Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Corona & Rasis yang Terjadi


__ADS_3

Luky sempat bertanya kenapa aku pulang cepat dari apartemen Allan. Biasanya aku akan menghabiskan waktu lebih lama. Dapat kulihat wajah bahagianya saat membuka pintu untukku. Sumringah dengan senyuman khasnya. Ia tidak bertanya detail dan lebih berkonsentrasi mengenai makanan apa yang ingin kumakan. Baginya lebih penting memastikan kebutuhanku lebih dulu. Ia tak pernah membiarkan aku kelaparan. Pasti selalu sigap gerak cepat kalau menyangkut makanan.


Aku berusaha melupakan kejadian di tempat Allan. Kuputuskan untuk tak bertemu dengannya sampai hatiku sudah tidak lagi diombang ambing kebingungan. Kusibukkan diriku dengan berpikir, bekerja dan membaca berita, CORONA. Tidak hanya membaca berita tentang Corona, aku juga berusaha mengupdate kondisi teman-temanku yang saat ini tersebar di berbagai negara. Kudengar kondisi virus tidak hanya meluluhlantakkan bisnis namun juga kehidupan pribadi banyak orang. Bahkan kondisi rasis yang menjamur dalam keseharian mereka.


Aku membaca postingan teman-temanku di social media tentang betapa banyaknya Rasis yang terjadi, terutama terhadap orang Asia. Bahkan temanku yang bekerja di Jerman posting, betapa ia dihujat orang-orang dan diteriaki dari luar restaurant tempatnya bekerja.


"Hey jual apa kalian? Corona? Sana pulang ke negara kalian!" Berhari-hari dia dan rekan-rekannya memiliki waktu yang sulit. Restaurant sepi, karena orang Asia dianggap membawa sial dengan Corona.


Sejak hadir Corona dari China, banyak orang tidak paham bahwa yang namanya penyakit bisa datang dari mana saja. Mungkin Corona dari China, ada Flu parah yang dulu juga pernah datang dari Spanyol. Belum lagi penyakit Ebola dan sebagainya dari Afrika. Dunia punya sejarah akan pandemic, namun manusia seringnya terjangkit satu penyakit akut, lupa. Bukankah kemungkinan berbagai penyakit memang bisa datang dari siapa saja dan dari mana saja. Penyakit tidak memandang suku, agama, negara dan benua. Inilah dunia dengan berbagai pengalaman pandemi sebelumnya.


Aku juga bergabung di group expat di Tallinn. Di mana aku dapat mengakses semua informasi tentang kehidupan expat di Estonia. Ada beberapa cerita dari mereka yang diperlakukan begitu rasis, terutama untuk orang Asia dan Afrika. Memiliki wajah Asia terkadang sulit di masa Corona. Tidak hanya mengalami diskriminasi di tempat tinggal, di sekolah, di kampus, di tempat kerja bahkan juga di bandara.


Group expat memberitakan bagaimana ada kasus di antara mereka dihajar sekelompok orang, dicaci maki di publik dan disuruh pulang ke negara asal karena dianggap membawa penyakit. Rasis karena Corona terjadi bukan hanya di Estonia, di Jerman, di Indonesia, namun di berbagai negara di dunia.


"Mungkin kamu harus hati-hati kalau keluar. Aku udah baca banyak berita tentang rasis atau perlakukan diskriminasi lainnya yang terjadi saat ini" Kata Luky saat kami berdua sedang sama-sama membaca berita.


"Aku tahu. Tapi weekend besok kan kita keluarnya bareng-bareng. Ada Mas Senar dan Alif juga," kataku.


"Iya, cuma kan kita tidak pernah tahu. Just in case hati-hati aja".

__ADS_1


Luky benar, bagaimana pun aku harus hati-hati. Kalau bersama teman mungkin tidak apa-apa, namun jika sedang sendiri, tentu saja. Aku pernah punya pengalaman terhadap orang-orang yang berlaku rasis ini. Pernah dihujat di bus, di bar dan di jalan. Sebelum Corona itu terjadi, apalagi sekarang di masa Corona. Namun, untuk kasus fisik, tidak pernah, biasanya hanya ujaran atau makian.


Weekend ini kami berencana mengunjungi lokasi yang disebut dengan Kommunismiohvrite Memoriaal. Ini adalah sebuah lokasi yang dijadikan pengingat pada saat masa-masa perang dan ketika Estonia masih dijajah, banyak orang yang dibunuh atau dibuat ke Siberia. Tempat ini kemudian dibangun dengan tembok dan dinding-dinding yang diukir dengan semua nama orang yang hilang atau dibunuh di masa itu. Sebuah penghormatan yang disemat untuk mereka. Karena mayoritas di antara orang-orang ini juga merupakan cendikiawan Estonia yang sengaja dihilangkan di masa itu. Ini adalah cerita yang sering kudengar dari teman Estoniaku.


"Eh btw, Dina & Melly kenapa gak ikutan?" Luky bertanya di sela-sela membaca berita.


"Mbak Dina ada acara di rumah suaminya. Melly ke Helsinki ikut suaminya" jawabku.


"Oh Okay. Besok kita langsung ketemu di lokasi ya? Senar & Alif gak mau mampir sinj dulu, kan okasinya dekat sini".


"Iya, ketemu di lokasi aja katanya. Nanti abis dari sana mereka mampir, katanya mau main Durak".


Sementara aku, melanjutkan dengan memasak nasi sambil membaca kasus-kasus rasis yang sedang terjadi. Bahkan juga terjadi di Indonesia yang dialami teman-teman Chinese. Oh dunia, pikirku.


***


Kami tiba lebih dulu dari Mas Senar dan Alif. Berdiri di lorong panjang yang di kiri kanan dipasangi keramik hitam menjulang tinggi di sepanjang lorong. Disinilah nama-nama mereka terukir. Yang pergi di masa perang dan tak kembali. Beberapa orang lainnya juga mengunjungi tempat ini. Seorang perempuan tua berdiri lama di hadapan nama-nama yang terukir ini. Mungkin di antara mereka yang gugur itu adalah keluarganya, siapa tahu.


Alif yang memutuskan untuk mengunjungi tempat ini. Meski bagi aku sendiri sudah beberapa kali ke sini. Selain museum di area ini, tempat mengingat peristiwa bersejarah itu, monumen, tembok, ada taman yang besar di sini. Menara menjulang, bukit kecil yang mengarah ke laut. Dari atasnya dapat dinikmati pemandangan laut Baltic. Sesekali juga Fery lewat dari pelabuhan Tallinn ke Helsinki atau sebaliknya.

__ADS_1


"Eh liat deh, apa segerombolan lelaki itu mengikuti kita? Kok jalannya cepat gitu dan kayak sedang marah? Kita nggak bikin salah apa-apa kan di tempat ini?" Aku mulai panik, melihat 3 lelaki berjalan cepat ke arah kami.


Belum sempat yang lain menjawab, 3 lelaki itu berlari dan Gedubak gedubukmemukuli Mas Senar, Alif & Luky di waktu bersamaan.


"Hey! Hey why why?" Aku kehilangan kata-kata.


"**** you Asian people. You bring Corona to our country!". Salah satu dari mereka berujar dan menghardik kami.


Mereka berhenti memukul dan memaki-maki kami dalam Bahasa Rusia. Kulihat Mas Senar, menahan amarah dan hanya butuh sepersekian detik.


"**** you, I can't hold this anymore" Mas Senar menghujat marah dan melompat membalas mereka bertiga.


Ia membuka jurus Silatnya dan dalam satu menit ketiganya tumbang di tanah.


"Yuk pergi dari sini" Ajak Mas Senar.


Kami terhenyak antara masih shock dan terpesona dengan yang dilakukan Mas Senar dalam sekejap. Dalam kilatan jurus mampu melumpuhkan ketiga dari mereka sekejap.


Kami berempat melompat dalam bus dan meninggalkan area ini. Dapat kulihat ketiganya mengelus-ngelus wajah dan tangan mereka yang kini masih kesakitan. Aku tak dapat menahan air mataku, tidak ada yang salah dengan menjadi orang Asia. Perlakuan rasis seperti ini tak bisa diterima seperti apapun bentuknya.

__ADS_1


__ADS_2