Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Corona & Batalnya Penerbangan


__ADS_3

Aku membunuh waktu di bandara Istanbul sambil membaca, menulis dan mengerjakan tugas-tugas lainnya. Tersisa beberapa jam penerbanganku ke Jakarta. Aku bangun beberapa kali mengecek pengumuman gate check in untuk penerbangan berikutnya, yang masih belum keluar. Biasanya 2 jam atau 1.5 jam sebelum terbang, aku akan berjalan mencari-cari gatenya.


Bandara ini besar, untuk mencari gate akan butuh waktu dan harus berjalan lumayan jauh. Aku akan memilih menunggu atau nongkrong di waiting room dari pada jauh-jauh. Pengalaman telah mengajarkan aku bagaimana terlambat atau tertinggal pesawat itu, sesak rasanya. Aku mendengar pengumuman beberapa kali. Penerbangan ke China, Korea Selatan, Iran, Italia dan beberapa negara lainnya dihentikan. Di semua papan informasi juga keterangan canceled di mana-mana.


"I don't know what to do now" kata perempuan muda yang berdiri beberapa meter dari tempatku duduk.


Panik dan sedih terbaca di wajahnya. Beberapa orang lainnya di pojok sana juga menunjukkan ekspresi yang sama. Aku sudah menebak ini akan terjadi. Dari berita yang sebelumnya sempat kubahas bersama Luky, banyak bandara ditutup karena kasus Covid-19 parah di negara tersebut. Kini, kusaksikan sendiri dunia semrawut ini.


Aku tidak tahu bagaimana nasib mereka yang terjebak di sini. Sebagian mereka mungkin ingin pulang ke rumah, bertemu keluarga, atau mungkin pergi bekerja ke negara lain dan tak dapat melanjutkan perjalanan. Tak ada kepastian, berapa lama mereka harus menunggu di sini dan harus melakukan apa ketika akses mereka tertutup.


Seorang perempuan paruh baya duduk di meja sampingku dan kemudian meletakkan kopi di atas mejanya. Kulihat dia menekan jari-jarinya di layar HP. Ada panik dan keresahan dari bahasa tubuhnya. Kutebak, ia salah satu yang mungkin penerbangannya dibatalkan. Perempuan ini memiliki kulit gelap, lebih gelap dari kulitku. Berambut keriting dengan postur tubuh yang juga berisi, mirip denganku. Kutebak lagi, sepertinya berasal dari tanah Afrika.


Ia menyeruput kopinya dan kuperhatikan warna mukanya semakin berubah. Ada mendung di sana dan benar saja, tak lama, air matanya mengalir dan kemudian ia menyekanya. Namun berikutnya semakin berduyun di pipinya. Tak sanggup kutahan diriku lagi, kuputuskan untuk menyapanya.


"Are you okay?" aku mencondongkan badanku ke arahnya, meski masih menjaga jarak. Ingin kuulurkan tissue, tetapi aku tidak ingin bersikap seperti orang yang melarang air matanya keluar. Kubiarkan, hanya menunjuk rasa simpatiku.


"Aku tidak bertemu suamiku sudah hampir dua tahun. Sekarang, ketika aku punya kesempatan untuk menyusulnya, malah penerbanganku di cancel. Aku sangat merindukannya" ceritanya padaku.

__ADS_1


Kuraba hatiku, ada perih di sana. Aku paham rasa rindu yang dibicarakannya. Namun rasa rindu yang menggunung selama hampir dua tahun, pasti cobaan yang berat baginya.


"Kami tidak punya cukup uang sebelumnya untuk hidup bersama. Makanya aku menyusul saat ekonomi keluarga kami sudah membaik. Aku sangat merindukannya dan tak sabar ingin hidup dengannya segera" ia melanjutkan.


Mataku berkaca-kaca, kutahan emosiku kuat-kuat. Kisahnya, tentu tak mudah. Sebagai seseorang yang hidupnya sering merantau dan kemudian kekurangan uang di perantauan, harus berpisah lama dari keluarga, aku paham kondisi ini.


"I'm so sorry to hear this. I hope, they will open the border soon" harapku padanya.


"I hope so" katanya sambil kembali menyeka air matanya.


Aku hadir mendengarkan ceritanya. Meskipun tidak ada yang bisa kulakukan. Aku paham, sebagai perempuan atau bahkan yang bukan perempuan, ada saatnya yang kita butuhkan hanyalah tempat bercerita. Ia memberikanku sebuah senyuman tulus setelah menyelesaikan ceritanya. Ketulusan yang dapat kurasakan sampai ke ulu hatiku. Kita adalah dua orang asing, namun bukankah cinta itu sendiri tidak mengenal kata asing? Dia hadir untuk siapa saja dan memberi ruang yang sama untuk kita semua merayakannya.


Kuputuskan untuk pindah ke cafe lainnya. Mencari-cari yang nyaman, makanannya enak juga wifinya bagus. Banyak memang pilihannya, aku belajar dari pengalaman sebelumnya. Daripada langsung memesan dan duduk, mending cek dulu ke pelayannya. Aku berdiri di depan sebuah cafe. Menimang-nimang, yang mana yang akan aku cek, sampai sebuah suara memanggil namaku.


"Vashla! Is that you?" suara laki-laki. Tetapi siapa yang mengenalku di sini.


"Saad!" aku berteriak dengan mata membelalak.

__ADS_1


Tidak mungkin, apa ini suatu kebetulan lagi atau bagaimana. Bertemu seseorang yang tahun lalu kutemui di bandara yang sama, di sini. Tepat di hari ulang tahunku waktu itu. Lelaki Aljazair, yang darinya kupinjamkan hotspot internet juga. Bagaimana skenario ini terulang. Aku takjub melihat semesta bekerja.


"Mudah mengenalimu. Apalagi kamu tak bermasker" katanya.


"Iya, kamu juga kalau nggak buka masker, aku nggak tahu kalau itu kamu" jawabku.


"Kamu nggak kedapetan masker pasti!" tebakan Saad tepat sekali.


"Iya, pas mau ke bandara, supermarket dekat tempat tinggalku kosong semua. Orang-orang berebut makanan, toilet paper, handsanitizer dan masker" jelasku padanya.


"Tell me, bagaimana ini bisa terjadi? what are you doing here?" aku bertanya lagi. Saad tertawa melihat ekspresiku.


"Yuk duduk di restaurant sebelah sana, sambil makan. On me, don't worry" katanya sambil tertawa lagi.


Saad ramah dan bibirnya selalu penuh senyum saat bicara. Meski tahun lalu adalah tahun pertama kami bertemu di bandara ini. Setelah itu kami menjadi teman. Saad sering chat dan terkadang menelpon. Aku ingat hari bertemu dengannya. Itu adalah hari di mana aku sedang mengobati hatiku yang patah setelah diputuskan K. Aku meninggalkan Estonia dan terbang ke Indonesia di hari ulang tahunku.


Apa yang lebih menyedihkan, duduk di bandara, sendirian di antara keramaian. Hati terluka dan air mata belum sepenuhnya reda karena sesekali masih saja keluar dengan kenangan-kenangan yang terus berulang dalam kepala. Aku menulis surat untuk diriku sendiri, lalu menulis kepada semesta juga. Di tengah hatiku yang terluka seperti ini, paling tidak, bantu aku menemukan seseorang yang mau merayakan hari ulang tahun bersamaku di bandara ini.

__ADS_1


Dua minuman, Cappucino dan Es Coklat yang kupesan dari cafe yang sengaja kupilih beserta cake kecil. Kuletakkan di atas meja dan kemudian kupandanginya, siapa yang mau bersulang untukku di hari spesialku ini. Saat itulah, mataku tertuju pada seorang lelaki yang duduk seorang diri di sudut cafe.


__ADS_2