Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Winter Penyembuhan


__ADS_3

Sesuai janjinya untuk berusaha mengobati lukaku tentang cinta dan keterpurukanku di masa lalu, ia menepati kata-katanya.


"Malam ini kita bakar lagi Palo Santo ya. Sebelum tidur, supaya kamu bisa lebih rileks" kata Luky.


Ia percaya pada kekuatan Palo Santo dari kayu yang tumbuh ratusan tahun di Amerika Selatan ini. Membakarnya, lalu menyisiri asapnya ke seluruh ruangan, di bawah tempat tidur, dan di pojok-pojok apartemen. Rumah kami menjadi begitu mistis di malam hari. Kami memiliki diskusi yang dalam malam ini. Tentang Corona, orang-orang yang terpisahkan tak bisa saling bertemu dengan pujaan hatinya. Pandemi telah merengggut kenyamanan semua orang termasuk kenyamanan dalam mencintai.


Dipenuhi oleh ketidakpastian, kami berdua juga dipenuhi gundah gulana. Apakah kami akan mengalami hal yang sama seperti orang-orang malang itu yang kini terpisahkan karena Corona, dengan kondisi yang begitu parah menimpa negara mereka. Bagaimana jika berikutnya Estonia mengalami hal yang sama seperti Cina dan negara lainnya.


Bukan hanya tentang Corona, diskusi kami kemudian juga merambat pada segala trauma yang pernah kami alami di masa kecil. Luky tidak bercerita banyak, karena ia mau memberikanku ruang untuk mengeluarkan semua cerita luka yang terpendam lama.


"Kamu terluka banyak dalam hidup. Selama ini yang kamu lakukan adalah lari. Dengan bekerja begitu keras siang dan malam, kamu berlari dari semua rasa sakit yang kamu hadapi. Aku mau membantu kamu menghadapinya. Menghadapi lukamu sendiri dengan berani".


Ia kembali menyalakan potongan kayu Palo Santo dan menebar asapnya ke ruangan kami. Malam ini, kami ingin tidur di sofa di depan Tivi. Sofa yang berukuran besar bahkan dapat memuat kami berdua jika kami tidur bersebelahan dan masih menyisakan banyak tempat. Luky juga menyalakan lilin, menurutnya, melaui lilin kita dapat mengundang energi-energi. Sesungguhnya tak kupahami semuanya apa yang diutarakannya, namun aku manut saja. Teringat ia seperti nenek dan ibuku di kampung yang percaya pada kekuatan-kekuatan mistis seperti ini.


Ia memandangi lilin sambil membacakan sesuatu. Lalu beranjak duduk begitu dekat denganku. Pertanyaan demi pertanyaan kemudian menggiring kebersamaan kami. Ia bertanya semua hal yang kualami di masa kecilku. Tak lama kemudian, aku tersedu dengan cerita-ceritaku sendiri. Sedu menjadi begitu deras. Entah bagaimana, aku menangis dengan raungan yang membelah sunyi di sekeliling kami.


Lama ia memeluk tubuhku dan aku masih menangis lebih dari satu jam. Aku tidak tahu kenapa menangis. Satu hal yang kutahu, pertanyaan darinya memancing semua kenangan lama. Seolah semua kesedihan yang pernah hadir dalam hidupku di masa lalu, datang kembali. Kurengkuh dadaku sendiri, dapat kurasakan sakit di sana. Bertubi-tubi dan semakin dalam menggiring luka bersama air mata di wajahku.


"Menangis, menangis sebanyak yang kamu mau. Aku di sini," Luky membelai rambutku tanpa melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Ada trauma di masa kecilku yang jarang sekali kuceritakan pada dunia. Setiap aku menyentuh bagian luka terdalamku itu maka mengundang semua rasa sakit yang telah kukubur. Seperti kenangan bersama Allan, yang membuatku sakit begitu parah bukan hanya karena perlakuannya. Namun perlakuan berulang yang pernah kuterima di masa kecilku dulu.


Malam ini, aura rumah kami begitu berubah. Energi sekelilingku terlihat asing bagiku. Aku menangis dan tak mampu memenangkan rasa sakit yang kuhadapi. Saat Luky beranjak sebentar dari sofa, aku memegang tangannya kuat.


"Jangan pergi....jangan pergi," Dengan deras tangisku yang tak berhenti.


"Aku mau ke toilet. Oke, aku akan stay dulu".


Aku bahkan takut ditinggalnya sebentar ke toilet. Rasa sakit dan takut menjalari hatiku diikuti kerapuhan yang terdalam. Seperti anak kecil yang tak ingin ditinggalkan ibunya, aku memegang tangan Luky sekuat tenagaku. Seharusnya kisah ini tak kubagi sekarang. Aku masih berjuang menyembuhkan luka baru. Kenapa harus kupanggil luka lama. Mungkin karena Luky memancingnya. Tetapi bukan salahnya, momentnya kurang bersahabat. Terlalu berat datang di waktu yang bersamaan.


Mungkin memang begitu, rasa sakit tak datang satu persatu. seringnya seketika ketika dipanggil oleh awan kelabu dalam diriku. Lama, aku berhenti menangis. Setelah begitu lelah, bahkan tak sanggup rasanya kugerakkan tubuhku baru kemudian tangisku reda.


"Tidurlah, aku tidak akan ke mana-mana" Luky kembali mengusap kepalaku, dikecupnya keningku. Dalam hangatnya genggaman tangannya, aku terlelap begitu dalam. Ketika pagi tiba, kulihat Luky duduk di sampingku sambil tersenyum.


"Tidur kok, cuma sebentar," jawabnya mendekat.


"Good morning" Aku mengusap punggung tangannya dengan tanganku.


"Good morning" balasnya.

__ADS_1


"Pagi tadi, saat aku membuka pintu balkoni kita, ada banyak sekali burung. Mereka berjejer bahkan sebagian di lantai balkoni juga".


Aku bangkit dari tidurku ingin mendengar ceritanya lebih lanjut. Burung berjejer memenuhi balkoni. Aku belum pernah melihatnya.


"Trus?".


"Anehnya, pada saat aku membuka pintu dan melihat ke arah mereka, mereka juga melihat ke arahku dan tidak terbang. Aku menutup kembali pintu dan berkata bahwa mereka dapat memiliki balkoni kita".


Aku membelalakkan mata karena ini sesuatu yang memukau untukku. Bagaimana bisa mereka semua tidak terkejut atau terbang saat Luky membuka pintu.


"Iya, dan tak lama setelah itu, baru mereka semua terbang dan balkoni kita kosong. Semuanya, tanpa ada satu pun yang tertinggal. Aneh, padahal aku tidak lagi membuka pintu atau mengejutkan mereka".


"Apa mereka datang membawa tanda sesuatu? Aku bertanya karena biasanya burung juga dipercayai sebagai pembawa kabar atau tanda.


"Mhmmmm semalam saat aku menyalakan lilin, aku memanggil energi baik dan berbicara dengan nenekku yang sudah meninggal. Aku bilang tolong jaga dengan baik kesayanganku ini".


Aku kehilangan kata-kata. Antara terharu dan tergelitik dengan kondisi mistis ini. Sejak semalam rumah sudah dipenuhi suasana mistis saat aku menangis begitu perih atas semua luka yang kualami dalam hidupku. Atas semua trauma yang kembali kupanggil untuk menyapa di malam beku. Kini, kisah Palo Santo, Dream Catcher, Batu Yaspis yang kukenakan di leherku, nyala lilin yang sempat bergerak-gerak sendiri meski semua jendela rumah telah ditutup rapat, jadi darimanakah angin datang. Lalu burung-burung yang memenuhi balkoni kami. Pertanda apakah semua ini.


"Kenapa kamu percaya pada mistis semacam ini?" tanyaku.

__ADS_1


"Bukankah segala sesuatu yang ada di dunia ini semuanya saling terhubung. Alam, manusia, dunia gaib. Kita terkoneksikan satu sama lain. Energi kita semua saling terhubung".


Aku baru bangun, dan tak ingin berdebat dengannya. Kondisi ini semua telah mendatangkan persoalan lain dalam hidupku kini. Cintaku di antara mistis. Haruskah kuberi judul kisahku dengannya. Palo Santo, Dream Catcher, Liontin Yaspis, Lilin, dan burung-burung di balkoni. Kini, mereka semua terlibat dalam perjalanan penyembuhan ini. Duhai winter penyembuhan, kuterima semua bagian cerita, termasuk drama yang ini.


__ADS_2