Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Menyambut Lockdown


__ADS_3

Kami berkumpul di ruang tamu dan menyaksikan berita di TV. Belum pernah melihat dunia begitu mencekam karena pandemi. Untuk pertama kalinya dalam hidup dan menjadi saksi sejarah perjalanan Virus Covid-19. Sekarang dunia sudah canggih. Bahkan saat dunia sudah canggih sekali pun seperti ini, tidak bisa melindungi warga bumi yang jumlahnya sudah ribuan meninggal saat ini.


Demi mencegah penyebaran virus Corona, pemerintah memberlakukan PSBB yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar....pembawa berita terus membacakan peraturan baru dari pemerintah tersebut. Kami saling melihat satu sama lain.


"Lockdown, soon!" kataku pada mereka.


"Apa sebaiknya kita belanja seperti orang-orang?" tanya Mauli.


"Maksudmu memburu makanan dan menyetok sebanyak mungkin?" tanyaku balik.


"Nggak usah" sanggah Livi.


"Loh kenapa? gimana kalau kita nggak punya cukup makanan selama lockdown?" tanya Mauli Panik.


"Behaviour kamu itu disebut Panic Buying. Ini perilaku yang tidak sehat. Karena jika setiap masyarakat terutama di kota-kota panic buying, harga-harga sembako akan melambung. Hal itu tidak akan menguntungkan kita sebagai masyarakat" seperti biasa Livi memang bijak.


"Trus baiknya kita seperti apa?" Mauli menunggu jawaban dari Livi.


Livi memainkan rambut keritingnya sambil tersenyum. Aku tahu dia menikmati tingkah Mauli yang memang sering panik ini. Livi, gadis Papua cerdas idolaku ini memang selalu tahu cara memainkan peranan bijaknya di antara kami.


"Beli yang memang kita butuhkan saat ini. Beli makanan secukupnya dan disimpan di kulkas untuk waktu yang tidak lama. Kalau sayur kan banyak pedagang kecil sekitar sini. Kita bisa selalu beli kapan saja" jawab Livi yang akhirnya disertai anggukan Mauli.

__ADS_1


"Benar juga sih ya" Mauli bangkit dan kemudian mengenakan kerudungnya.


"Mau ke mana?" tanyaku yang masih selonjoran di Sofa.


"Lah kan mau belanja" jawab Mauli yang memandang kami berdua.


Livi yang masih berdiri dekat kompor melihatku dan aku melihatnya. Kami kemudian tertawa bersama.


"Ya udah, bentar aku siap-siap juga" aku beranjak dari Sofa.


"Kok kalian ketawa, apanya yang lucu?" tanya Mauli ke Livi.


"Kan kita tidak bilang mau belanja sekarang. Kami ketawa melihat tingkahmu yang langsung spontan begitu, tanpa tanda-tanda. Ngomong dulu kek, kalau mau pergi belanja sekarang" Livi juga ikut bergegas.


Kami mengunci apartemen dan menuruni lift dari lantai 17 ke LG. Lalu berjalan melewati dua tower lainnya untuk bisa sampai ke Mall. Hanya beberapa ratus meter, jarak yang benar-benar dekat. Kelebihan tinggal di area ini, memang segala sesuatu yang terpusat di satu lokasi. Restaurant dan cafe yang jumlahnya puluhan, mungkin juga ratusan, mall ada di basement, ada tempat karauke, bioskop dan berbagai toko lainnya.


Kami bergegas menuju supermarket satu-satunya di mall ini. Harga barang di sini memang lebih mahal dari supermarket biasa. Tetapi karena lebih lengkap dan untuk keperluan banyak, biasanya memang kami belanja di sini. Masing-masing dari kami memilih satu jenis buah yang ingin dibeli dan dimakan untuk beberapa hari ke depan. Lalu ke rak sayur, memilih sedikit yang biasanya untuk langsung dimasak, hanya beberapa saja untuk disimpan.


Keju, susu, telor, tepung dan tak lupa nugget serta makanan beku lainnya. Pada saat aku tiba kemarin, kulkas memang kosong. Sekarang saatnya mengisi dan mulai masak setiap hari. Itu cara yang aman dan murah saat ini dengan kondisi lockdown. Belanja bersama dengan geng gepukku seperti liburan kecil bagi kami. Seru dan penuh tawa. Gantian dorong Trolli, saling berdebat soal produk. Lalu berlama-lama di area kosmetik. Mengantri, tapi tetap heboh dengan cerita. Sejenak, lupa pada kondisi-kondisi sulit dan keresahan karena virus Corona ini.


Kami kembali ke apartement, mandi dan istirahat. Hari-hari berikutnya yang terjadi penuh rutinitas yang hampir membunuh kami. Fasilitas Gym di apartemen kami ditutup selama PSBB. Kolam renang besar di Ground Floor juga ditutup. Tidak hanya itu, Gazebo-Gazebo tempat biasanya kami piknik di taman dekat kolam juga dipasang police line yang artinya dilarang untuk duduk atau berkumpul. Sepi, orang-orang ketakutan dan mengurung diri di kamar atau rumahnya.

__ADS_1


Hal seru lainnya yang hilang adalah aktivitas Zumba dan Senam mingguan di lapangan dekat kolam. Biasanya ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak muda ikut bergoyang bersama. Pandemi telah mengubah semua kebiasaan ini. Ia hadir, mencekam, penuh rasa cemas. Hidup seperti di masa perang dulu. Bagiku yang pernah mengalami masa-masa konflik, kondisi ini mirip meski tak separah konflik.


Pemerintah juga mengeluarkan peraturan terkait Work from Home. Untuk pertama kalinya istilah ini muncul ke publik dan menjadi perbincangan banyak orang. Hanya boleh 50 persen di kantor, selebihnya karyawan harus dibebaskan bekerja dari rumah. Kami yang bertiga saja, bolak balik kamar, dapur, toilet dan ruang tamu untuk nonton berita dan movie bersama. Hari-hari kami hidup dan mati dalam gerakan itu. Bekerja siang malam, meeting tanpa akhir. Semua orang mencari cara mengusir rasa bosan oleh kekangan ini.


Sisi positifnya, ada banyak kerjaan yang selesai. Buku-buku yang dibaca. Olahraga baru, jadi belajar Yoga, Zumba dan dance lainnya. Di ruang yang sempit di ruang tamu, kami menari. Ada banyak tawa, namun tangis juga dalam hari-hari lockdown., terutama saat kami mendapat kabar bahwa Bapaknya Livi masuk rumah sakit.


"Bapa kena struck. Saat ini kondisinya kritis di ICU. Aku harus gimana?" Livi menangis dan kami ikut menangis bersamanya.


Kami berada di kondisi Lockdown, sudah berjuang sedemikian rupa untuk tidak keluar rumah. Cobaan ini datang di kondisi yang sama sekali tidak tepat.


"Mungkin memang sudah saatnya kamu pulang, mengunjungi mereka?" aku berhati-hati dalam memberi saran.


"Aku rasa juga begitu" Livi mengiyakan saranku.


Kami kembali berpelukan dan keesokan harinya, kami membantu Livi packing. Sedih mengiringi kepergiannya saat ini. Kami berdoa semoga Covid tidak menyerang Livi saat ini. Dia dibutuhkan oleh keluarganya di Papua. Livi adalah gadis yang begitu baik. Ia meletakkan perhatian begitu besar untuk keluarganya. Membiayai kebutuhan ibu dan bapaknya. Membiayai sekolah adiknya dan ia menghemat sedemikian rupa di rantau demi mendukung kebutuhan keluarganya.


Kehidupan kami berdua mirip, yang membagi peran sebagai anak yang diandalkan dalam keluarga. Mencari uang, menghemat dan menyokong kebutuhan keluarga. Setelah ditinggal Livi, kami berdua saja dengan Mauli. Hari-hari bertambah sepi meski ada banyak aktivitas yang kami lakukan di dalam rumah. Namun, kabar tidak mengenakkan berikutnya datang dari keluarga Mauli.


"Nenekku meninggal di kampung. Kami sekeluarga harus pulang ke Purbalingga segera. Kamu nggak pa-pa kutinggal sendirian?" tanya Mauli sendu.


"Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja di sini. Pergi, temui keluargamu, lihat nenek untuk terakhir kalinya" jawabku.

__ADS_1


Itu adalah hari yang berat melepas Mauli. Setelah mereka berdua pergi, aku hanya bisa memandang kamar yang kosong, se-kosong hatiku saat ini. Hanya ada sesak di sana. Ketakutan sendirian di antara Corona yang mencekam Jakarta.


__ADS_2