
Vavan tiba di Jakarta, beberapa hari setelah curhatan panjangku via telpon. Dia sudah kenyang mendengarnya. Tetapi aku tahu, dia tidak akan keberatan jika aku mengulangnya terus menerus. Kami memutuskan bertemu di salah satu Café di Jakarta Selatan, tempat di mana kami sering bertemu.
“Tumben nggak ketemu di Ayam Gepuk” katanya mendekat dan memelukku saat tiba di café.
“Aku sedang tidak ingin makan Gepuk!” kataku.
Vavan membelalakkan matanya.
“Sejak kapan? Lo nggak nafsu makan Gepuk?” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dia seolah ingin menemukan sesuatu di sana, mencari jawaban yang hilang.
“Sejak putus!” jawabku ketus.
“Mhmm…ini serius banget berarti. Anything I can do?” tanyanya menunggu.
Kulihat ekspresi wajahnya dari dekat. Kedua alisnya yang tebal saling bertaut, jelas ia menunggu jawaban. Kuperhatikan wajah putih bersihnya, Vavan tampan, gumamku pada diri sendiri. Wake up Vashla, apakah itu penting saat ini. Dia temanmu, yang akan selalu ada mendengarkan dan membantumu.
“Jadilah pacarku!” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
“Wait, what?” ia terkejut dengan apa yang baru saja Ia dengar.
“Iya, jadilah pacarku” aku mengulangi kata-kataku.
__ADS_1
Ia terdiam, mungkin masih meraba-raba setiap jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan sendiri di benaknya. Aku paham, pasti sulit baginya memahami kondisiku saat ini. Meminta sesuatu yang tidak pernah ia duga. Sebenarnya, aku juga membuat shock tubuhku sendiri. Dari mana ide gila ini muncul? Selama ini aku sangat menjaga persahabatanku dengan Vavan. Kasih sayang yang diberikannya untukku berarti besar. Memintanya menjadi pacarku, terasa seperti mengkhianati persahabatan suci kami. Karena jika ini terjadi, pasti akan mencemari apa yang selama ini telah kami bangun Bersama.
Aku tahu, aku dan dia pasti tidak setuju jika persahabatan kami bersarang di antara nafsu dan ego sesaatku ini. Hanya karena aku sedang rapuh dan terluka. Kutemukan alasan lainnya, aku sedang takut. Aku takut menghadapi Lukaku sendirian, makanya aku menyeret orang lain ke dalam perkaraku. Di titik ini, kulihat jelas kelemahan yang kumiliki.
“Kenapa sih lo butuh pelarian? Kenapa nggak ngadepin aja?” tanyanya setelah beberapa saat terdiam.
Jelas dia tahu maksudku, menjadikannya pelarian semata. Aku merasa seperti seorang pengkhianat yang menggunakan teman dekat untuk berpura-pura menghadapi kenyataan ini Bersamaku. Namun, di satu sisi, aku juga ingin jujur. Aku ingin membuka hatiku pada Vavan untuk memasuki dimensi hubungan yang berbeda. Oh benarkah itu? Jujur? Aku sedang berbohong, ah entahlah, aku tidak tahu.
“Bagaimana kalau kita mencobanya?” aku tidak menjawab pertanyaannya, malah menambah pertanyaan yang baru.
Luky selalu mengingatkanku bahwa tidak sopan, menjawab pertanyaan dengan mengajukan pertanyaan. Ah Luky, bahkan hanya dengan mengingatnya, darahku berdesir marah dan rindu. Bagaimana ini, kenapa begitu sulit, bahkan saat aku bersama Vavan. Teman dekat yang kupilih untuk mencoba sesuatu yang baru dalam hubungan kami.
“Kalau gua nggak mau?” Vavan juga membalas pertanyaanku lagi.
"Vashla...Vashla, lo nggak tau caranya nyerah ketika lo menginginkan sesuatu".
Kulihat Vavan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia terdiam Kembali beberapa saat. Aku menarik badanku dan bersender di kursi. Memandanginya dengan perasaan yang campur aduk saat ini. Vavan menolakku, haruskah kucari yang baru. Lelaki pelarianku, aku pasti sudah gila saat ini.
“Dalam hidup, kadang kita harus menghadapi apa yang terjadi dengan hati yang berani. Kandasnya hubungan saat ini adalah jalan baru untuk menguatkan diri. Belajar dan jangan selalu mencari jawaban pada Tuhan atas apa yang terjadi. Terkadang, menerima kejadian seperti apa adanya, adalah jalan kemerdekaan itu sendiri” Vavan menyampaikan sesuatu yang belum pernah kudengar.
Apa yang terjadi di sini, kenapa tiba-tiba ia menjadi begitu bijak? Apakah pulang ke kampung halaman beberapa waktu telah mengubah dia dan cara berpikirnya? Dewasa sekali, dan bijak. Tetapi bukan ini yang mau kudengar saat ini. Egoku menuntut ia untuk setuju pada ajakanku, untuk mengkhianati hatiku sendiri yang terus memanggil nama Luky. Aku tahu, tidak adil bagi Vavan sama sekali. Tetapi aku penasaran, pada apa yang akan terjadi jika aku membuat keputusan ini.
__ADS_1
“Aku mau jawaban” kataku lagi. Menuntut penjelasan lebih jauh, apa sebenarnya keputusannya. Ia menolakku atau setuju, aku belum bisa menebak jalan pikirannya.
“Oke, gua mau mencoba. Gua tahu ini akan aneh untuk kita berdua, karena kita tidak merencanakan ini. Tapi ingat! Bagaimana kalau pada akhirnya kita akan benar-benar menaruh hati pada satu sama lainnya, melebihi batas persahabatan kita sendiri? Yang artinya, apa yang kita lakukan saat ini, bukan hanya sekedar jalan pelarian, tetapi akan ada harga yang harus kita bayar di masa depan”.
Kalimat-kalimatnya menusuk-nusuk hatiku. Vavan, telah tumbuh dewasa, aku tidak memperhatikan sisi dia yang ini selama ini. Dalam nafas yang berat, aku kembali mendekat padanya.
“Aku akan mengambil apapun harga yang harus kubayar?” kataku tanpa berpikir panjang.
“Lo yakin? Ini harga persahabatan yang lo pertaruhkan. Bukan setahun dua tahun, kita bersama sebagai sahabat. Genk Gepuk terbentuk dengan cinta. Jangan sampai ego sementara menghancurkan apa yang telah kita bina” katanya lagi.
Glek! Aku terjerembab ke dalam kata-katanya. Pelan-pelan kurasakan, jalan yang tidak mudah ini seperti menjadi beban baru. Ah kupikirkan nanti, aku tidak mau mundur dengan kata-kata yang sudah terlanjur kuungkapkan ini.
Itu adalah hari yang berat sekaligus melegakan. Aku mencium bibir Vavan untuk pertama kalinya. Kungenggam erat tangannya dan kudekap tubuhnya saat kami berpisah. Ada rasa menang di hatiku, tetapi juga rasa kalah di sana karena telah menuruti egoku.
Kulihat kerlip lampu jalanan Jakarta seperti biasa. Aku terjebak di antara macet di berbagai persimpangan dan lampu merah menuju apartemenku. Kulayangkan pesan pada Tania, bahwa aku akan tiba di rumah segera.
Jakarta, kota yang keras untukku, tetapi juga kota yang menghadiahiku berbagai pengalaman hidup. Persahabatan yang indah, carut marut percintaan, rasa frustasi dan putus asa, namun juga selalu diiringi harapan-harapan yang baru.
Kulayangkan pesan untuk Mauli dan juga Livi. Aku ingin bercerita pada mereka, tentang apa yang baru saja terjadi. Tetapi tidak malam ini, aku terlalu Lelah. Besok, adalah hariku bercerita dengan Genk Gepukku. Terbersit Kembali rindu pada mereka. Malam-malam kita tertawa, makan Gepuk, minum teh sambil curhat, olahraga di taman sambil genit-genit pada cowok-cowok di sana. Persahabatan yang indah dan menghangatkan. Tinggal di kota sebesar Jakarta, tanpa teman-teman yang dekat dan tulus, rasanya berat.
“Mau masuk ke dalam area apartement atau di luar gerbang saja mbak?”’ suara sopir taxi online menyadarkan lamunanku.
__ADS_1
“Masuk saja pak” perintahku.
Gedung-gedung menjulang. Tower apartemenku berada di pojok. Saatnya beristirahat setelah drama Panjang hari ini.