Cinta Kita Di Antara Corona

Cinta Kita Di Antara Corona
Palo Santo & Dream Catcher


__ADS_3

Hari-hari penyembuhan itu sudah membaik. Kami menjadwalkan hari berikutnya untuk menghabiskan waktu di Kota Tua. Luky bilang ingin mengunjungi sebuah toko yang menjual barang-barang antik.


"Emang mau cari apa di sana?" Tanyaku menggenggam erat tangannya.


Kami berjalan melewati Gereja Kuning di depan Tugu Vabadussa di pusat kota. Lalu menyeberangi jalan besar yang dipenuhi lampu merah di berbagai persimpangan. Halte di sini seringnya padat, dilewati oleh Bus dan Troli.


"Mau cari kayu Palo Santo," jawabnya.


"Kayu apa?" aku belum pernah mendengar tentang nama kayu ini sebelumnya.


"Palo Santo," ia mengulanginya.


"Untuk apa?" tanyaku lagi.


Aku memang tidak merasa kita butuh sesuatu seperti ini di apartemen kita. Ia menghentikan langkahnya dan kami berhadapan di antara rintik salju kecil yang mulai jatuh dari langit.


"Palo Santo disebut juga sebagai kayu suci atau kayu penyembuh. Ia tumbuh di Amerika Selatan. Aku melihat di internet, mereka menjualnya di salah satu toko di dekat sini," ia menunjukkan ke arah ujung jalan.


Aku sering melewati jalan ini, tetapi rasanya tak pernah kulihat toko antik yang dibicarakannya. Kayu penyembuh, apakah ini salah satu caranya untuk membantuku?, aku pikir Luky melakukannya untukku. Kami kembali berjalan dan kemudian berhenti di hadapan sebuah gedung yang berlantai 4. Di sana, sebuah etalase toko dapat kami lihat dari luar. Luky benar, toko ini memang menjual barang-barang yang tak biasa di dalamnya.


Bel otomatis berbunyi saat kami membuka pintunya dan melangkah masuk. "Tere!" bunyi sapaan dalam suara mesin otomatis itu. Toko ini lumayan luas, dari mulai masuk dipenuhi dengan pernak-pernik renda menjuntai. Pandanganku juga tertuju pada Dream Catcher yang digantung dengan berbagai ukuran, warna dan motif. Indah sekali, pikirku. Aku selalu suka melihat dream catcher meski belum pernah membelinya.


"Kamu suka?" tanya Luky yang mengikutiku dan ikut melihat berbagai dream catcher yang tersangkut di tali, dan juga disematkan di jaring dinding toko. Cara mereka mendesain toko ini memang unik. Sebagaimana barang-barang yang mereka jual di sini.


"Kita butuh beli Dream Catcher ini. Pilih mana yang kamu suka?" katanya kemudian.

__ADS_1


"Tapi kita tidak butuh," lanjutku.


"Pilih saja. Dream catcher dipercaya mencegahmu dari mimpi buruk dan juga menghalau energi negatif dari luar. Tentu saja kalau kamu mempercayainya. Dulu ibuku sering memasangnya di jendela kamar kami".


Aku mendengar ceritanya dan tak berencana membantah lagi untuk membeli dream catcher ini. Bukan karena aku mempercayainya, aku hanya menyukai motifnya. Warna coklat menjadi pilihanku, bulu-bulu burungnya menjuntai yang berjumlah 6 helai. Manik-manik coklat, merah dan kuning terjahit rapi membentuk jaring di bagian tengahnya. Aku menyukainya dan ini akan menjadi dream catcher pertama yang akan aku punya. Luky kemudian sibuk memilih-milih potongan kayu kecil yang diletakkan dalan gelas-gelas kaca disusun di atas rak kayu.


"Palo Santo?" tanyaku sambil ikut menyentuh kayu-kayunya.


"Hirup aromanya?" ia meletakkan kayunya ke depan hidungku. Aku menghirup beberapa kali.


"Kamu mencium sesuatu? Gimana kekuatan aromanya?".


"Harum" jawabku.


Well, kayu ini memiliki aroma yang unik bisa kukatakan dan kuat sekali. Wangi kayu kering dari keharuman alami milik hutan. Luky mengambil beberapa potongan dan dibawanya ke kasir bersama Dream Catcher. Tapi aku masih betah di toko ini. Jadi kuputuskan untuk kembali melihat-lihat beberapa barang lainnya. Aku berhenti di kalung-kalung yang bergantung. Ada banyak liontin dari batu yang bagus-bagus sekali. Hatiku tertahan pada sebuah liontin batu berwarna merah bata. Indah sekali, pikirku. Saat aku menyentuh permukaannya, licin dan menawan.


"Batu Jasper dikenal juga dengan batu protection karena ia dipercaya memberikan energi perlindungan. Ia bisa membantu orang yang memakainya terlindungi saat kondisi-kondisi dalam bahaya" lanjutnya lagi.


"Oh ya? aku hanya pernah mendengar nama batunya, tapi tidak pernah tahu banyak tentang makna di balik batunya atau kegunaannya".


"Batu ini juga dipercaya membawa kedamaian, keberanian dan memberikan kekuatan pada batin. Disamping itu juga ia membantu kecepatan berpikir seseorang dan berimajinasi dengan baik".


"Oh kamu tahu banyak tentang batu ini," kataku yang mengembalikan batu ini ke tempatnya.


Aku memang menyukainya dan merasa jatuh cinta dengan liontin batu ini. Namun, aku merasa tak harus memilikinya sekarang. Berikutnya mataku tertuju pada rak-rak buku di pojok. Ada banyak buku-buku tua yang dijual. Sebagian besar bukan buku baru. Aku tergugah melihat lebih dekat yang kebanyakan memang bukunya dalam Bahasa Estonia. Tepat di rak kedua, di antara beberapa buku yang bersampul coklat, mataku menangkap buku yang tak asing bagiku.

__ADS_1


"The secret?" Luky kembali berbicara di telingaku. Kali ini lebih dekat sampai ia kemudian mengecup pipiku.


"Iya, tapi dalam Bahasa Eesti," kataku.


"Tentu saja kebanyakan dalam Bahasa Estonia. Kebanyakan orang di sini kan memang tidak berbahasa Inggris, kalau nggak Bahasa Estknia ya Rusia" jelas Luky.


Pikiranku melayang pada rak buku lainnya yang pernah kulihat di apartemen Allan. Di sana, aku juga melihat ia memiliki Buku The Secret, yang kupercayai itulah yang membuat langkahku mengisi kenangan di rumahnya itu. Ah cepat-cepat kutepis memori ini. Ada Luky yang sudah mengisi hatiku saat ini. Orang yang sudah kupilih memenangkan seluruh hatiku.


"Balik yuk. Biar bisa main-main dulu di Oldtown sebelum pulang ke rumah,".


"Oke, kamu yakin sudah tidak ada yang mau dibeli?" Ia kembali bertanya sambil mengambil bungkusan di meja kasir.


"Iya. Kapan-kapan kita main lagi ke sini" Lanjutku.


Kami kemudian keluar ke jalan, menembus orang-orang yang berlalu lalang. Sekarang salju sudah bertambah lebat turunnya. Indah sekali, jalanan mulai memutih.


"Eh tunggu bentar. Aku akan segera kembali".


"Kemana?" Luky tidak menjawab pertanyaanku. Namun berlari ke arah toko tadi. Padahal kita sudah berjalan melewati beberapa bangunan.


Kulayangkan pandangan ke langit, memandangi salju yang berjatuhan. Tanganku terulur mencoba menangkap beberapa rintik salju. Beberapa tertinggal di tanganku, beberapa kembali melayang meleleh di tanah. Winter begitu indah. Paling tidak, kembali indah. Kulihat cahaya di antara kelabunya langit dan kuucapkan selamat tinggal pada kelabunya hatiku.


Luky berlari ke arahku. Begitu tiba nafasnya terengah-engah bersama senyumnya yang merekah. Kulihat ia menggenggam sesuatu di tangannya. Kemudian ia membukanya di hadapanku. Mataku berkaca-kaca, ia kembali ke toko itu untuk membeli kalung bermata batu jasper yang kusukai sebelumnya.


"Aku tak dapat membiarkan kita kembali ke rumah tanpa kalung ini. Aku tahu kamu menyukainya"katanya.

__ADS_1


Ia kemudian memasangkannya di leherku. Air mataku meleleh bersama turunnya salju. Lengkap, lengkap sudah kebahagiaanku. Aku tak butuh permata atau berlian yang mahal. Kalung bermata batu merah ini telah memenangkan hatiku untuk mencintainya dan mencintai lelakiku dengan lebih dalam lagi.


__ADS_2