
Kami berjalan beberapa ratus meter dari taman. Tempat berikutnya yang kami tuju adalah Shopping Center. Ini salah satu mall yang cukup besar di Kota Tallinn. Ukurannya memang jauh berbeda dibandingkan mall-mall di Jakarta yang lebih besar dan lebih tinggi bangunannya. Ada alasan kenapa tempat berikutnya adalah mall ini. Di sinilah aku pernah memiliki sebuah kenangan indah bersama K. Dulu, saat menonton film, melihat adegan bagaimana pasangan saling menunggu di bawah salju, lalu kemudian memeluk melepaskan rindu setelah sekian lama tak berjumpa, itulah salah satu angan-anganku. Aku ingin memiliki cerita itu dalam hubunganku. Aku pernah berada di scene itu.
Dapat kuingat, setelah lebih dari 6 bulan tidak bertemu K, dia yang saat itu sedang wajib militer dan memang jarang bisa keluar. Ditambah kondisiku yang tinggal di Indonesia dan hanya bisa ke Estonia 6 bulan sekali. Sempat menahan rindu yang begitu panjang, hingga hari kami bertemu tiba. Aku tak lagi dapat berkonsentrasi pada meetingku hari itu. Karena hati sudah ditabuh rindu yang menggebu. K mengirim pesan bahwa ia menungguku di depan Solaris Center, nama mall di Tallinn itu. Hanya berjarak sekitar 350 meter dari kantorku.
Dapat kuingat saat hatiku bernyanyi dalam lift, turun gedung dan keluar ke jalan melangkah di antara butiran salju. Rasanya lampu merah yang kutunggu berlangsung lama sampai hijau tiba. Bibirku terus tersenyum, merekah indah membelah langit Tallinn. Langkah demi langkah terasa lamban, berjalan melewati beberapa bar dan gedung-gedung tua. Lurus menyusuri jalan yang dilalui orang-orang, mobil, bus dan bahkan sepeda di musim winter.
Dari jarak 100 meter dapat kulihat lelaki berseragam tentara, gagah berdiri di depan mall, tepat lurus di pintu masuk. Namun dia tidak memilih berada di bawah Kanopi mall, dia berdiri dekat dengan jalan raya, di bawah salju yang terus turun memenuhi rambut dan wajahnya. Hatiku berdegup kencang saat lampu merah terakhir menyala. Hanya beberapa langkah, begitu lampu hijau aku berlari menyeberang jalan dan melompat ke dalam pelukannya.
Bagaimana dapat kulupa, kenangan indah itu. Bahkan aroma tubuhnya, masih begitu kental dalam ingatanku. Aroma hutan karena ia memang baru saja kembali dari tugasnya menginap di hutan selama dua malam. Mungkin aroma itu memang masih tertinggal dalam balutan seragam hijaunya. Kenangan yang indah lalu dicacah oleh kepahitan saat hubungan kami berakhir. Mataku berkaca-kaca saat kini kembali berdiri di tempat yang sama. Di tempat aku memeluk K dan menciumnya.
__ADS_1
Luky meletakkan kedua tangannya di pinggangku lalu menarikku begitu dekat. Rapat dan hangat dalam nafasnya. Ia mengecup bibirku tanpa melepaskan pelukannya.
"Sekarang, kenanglah ini. Pelukan dan ciuman dari lelaki yang mencintaimu. Dari lelaki yang akan menjadi suamimu" katanya sambil meletakkan tangannya di kedua pipiku.
Aku larut dalam pelukannya bersama kata-kata indahnya. Mulai sekarang, kumaafkan, aku berdamai dengan kisah masa lalu yang pahit itu. Kubuka lembaran baru dan kenangan-kenangan baru yang indah bersama lelakiku. Kami hanya mengelilingi mall ini sebentar. Berhubung perut masih kenyang, dan memang berniat menyudahi kunjungan tempat terakhir untuk berdamai dengan kenangan bersama K.
Tempat berikutnya adalah Gereja megah Katolik Ortodok yang menjulang perkasa di tengah-tengah Kota Tallinn. Iya, kesanalah kami akan berjalan. Melewati gang-gang sempit di Oldtown sampai ke benteng kota. Siapapun memang dapat melihat kubah-kubah raksasa menjulang bak kubah mesjid ini. Di tempat ini, aku dulunya sering menemani K berdoa kepada Tuhannya.
Bukan tanpa alasan, perang telah meluluhlantakkan negeri ini bertahun-tahun lamanya. Dijajah dan dibuang dari tanahnya sendiri. Mereka yang dibunuh begitu saja, diusir dari rumahnya dan harta bendanya dirampas. Tak sedikit dari mereka mati karena tak punya apa-apa lagi. Memang, perang melukai hati siapa saja. Baik mereka yang menang atau mereka yang kalah pertempuran, keduanya sebenarnya mendulang kekalahan. Tidak ada kemenangan sejati dalam perang.
__ADS_1
K berdarah Rusia meski secara citizen dia adalah warga Estonia. Tapi jiwanya masih sangat Rusia meski ia juga harus melakukan wajib militer melayani negara Estonia. K memiliki begitu banyak luka dalam hidupnya. Salah satunya adalah krisis identitas yang dialaminya. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, siapa yang tidak memiliki luka di dunia ini. Setiap orang memiliki lukanya masing-masing. Tergantung bagaimana orang merespon atas lukanya itu. Adalah sebuah kesalahan jika kita terluka kemudian memilih melukai orang lain.
Tunggu, apakah aku datang ke sini, ke gereja Katedral ini untuk kembali menyalahkan K atau menghakiminya. Kenapa aku melakukan ini? Bukankah niatnya untuk berdamai, memaafkan yang telah terjadi supaya bisa kumulai perjalanan yang baru. Memanglah ego bicara lebih tinggi. Bagaimanapun kenangan luka tak bisa dihapus begitu saja. Bahwa aku memang terluka karenanya, aku harus mengakuinya dan belajar menerima lukaku itu.
"Yuk ke pojok" Luky menarik tanganku untuk tak berdiri di tengah-tengah.
Beberapa orang menyalakan lilin, lalu berdoa khusyuk. Ada suara nyanyian mengiringi. Suara halus dan khidmat. Rumah ibadah memang selalu mengundang keharuan. Apapun bentuknya, gereja, mesjid, pura atau kelenteng. Tempat suci di mana doa-doa dilabuhkan ke langit. Apa doaku? Aku bertanya pada diriku sendiri. Tentu saja forgiveness. Aku berharap rasa maaf di hatiku terbuka lebar. Memaafkan K dan diriku sendiri. Menerima bahwa jalan cinta memang begitulah adanya. Terdiri dari luka dan bahagia. K, kini masa lalu dan tak akan pernah jadi masa depan. Karena telah kupilih Luky sebagai masa depanku.
Baiklah, K, di tempat ini kita pernah bersama. Hari ini, bersama cintaku yang baru, aku datang berkunjung. Karena ingin kusapa kenangan-kenangan kita yang lama. Kututup mereka untuk selamanya. Terima kasih untuk semua kisah yang pernah kau torehkan di kota magic Tallinn ini. Di kota ini pula, semesta mengantarkanku cinta yang baru. Cinta yang menyembuhkan luka yang pernah kau tinggalkan dulu. Terima kasih atas hubungan yang berakhir itu. Kumaafkan hatiku dan hatimu, sifatku dan sifatmu. Aku bahagia sekarang.
__ADS_1
Aku membuka mataku. Luky mengecup pipiku.
"Terima kasih" katanya sambil tersenyum ke arahku. Kami menggandeng tangan erat sambil meninggalkan tempat itu. Hatiku damai kini. Bye Bye K.