Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Gereja Di Tallinn dan Helsinki


__ADS_3

Setelah badan dialiri rasa hangat dari cafe yang kami singgahi, kami bersepakat menutup malam di atas bukit kecil yang menghadap ke monumen Vabadussa dan Gereja Kuning. Kami bercengkrama dalam cahaya malam. Meski dingin, kami tetap masih bisa beraktivitas lama di luar. Itulah pentingnya pakaian hangat yang proper. Terutama untukku yang tidak diciptakan di negara dingin. Baju hangatku ada bahan termalnya di dalam, sehingga lama-lama kupakai memberikan sensasi hangat dari dalam. Sepatu booth yang juga proper sangat membantu.


Kami duduk di bangku kayu memanjang menghadap ke monumen dan Gereja Kuning. Gereja Kuning, nama sebenarnya adalah St. John's Church yang selesai dibangun pada tahun 1867. St. John's Church ini dalam bahasa Estonianya disebut Jaani Kirik. Kami belum pernah masuk ke Gereja ini. Namun memang suka memandangnya dari luar. Terlebih, karena di hadapan Gereja Kuning ini, beberapa keajaiban dalam hidupku pernah terjadi.


"Kamu ingat nggak Gereja Katedral di Helsinki yang kita singgahi?" kataku padanya.


"Iya, aku ingat. Hari itu kita sedang bertengkar ya. Tapi kita tetap ke sana bersama" ia terkekeh.


Kami berdua tertawa karena mengingat memori di sana dengan baik. Itu adalah hari pertama kami di Helsinki. Bersama beberapa teman dari Indonesia karena ada event dengan Kedutaan Indonesia di Finlandia. Luky yang baru tiba ke Estonia untuk menemuiku, ikut berangkat bersama kami ke Helsinki. Itu adalah perjalanan pertama kami, meski bukan hanya kami berdua. Mas Senar, salah satu yang berada dalam rombongan. Berhubung Mas Senar, sebagai orang Indonesia yang paling lama berada di Tallinn dibandingkan kami semua dan dia juga sering bolak balik Tallinn-Helsinki. Mas Senar menjadi tour guide untuk kami.


Jarak dari Kota Tallinn ke Helsinki tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan Ferry dalam jangka waktu 2 jam an. Kapal Ferry yang sangat nyaman. Di dalamnya banyak restaurant, juga bar. Kami memang hanya menginap 2 malam di Helsinki. Tetapi penuh kesibukan dan kenangan di sana. Meski jadwalku padat karena ada 2 event, pertemuan di Kedutaan dan juga gathering beberapa partners di pusat kota Helsinki, ditambah hadirnya Luky memberi warna tersendiri di tengah kesibukan itu.


Aku masih ingat, tim kami menyewa apartemen untuk kami berlima. Aku mendapat kamar di atap bersama dengan Luky. Kami terus bertengkar karena hal-hal sepele. Bagaimana pun tetap tidur berdua. Namun karena status kami teman, Luky memang memperlakukan seperti teman, tidak lebih. Bahkan di malam hari sekali pun, Luky tidak menyentuhku. Ia menjaga batas pertemanan kami. Pertengkaran dan perdebatan kami berlanjut dari malam ke pagi.


Kami harus bangun pagi di hari kedua kami, karena itu adalah hari kami akan mengisi event di kedutaan Indonesia di Helsinki. Karena acara berlangsung setelah jam makan siang, kami berkeliling sebentar di pusat kota. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Gereja Katedral bergaya megah khas Eropa. Ukiran yang begitu mempesona dari luar dan dalam Gereja.


Kami menaiki anak tangga dan berdiri di hadapan Gereja. Niatnya memang tidak masuk ke dalam Gereja, namun gerimis turun. Gerimis di tengah winter yang menusuk tulang, bukan hal yang ingin kau nikmati apalagi jika akan mengisi event. Masuklah kami ke dalam bersama Mas Senar, Winda dan Mas Santo teman Indonesia kami ke dalam Gereja. Mas Santo adalah mentor aku dan Winda dari organisasi kerelawanan yang kami ikuti. Winda sendiri menjabat sebagai bendahara di organisasi kami itu.

__ADS_1


Mereka bertiga duduk di bangku kayu di belakang kami. Aku dan Luky selang satu deretan di hadapan mereka. Sebagaimana gereja lainnya yang sering kali diisi dengan deretan bangku-bangku kayu memanjang tempat orang memanjatkan doa. Kami duduk di sana sembari melihat ke sekeliling badan gereja. Ada banyak turis di Gereja Katedral Helsinki hari itu. Sebagian besar memiliki wajah Asia. Beberapa orang mengambil foto di beberapa sudut. Lalu tiba-tiba Luky menggossipi mereka ke telingaku.


"Lihat betapa tidak hormatnya mereka di dalam gereja. Cara mereka mengambil foto dan tidak melepas topi mereka".


"Emangnya harus melepas topi?" Tanyaku yang memang tidak tahu.


"Biasanya orang-orang akan melakukannya sebagai tanda hormat dan menjaga adab dalam gereja" jelasnya.


Aku kemudian menggenggam tangannya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling gereja. Aku memejamkan mata dan mengumandangkan harapan untuk Luky. Aku tidak berdoa kepada Yesus, tidak juga berdoa pada agama tertentu meski keberadaan kami dalam gereja. Lebih tepatnya kepada energi baik dan seluruh semesta.


Luky tidak beragama, kalau pun biasanya dia berdoa dia memilih agama tertentu atau bahkan tidak perlu agama. Hatinya memang tidak memilih agama apapun. Setelah selesai aku membuka mata dan kulihat ia juga memejamkan mata. Oh aku tidak tahu kalau ternyata ia juga melakukannya di waktu yang bersamaan denganku. Mungkin dia memang sedang berdoa akan sesuatu, pikirku.


"Aku berdoa untukmu" kataku sambil melihat ke arahnya.


"Aku juga berdoa untukmu" balas Luky.


Kami bergegas mengikuti kelompok tanpa saling bertanya isi doa kami. Kini, di hadapan gereja Kuning, kala memandang dari atas bukit ini, kami kembali saling tersenyum akan kenangan waktu itu.

__ADS_1


"Kamu doain apa waktu itu?" akhirnya kutanya juga.


"Aku berdoa supaya kamu mendapat ketenangan dalam keseharian hidupmu. Kamu sering kali gelisah dan tidak bisa santai sama sekali. Aku mau kamu berhenti terus-terusan memaksa diri melakukan ini dan itu. Because you are good enough. Kamu selalu merasa kurang akan dirimu sendiri dan menghakimi dirimu bila tidak mencapai sesuatu yang kamu inginkan. Setidaknya itulah yang kulihat waktu itu".


"Hanya itu? Atau masih ada lagi?" Aku yakin tidak hanya itu sebab dia berdoa lama.


"Masih banyak. Salah satunya lagi, aku berdoa untuk kamu supaya tidak jatuh ke tangan laki-laki yang salah yang suatu saat akan kamu nikahi. Aku mau kamu menikah dengan laki-laki yang kamu pilih dan yang menjagamu dengan baik".


Aku tersenyum mendengar ucapannya. Bahkan saat kami masih berteman, dalam doa-doanya, aku telah ada di sana.


"Bagaimana denganmu? Apa doamu untukku?" Ia balas bertanya.


"Rahasia" jawabku sambil mengedipkan mata untuknya.


"Oh okay...let's see jika kamu bisa menahan rahasia" ia kemudian menggelitiki tubuhku sampai aku bergeliat seperti cacing.


"Ah udah ah...hey...Luky...Luky...stop.stop....ayyy" aku berteriak sambil tertawa diikuti air mata bahagia.

__ADS_1


Luky terus menggangguku sampai pelan-pelan aku membuka mulut untuk doa-doa yang telah kupanjatkan untuknya. Gereja Kuning & Katedral, terima kasih untuk semua kenangan baik ini.


__ADS_2