Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Tangis & Jebakan Corona


__ADS_3

Tak kusangka, ketika Livi dan Mauli pergi, aku benar-benar kesepian. Kabar yang tak ingin kudengar berikutnya datang dari Luky.


"Jerman menutup seluruh akses ke Indonesia. Tidak hanya ke Indonesia yang jauh di sana, bahkan untuk negara-negara dekat perbatasan seperti Swiss & Austria, Jerman tidak mau membuka aksesnya" Luky menjelaskan apa yang sedang terjadi di sana padaku. Hal ini benar-benar memukul hatiku dari dalam.


"Lalu bagaimana kondisi kita? Gimana caranya kamu bisa terbang ke sini? Apa pernikahan kita akan terjadi?" aku berkata lirih padanya.


"Aku akan terus mencari infonya. Semoga pemerintahku atau pemerintahmu segera membuka aksesnya" katanya lagi dengan penuh harap.


"Aku tetap khawatir, mungkin ini akan berlangsung lama".


"Vashla, we can do it. Stay strong okay? We will find the way" Luky berusaha menguatkanku.


Aku kepalang sedih dengan kondisi ini. Mauli dan Livi tidak di sisi. Luky jauh di sana. Bagaimana aku melalui malam-malam yang mencekam ini sendirian. Bagaimana kalau aku mati karena Corona dan tak ada satu orang pun yang tahu. Aku tinggal di lantai 17. Tak ada tetangga kanan dan kiri saat ini. Apartement banyak yang kosong sejak Pandemi. Mungkin orang-orang pulang kampung. Mungkin juga karena banyak yang hilang pekerjaan, orang-orang pindah dari apartemen ini.


Bahkan koridor apartemenku terlihat menakutkan saat ini. Hanya ada dua apartemen yang terisi di deretanku ini dan mereka jauh di ujung meski kita berada di lantai yang sama. Beberapa lainnya di sebelah sana yang lumayan jauh. Satu lantai, namun terkesan begitu berjarak dengan kotak-kotak yang menjadi dinding ini. Ah, aku tidak berpikir dulunya bahwa tinggal di apartemen bisa menakutkan seperti ini. Kenapa sekarang perasaan ini harus datang. Aku menyalahkan Corona yang sepertinya menjebakku dalam kondisi ini. Tidak hanya menjebakku dan Luky yang saat ini tidak bisa bertemu, namun juga menjebak banyak orang lainnya.


Aku dan Luky menelpon tiga sampai empat kali dalam sehari. Kami bermain Durak online sampai berjam-jam sambil video call. Sungguh beruntung karena games Rusia ini tersedia di Play Store yang bisa didownload kapan saja. Aku sering mengalahkan Luky dan mengumpulkan banyak koin. Beberapa kali mendapat invitation dari pemain Asing Rusia, tetapi kutolak undangan bermain dengan mereka. Karena tujuan aku mendownload games ini adalah untuk bermain bersama Luky.


Ditemani jarak jauh masih belum cukup. Aku takut saat malam tiba. Meski Luky menemani dan menunggui sampai aku terlelap. Hal yang paling kutakutkan tidur sendirian adalah mimpi buruk yang datang. Trauma yang belum sembuh sering menarikku ke lubang hitam itu. Seperti tadi malam aku melihat orang-orang mati dibunuh dengan ditembak, juga yang disiksa. Aku melihat lelaki mencengkram tubuhku dan mau memperkosaku. Tak kuasa kulawan bahkan saat terbangun keringatku bercucuran.

__ADS_1


Aku hanya bisa menangis, melalui hari. Malam telah menjadi ancaman bagi batinku. Corona terlihat lebih kejam dengan kondisi batinku saat ini. Berita kematian di mana-mana. Ratusan ribu orang meninggal karena Corona. Italia, Jerman, China dan beberapa negara Eropa lainnya masih memimpin angka infeksi Corona dengan jumlah yang banyak. Meski Jerman memiliki kasus yang tinggi, namun angka kematian di negara ini tergolong rendah.


Aku jadi takut buka HP setiap harinya. Takut membaca berita. Namun juga tak punya kuasa menolak diriku untuk tetap update dengan berita Corona. Aku butuh info lebih lengkap untuk menemukan celah supaya Luky bisa datang ke Indonesia. HPku berdering. Kuperhatikan nama di sana, Tania. Oh aku merindukan gadis ini, pikirku. Mungkin di waktu yang bersamaan kami saling rindu jadi signal kami terhubung.


"Hi Tan, pas banget aku teringat kamu beberapa hari ini" kataku membuka percakapan kami.


"Iya, aku juga. Aku bosen di rumah orang tuaku. Sejak pandemi aku pulang ke rumah dan tinggal bersama mereka. Tetapi setelah beberapa minggu, aku merasa ingin pergi ke tempat yang lain. Boleh main ke apartmu nggak?" tak disangka, dia datang di saat yang tepat.


"Tan, mau pindah ke sini aja nggak? Aku sendiri sejak Livi dan Mauli pergi" tanpa basa basi, aku ingin mengambil kesempatan ini untuk memiliki teman yang akan mendampingiku.


Aku sudah tak tahan sendirian. Semingguan ini hidupku kacau. Aku tidak pernah sendirian sejak memutuskan merantau ke ibukota. Untuk pertama kalinya, aku memiliki pengalaman tinggal dan tidur sendiri selama satu minggu, hal yang tak pernah terjadi sebelumnya. Dulu, sebelum tinggal di apartement, aku memilih menyewa rumah dengan teman-teman baruku di Jakarta. Rumah khusus yang dihuni perempuan yang berjumlah 4 kamar. Lebih nyaman bagiku seperti itu. Kalau sakit atau ada apa-apa ada housemate yang membantu.


Tania, gadis Chinese yang unik. Ia pindah agama beberapa kali. Awalnya Protestan, lalu Katolik, lalu Buddha. Rencanaya ia mau balik Katolik. Menariknya dia berpandangan terbuka. Dia selalu memberikan dirinya waktu untuk belajar dan berproses. Tania adalah support systemku yang baik. Memilikinya sebagai teman dan rekan kerja membuatku bahagia.


Dia yang punya skill banyak, mulai dari desain, edit video, dan mengerjakan semua materi kampanye program kami di Indonesia, project management. Akhirnya, aku punya teman, jadi tidak akan terlalu kesepian lagi selama lockdown ini. Hpku berbunyi lagi. Livi! aku berteriak sendiri. Bahagia akhirnya dia telpon.


"Sepertinya aku akan stay lumayan lama di kampung. Kamu nggak pa-pa di sana?" tanyanya.


"Nggak pa-pa, kabar baiknya Tania akan stay sama aku di sini sementara sambil kalian kembali".

__ADS_1


"Oh syukurlah. Sekalian aku add Mauli dulu ya. Dia mau kita vidcall bareng tadi, oh Vavan juga" Livi kemudian menyambungkan telpon dengan Mauli dan Vavan.


Hatiku berbunga, seperti biasa bahagia menelpon dengan mereka. Meski sekarang situasi berbeda. Aku baru tiba di Indonesia, sempat begitu gembira ingin menghabiskan waktu bersama mereka. Namun kondisi tidak memungkinkan, justru mereka bertiga di kampung halamannya saat ini.


"Hey! Hey! Kamu nggak pa-pa sendiri?" tanya Mauli lagi. Mengulang pertanyaannya Livi.


"Nggak, aku barusan jelasin ke Livi, Tania akan datang dan tinggal denganku sementara waktu" jawabku lagi.


"Salam ya" sahut Vavan.


"Ye...cepat amat. Itu dulu yang disampein. Nggak ada kangen-kangennya apa sama aku?" aku pura-pura mengambek.


"Kangenlah, tapi sekarang kan sudah ada orang yang lebih kangen lo. Apalah arti kangen gue ini" jawab Vavan.


"Aku tetap butuh. Jangan berhenti, meski aku sudah punya Luky" aku seolah tamak menginginkan semuanya.


"Jadi ini vidcall bareng, tapi yang balas-balasan kangen kalian berdua?" tanya Mauli.


Kami tertawa setelah itu, dan seperti biasa membahas Gepuk yang tiada habisnya.

__ADS_1


__ADS_2