tawa memenuhi ruangan makan kami. Meski salah satu di antara kami sedang digantungi awan hitam kesedihan, Luky. Kami menutup farewell dengan bernyanyi lagu paling terkenal se-tanah air. Selalu dinyanyikan di malam penutup karauke atau malam terakhir event-event.
"...kemesraan ini, janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini ingin kukenang selalu. Hatiku damai bila kau ada di sampingku..."
Semua saling memeluk sebelum mengatakan selamat tinggal pada kami.
"Ingat jangan lama-lama di sana usai wedding. Balik ke sini trus. Oke oke?" Mas Senar mewanti-wanti.
"Iya iya summer rencana di sini kok" jawabku.
__ADS_1
Sepi, rumah kami kini hanya ada kami dan rasa sepi di hati. Lebih tepatnya rasa takut dan gelisah yang menghampiri. Karena tinggal dalam hitungan jam, kami akan saling melepaskan tangan di bandara. Duhai malam, rasanya aku ingin berlangsung panjang. Aku memeluk lelakiku, begitu erat.