Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Panggilan Keluarga


__ADS_3

Keluarga, kisahmu tak akan terpisahkan dari mereka. Begitu pun kisah kami yang kemudian menuntut segala pemberitahuan dan terjadinya shock culture pada kedua belah pihak keluarga.


"Dad mau ajak kamu bicara" kata Luky yang berniat menunggu jawabanku. Aku tahu, ia ingin sekali aku berbicara dengan ayahnya. Ini bukan omongan pertama kami. Sebelumnya ia sudah menanyakan pertanyaan ini, apakah aku mau menerima telpon dari ayahnya.


"Mhmmm....aku nervous" Ini jawaban yang sama yang pernah kuberikan padanya.


"Dad tidak akan menginterograsimu. Dia hanya ingin mengenalmu lebih jauh. Sebab setiap aku menelponnya, aku selalu membicarakan tentangmu" jelas Luky.


"Apa nggak terlalu cepat?" Sesungguhnya akulah yang tidak siap. Khawatir, aku ini muslim, hubunganku dengan pria Barat sebelumnya kandas karena ditolak keluarga mereka. Dituduh ******* oleh keluarga K, mantanku.


"Aku tahu yang kamu pikirkan. Keluargaku berbeda, mereka open-minded, terutama ayahku. Jadi jangan khawatir" ia mencoba menenangkanku.


Seperti bisa membaca isi kepalaku. Luky berharap kali ini aku luluh dan dapat memulai obrolan ini dengan keluarganya. Baginya, adalah hal yang begitu penting memperkenalkanku kepada keluarganya terutama ayahnya.


"Semenjak hubungan kita menjadi kekasih, kamu telah menjadi topik utama dalam setiap diskusiku bersama keluargaku. Jadi aku berharap topik utama yang selama ini kubicarakan muncul dalam kehidupan nyata mereka".


"Kapan Dad akan telpon?" Aku luluh akhirnya.


"Besok, kami berencana telponan, jadi di waktu yang bersamaan, aku dapat memberikan kesempatan kalian berdua mengobrol".

__ADS_1


"Oke," jawabku singkat.


Kuraba hatiku. Di sanalah deru dentuman yang baru mulai bergerilya. Apa aku akan diterima dengan baik. Mungkin tidak akan jadi persoalan untukku kalaupun tidak diterima.Tapi tidak demikian dengan Luky. Kupikir, ini akan berimbas padanya. Hubungannya dengan ayahnya dekat. Luky memiliki dua orang ayah, tiri dan kandung. Keduanya dekat dengannya. Ayah yang ingin berbicara denganku adalah ayah kandungnya. Aku tahu betul, Luky punya jiwa pembangkang di tengah kasih sayang yang juga kuat untuk keluarganya.


Serasa malam menjadi begitu singkat sampai pagi datang menunggu telponnya berdering. Lari, sudah kepalang. Aku juga bukan orang yang sudah bilang ya, lalu kemudian tidak melakukannya. Luky tersenyum ke arahku saat ia menyerahkan telpon genggamnya. Oh inilah saatnya, pikirku. Hadapi ini dengan berani, bisikku pada diri sendiri di antara dentuman jantungku.


"Hey Vashla, how are you?" Suara di seberang sana ceria menyapaku.


"Hi dad, I'm good. How about you?" balasku masih ragu-ragu.


Tak lama setelah saling sapa dan berbicara tentang cuaca, percakapan kami mengalir apa adanya. Dari diskusi ringan menuju diskusi-diskusi berat. Tak terlepas situasi Corona dan politik yang terjadi. Kekhawatiranku luruh satu persatu sepanjang telpon kami. Obrolan pelan-pelan mencair dari awalnya kaku. Setidaknya aku yang kaku dalam memulainya. Ia bercerita dengan bangga, tentang Luky dan petualangan-petualangannya di banyak negara. Ia juga menceritakan tentang kehidupannya, istrinya dan aktivitas mereka berdua dalam keseharian mereka.


Kata-kata itu membuatku tertegun sebentar. Tidak tahu harus berkata. Aku bahagia, namun juga tahu ini menuju sebuah komitmen besar dalam hubungan kami. Karena kini, bukan hanya kami berdua, tapi keluarga. Aku jenis orang yang menaruh hormat pada keluarga. Buatku, se-mandiri apapun aku dalam setiap keputusan yang kubuat, akan ada selalu harga yang harus dibayar oleh keluarga. Baik itu harga dari lepasnya mereka atau terlibatnya mereka.


Percakapan dengan bapaknya Luky ternyata menjadi pembuka awal panggilan keluarga. Siapa sangka, hari-hari berikutnya dalam hubungan kami dipenuhi telpon dari dua keluarga. Baik dari keluarganya atau keluargaku. Kami bergantian mengobrol. Setiap keluargaku yang telpon, maka Luky standby begitu ada banyak pertanyaan yang datang. Ia menjawab dengan tulus. Meski pun obrolan ini berlangsung lama karena aku harus selalu menerjemahkannya.


Berbeda dengan telpon dari keluarga Luky, yang orang tuanya dapat berbahasa Inggris. Jauh lebih mudah karena setiap pertanyaan tak perlu perantara. Kecuali ketika mengobrol dengan bapak tirinya yang sedikit terbata-bata. Ia juga selalu di sana, membantuku menjadi penerjemah. Karena bapak tirinya tidak lancar Bahasa Inggris. Setelah beberapa kali proses panggilan telpon keluarga ini, kami merasa hubungan ini begitu cepat. Diskusi tentang pernikahan datang, hari demi hari makin rutin dan detail. Aku terperanjat dengan proses kami sendiri.


Baru bulan lalu memutuskan bersama, kini kami menuju ke tahap hubungan berikutnya. Tak tanggung-tanggung, pernikahan. Kedua keluarga memberikan restunya. Kecuali ibuku yang memberi restu dengan syarat. Aku hanya boleh menikah dengan lelaki muslim.

__ADS_1


"Aku mau jadi muslim, kalau memang itu jalannya". Luky memandangku serius saat mengutarakan ini. Nafasku tertahan, atas pernyataan yang tidak mudah ini.


"Apa kamu sudah memikirkan matang-matang? Kamu tahu akan ada harga yang harus kamu bayar baik dari sisi keluargamu dan dirimu sendiri dengan mengikuti agama keluargaku".


"Aku sudah memutuskannya," lanjutnya lagi.


"Tapi kita kan belum membicarakan ini dengan keluargamu. Meski aku tahu pihak keluargaku memulai diskusi agama ini sebelumnya. Baiknya pikirkan matang-matang". Aku berusaha untuk tidak mendorongnya buru-buru dalam mengambil keputusan.


Panggilan telpon dari keluarganya telah membuka diskusi kita tentang pengalaman-pengalaman hidup, terutama tentang pekerjaan, organisasi dan budaya. Namun panggilan telpon dari keluargaku telah meninggalkan ruang diskusi yang besar terkait budaya dan terutama agama. Luky dan keluarganya memilih untuk tidak memiliki agama. Ia pun diberikan kebebasan penuh dalam beragama maupun tidak beragama. Keluarganya sangat terbuka, menerima dia serta keputusan-keputusan yang dibuatnya. Walaupun begitu, bagiku tetaplah penting baginya untuk mendiskusikannya dulu dengan keluarga sebelum ia membuat keputusan.


Luky mengikuti saranku, ia mulai mendiskusikan ini dengan ayahnya. Selanjutnya, sebagaimana tebakanku, tentu jalan ini bukanlah jalan yang diputuskan gesa-gesa. Ayahnya ingin tahu lebih lanjut, apa yang terjadi dengan Luky. Ayahnya ingin mengerti mengapa cinta baru bisa bersama setelah terjadi persatuan agama. Ia ingin tahu, apakah ini sebuah paksaan, keharusan atau bagaimana.


"Kamu bilang bahwa kamu adalah perempuan yang mandiri, yang dapat mengambil keputusan atas hidupmu sendiri. Meminjam kata-kata mandirimu, seharusnya kamu dan Luky juga mandiri dalam memutuskan berhubungan tanpa perlu adanya atau keharusan beragama. Coba jelaskan apa yang terjadi". Ayahnya memintaku memberikan penjelasan lebih jauh terkait hal ini.


"Aku memang perempuan mandiri ketika itu dikaitkan dengan pekerjaan dan beberapa hal lainnya. Namun berbicara tentang keluarga, ada konsekuensi yang selalu harus kupertimbangkan. Termasuk dalam hal ini urusan agama ketika kami akan menikah. Ini bukan perkara mudah, ketika berbenturan dengan hukum dan norma yang mengatur dalam kehidupan masyarakat kami. Terutama di tempat di mana aku berasal". Aku mulai menjelaskan pelan-pelan.


"Saya ingin kalian berdua mengambil keputusan secara mandiri. Memutuskan sesuatu karena kalian memang menginginkannya bukan karena keinginan ibumu atau keluargamu yang lain," pesan ayahnya.


Pesan yang sangat dapat dimengerti. Meninggalkan diskusi di antara kami. Bukan hanya dengan keluarga Luky, namun juga di antara kami berdua. Di antara panggilan telpon keluarga yang terus menerus kami terima, ada panggilan hati kami masing-masing yang harus kami dengarkan juga.

__ADS_1


__ADS_2